
Siang itu di salah satu hotel berbintang di Seoul, Kazuo mengadakan pertemuan dengan Lee sebagai rekan kerja. Lee memang dikontrak selama dua tahun untuk menjadi model iklan dari produk bisnis Kazuo. Prediksi dan strategi Kazuo memang tepat menggunakan Lee menjadi model, produk telepon selularnya sangat laku di pasaran se-Asia. Usaha Kazuo sudah meningkat tajam, bahkan dalam beberapa iklan ia tidak memakai Lee sebagai model lagi, tetapi permintaan pasar terhadap produknya tetap tinggi. Ini merupakan prestasi dari Kazuo menciptakan produk yang luar biasa.
Lee juga sedang dalam masa puncak kepopuleran, ia sering melakukan tour di negara-negara Asia. Film-film yang dibintanginya cukup banyak, bahkan terdaftar sebagai film yang paling sering ditonton. Banyak iklan di televisi Korea – Jepang yang dibintanginya. Gosip-gosip seputar Lee yang dekat dengan beberapa artis Korea selalu menjadi topik terhangat di kabar infotainment. Jadwalnya sungguh sangat padat, tetapi ia selalu bisa menyempatkan diri bertemu dengan Kazuo dan berbincang akrab dengannya.
Pertemuan siang itu membahas kontrak Lee yang memang sebentar lagi akan habis. Hanya saja pertemuan itu tidak formal, justru lebih bersahabat. Kazuo dan Lee memang sudah lama tidak bertemu, hal ini karena jadwal Lee yang semakin padat terutama setelah Lee mengadakan banyak konser di kota-kota di Korea dan Jepang. Keduanya berbincang di sebuah ruangan santai di halaman belakang hotel mewah itu.
“Bagaimana konsermu, lancar?” tanya Kazuo setelah Lee datang terlambat.
“Ya begitulah! Melelahkan tapi menyenangkan!”
“Kau sungguh beruntung, Lee!”
“Kau justru lebih beruntung! Kau sudah melengkapi hidupmu dengan memiliki keluarga, sedangkan aku belum! Dan sebentar lagi kebahagiaanmu akan lengkap! Aku sungguh cemburu padamu! Aku menginginkan kehidupan yang biasa!”
“Kau benar! Kehidupan menjadi orang biasa itu lebih menyenangkan. Kau akan segera merasakannya, Lee! Tenang saja!”
Lee tersenyum. “Bagaimana keadaan Myori-sensei sekarang?”
“Kau tahu, dia semakin manja saja! Sulit untuk pergi darinya dalam masa-masa kandungan besar seperti sekarang. Aku mengkhawatirkannya!”
“Ya, kau harus selalu berada di sampingnya! Dia membutuhkanmu!”
“Kau benar! Setelah pertemuan ini, aku tak akan pergi darinya lagi.”
“Oh ya, ini ada sedikit oleh-oleh untuk istrimu itu!” kata Lee sambil memberikan sebuah bingkisan yang berisi beberapa album dan DVD film drama yang dibintangi oleh dirinya. Lee sangat tahu, Myori sangat menggemarinya.
“Ah, merepotkanmu saja! Tapi terima kasih, Myori akan sangat menyukainya! Dia sangat menggemarimu selama hamil. Mungkin kau harus mengunjungi kami di Paris!”
“Mudah-mudahan aku bisa!”
“Lee! Aku dengar, kau akan segera berhenti dari karirmu, benarkah itu?”
Lee tertawa kecil. “Cepat atau lambat itu akan terjadi! Aku hanya ingin kehidupan biasa, hidup bahagia bersama adikku, menikahi wanita, dan membangun keluarga seperti dirimu!”
“Aku juga, senang bisa berteman dengan orang sepertimu.”
“Kalau kau memutuskan untuk berhenti dari karirmu. Berarti kau sudah menemukan wanitamu, benarkah? Ayo ceritakan padaku!” goda Kazuo.
Lee tertawa. “Sudah kubilang, aku belum menemukan wanita yang benar-benar ditakdirkan untukku. Aku hanya perlu menunggu.”
“Kau harus berusaha mendapatkannya satu saja! Kau ini kan artis, tampan, kaya, multitalenta, pasti banyak wanita yang menyukaimu!”
Lee tersenyum kecil. Ia teringat cinta dalam hatinya hanya untuk Myori seorang. Ia bahkan sulit untuk mengubah hatinya untuk wanita lain, meskipun ia tahu cintanya pada Myori kini hanyalah harapan kosong.
“Oh ya, ketika kau akan berhenti, maukah kau membantuku merancang sebuah rumah untuk keluargaku di Tokyo?” pinta Kazuo pada Lee yang memang seorang arsitek.
“Ah, tentu saja! Tunggu saja kabar dariku!”
“Jadi kau benar-benar akan berhenti! Padahal kau sedang berada di puncak karirmu!”
“Ya! Aku tahu ini akan banyak melukai hati penggemarku, tetapi masalah yang kualami sudah selesai. Aku hanya ingin merancang masa depanku dan juga adikku.”
“Ya, aku mengerti. Pasti sulit berada di posisimu saat ini ya?”
Lee mengangguk tersenyum memikirkan sesuatu, memikirkan betapa banyak orang-orang di sekelilingnya yang menjadi korban atas keputusannya ini, Ryu, Myori, dan bahkan dirinya sendiri. Ia teringat pada perkataan Myori di Kyoto malam itu ketika mereka kencan untuk pertama kalinya, akan selalu ada yang terluka ketika kita memutuskan sesuatu. Lee sudah berjanji pada dirinya sendiri, ia sudah siap menerima konsekuensi yang akan ia dapatkan setelah ia memutuskan untuk berhenti dari karirnya. Ia sadar ia begitu egois, tapi baginya kehidupan tak bisa selamanya seperti ini. Biarlah waktu yang menjawab semuanya, akan menjadi seperti apa akhirnya.
***
Entah kenapa malam itu terasa aneh bagi Kazuo. Ia telah kembali ke kamarnya setelah berbincang dengan Lee siang tadi. Ia tahu ia selalu merindukan Myori, tiba-tiba saja ia teringat pada sebuah buku yang ia temukan di dalam laci tempat Myori menyimpan perhiasannya. Ia tak sengaja membacanya ketika Myori sedang tertidur pulas. Dan Kazuo menemukan suatu rahasia yang selama ini tak pernah Myori ungkapkan padanya. Hanya saja, Kazuo merasa beruntung bahwa Myori benar-benar mencintainya saat ini dan sebentar lagi kebahagiaan mereka akan semakin lengkap dengan hadirnya seorang bayi laki-laki.
Kazuo mengambil sebuah pena dan selembar kertas, kemudian ia mulai menuliskan sesuatu untuk Myori, sebuah ungkapan kasih sayangnya. Akankah Kazuo memberikan surat itu pada Myori ataukah justru ia akan menyimpannya sendiri sampai Myori yang akan menemukannya suatu hari nanti?
***