
Siang itu, bel istirahat berbunyi, murid-murid SD Tomihisa Shinjuku berlarian keluar untuk menikmati makan siang yang sudah disediakan. Myori berjalan melewati koridor menuju ruangan guru. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melihat layar di ponselnya, tetapi nomornya asing. Ia ragu untuk mengangkatnya, tetapi ia khawatir ada sesuatu yang gawat. Ia mengangkat telepon itu.
“Moshi, moshi!”
“Hallo, Myori Fujikawa?”
“Ya, benar! Ini dengan siapa?”
“Hai, ini aku, Lee! Apa kabar?”
Hati Myori berdegup. “Oh...aku baik-baik saja! Bagaimana kabarmu dan Ryu?”
“Kami baik-baik saja di sini. Maaf mengganggu, bolehkah aku mengobrol denganmu?”
“Ah, kebetulan kelas sedang istirahat! Ya tentu saja!”
Ada perasaan bahagia di hati Myori, ternyata Lee masih sempat meneleponnya.
“Myori...! Aku tak tahu harus berbicara apa. Aku hanya ingin mendengar kabarmu.”
Myori tersenyum tersipu-sipu. “Kau sungguh aneh, Lee! Apa kau tidak sibuk, masih sempat-sempatnya meneleponku?”
Suara di seberang sana tertawa. “Aku juga kebetulan sedang istirahat. Jadi kusempatkan untuk meneleponmu.”
“Bagaimana Ryu? Apa dia sudah menemukan sekolah yang cocok?”
“Ya! Ryu sering bercerita, ia sudah menemukan teman-teman yang menyenangkan.”
“Ah, syukurlah!”
“Myori...”
Setiap kali Lee memanggil namanya, hatinya semakin cepat berdetak.
“Ada apa, Lee?”
“Aku...., aku merindukanmu!”
Hati Myori berdesir mendengar perkataan Lee. Ia tak tahu harus menjawab apa.
“Oh ya, kau sedang mengerjakan proyek apa di sana?”
“Aku sedang mengerjakan syuting sebuah serial drama, kebetulan ada production house yang menawariku sebuah peran. Jadi aku terima saja, sekalian promo album perdanaku. Jangan lupa dibeli ya?”
“Ai sudah membelinya, aku akan pinjam miliknya.”
“Benarkah? Dia memang penggemar pertamaku ya?”
“Ya, benar! Ia penggemar sejatimu, Lee!”
“Kalau kau?”
Myori tertawa. “Bagaimana ya? Mungkin!”
Lee ikut tertawa. “Itu pasti! Oh ya, produser memanggilku nih! Kapan-kapan aku telepon kau lagi ya?!”
“Lee!”
“Ya?”
“Jaga dirimu baik-baik ya. Jaga Ryu juga!”
“Tentu saja!”
“Bye...”
“Bye...!”
TUUUT!!! Myori tersenyum sendiri. Ia sungguh bahagia dapat menerima telepon dari Lee, meskipun ia sedang dalam jadwal sibuk. Ia senang ternyata Lee masih mengingatnya bahkan ia merindukannya.
“Myori, kau kenapa senyum-senyum sendiri?” tegur guru kelas V yang memergokinya.
“Ah tidak apa-apa, Pak!” kata Myori malu.
“Pasti kau sedang jatuh cinta ya? Dasar anak muda!”
Myori hanya tersipu-sipu mendengar perkataan Pak Watanabe yang tadi memergokinya.
Seandainya..... hati Myori mengharapkan sesuatu, tapi ia tak pernah tahu kemana takdir akan membawanya.
***
Angin segar di sore hari berhembus. Seperti biasa, Myori berjalan menuju stasiun Shinjuku untuk kembali ke rumahnya di Shinagawa. Kemudian, sebuah bunyi klakson membuat Myori kaget. Sebuah mobil sedan putih berhenti di sisinya. Jendela mobil itu terbuka, ternyata Kazuo. Ia hendak menjemput Myori pulang. Ia menyuruh Myori masuk ke dalam mobilnya.
“Aku kira siapa!”
“Uhm, Myori! Kita jalan-jalan dulu yuk!”
“Boleh!”
Kazuo membawa Myori ke restauran Simphony di Minato-Ku letaknya yang berada di sisi Tokyo bay, membuat restauran itu memiliki pemandangan laut yang indah. Selain itu, suasana restauran itu sangat romantis, karena mereka menjadikan sebuah kapal pesiar sebagai tempatnya. Mereka memesan beberapa menu hidangan seafood special ala restauran itu.
Sambil menunggu pesanan mereka tiba, pemandangan sunset menjadi teman di kala senja itu. Tak lama kemudian, pesanan spesial mereka akhirnya tiba juga, lobster saus manis pedas, cah cumi lobak, dan sup buah tropikana.
