
Tiga bulan kemudian…
Angin bertiup semakin dingin. Musim gugur telah berlalu. Daun-daun yang dulu
berjatuhan kini bergantian menjadi kristal-kristal salju yang turun dari langit. Musim dingin telah datang terasa sangat cepat, seolah mewakili suasana hati seorang Myori. Setelah pengakuan Lee padanya, hatinya menjadi lebih dingin dan sensitif. Ia memang tak dapat menyembunyikan perasaan yang sebenarnya, ia terlalu berharap pada Lee yang tak bisa memenuhi ruang kosong di hatinya. Meskipun hubungan keduanya lebih dekat setelah pengakuan itu, tetapi kini jarak memisahkan mereka.
Kini, Lee telah berubah menjadi artis yang sedang naik daun setelah memenangkan kompetisi penyanyi dua bulan yang lalu. Lee lebih banyak berada di luar Jepang untuk memenuhi jadwal-jadwalnya yang padat. Myori mungkin tak dapat berharap lebih lagi padanya, meskipun ia sangat tahu isi hati Lee padanya. Myori bersyukur, ia masih bisa bersama Ryu yang menjadi sahabatnya. Kedekatan keduanya memang tak tampak jika proses belajar mengajar sedang dilaksanakan, keadaan mereka layaknya guru dan murid, sama seperti yang lainnya. Myori tidak pernah membeda-bedakan murid-muridnya, ia berusaha berlaku adil pada semua muridnya, meskipun ada beberapa murid yang kurang sopan padanya.
Sore itu seperti biasanya, Ryu sedang duduk seorang diri di kursi halaman menunggu jemputannya tiba. Myori yang baru saja selesai mengambil semua barangnya, menghampiri gadis kecil berambut panjang yang sedang tertunduk lesu.
“Hai! Jemputanmu belum tiba ya? Ada apa Ryu? Tampaknya hari ini kau terlihat lesu sekali, kau tak tampak ceria seperti biasanya”, tanya Myori heran.
Ryu tersenyum, tampak dipaksakan. Dia menggeleng.
“Ryu, apa yang terjadi? Kalau kau punya masalah, ceritakan saja padaku!”
Tiba-tiba saja, Ryu memeluk Myori, air matanya bercucuran. Myori berusaha menenangkan Ryu, meskipun ia belum mengerti apa yang terjadi.
“Cerita saja Ryu!”
“Myori-san, bolehkah aku menginap di rumahmu?” katanya memelas sambil mengusap air matanya.
“Oh, tentu saja, Ryu! Kau sudah bilang pada kakakmu?”
Ryu menggeleng. “Tapi aku sudah bilang pada Tanabe, aku sudah meminta pada Paman Hiroshi untuk tidak menjemputku.”
“Baiklah kalau begitu, mari kita pulang!”
***
“Kau sudah siap untuk cerita?” tanya Myori setelah keduanya sudah berada di kediaman Myori, tepatnya di dalam kamarnya.
Ryu tampak ragu. Ekspresi wajah yang tadi sudah biasa, kini kembali menjadi terlihat sedih, ia kembali mencucurkan air matanya. Myori memandang heran Ryu, tapi ia membiarkan Ryu mengeluarkan emosinya.
“Aku tidak mau pergi dari sini, Myori-san!!” kata Ryu sambil merengek. Myori sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Ryu katakan.
“Apa maksudmu, Ryu? Tenangkan dirimu dulu sebentar.” Myori meyakinkan Ryu, ia memberinya segelas ocha hangat untuk menenangkannya.
Ryu masih terisak-isak, ia berusaha menenangkan dirinya.
“Myori-san! Kau mungkin sudah mengetahui kalau kakakku sering tidak berada di Jepang lagi bukan?” Ryu akhirnya berkata-kata. Myori mengangguk.
“Begini, ternyata kakak sudah menandatangani kontrak dengan perusahaan entertainment di Korea.”
“Itu kabar baik, bukan? Lalu kenapa kau menangis?”
“Kakak memutuskanku untuk ikut dengannya ke Korea!”
Myori terkejut dengan berita itu. Ia akan kehilangan sahabat kecilnya.
“Kakak menyuruhku untuk ikut dengannya! Katanya bagaimanapun keadaannya, ia tetap harus bisa menjaga aku. Oleh karena itu, aku disuruhnya untuk ikut kesana. Aku tidak tahu sampai kapan, tapi aku tak mau berpisah denganmu Myori-san! Aku menyayangimu….! Kau sudah seperti kakak kandungku sendiri!” kata Ryu sambil menangis.
Myori memeluk Ryu kecilnya. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan, yang jelas ia juga pasti akan sangat kehilangan Ryu. Myori ikut meneteskan air matanya, tapi ia harus memberikan motivasi pada Ryu.
“Ryu! Dengarkan aku! Kau hanya pindah ke Korea, itu tidak jauh dari sini!”
