
Musim semi memang belum berakhir. Bunga-bunga sakura masih berkembang, wanginya pun masih tercium lekat. Angin masih berani membawa serpihan mahkotanya berjalan-jalan menelusuri dunia yang sempit. Setelah dua bulan pulang ke rumah orangtuanya di Paris, Kazuo kembali ke Tokyo. Ia masih harap-harap cemas dengan jawaban yang akan ia dapatkan dari Myori. Meskipun begitu, ia telah bersiap dengan apapun keputusan Myori. Ia hendak menelepon Myori, meminta maaf karena ia pergi begitu saja tanpa memberitahu Myori bahwa ia sedang pulang.
Ketika baru saja ia akan menekan tombol call, sebuah panggilan tertera di ponselnya.
“Halo, selamat siang?”
“Kazuo...” sapa sebuah suara lembut di seberang sana.
“Myori?”
“Iya ini aku, Myori!”
“Ada apa? Kau baik-baik saja?”
“Kazuo..., bisakah kita berbicara di luar?”
“Ya tentu saja! Kapan?”
“Malam ini?”
“Oke, aku akan menjemputmu!”
“Terima kasih. Sampai jumpa!”
“See you!”
Kazuo terheran-heran, tidak biasanya Myori menelepon dirinya dan mengajaknya keluar. Ia berharap ini pertanda baik untuknya.
Malam itu, Kazuo menjemput Myori di rumahnya. Entah mengapa Kazuo melihat Myori begitu berbeda. Myori terlihat lebih cantik dari biasanya, meskipun tetap ia selalu terlihat sederhana dengan pakaian anggunnya. Rambut panjangnya juga yang biasa ia ikat, kini digerainya bebas. Ia tersenyum ramah padanya.
“Jadi, mau kemana kita?”
“Aku tidak tahu. Terserah kau saja!”
“Terserahku?”
Myori mengangguk saja. Kazuo berpikir sejenak, kemudian wajahnya berseri. Ia mempersilakan Myori masuk ke dalam mobilnya. Myori tak tahu akan dibawa kemana oleh Kazuo. Ia hanya ingin sedikit melepaskan kepenatan yang ada di pikirannya saat ini.
“Kau akan membawaku kemana?” tanya Myori penasaran.
“Ke Paris!” kata Kazuo bercanda. Keduanya tertawa.
Ternyata Kazuo membawa Myori ke sebuah bukit di Shibuya dekat dengan taman Yoyogi. Di tempat itu langit terasa lebih dekat. Meskipun festival Tanabata belum diselenggarakan, tetapi bintang-bintang senantiasa setia menemani langit malam. Oleh karena itu, Kazuo ingin Myori melihat pemandangan indah di malam hari.
Sesampainya di bukit itu, Kazuo mengajak Myori menaiki bukit yang agak tinggi agar langit benar-benar terasa lebih dekat dengan mereka. Suasana langit malam begitu indah, Kazuo tidak salah memilih tempat untuk Myori yang sedang kalut hatinya. Bintang-bintang tersebar di seluruh penjuru langit, berkilauan seperti berlian di tengah kegelapan. Kazuo berbaring di atas rerumputan sambil menengadah ke langit.
“Waaah!! Aku seperti terbang ke langit! Hey, kau harus mencobanya!” kata Kazuo kepada Myori yang masih berdiri.
Myori pun ikut berbaring di sebelah Kazuo sambil menatap indahnya langit malam itu. Kazuo benar, ia merasa tubuhnya melayang di langit. Myori merasa ketenangan dan kedamaian.
“Terima kasih, Kazuo! Kau selalu membuatku merasa nyaman.”
Kazuo tersenyum padanya. Mata Kazuo kembali menatap langit, pandangannya begitu dalam namun luas, seluas langit, seperti ia sedang memandang masa depannya. Myori menatap Kazuo tanpa Kazuo sadari. Myori tersenyum bahagia.
“Myori...”
“Hmm?”
“Hah?!” Myori terkejut.
“Apa yang sedang kau rasakan saat ini?” tanya Kazuo mengkoreksi.
“Ketenangan yang begitu dalam. Kau sendiri?”
“Kebahagiaan, karena kau sedang disampingku.” Katanya tersenyum.
Jantung Myori berdegup kencang, kencang sekali. Myori membangunkan tubuhnya. Ia terdiam. Kemudian, Kazuo menghampirinya.
“Kazuo! Mungkin aku tak akan pernah bisa membuatmu bahagia, tapi...”
“Aku merasa bahagia, ketika dulu kita bermain bersama, tumbuh bersama, dan bahkan saat ini aku masih bisa bertemu denganmu, aku sangat bahagia karenamu.”
