
Burung-burung berkicauan menyambut pagi yang dingin ini. Awan terlihat tebal dan suasana terasa gelap dan sunyi. Mungkin akan turun hujan hari ini. Mungkin akan lebih baik jika terus berada di balik selimut karena akan terasa lebih nyaman daripada berada di luar.
Myori dan Ryu masih tak berkutik di atas futon mereka, dibaluti selimut tebal seluruh tubuh mereka. Tapi segera ibu membangunkan keduanya dengan terpaksa, dengan alasan sarapan pagi telah disiapkan.
“Ah…ibu! Hari masih dingin begini! Nanti saja, aku menyusul!” kata Myori menolak.
“Eh…ibu sudah buatkan bubur untuk kalian, nanti keburu dingin! Ayo bangunkan Ryu juga!”
Myori terpaksa bangun dari tidurnya. Ia merapikan futon-nya kemudian memasukkannya kedalam lemari kayu. Lalu ia berusaha untuk membangunkan muridnya, Ryu.
“Ryu! Ayo bangun sudah pagi! Kita sarapan bubur dulu!”
Ryu membuka matanya, kemudian mengucaknya. “Aku akan membantumu membereskan kasurmu!” kata Myori. Ryu yang masih lemas, kemudian berdiri sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Ayo kita sarapan dulu! Ibu sudah membuatkan bubur untuk kita, setelah itu kita mandi, lalu terserah kau….” Ajak Myori.
Kemudian keduanya turun ke lantai bawah menuju ruang keluarga. Semua anggota keluarga telah berkumpul disana, seperti biasa. Beberapa mangkuk besar berisi bubur dengan berbagai isinya telah tersaji diatas meja.
“Ittadakimasu!!!” semuanya bersorak.
“Oh ya, Ai! Apakah kau mau ikut dengan kami nanti sore?” Tanya Myori.
“Kemana?” Tanya Ai penasaran.
“Ke taman!”
“Ah, aku harus pergi ke rumah temanku dan menginap disana, karena besok ada tugas yang harus diselesaikan! Memangnya ada apa?”
“Umm…tak apa! Aku hanya mengajak. Selesaikan saja tugasmu dulu, mungkin lain hari baru bisa!”
Kening Ai mengerut, menebak-nebak. Tapi kemudian ia tampak tak mempedulikannya. Ia tahu, tugas sekolahnya lebih penting. Tetapi bagaimana jika ia tahu, kalau kakaknya itu mengajak untuk bertemu penyanyi idolanya? Mungkin ia bisa lupa akan tugasnya.
***
Langit kelabu menyelimuti Tokyo yang semakin ramai ini. Tak ada sinar matahari yang membuat suasana hari ini ceria. Tak ada satu pun tetes air hujan yang turun. Mungkin akan datang saatnya tak lama lagi. Biarlah hari ini menjadi hujan yang pertama turun di musim gugur.
Ryu telah membereskan barang-barangnya. Ia memasukkan buku kesayangan yang baru diperbaikinya bersama Myori ke dalam tasnya. Ia juga telah memasukkan buku baru yang dibelikan Myori untuknya.
“Sensei, arigatou gozaimasu, maaf telah banyak merepotkan!” kata Ryu tulus.
“Tak apa, Ryu! Kau anak yang baik! Kau sudah siap?” Tanya Myori.
Ryu mengangguk. Mereka bersiap-siap pergi ke taman untuk menunggu Lee disana. Ryu akan kembali pulang setelah semalam menginap di rumah gurunya itu. Sebenarnya, Ryu sedikit sedih. Jujur, ia sangat senang tinggal bersama gurunya itu. Apalagi suasana keluarga yang hangat, yang tak pernah ia rasakan kembali. Namun, ia harus kembali pada kakaknya.
“Myori, bawa payungmu!” kata ibu sebelum pergi.
“Tak usahlah, bu! Aku hanya berjalan ke taman kota. Aku bisa berlari jika turun hujan!” kata Myori menolak
“Bagaimana jika turun hujan, Ryu bisa sakit!”
“Aku membawa payung, Bibi!” jawab Ryu.
“Ya sudahlah, hati-hati ya Ryu! Mainlah kemari lagi, jangan sungkan-sungkan!”
“Terima kasih banyak, Bibi! Sampai jumpa lagi!” pamit Ryu.
Kemudian, Myori dan Ryu berjalan menuju taman kota Osaki, yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumah Myori. Sepi memenuhi penjuru jalan di kota kecil itu. Hanya ada beberapa orang berjalan di jalan kecil menuju kota. Mereka berjalan menapaki jalanan lembab dengan daun kecokelatan yang berserakan. Angin musim gugur berhembus menusuk ke dalam kulit terasa dingin dan beku. Mereka terus berjalan, hingga pohon besar itu tampak dihadapan mereka. Pohon besar yang di musim panas bisa menjadi peneduh paling nyaman, yang kali ini tampak kuning dan basah. Beberapa lampu taman telah dinyalakan karena suasana yang gelap. Kursi-kursi taman terasa basah ketika diduduki. Keduanya duduk disana sambil menunggu kedatangan Lee.
“Bu guru, menurutmu apa yang akan terjadi jika Kak Ai bertemu dengan kakakku ya?” Tanya Ryu mengira-ngira.