“Tapi tetap saja aku akan jauh darimu, sensei!”
“Iya, aku tahu! Tapi, kakakmu membutuhkanmu disana! Hanya kau yang bisa membantunya, Ryu! Karena kau satu-satunya keluarga yang ia punya!”
Ryu menangis semakin menjadi. Ikatan batinnya dengan Myori memang sudah sangat erat terjalin. Ia merasa sangat nyaman berada dekat dengan Myori. Begitu pula dengan Myori.
“Ryu, aku tahu, ini berat! Tapi percayalah, apa yang sudah kakakmu putuskan, itu pasti yang terbaik untukmu! Ia sangat menyayangimu.”
Ryu berhenti dari isakan tangisannya. Ia merasakan bahwa apa yang dikatakan Myori memang benar adanya. Ia percaya bahwa kakaknya pasti sudah memilih yang terbaik untuknya. Myori tersenyum untuknya.
“Tentu saja! Korea itu tidak jauh dari Jepang, mungkin suatu hari kita akan bertemu lagi!” Myori berusaha menyenangkan Ryu.
“Baiklah! Aku akan meminta Kak Lee untuk sering-sering mengunjungi Tokyo!”
Myori tersenyum lega melihat Ryu sudah lebih baik.
“Atau mungkin aku yang akan datang kesana!” kata Myori.
Senyuman Ryu sudah tampak kembali di wajahnya mendengar kata-kata Myori.
“Nah kalau kau sudah merasa baikan, mari kita tidur! Malam sudah larut! Besok kita harus berangkat pagi agar tidak ketinggalan kereta!” kata Myori.
“Haii! Oh ya, sensei! Kak Lee tadi pagi meneleponku, katanya besok sore sepulang sekolah, ia mengajakmu untuk berbicara dua mata saja!”
Myori terkejut. Ia memang belum pernah bertemu dengan Lee lagi semenjak dari Kyoto. Hanya saja, Lee memang kadang menghubunginya di akhir minggu meskipun hanya sekedar menanyakan kabarnya.
“Baiklah!”
“Oh ya, bolehkah aku menanyakan satu hal padamu, sensei?”
“Ya, apa itu?
“Apakah kau dan Kak Lee ada hubungan special?” tanya Ryu polos.
Myori tersenyum kecil. Ia menggeleng.
“Hmm…, benarkah? Tapi sepertinya aku mencurigai sesuatu!”
“Tentu saja! Kakakmu akan menjadi artis terkenal, ia pasti banyak bertemu dengan gadis-gadis cantik di luar sana.”
“Tapi… aku merasakan sesuatu yang aneh di antara kalian. Kak Lee sering sekali menanyakan sesuatu tentangmu. Selain itu, ia juga tersenyum sendiri semenjak pulang dari Kyoto. Aku berasumsi, ia menyukaimu!” kata Ryu tersenyum senang.
Myori tampak kikuk dan malu mendengar kata-kata Ryu.
“Aku tidak tahu. Mungkin perasaanmu saja, Ryu!”
“Bukankah kalian pernah makan malam berdua di Kyoto, kan? Apa yang terjadi?! Ayo Myori-san, ceritakan padaku!” kata Ryu memaksa.
“Hey! Coba saja tanyakan pada kakakmu!”
“Ahh! Dia tidak pernah mau cerita padaku! Ayolah, ceritakan padaku!”
“Hari itu hanya makan malam biasa.”
“Makan malam saja? Tidak ada yang lain? Kau yakin?”
“Umm…dan juga dansa. Ia mengajakku berdansa, meskipun aku sudah bilang aku tidak bis berdansa. Ia tetap saja mengajakku.” Cerita Myori tersipu-sipu mengingat hal itu.
Ryu tertawa bahagia. “Lalu, apa yang terjadi?”
Ingatan Myori berjalan mundur ke malam itu. “Kami berjalan menuju Imperial Palace, dan berbincang lama sekali disana, sampai akhirnya kami merasakan kedinginan. Kami sadar malam sudah sangat larut, lalu kami pun kembali ke pondok. Itu saja, tidak ada yang special!” cerita Myori dengan nada lesu.
Ryu tampak kecewa dengan akhir ceritanya.
“Ayo tidur! Malam sudah larut. Gawat kalau kita berdua terlambat!” ajak Myori.
Myori membuka kasur futon untuk dirinya dan Ryu. Pikiran keduanya terbang melayang menuju alam pikirannya masing-masing hingga mengantarkannya tidur terlelap memasuki mimpi-mimpi yang tak pernah mereka temukan dalam kehidupan sebenarnya.
Angan-angan tetap berada di atas pikiran, berharap membawa mereka kepada harapannya masing-masing. Meskipun mereka tak tahu apa yang akan mereka hadapi esok hari dan selanjutnya, karena masa depan tetaplah menjadi misteri bagi yang mengharapkannya.
***