Two Sides Of Love

Two Sides Of Love
Part 19



Perjalanan ke Kyoto dari Tokyo sudah hampir menghabiskan 6 jam waktu perjalanan. Kyoto memang masih jauh. Hari mulai senja, burung-burung camar mulai ramai berterbangan di langit sore hari.


             “Lee, kau baik-baik saja?” tanya Myori khawatir.


             “Ya, aku baik-baik saja!”


             “Kalau kau lelah, istirahat saja lagi, daripada kau terlihat mengantuk seperti itu!”


             “Tidak, aku hanya kepanasan!”


             “Lee! Kita berhenti disini saja dulu, banyak pohon rindang disini, kita bisa berteduh sebentar, ya?!” pinta Myori was-was.


             Lee mengiyakan. Ia mungkin harus mengakui dirinya mengantuk dan lelah setelah setengah hari melakukan perjalanan panjang. Akhirnya, mobil itu menepi di sebuah kawasan sepi yang dipenuhi dengan pepohonan rindang.


             “Tidur saja dulu, setelah kau kembali fit, kita bisa teruskan perjalanan!” kata Myori.


             Lee tersenyum mengangguk. Ia senang ada seorang wanita cantik yang perhatian betul padanya. Lee memejamkan matanya dan tertidur dengan sangat cepat. Sementara itu, Ryu terbangun. “Kenapa kita berhenti?”


             “Sssst…kakakmu sedang tidur! Dia kelelahan! Tidurlah lagi!” kata Myori.


             Ryu yang masih setengah terbangun, akhirnya meneruskan kembali tidur sorenya. Myori mengambil sebuah buku dari tas yang dibawa di atas pangkuannya. Sebelum membaca, ia memperhatikan keadaan sekitar. Jalanan tidak terlalu sepi, masih banyak kendaraan berlalu-lalang di sana. Ryu sudah tertidur pulas lagi. Dan Lee, begitu banyak aura keletihan dibalik wajah tampannya. Myori tak bisa tidur dalam kondisi seperti itu, lebih baik dia membaca saja untuk berjaga-jaga.


***


             Lee terbangun dari tidurnya. Hampir sekitar satu jam lebih ia tertidur lelap. Kini ia sudah kembali segar dan siap melanjutkan perjalanan. Hari sudah hampir gelap, lembayung senja kini menjadi pemandangan di atas langit. Lee kini melihat seorang Myori tertidur sambil mendekap sebuah buku. Lee tersenyum sambil memandangnya, ia tak pernah menyangka akan bertemu dengan seorang perempuan hebat yang memberinya perhatian lebih bahkan untuk adiknya. Ia bersyukur dapat dipertemukan dengannya. Apakah Lee menyukainya? Lee menghela nafas. Ia harus melanjutkan perjalanan ini segera.


             Myori merasa tubuhnya bergoncang-goncang. Perlahan-lahan ia membuka matanya yang kadang terkena silau cahaya lampu di malam hari. Udara terasa lebih dingin daripada sebelumnya. “Lee! Kita dimana?”


             “Tenang saja, sebentar lagi kita tiba!”


             Myori mengusap wajahnya dan membetulkan posisi duduknya. “Maaf, aku ketiduran!”


             “Tidak apa-apa! Lagipula, Ryu juga sudah bangun dari tadi untuk menemaniku!”


             “Ya!” kata Ryu.


             Myori melihat Ryu sangat segar tersenyum padanya riang.


             Lee membelokkan mobilnya ke arah kiri, memasuki sebuah jalanan kecil yang gelap dibalut oleh pepohonan di daerah kecil Nishikoricho. Tak ada lampu yang menerangi jalan kecil itu. Kira-kira hampir 2 km dari jalan utama, terdapat remang-remang cahaya dari kejauhan. Tak lama kemudian, sebuah pondok kayu rumah khas Jepang terlihat, ditemani dengan cahaya yang menerangi jalan secukupnya. Lee memarkirkan mobil itu di dalam sebuah garasi tak berpintu di pondok itu. Myori dan Ryu segera keluar dari mobil, tak sabar melihat pemandangan indah yang ada di balik pondok itu. Ryu menuntun Myori dan berlari menuju balik pondok kayu itu. Ternyata ada sebuah danau yang cukup luas tepat berada di sisi pondok itu. Bayang-bayang rembulan terpantul di atas permukaan air danau yang tenang itu. Tapi cuaca malam cukup membuat mereka menggigil sehingga mereka berdua memutuskan kembali ke mobil untuk mengambil barang-barang. Lee mengajak Myori dan Ryu untuk segera masuk ke dalam pondok.


             Lee mengetuk pintu pondok itu.


             “Apakah ada orang yang tinggal dalam pondok ini, Kak?” tanya Ryu.


             “Tentu saja, mereka masih keluarga Tanabe!”


             “Menurut Kakak, apa kita diizinkan menginap disini?” tanya Ryu lagi.


