Two Sides Of Love

Two Sides Of Love
Part 39



Ibu dan ayah Kazuo yang tadi menemani Myori melahirkan, terkejut begitu mendengar Kazuo mengalami kecelakaan berat berbarengan dengan kelahiran bayinya. Keduanya segera mengunjungi ruangan dimana Kazuo dirawat. Ibu Kazuo berteriak histeris ketika melihat anak pertamanya terbaring lemah di atas kasur dengan luka pecahan kaca di wajahnya dan perban menggulung di kepalanya. Ayah Kazuo berusaha bersikap optimis melihat kejadian itu, ia yakin anaknya akan bertahan, apalagi Kazuo sudah menjadi seorang ayah sekarang ini.


Kazuo tersadar, itu adalah sebuah keajaiban dibalik kecelakaan yang menimpanya. Ia tersenyum pada ibunya yang menangis sesenggukan di sampingnya.


“Ibu.....aku baik-baik saja!” katanya terbata-bata berusaha menenangkan ibunya.


Mata Kazuo berkeliaran, ia mencari sosok Myori. Dalam hatinya ia meminta maaf karena tak bisa menemani Myori yang sedang melahirkan anaknya. Ia sungguh ingin sekali bertemu keduanya. “Bu, dimana Myori dan bayiku?”


Myori yang keadaannya masih lemah, duduk di sebuah kursi roda yang akan membawanya menuju suaminya. Ia memang belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya itu. Ayah Kazuo tak tega untuk memberitahukannya, jadi ia hanya membawa Myori pada ruangan dimana Kazuo berbaring. Sang perawat pun mengantarkan sambil menggendong seorang bayi mungil dibuaiannya.


Myori menangis histeris ketika melihat keadaan suaminya. Ia tak percaya pada apa yang dilihatnya sekarang. Ia menghampiri Kazuo dengan air mata membanjiri pipinya. Kazuo tersenyum padanya sambil berusaha membalas genggaman tangan Myori.


“Kau hebat!” puji Kazuo bahagia.


Myori hanya bisa menangis mendengar suaminya berkata-kata. “Kau hebat telah melahirkan bayi kita. Aku bahagia sekali bisa menjadi ayah malam ini. Hey, kau tak boleh menangis seperti itu! Kau harus tersenyum melihat kelahiran putra kita!” kata Kazuo lemah, tapi ia berusaha menenangkan Myori.


“Oppa!!! Kau harus sembuh, kau harus kuat! Aku sudah melahirkan anak kita! Kau harus menciumnya, kau harus menggendongnya, kau harus mendidiknya agar ia bisa menjadi orang hebat sepertimu, oppa!” kata Myori yang tak berhenti menangis


“Ssst... tenanglah! Aku bahagia aku masih bisa melihatnya.”


Sang perawat memberikan bayi itu pada Myori. Kazuo benar-benar merasa bahagia melihat bayi kecilnya yang tampan mirip seperti dirinya.


“Lihatlah, dia mirip sekali denganmu! Hidung dan bibirnya sama sepertimu!” kata Ibu Kazuo.


“Ya benar. Myori, kau harus menjadi ibu yang hebat bagi anakku. Kau harus bisa membuat dia lebih hebat dariku, meskipun tanpa aku disampingmu!” kata-kata Kazuo telah membuat seisi ruangan itu dibanjiri oleh air mata.


“Aku akan memberikan nama untuk bayiku. Ya, namanya Ryuzaki! Nama yang indah bukan?”


Myori mengangguk sedih.


“Myori....” panggil Kazuo lemah. Myori mendekatkan wajahnya pada Kazuo, “Mungkin kecupan tadi akan menjadi yang pertama dan terakhir kali baginya. Mungkin aku hanya menjadi ayah sampai menit ini saja. Myori jagalah anak kita baik-baik. Rawatlah hingga ia bisa menjadi pria yang hebat di masa besarnya nanti. Beritahukan padanya bahwa aku selalu mencintainya dimanapun dia berada. Kau harus bertahan demi aku, berjanjilah padaku Myori!”


             “Kau tak boleh berkata seperti itu, oppa!! Aku membutuhkanmu! Anak kita membutuhkan ayahnya!” Myori menangis histeris.


             “Aku yakin kau bisa membesarkannya meskipun tanpa aku disampingmu! Carikan ayah lain untuknya, ayah yang baik sekaligus mencintaimu sepenuhnya. Aku tahu orangnya. Kau harus menemuinya, Myori! Dia sangat mencintaimu, dan aku yakin dia bisa mencintai anak kita dan menjadi ayah yang baik bagi anak kita!”


             Tangisan Myori semakin tak bisa terbendung. Ia tak mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya itu, atau tepatnya ia tak menghiraukan ucapan Kazuo. Ia terus menggenggam tangan suaminya sambil menangis. Sedangkan, tubuh Kazuo semakin perih dan lemah tak berdaya. Tangan yang digenggam Myori kini terasa lemah dan semakin lemah.


             “Myo...ri..., a...ku.. men....cintai..mu...!!”


             Nafas Kazuoo berhenti, begitu pula dengan detak jantungnya. Mata sipitnya kali ini terpejam untuk selama-lamanya. Kazuo telah pergi meninggalkan dunia ini dan tidak akan pernah kembali. Ia pergi di hari kelahiran anak pertamanya. Sungguh tragis! Sang anak ditinggalkan oleh ayahnya, ia hanya merasakan satu kecupan kasih sayang dari ayahnya untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Tangisan Ryuzaki pecah, seolah ia menangisi kepergian ayahnya untuk selama-lamanya.


             Malam itu terasa dingin dan kelam. Myori hanya bisa pasrah melihat kepergian suaminya itu yang meninggalkan dirinya dan anaknya. Hatinya benar-benar beku dan gelap. Namun ia tak dapat menyalahkan Tuhan, semuanya telah digariskan. Myori berjanji untuk membesarkan Ryuzaki dengan sebaik-baiknya, agar ia kelak menjadi orang hebat seperti ayahnya. Ia juga berjanji akan menepati permintaan Kazuo yang terakhir, meskipun ia belum yakin akan hal itu. Saat ini, ia hanya bertekad untuk menjadi ibu yang baik bagi Ryuzaki.


             Takdir memang tak dapat dihindari, sang waktu pun tak dapat diputar kembali. Kehidupan harus terus berjalan dengan impian dan harapan yang baru. Hari-hari di depan masih sangat panjang, tanpa tahu apa yang akan terjadi, kesempatan untuk memperbaiki yang telah rusak terbuka lebar. Hanya hati tuluslah yang akhirnya akan menunjukkan jalan yang terbaik.


             Selamat tinggal, Kazuo...


***