
Hari demi hari berlalu, waktu demi waktu berjalan. Festival BLABLABLA akan segera datang. Festival yang dilaksanakan setiap tanggal BLABLABLA ini adalah merayakan bersama keluarga dan orang-orang terdekat sambil melihat terangnya bulan purnama di malam hari. Festival ini mungkin sederhana, tetapi dimaksudkan untuk menambah suasana akrab di dalam rumah.
Sabtu ini, pagi yang cukup cerah. Myori telah bangun untuk mempersiapkan sarapan pagi. Anggota keluarga lainnya, sedang berkumpul di ruang keluarga seperti biasanya sambil menonton televisi. Myori membawa beberapa mangkuk nasi dan Ibu membawa semangkuk besar sukiyaki. Ai bersiap-siap dengan posisinya yang akan menonton acara kesukaannya, siaran ulang audisi penyanyi Jepang “Japanese Voice”.
“Yeah!!! Acaranya dimulai! Jangan ribut donk!” seru Ai pada semua anggota keluarganya.
“Ayo sambil dimakan sarapannya, Ai!” kata ibu.
“Iya, iya! Cerewet sekali ibu ini!” kata Ai kesal.
“Selamat malam Pemirsa! Kita bertemu kembali dalam acara ‘Japanese Voice’ bersama saya, Tanaka Fukushima!” kata pembawa acara dalam televisi yang membawakan acara siaran ulang itu.
Ai begitu fokus menyaksikan acara itu. Ia tak bisa menyaksikan acara itu secara langsung, karena setiap malam Sabtu, ia selalu kelelahan setelah mengikuti pelajaran ektrakulikuler di sekolahnya. Sambil menyantap hidangan sarapan paginya, mata Ai tetap tertuju pada televisi. Beberapa butir nasi yang dimakannya berjatuhan di atas meja. Ibu sempat memarahinya. Sedangkan yang lainnya hanya menggelengkan kepalanya saja.
Beberapa peserta Japanese Voice telah tampil. Penampilan mereka begitu menakjubkan. Minggu-minggu ini persaingan begitu ketat, peserta yang berkompetisi hanya tinggal menyisakan 5 orang peserta saja. Hanya beberapa minggu lagi kompetisi pencarian bakat penyanyi ini akan berakhir.
Wajah Ai begitu serius menyaksikan acara kompetisi itu. Mimik wajahnya langsung terlihat bersinar ketika mendengar nama peserta favoritnya disebutkan untuk tampil di atas panggung. Posisi badannya berubah mencari posisi yang nyaman. “Ssssttt!!!” katanya pada semua yang masih berbincang-bincang.
“Selamat menyaksikan! Inilah dia, Choi Leejoon!”
Tepuk tangan penonton dalam televisi bergemuruh, begitu pula dengan Ai yang ikutan bertepuk tangan.
Minggu ini, Lee menyanyikan Wasurenaide dari Tohoshinki. Ekspresi dan gayanya membawakan lagu ia begitu menjiwainya. Suara lembutnya begitu menyentuh di hati para pendengarnya, termasuk Myori. Perasaan yang muncul di hatinya seolah tumbuh seperti bunga yang sedang berkembang. Hati Myori berdegup kencang. Rasanya tak karuan. Hatinya bergetar mendengar suara lembut Lee dari televisi. Apakah ia jatuh cinta padanya? Tetapi sejak kapan?
Ai bersorak bertepuk tangan ketika Lee telah selesai membawakan lagu. “Ahhh…..sungguh luar biasa!!!” katanya memuji dengan ekspresi wajah penuh harap.
“Kakak! Aku ingin bertanya. Apakah kau sungguh pernah bertemu dengannya, dengan Leejung?!” Tanya Ai, membuyarkan lamunan Myori.
“Ehh…. Ya tentu saja! Kami juga sempat berbincang-bincang di taman akhir minggu lalu.” Jawab Myori dengan pandangan yang menerawang ke masa-masa itu.
“Ah, benarkah?! Wahh, kau sungguh beruntung! Bisakah kau mempertemukannya denganku?” Tanya Ai penuh harap.
“Eh iya, Myori! Bilang padanya juga, ibu menyukainya!” kata ibu ikut-ikutan.
“Ahh…ibu!” timpal Ai.
Myori tersenyum. “Aku tidak yakin, Ai! Dia adalah orang yang sangat sibuk. Ia akan datang ketika Ryu ada masalah. Kini, Ryu tak ada masalah di sekolahnya. Mungkin kau harus bersabar, menunggu waktu yang tepat untuk bisa bertemu dengannya.” Kata Myori pada adiknya.
“Yah….begitu ya? Tapi kalau ada kakak ada kesempatan untuk bertemu dengannya, beritahu aku ya?!”
“Ya, semoga saja Leejung bisa menemui kita semua di rumah ini!” timpal ibu.
