
“Itulah utangku padamu, Myori!” kata Lee. Ia menggenggam tangan Myori dengan tangan kekarnya, berusaha menatapnya teduh dan hangat namun dengan penuh keyakinan, bahwa ia akan menyembuhkan luka yang Myori simpan.
“Myori, izinkan aku menyembuhkan luka itu!” pinta Lee, matanya berkaca-kaca.
Myori menangis. Lee memeluk Myori hangat. Myori masih belum menjawab pertanyaannya. Lee kembali menatapnya.
“Kumohon, izinkan aku untuk menyembuhkan luka hatimu. Beri aku kesempatan setelah selama ini aku menunggumu untuk mengobatimu. Aku sudah penuhi janjiku meskipun aku tak pernah memberi jaminan apapun padamu! Aku mencintaimu, Myori!”
Akhirnya, pengakuan itu muncul juga dari bibir Lee. Ia tetap memendam janji yang ia ucapkan di malam itu sampai saat ini. Meskipun ia tahu, ia pun terluka bahkan lebih terluka dari Myori. Myori masih menangis, ia tengah mengumpulkan kekuatan untuk menjawab.
“Lee........! Maafkan aku, aku tak percaya padamu! Izinkan aku juga untuk menyembuhkan luka yang aku buat padamu!”
Jawaban Myori membuat mata Lee bersinar-sinar secerah sinar bulan purnama malam ini. Keduanya terhanyut dalam pelukan hangat, seolah seperti obat penawar rindu yang selama ini keduanya pendam.
Every day and night with you,
I take your hand.
Every day every night everywhere,
Now we feel connected and verified.
Now, let the story begin.