             Lee tersenyum, “Kalau tidak, lalu mengapa aku mengajak kalian kesini?”


             Ryu terkekeh. Tak lama kemudian, seorang perempuan paruh baya membukakan pintu untuk mereka.  “Tuan Lee! Apa kabar?” sambut perempuan bernama Aiko itu.


             “Hai nenek Aiko, kami semua baik! Sudah lama sekali kita tidak berjumpa! Nenek baik kan?” tanya Lee sambil berpelukan melepas rindu.


             “Aku baik-baik saja! Wah ini Ryu?! Kamu sudah besar sekali ya, nak?”


             Ryu menggeleng. “Ya, dulu waktu bertemu Ryu masih sangat kecil, pasti tidak ingat! He..he..he!” kata Nenek Aiko.


             Aiko memandang Myori penuh tanda tanya, berusaha mengingat siapa gadis yang ada di hadapannya itu. Myori tersenyum dan membungkuk penuh hormat.


             “Lee, kau sudah menikah kok tidak memberitahu nenek?!” kata nenek Aiko polos.


             Keduanya terperanjat kaget. Lee dan Myori saling bertatapan kemudian tertunduk tersipu-sipu. “Ah, nenek bisa saja! Aku belum menikah, Nek! Kenalkan ini Myori Fujikawa, guru yang mengajari Ryu di sekolah!”


             “Oooh… aku kira kalian sudah menikah dan mau berbulan madu disini!”


             Ketiganya hanya tertawa mendengar kepolosan sang nenek. Kemudian nenek Aiko mempersilakan tamunya itu masuk ke dalam pondok dan menjamunya dengan berbagai hidangan yang sudah disiapkannya bersama sang cucu. Suasana podok begitu hangat dan bersahaja.


             “Ryu, kamu sudah kelas berapa sekarang?” tanya nenek.


             “Kelas 5, nek!” jawab Ryu singkat.


             “Wah, berarti hanya beda satu tahun saja dengan cucu nenek, Yamada! Ia kelas empat sekarang ini.”


             “Nenek selalu tinggal di sini?” tanya Lee.


             “Tidak! Nenek hanya berada di sini jika musim gugur saja. Setelah itu, nenek kembali tinggal dengan orang tua Yamada. Eh, Lee! Kamu yakin, Myori itu bukan istri atau pacar kamu? Nenek tidak percaya ah!”


             Lee tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Begitu pula dengan Myori. “Sepertinya harus Myori yang menjawab pertanyaan ini!” kata Lee kepada Myori. Myori terkejut dan terheran-heran. Tapi ia mengangguk.


             “Nek, saya diundang oleh keluarga Choi untuk berlibur bersama di sini atas permintaan Ryu. Saya dan Lee juga baru berkenalan beberapa hari yang lalu, dan kami tidak memiliki hubungan yang spesial, hanya sebatas teman biasa!” jelas Myori.


             “Ah! Dasar anak muda! Kalau tidak spesial, mana mungkin Lee undang! Bukan begitu, Ryu?!” goda nenek.


             Ryu tertawa-tawa sambil melihat sesekali ke arah Lee dan Myori, yang terlihat makin gugup. Myori hanya tertunduk.


             “Baiklah, kalau tidak mengaku! Yamada!! Antar Ryu dan Myori ini ke kamarnya ya!” akhirnya nenek mengakhiri tuduhannya. Seorang anak lelaki mengantarkan Myori dan Ryu ke lantai atas, dimana mereka bisa beristirahat dalam satu kamar.


             Sementara itu, nenek yang mengantar Lee menuju kamarnya.


             “Nenek ini, apa-apaan sih? Tidak usah menggoda seperti itu!” kata Lee.


             “Ahh… kamu ini! Kalau punya perasaan terhadap seorang perempuan, utarakan saja! Nenek bisa lihat itu dari mata kamu, Lee! Kamu menyukainya, kan?!”


             “Nenek bisa aja! Sudah ah!”


             “Ehh… suatu hari juga, kamu harus berumah tangga! Nenek lihat, Myori ini dia wanita yang baik dan tulus. Sayang sekali, kalau kamu tidak mendapatkannya! Lagipula, mata kalian itu memiliki pancaran yang sama, kalian saling menyukai!”


             “Benarkah?!”


             “Nah! Ketahuan! Kau menyukainya, kan?!”


             “Ah, nenek jangan bercanda!”


             “Nenek tidak bohong! Mata kalian juga tidak bisa bohong! Nenek bisa membacanya! Ayo, nenek dukung kau untuk bisa mendapatkannya.”


             Lee tertawa bahagia. Ia memeluk nenek dan mengucapkan terima kasih atas saran yang sangat berharga itu. Ia hanya bisa berharap apa yang dikatakan nenek Aiko itu memang benar bahwa Myori memiliki perasaan yang sama terhadapnya.


***