
Pelajaran kembali dimulai. Myori memperhatikan murid-muridnya, dan ada satu kejanggalan yang ia temukan untuk beberapa kali. Ryu tak ada di bangkunya, padahal sebelum istirahat ia masih ada.
“Anak-anak, ada yang melihat Ryu?” tanya Myori kepada murid-muridnya.
Semua anak ribut, karena mereka semua tahu kejadian yang baru saja terjadi di taman antara Ryu dan Hyejin, murid pindahan dari Korea dua tahun lalu. Hyejin yang memulai keributan tampak gugup ketakutan, kepalanya tertunduk pada bukunya. Sebuah panggilan mengagetkan jantungnya. Myori menghampirinya tiba-tiba.
“Hyejin, apakah kamu melihat Ryu? Karena ibu lihat kamu hanya diam saja sedangkan yang lain ribut sekali!” tanya Myori pada anak itu.
Wajah Hyejin berubah menjadi kaku dan pucat. Semua perhatian kelas tertuju padanya. “Eee…eehh…ti…ti…dak, Bu!” jawabnya gugup.
“Benarkah?” tanya Myori tidak yakin.
Hyejin menganggukan kepalanya, kemudian ia kembali tertunduk pada bukunya menahan rasa gugupnya. Semua teman yang melihat kejadian tadi hanya bisa diam membisu. Mungkin Ryu ada di toilet. Tetapi untuk memastikannya, Myori menyuruh ketua murid untuk mencari Ryu, karena tas dan buku-bukunya masih ada di dalam kelas. Myori khawatir tentang keadaan Ryu yang hilang begitu saja.
Sudah hampir satu jam pelajaran berlangsung, tapi Ryu belum juga kembali ke dalam kelas. Begitu pula dengan laporan sang ketua kelas yang tidak menemukan keberadaan Ryu. Kemudian, salah satu anak perempuan berjalan menuju meja Myori yang sedang memeriksa jawaban murid-muridnya. Anak itu berjalan dengan gugup menghadap Myori.
“Bu, tadi siang Ryu ada di taman. Tapi kemudian ia berebut buku dengan Hyejin. Hyejin berusaha merebut buku milik Ryu. Tapi buku itu sobek dan setelah itu aku tidak tahu Ryu ada dimana!” kata anak itu polos.
“Terima kasih, Atsuki! Kau memang anak yang baik! Kembalilah ke tempatmu!” kata Myori tersenyum.
Kemudian, Myori kembali menghampiri Hyejin yang sedang bercanda dengan teman-temannya. “Sekarang, ibu tahu apa yang kamu lakukan pada Ryu, Im Hyejin! Katakan yang sebenarnya pada ibu!” kata Myori tegas.
Hyejin berdegup kencang. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan. “Tapi aku tak melakukan apa pun pada Ryu!” katanya berbohong.
“Kau tidak boleh berbohong, Hyejin! Ayo katakan saja!”
Hyejin tertunduk. “Maafkan aku, Bu! Aku merobek bukunya! Tapi aku bisa menggantikannya, kalau ia mau!” akhirnya ia menjawab.
“Mengapa kau melakukan itu?”
“Eeeehhh….a…aku… hanya ingin melihatnya, tapi ia tidak meminjamkanku!” katanya berbohong.
Bel pertanda pulang telah berbunyi. Beberapa anak berhamburan keluar untuk segera pulang ke rumahnya masing-masing. Sebagian yang lain tetap berada di kelas untuk melaksanakan piket kelas.
Masih dengan hati yang penuh kekhawatiran, Myori berjalan menuju ruangan guru. Ia memberitahukan kepada guru yang lain meminta bantuan untuk ikut mencari Ryu. Myori yakin, Ryu masih berada di sekolah.
Semua guru mencari Ryu di seluruh penjuru sekolah. Tetapi belum ada yang menemukannya. Hingga hari mulai senja. Kemudian seorang guru laki-laki berlari terburu-buru mencari sosok Myori.
“Myori-san! Aku menemukan anak itu!” katanya terengah-engah.
“Ryu?!! Dimana dia?” tanya Myori histeris.
“Ia tergeletak di ruangan penyimpanan barang-barang kesenian. Ayo cepat kita kesana!”
Keduanya kemudian berlari menuju ruangan itu. Begitu pula dengan guru-guru lain yang ikut mencari Ryu. Tapi hati mereka belum sepenuhnya lega, mereka masih khawatir dengan keadaan Ryu. Apakah ia baik-baik saja?
Myori terkejut melihat sosok muridnya terbaring di atas selembar tikar bambu. Ia dan beberapa guru langsung memasuki ruangan itu untuk memastikan keadaan Ryu. Di sebelah tubuh Ryu, tergeletak pula buku yang sobek dengan beberapa kertas sobekannya. Myori langsung memeluk tubuh Ryu dan berusaha membangunkannya. Myori berharap Ryu tidak apa-apa. Kemudian, secara perlahan-lahan mata Ryu terbuka. Matanya sembap dan merah, karena habis menangis. Myori bersyukur Ryu telah sadar. Ryu menggosok matanya yang sembap.
“Ibu? Kenapa ada disini?” tanya Ryu polos.
“Seharusnya Ibu yang bertanya seperti itu. Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Myori khawatir.
Ryu melihat keadaan di sekitarnya yang ramai oleh guru-guru yang mencari-carinya. Kemudian, matanya tertuju pada buku kesayangannya yang telah sobek. Air matanya kembali menetes, ia menangis lagi.
Myori memeluknya erat, berusaha untuk menenangkannya. “Sudahlah, Ryu! Kita bisa memperbaikinya.” Kata Myori menenangkannya.
Ryu masih merasa sedih, tapi mendengar kata-kata gurunya, ia merasa semangatnya kembali muncul. Ya, pasti ia bisa memperbaikinya. Ryu memeluk erat gurunya itu, ia merasa mendapatkan semangat dari gurunya.
***