
Keesokan harinya, Lee berkunjung ke rumah Myori tanpa undangan. Ia menyengajakan diri untuk mendatangi rumah itu. Myori terkejut sekaligus senang sekali mendapati tamunya itu berkunjung ke rumah barunya.
“Hei, darimana kau tahu rumahku?”
Lee terkekeh. “Aku tanya-tanya saja pada orang-orang yang tinggal di daerah ini!” katanya berbohong. Myori tampak tak percaya.
“Untung saja aku ada di rumah, karena biasanya hari Minggu aku mengajak Ryuzaki ke taman untuk berjalan-jalan.”
“Aku beruntung!” kata Lee tertawa.
“Kau mau melihat-lihat rumahku?”
Lee tersenyum. “Tentu saja! Ini kan rumah barumu!”
Myori mengajak Lee berjalan-jalan melihat rumahnya. Rumah itu terlihat simpel tapi begitu modern dan elegan. Furnitur yang terbuat dari kayu berwarna cokelat gelap membuat kesan natural. Myori paling menyukai taman di belakang rumah, tidak terlalu luas tetapi dilengkapi dengan sebuah kolam renang. Dinding-dinding tembok luar ditempel dengan batu-batu alam, gemericik air terdengar menyejukkan dari kolam kecil yang terdapat di samping kolam renang. Teralis yang terbuat dari kayu tampak indah berjejeran, menjadi pembatas antara teras dan taman, sungguh rumah bergaya perpaduan antara tradisional dan modern. Pepohonan kecil yang hijau terlihat menguning di musim gugur ini. Lee dan Myori dudukdi kursi taman yang berhadapan dengan kolam renang.
“Kazuo pandai sekali mencarikan seorang arsitek! Aku ingin berterima kasih banyak padanya untuk merancang rumah indah seperti ini.”
Lee tersenyum dalam hati.
“Kau sangat menyukai rumah ini?”
“Ya, aku sungguh menyukainya!”
“Syukurlah kalau kau menyukainya! Kazuo pernah bercerita padaku, ia menginginkan sebuah rumah untuk keluarganya. Hanya saja ia bingung, rumah seperti apa yang ia inginkan.”
Myori tampak memperhatikan cerita Lee.
“Kemudian ia teringat bahwa temannya adalah seorang arsitek, meskipun pada saat itu ia bekerja bukan sebagai arsitek. Sepertinya arsitek itu tampak kebingungan juga mencarikan rancangan bangunan yang pas untuk keluarga Kazuo. Hanya saja arsitek itu teringat akan sebuah pondok kayu di tepi danau. Pondok itu memang terbuat dari kayu saja, tetapi arsitek itu berpikir bagaimana jika konsep rumah modern dipadukan dengan konsep rumah pondok kayu tersebut? Pasti akan sangat pas sekali. Dengan bantuan para ahli bangunan yang handal, akhirnya arsitek tersebut bisa menyelesaikan rumah ini dalam waktu 9 bulan. Namun arsitek itu terkejut ketika mendapati sang pemesan rumah telah pergi selamanya. Tapi arsitek itu juga sangat bahagia ketika rancangan rumah pertamanya berhasil dibangun dengan sempurna.” Kata Lee bangga.
“Rancangan pertama?”
“Ya, rumah ini adalah rancangan pertamanya.”
“Luar biasa! Kau kenal dengannya, Lee? Aku sungguh sangat ingin berterima kasih padanya! Temukan aku dengannya!” pinta Myori.
“Tak perlu repot! Kau sudah bertemu dengannya!”
“Apa maksudmu?”
“Kau tak perlu menemuinya. Kau sedang berbincang dengan arsitek itu.” Kata Lee tersenyum.
“Maksudmu, kau adalah arsitek rumah ini?” tanya Myori terkejut. Lee mengangguk. Myori tak percaya bahwa Lee adalah arsitek rumahnya itu. “Lee.... terima kasih banyak, kau sungguh luar biasa!” pujian Myori membuat Lee malu tersipu-sipu.
Angin terasa dingin berhembus.
“Mungkin disini akan terasa dingin sekali jika musim dingin datang!” kata Myori.
“Ya mungkin, tapi suasana di dalam akan terasa lebih hangat jika kau berkumpul dengan orang-orang yang kau cintai!”
“Ya, mungkin...” kata Myori, nadanya berubah.
“Maaf...”
Myori tersenyum. Ada satu pertanyaan yang menggangu pikirannya. “Lee, kapan kau menikah?”
Pertanyaan Myori membuat Lee terkejut sekaligus senang.
“Ehmm... secepatnya!” jawabnya.
“Bagus kalau begitu!”
“Memangnya kenapa?”
“Bukankah, kau ingin menjalani kehidupan normalmu?” ucap Myori.
“Ya, tentu saja! Aku hanya membutuhkan waktu yang tepat, dan aku yakin tidak akan lama!
Ada perasaan tak karuan pada diri Myori ketika Lee menjawab pertanyaannya itu. Kecewa, bahagia, cemburu bercampur aduk dalam hatinya. Hingga ia tersadar, ada satu pertanyaan untuknya. Apakah aku masih mencintainya?
***