Ryu tertawa kecil. ”Lalu, apa yang akan kau lakukan jika seandainya kau adalah penggemar kakakku? Apakah kau akan langsung memeluknya atau hanya sekedar berfoto dengannya?” Tanya Ryu berandai-andai.
Myori cukup terkejut dengan pertanyaan Ryu. Ia berpikir sejenak. Tapi ia tak mungkin melakukan apa yang dikatakan Ryu. Myori bingung menjawabnya dan tampak salah tingkah.
“Umm….hmm…aku tidak tahu! Tapi aku bukan penggemar kakakmu kan?!” kata Myori bingung.
“Aku kan hanya bertanya jika seandainya….”
“Hmm…mungkin aku akan melakukan apa yang kau bilang tadi, keduanya!”
“Begitu ya! Baiklah, aku doakan semoga suatu hari nanti, kau bisa menjadi penggemar kakakku!” kata Ryu polos.
Myori terkejut dalam hatinya. Ia hanya tersenyum.
“Bolehkah aku meminta satu hal padamu?” Tanya Ryu.
“Tentu saja, apa itu?”
“Bolehkah kau menjadi sahabatku?” pinta Ryu tulus.
Myori tersenyum pada anak berwajah polos itu. “Tentu saja Ryu! Kita bisa bersahabat baik dan kau boleh memanggil namaku!” kata Myori.
Senyuman mengembang di wajah Ryu. Mulai hari ini, keduanya akan menjadi sahabat baik, meskipun usia keduanya cukup berjauhan.
“Oh ya, Ryu, berapa usia kakakmu?” Tanya Myori.
“Hmm…kalau tidak salah, kemarin kakak berulang tahun yang ke-24.”
Jika usia Lee 24 tahun, berarti ia berbeda dua tahun lebih tua dengan Myori.
Hampir tiga puluh menit, keduanya menunggu di bawah pohon besar itu. Tak lama kemudian, hujan turun rintik-rintik dan semakin besar. Keduanya beruntung menunggu di bawah pohon besar yang bisa melindungi dari air hujan, jadi keduanya tak basah karena terlindungi oleh dedaunan lebat pohon besar ini.
Tak lama setelah turunnya hujan, sebuah mobil Mercedez hitam berhenti di bawah sebuah lampu jalanan. Pintunya kemudian terbuka, seorang pria dengan segera berlari menuju pohon besar itu sambil menutupi kepalanya oleh jas biru gelap miliknya. Rambutnya bergaya akhirnya harus basah terkena air hujan yang membasahi kepalanya. Ia harus berlari cukup jauh untuk mencapai pohon besar itu. Kedua orang yang menunggunya dari tadi memandangnya dengan harap. Akhirnya, pria itu tiba di depan kedua orang yang menunggunya, memasang ekspresi penyesalan karena keterlambatannya dan kekesalan karena harus berlari di bawah hujan.
“Maaf, aku terlambat! Apa kalian sudah menunggu lama?” katanya sambil memaksakan senyumnya. Kedua wajah dihadapannya dengan ekspresi tenang dan lega sepertinya secara tidak langsung menjawab pertanyaannya. Meskipun cukup lama, tapi tak apa.
Ryu sudah membuka payung kecilnya. Ia memandang pada sahabat barunya. “Kak Myori, terima kasih banyak. Maaf aku sudah banyak merepotkanmu!” kata Ryu polos.
“Ya, terima kasih banyak Myori! Aku sudah banyak merepotkanmu, aku memang bukan kakak yang bertanggung jawab bagi adikku!” kata Lee menyesal.
“Sudahlah, tidak apa-apa! Aku sudah menganggap Ryu seperti adikku sendiri.”
Lee tersenyum pada Myori. “Mungkin kita harus menghabiskan waktu bersama kapan-kapan. Aku akan meluangkan waktu untuk bisa berlibur dengan adikku ini, mungkin jika tak keberatan, aku ingin mengajakmu. Maukah?” Tanya Lee penuh harap.
Hati Myori berdegup kencang. Seorang pria mengajaknya berlibur bersama. Ia tampak berpikir-pikir tapi dalam hati sebenarnya, ia mengangguk mantap.
“Hmm…aku akan pertimbangkan hal itu!” jawab Myori.
Ekspresi Lee tampak penuh harap Myori bisa menjawabnya hari itu juga. “Baiklah, aku akan tunggu jawabanmu! Akhir bulan ini, kami akan pergi ke Kyoto, menikmati pemandangan musim gugur disana! Aku harap kau bisa ikut dengan kami! Aku khawatir aku tak akan punya waktu lebih banyak lagi untuk berlibur bersama.”
Ryu memandang Myori dengan penuh harap agar ia bisa menjawabnya sekarang. Wajahnya tampak memohon dengan sangat. Myori memandangi muridnya itu, ia dapat membaca matanya yang memohon. Myori tertunduk.
“Baiklah, ini untuk sahabat kecilku!” jawab Myori akhirnya.
Senyuman mengembang di bibir Lee, memperlihatkan giginya yang putih dan rapi. Wajahnya tampak lega sekaligus bahagia. Begitu pula dengan Ryu yang meloncat kegirangan.
***