“Ah ibu, rumah kita kan jelek dan sempit. Jangan membuat dia tidak nyaman berada disini dong, bu!”
“Ah biar saja! Ibu akan membuat rumah kita menjadi istana ketika dia datang!” kata ibu berlebihan.
“Mana bisa seperti itu. Ada-ada saja ibu ini!” kata Ai.
“Ya, berharap saja, semoga apa yang kalian inginkan tercapai!” kata Myori sambil tersenyum melihat tingkah ibu dan adiknya itu.
“Eh, Myori! Apakah kau tidak menyukainya? Kau kan pernah bertemu dengannya. Lagipula dia kan tampan dan keren!” tanya ibunya tiba-tiba.
Dug!!! Hati Myori terkejut dengan pertanyaan ibu. “Ah, ibu ini!”
Myori tersenyum sambil berlalu meninggalkan Ai dan anggota keluarga lainnya.
Itu adalah pertanyaan yang harus ditanyakan pada dirinya sendiri. Apakah Myori menyukai Lee atau bahkan lebih dari itu?
Ponsel Myori berdering ketika Myori masuk ke dalam kamarnya. Di layar ponsel tertera “Lee”. Myori terkejut, ada apa Lee menelponku?
“Halo, selamat pagi!” sapa Myori gugup.
“Selamat pagi, Myori! Apakah aku mengganggu?”
“Ehm, tidak. Ada apa Lee? Apakah Ryu ada masalah?” tanya Myoti menebak-menebak.
“Oh, bukan itu! Ummm…begini! Seperti yang telah aku beritahu beberapa minggu yang lalu, kami akan pergi berlibur ke Kyoto lusa besok. Umm, maukah kau ikut bersama kami, tentunya jika kau tidak keberatan?”
“Oh….itu! Bagaimana ya? Hmm…..”
Hati Myori berkecamuk. Ia sungguh ingin ikut bersama Lee dan Ryu. Tetapi ia teringat, ada acara keluarga yang akan diselenggarakan beberapa hari lagi.
“Bagaimana Myori? Tentunya Ryu sangat mengharapkan kehadiranmu.”
“Aduh, bagaimana ini? Keluarga kami akan mengadakan acara, mungkin sekitar 3 hari lagi. Dan aku harus membantu mempersiapkannya. Aku belum bisa menjawab sekarang. Maafkan aku, Lee! Mungkin aku akan memberitahukanmu lagi nanti malam.” Kata Myori.
“Oh begitu ya? Baiklah. Kami akan menunggu kepastianmu nanti malam! Ya, kami sangat mengharapkan kehadiranmu dalam acara kami.” Kata Lee dengan nada memelas penuh harap.
“Baiklah, nanti akan kuhubungi lagi! Terima kasih atas undanganmu, Lee!”
“Ya, sama-sama. Umm, Myori…..” kata Lee terputus
“Ya, ada apa?!”
“Ahh, tidak! Aku lupa, maaf…., sampai jumpa!”
“Sampai jumpa!”
Myori tersenyum setelah mendapatkan telepon dari Lee. Ia memang berharap bisa memenuhi undangan Lee dan Ryu. Tetapi ia teringat akan acara pertunangan sepupunya di Sapporo besok lusa. Tentu saja, Myori harus menghadiri acara sepupunya itu, tetapi bagaimana dengan undangan Lee? Myori menghela nafas. Pandangannya tertuju pada langit biru di luar.
“Aduh, ibu ini selalu saja! Ada apa??!” sahut Myori
“Ayo, bantu ibu membereskan meja bekas sarapan! Jangan lupa cuci semua piring-piring kotornya! Paman akan berkunjung kemari!” teriak ibu.
Myori bergegas turun ke dapur. “Kenapa ibu tak minta bantuan Ai juga?” tanya Myori, karena ia yang selalu membantu ibunya di dapur.
“Ahh, Ai! Dia sulit sekali kalau disuruh! Kalau disuruh belanja baru dia mau! Ayo cepat bereskan, keburu pamanmu datang!” kata ibu sambil sibuk membereskan meja makan.
Myori hanya mengikuti perintah ibunya, mencuci beberapa piring kotor bekas sarapan dan wajan bekas memasak. Myori cukup kesal dengan adiknya yang masih asyik sendiri menonton televisi. Myori menghampirinya di ruang keluarga.
“Ai! Bisakah kamu membantu kami? Kami semua sedang membereskan rumah, sedangkan kamu sendiri asyik menonton tv! Ayo cepat bantu kakak!”
“Ah, kakak! Sebentar lagi selesai acaranya! Tuh lihat, Leejoon mendapat dukungan terbanyak minggu ini!”
“Ayo sudah! Cepat sana bantu ibu! Kamu harus merapikan taman di depan, sebentar lagi paman datang!”
“Baiklah….!!! Dasar kakak cerewet!” kata Ai berlalu sambil menjulurkan lidahnya.
