Two Sides Of Love

Two Sides Of Love
Part 47



Pagi itu, dedaunan kering berwarna-warni berserakan di jalanan. Dedaunan itu tampak rapuh, tergilas oleh ban kendaraan yang melintas di jalanan. Cuaca mulai terasa dingin bagi siapa pun yang keluar dari rumah. Namun sinar matahari masih setia berdiri untuk menghangatkan jiwa yang dingin. Hari itu adalah hari ulang tahun Ryuzaki. Usianya genap 2 tahun. Tetapi hari itu juga tepat dengan hari kematian ayahnya, Kazuo. Myori dan Ryuzaki, ditemani Lee dan Ryu pergi mengunjungi makam Kazuo yang terletak di taman pemakaman di Shinjuku.


Keempatnya berjalan menuju sebuah makam dimana Kazuo disemayamkan. Myori menuntun anaknya sambil membawa satu buket mawar putih. Myori meletakkan bunga itu tepat di depan makam Kazuo. Ia menggendong Ryuzaki.


“Dua tahun telah berlalu tanpa dirimu. Lihatlah oppa, anakmu sudah besar. Ia tumbuh menjadi anak yang lincah dan pintar, ia mirip sekali denganmu.” Mata Myori mulai berkaca-kaca. Ryuzaki hanya memandangi heran ibunya. “Aku berjanji akan menepati permintaanmu, tapi aku tidak yakin! Tapi aku pasti akan menepati permintaanmu. Aku akan membesarkan Ryuzaki, menjadikannya hebat sepertimu. Aku selalu mencintaimu, oppa! Kami selalu mencintaimu” kata Myori yang kini meneteskan air matanya.


“Ryuzaki, lihatlah! Ayahmu ada di sana. Ia selalu mencintaimu!” Air mata Myori tak dapat terbendung lagi. Ia menangis tersedu-sedu mengingat mendiang suaminya. Lee memberinya sapu tangan.


Ryu menaruh sebuket lily putih, sambil memandangi makam itu. Lee mulai melangkah ke hadapan makam sahabat yang pernah dikenalnya itu.


“Kazuo, kau adalah pria terhebat yang pernah kutemui. Aku sangat beruntung bisa mengenalmu dan menjadi sahabatmu. Aku senang kau pernah mendampingi Myori dalam hidupnya. Aku ingin mengucapkan terima kasih padamu, Kazuo! Semoga kau hidup bahagia disana, kawan!” kata Lee, matanya ikut berkaca-kaca. Ia kehilangan salah satu sahabat terbaiknya.


“Oppa, aku bahagia bisa bertemu denganmu, bisa menjadi istri dan melahirkan anakmu. Terima kasih banyak. Kami mencintaimu selalu!” itulah kata-kata terakhir Myori sebelum akhirnya keempatnya meninggalkan tempat itu.


Angin pagi bertiup lembut, menyapa semua yang dilewatinya.


“Lee, menikahlah dengannya….” sebuah bisikan lembut terdengar jelas di telinga kanan Lee. Ia terhenyak.”Kumohon….” lagi-lagi suara itu terdengar, kali ini di telinga kirinya. Lee bertanya-tanya dalam hati, mungkinkah itu suara Kazuo? Ia menjawab sebuah pertanyaan dalam hatinya, entah apa jawabannya.


***