“Tapi...”
“Aku tahu, mungkin kau tak pernah menyangka akan seperti ini jadinya. Maaf jika aku terlalu lancang memintamu. Semua keputusan berada di tanganmu, aku tak akan pernah memaksamu!”
“Kazuo..., maafkan aku!”
Kazuo tertunduk, tapi ia berusaha menatap Myori.
“Maafkan aku, karena selama ini aku tak pernah menyadarinya! Tapi, biarkan aku mencobanya. Kazuo, maukah kau mengulang pertanyaan itu untukku?” pinta Myori membuat Kazuo terkejut. Hatinya bergetar, sepertinya keberanian itu tak muncul seperti pada senja kala. Kazuo menghela nafas. Matanya terpejam, ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa keputusan Myori adalah yang terbaik untuk dirinya. Kazuo berdiri, ia mengajak Myori untuk berdiri juga.
“Myori Fujikawa, maukah engkau menikah denganku, hidup denganku, menjadi pendamping setiaku?” tanya Kazuo gugup. Ia tertunduk menunggu keputusan Myori.
Myori menghela nafas. Ia terdiam lama sekali. Hatinya gugup, tapi cepat atau lambat ia harus memberi keputusannya pada Kazuo. Ia teringat pada perkataannya pada Lee. Ketika kita mencintai seseorang, akan ada pihak yang pasti tersakiti, dan itu pasti terjadi. Salah satu pihak akan tersakiti dari keputusannya ini. Kazuo semakin gugup, karena Myori terus terdiam.
“Ya! Aku mau menikah denganmu, Kazuo Han!” jawab Myori yakin.
Kazuo terkejut mendengar jawaban Myori. Ia tidak percaya dengan jawaban itu. Matanya berkaca-kaca, ia berusaha meyakinkan dirinya dengan menampar wajahnya sendiri. Myori tersenyum-senyum.
“Kau kenapa, Han Junghyun?” tanya Myori pada Kazuo dengan memanggil nama Koreanya. “Apa kau baik-baik saja? Apa kau tak percaya?” tanya Myori lagi. Kazuo hanya tertawa tersipu-sipu.
“Baiklah, aku akan mengulanginya lagi. Ehemm...! Ya, aku bersedia menikah denganmu, hidup bersama denganmu, dan menjadi pendamping hidupmu, Han Junghyun!”
“Tak usah! Tapi biarlah! Aku sangat tidak percaya, tapi aku yakin ini bukan mimpi. Eh, ngomong-ngomong, darimana kau tahu nama Korea-ku?”
Myori tertawa. “Dulu, kau pernah memberitahuku sekali. Dan aku selalu mengingat nama itu. Aku menyukainya!”
Keduanya tersenyum bahagia. Kazuo percaya, Myori telah membuka hati untuknya. Ia berjanji dalam hatinya, ia akan membuat Myori jatuh cinta kepadanya. Meskipun ia tahu saat ini, Myori tidak mencintainya.
Malam itu terasa indah bagi keduanya, terutama Kazuo. Wanita yang selama ini ia nantikan, akhirnya bersedia untuk menjadi teman hidupnya. Myori memang tak pernah mencintai Kazuo selama ini, tapi ia bertekad untuk membuka hati untuk Kazuo dan menutup luka yang digoreskan Lee dalam hatinya. Ia tak peduli jika luka itu masih ada, yang ia yakini bahwa Kazuo akan menutup luka itu dengan cintanya yang tulus.
***
Malam itu, Lee tak bisa tidur. Hatinya gelisah. Keringat mengucur dari dahinya. Entah mengapa malam itu terasa menganehkan baginya. Ia terus mengingat Myori dalam pikirannya. Ia berniat untuk meneleponnya, tapi malam sudah terlalu larut. Akan tetapi, ia tak bisa membendung rasa rindunya. Ia coba tuk menghubunginya, tapi sayang nomor Myori di ponselnya tak bisa dihubungi. Ia mencoba beberapa kali, tapi percuma, selalu saja gagal dan ia tidak tahu nomor telepon rumah Myori. Lee berjalan keluar, menatap gelapnya langit malam yang berhiaskan bintang-bintang. Ia melihat satu bintang, yang terindah di antara yang lain. Hatinya terus berharap.
Myori, kumohon! Simpan luka itu untukku, beri aku kesempatan untuk menyembuhkannya suatu hari nanti, meskipun aku tahu aku pun akan terluka! Myori, kumohon.... Aku mencintaimu, sungguh...!
Goodbye my almost lover
Goodbye my hopeless dream
***