“Wah ada acara apa ini, sampai kau berani mentraktirku di restauran mahal seperti ini?” tanya Myori pada Kazuo. Ia penasaran pasti Kazuo telah mengalami sesuatu yang luar biasa.
“Tidak! Hanya saja aku ingin bercerita sesuatu tentang wanita itu!”
“Oh ya?! Apa kau sudah bertemu dengannya?”
“Ya, aku sudah menemuinya! Dia semakin cantik saja!”
“Aaah.....siapakah dia? Ayo beritahu aku!”
“Sabar sedikit. Sebentar lagi kau mengetahuinya.”
“Kau mengajaknya kemari?”
Kazuo mengangguk. “Aku akan bertemu di luar. Tepat disana!” kata Kazuo sambil menunjuk dek kapal di luar, persis seperti film Titanic.
“Ah Kazuo, kau sangat romantis sekali.”
Kazuo tertawa terrsipu-sipu.
“Apakah dia sudah datang kemari?”
“Hmm... sepertinya sudah! Mungkin aku harus mengirimkan sms padanya. Myori, maukah kau mengantarkanku kesana? Jujur aku sangat gugup!”
“Baiklah!” kata Myori sambil melihat ke sekeliling ruangan restauran, berusaha menebak-nebak wanita yang Kazuo ajak berkencan.
Kazuo tampak tak karuan. Ia sangat gugup, beberapa kali ia menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.
Myori tertawa melihat keadaan Kazuo. “Tenanglah! Aku yakin dia akan menerimamu! Kau pria yang istimewa dan baik hati.”
“Benarkah?”
Myori mengangguk mantap. “Kau sudah memberitahukannya bahwa kau sudah disini?”
“Sudah!”
“Mungkin sebaiknya aku bersembunyi!”
“Tidak! Tunggu!”
Myori heran. “Kenapa?”
“Karena kau adalah wanita itu!” kata Kazuo yang sekarang berlutut di hadapannya.
Myori terkejut setengah mati. Ia tidak mengerti apa yang terjadi pada Kazuo.
“Myori, mungkin seharusnya aku berkata yang sebenarnya. Aku sudah menyukaimu sejak dulu kita kecil. Dan aku datang kemari untuk menemuimu, untuk melamarmu. Aku benar-benar mencintaimu, Myori. Mungkin kau akan terkejut, tapi inilah yang sebenarnya. Kau adalah wanita yang selama ini ingin aku temui.”
Hati Myori berdegup kencang, ia tak percaya dengan apa yang sedang terjadi.
“Kau bercanda ya? Kau sedang latihan kan?” tanya Myori tidak percaya.
Kazuo menggelengkan kepala. “Aku benar-benar serius Myori!” kata Kazuo, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. Kemudian ia membuka kotak itu, sebuah cincin putih bermata, berkilauan sangat indah. Cincin itu ia tunjukkan agar bisa membuat Myori yakin bahwa dirinya memang serius.
“Myori, maukah kau menikah denganku?”
Perasaan Myori sangat kalut, ia bingung harus menjawab apa, karena ia tidak memiliki perasaan cinta itu untuk Kazuo. Yang ia rasakan saat ini adalah cintanya untuk Lee.
“A...a..ku...”
“Aku mengerti kau pasti terkejut dengan kejadian ini. Aku mengerti mungkin kau hanya butuh waktu untuk menjawab pertanyaanku itu. Aku tak akan memaksamu untuk menjawab saat ini juga, dan aku pun siap dengan semua keputusanmu nanti.” Kata Kazuo berusaha membuat Myori tenang.
“Maafkan aku, Kazuo!”
“Tak apa!” Kazuo menutup kotak itu dan memasukkannya kembali ke saku jasnya. Ia memberikan sebuah sapu tangan untuk Myori, dan mengajaknya pulang ke rumah. Meskipun pasti hati Kazuo kecewa saat ini, tapi ia berusaha berpikir positif bahwa yang terbaik akan datang menghampirinya. Kazuo mengantarkan Myori pulang. Tak ada percakapan malam itu, hanyalah hati yang dipenuhi keresahan dan kekalutan.
Sepanjang malam, Myori tak bisa tidur. Ia terus memikirkan kejadian yang baru saja terjadi hari itu. Lee meneleponnya dan mengatakan bahwa ia merindukannya. Kemudian, sore itu Kazuo mengutarakan isi hati padanya dan langsung melamarnya. Myori berada dalam dilema, kegalauan ini akan terus menjakiti hatinya selama ia belum memutuskan satu hal.
Ia tahu cintanya hanyalah untuk Lee, tapi selama ia terus menunggunya, ia berada dalam ketidakpastian. Sementara, suatu yang pasti telah ada di hadapannya, Kazuo adalah pria terbaik yang Myori kenal, hanya saja cinta itu tidak ada untuknya. Apakah cinta akan mudah tumbuh dengan sendirinya? Myori menangis dalam kesendirian berselimutkan kegalauan akan pilihan hidup dan hatinya.
***