
Semua anggota keluarga sudah berkumpul, baik dari pihak Myori maupun Kazuo. Mereka senang sekali melihat Ryuzaki yang bertambah besar, meskipun hari itu juga merupakan hari kepergian orang yang mereka sayangi. Namun, suasana itu tak tampak pada pesta ulang tahun Ryuzaki yang kedua kali ini.
Ruang keluarga yang menjadi tempat pesta sudah didekor sedemikian rupa agar Ryuzaki merasa ceria. Sebuah kue tart dengan berbagai macam hiasan kesukaan anak itu sudah tersaji di atas meja. Suasana dua keluarga ditambah kehadiran Lee, Ryu, dan Tanabe terasa sangat hangat akrab siang itu. Semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk si kecil yang menggemaskan. Sedang Ryuzaki sendiri tampak ceria sekali dengan balon warna-warni yang berserakan dimana-mana. Tangannya yang mungil selalu ingin mencolek kue berwarna hijau terang yang ada di hadapannya. Myori membuat tangannya ikut bertepuk tangan seperti yang lainnya, sambil menyanyikan lagu. Kemudian, saatnya meniup lilin. Myori membantu anaknya itu untuk meniup lilin yang jumlahnya banyak. Semua yang ada di pesta bersorak sorai setelah Myori dan Ryuzaki berhasil meniup lilin. Semuanya mendoakan agar Ryuzaki tumbuh menjadi anak yang baik, cerdas dan hebat.
Han Minji, ibu Kazuo atau mertua Myori yang hadir di pesta itu menangis terharu. Ia terharu melihat cucu pertamanya sudah besar. “Seandainya ayahmu ada disini, Ryuzaki…” kata Minji sambil menangis.
“Ah…umma!” sahut Myori ikut terharu sambil memeluk ibu mertuanya itu.
“Sudahlah, ayo kita rayakan ulang tahun Ryuzaki! Kau harus jadi hebat seperti ayahmu, ya?” kata Minji sambil menggendong dan menciumi Ryuzaki.
Suasana pesta sederhana berlangsung dengan ceria, akrab, tapi juga penuh haru. Lee dan Ryu diperkenalkan kepada keluarga Han. Myori mengenalkan keduanya sebagai sahabatnya. Ketika malam menjelang, anggota keluarga Fujikawa kembali ke rumahnya di Shinagawa, begitu pula dengan keluarga Han yang telah datang jauh-jauh dari Paris.
“Umma, apakah kau akan langsung ke Paris?” tanya Myori melihat mertuanya yang sedang bersiap-siap mengemas barangnya. Ia telah menginap selama seminggu di Tokyo.
“Ya, aku sudah melihat cucuku semakin baik saja. Aku juga senang melihat keadaanmu sudah lebih baik dari tahun kemarin.”
“Aku hanya ingin berada di rumahku. Kau punya kehidupan disini, begitu pula denganku.”
Myori membantu mertuanya itu membereskan barangnya.
“Oh ya, jika pria itu yang dimaksud oleh Kazuo sebelum kepergiannya, kau harus benar-benar memenuhi permintaan Kazuo untuk menikahinya, agar Kazuo tenang disana. Aku akan merestui pernikahan kalian, lagipula Ryuzaki sangat membutuhkan sosok ayah disampingnya. Dia pria yang sangat baik. Aku bisa melihatnya!” kata Minji sebelum pergi.
“Umma?!” Myori terkejut dengan perkataan mertuanya.
“Aku bisa melihat dari matanya, dia menyukaimu! Kau juga begitu, kan?”
“Umma??!!”