
Malam itu setelah pesta ulang tahun usai, semua keluarga kembali ke rumahnya masing-
masing. Tetapi tidak bagi Lee dan Ryu. Myori mengundang mereka untuk menginap di rumahnya, setelah pada saat dulu Myori yang selalu mendapat undangan untuk menginap. Selain itu, Ryuzaki akan merasa senang sekali ketika dua orang yang baru dikenalnya ada di rumahnya untuk bermain.
Malam terasa sunyi sepi setelah sebelumnya keramaian telah benar-benar pergi. Ryuzaki telah tidur di atas kasur empuknya, setelah Myori mengantarkannya melalu nyanyian yang biasa ia nyanyikan. Begitu pula dengan Ryu yang sudah tertidur lelap di samping Ryuzaki untuk menemaninya semalam. Tampaknya Ryu juga terbuai oleh lullaby yang dinyanyikan oleh Myori. Myori tersenyum melihat wajah-wajah polos di hadapannya. Myori berjalan keluar untuk memastikan bahwa keadaan rumahnya baik—baik saja. Ia juga memastikan bahwa pintu menuju taman belakang sudah terkunci. Tapi tampaknya langit malam ini terlihat sangat indah. Bulan purnama ditemani jutaan bintang menghiasi malam ini. Myori membuka pintu, merasakan dinginnya udara malam. Ia merapatkan cardigan yang ia pakai.
Myori melihat ia ada disana, duduk di kursi tamannya sambil memandang ke langit. Seorang pria yang ingin Myori hujani banyak pertanyaan. Myori menghampirinya.
Sinar bulan purnama terpantul indah di atas kolam. Sang arsitek rumah itu memandanginya, bukan, tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu. Sebuah suara mengejutkannya.
“Hei, kau belum tidur?”
“Aku tidak bisa tidur! Kau sendiri?”
“Aku juga. Ryuzaki sudah tertidur. Ryu juga! Tampaknya mereka berdua sangat menikmati nyanyian pengantar tidur.”
Myori ikut tertawa. “Kau sedang apa disini?” tanya Myori, ia duduk di samping Lee.
Lee menghela nafas, “hmm...aku hanya sedang memikirkan sesuatu!”
Ekspresi wajah Myori dipenuhi rasa keheranan, “Memikirkan apa kalau boleh kutahu?” tanya Myori memberanikan diri.
“Banyak sekali! Jika kuceritakan semuanya, aku yakin kau akan tertidur!” kata Lee tertawa
“Aku janji akan mendengarnya!”
***