Myori hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku adik perempuannya itu. Kemudian pandangannya tertuju pada televisi yang belum dimatikan. Ia melihat sosok Lee tersenyum di atas panggung sambil melambai-lambaikan tangannya kepada penonton. Sorot kamera mendekatinya. Lee menyampaikan ucapan terima kasihnya di hadapan kamera dengan senyumnya yang khas. Lee kembali menjadi peserta terbaik malam itu. Myori melihatnya dengan senang sekaligus bangga. Ia jadi teringat undangannya, apa yang harus ia katakan pada Lee?
Myori mematikan televisi, kemudian kembali membantu ibu dan anggota keluarga lainnya merapikan rumah. Debu-debu yang cukup lama tak dibersihkan beterbangan di sekitar ruangan, membuat Myori harus mengibas-kibaskan tangannya mengusir debu-debu. Vas bunga lama pemberian nenek pun tebal karena debu. Ah jorok sekali, sudah lama aku tak membersihkan barang-barang di ruangan ini! Bunga-bunga tiruan pun jadi terlihat sangat lusuh. Dengan hati-hati dan teliti, Myori membersihkan sedikit demi sedikit mahkota bunga dengan lap basah. Warna bunga yang asli pun terlihat segar kembali. Myori masih harus banyak membersihkan barang di ruang keluarga, pigura-pigura yang menempel di dinding, lemari buku, peralatan elektronik, karpet, dan banyak lagi. Agar tak terasa melelahkan, Myori memutarkan lagu dari ponselnya. Ia memutarkan lagu-lagu dari Tohoshinki, boyband asal Korea Selatan yang juga terkenal di Jepang. Myori juga termasuk penyuka musik Korean Pop, koleksi lagu-lagu band-band Korea memenuhi memori ponselnya.
“Myori, Ai, Mikimoto!!! Kemarilah, pamanmu sudah datang!!!”
“Baik, bu!!!” jawab ketiganya serempak di tempat yang berbeda.
Ketiganya datang ke ruang tamu untuk menemui pamannya yang baru tiba itu. “Selamat pagi, Paman! Apa kabar?!” sapa Myori sambil membungkukan badannya diikuti dua adiknya.
“Selamat pagi, Myori! Paman baik-baik saja! Bagaimana dengan kalian? Sudah lama tidak bertemu!” jawab paman.
“Kami semua sehat, Paman! Saya akan ambilkan minum untuk Paman dulu!” kata Myori. Myori berjalan menuju dapur untuk untuk mengambilkan beberapa cangkir dengan satu pot teh panas dilengkapi dengan beberapa kaleng biskuit. Ai ikut membantu Myori membawakan minum untuk paman dan lainnya. Setelah menghidangkannya di atas meja. Keduanya bergabung dalam percakapan keluarga.
“Bagaimana keadaan Hinata? Apakah keadaannya sudah membaik?” tanya ibu membuka obrolan keluarga itu.
“Keadaannya sudah membaik, hanya saja dia masih membutuhkan istirahat beberapa hari lagi. Kemugkinan acara pernikahannya akan ditunda untuk sementara ini. Tetapi kami belum tahu sampai kapan. Kita akan melihat perkembangan keadaan Hinata. Mudah-mudahan tidak akan tertunda terlalu lama.” Kata paman.
“Oh, maaf, saya kira Paman kemari untuk menjemput kami! Ada apa dengan Hinata?” tanya Myori tidak mengerti.
“Maafkan Paman juga, Myori. Paman memang menyuruh orang tuamu tidak memberitahukan keadaan Hinata yang kemarin mendapat kecelakaan, sehingga acara pernikahannya harus tertunda. Tetapi sekarang, kondisinya sudah jauh lebih baik, dia sudah segar kembali. Hanya saja, untuk saat ini, ia belum siap untuk acara pernikahannya.” Jelas paman.
“Apakah kalian membutuhkan bantuan kami?” tanya ibu cemas.
“Oh, kami tidak ingin membuat kalian repot sekarang. Mungkin untuk sekarang, kami bisa mengurusinya. Kami akan memberitahukan kalian secepatnya jika acaranya sudah ditetapkan. Tidak usah khawatir, keadaan semuanya baik-baik saja. Pihak dari laki-laki yang akan mengurusnya lebih banyak. Untuk saat ini, kalian tidak perlu ke Sapporo dahulu.” Kata paman menjelaskan.
“Baiklah kalau begitu, tetapi jika ada apa-apa, hubungi kami saja! Kami akan membantumu!”kata ibu.
“Terima kasih banyak adikku! Kami mengucapkan terima kasih banyak pada keluarga kalian yang selalu membantu kami!”
“Tak usah sungkan-sungkan, Paman! Ayo silakan diminum!” kata Myori.
***
Malam menyelimuti langit Tokyo yang dingin dan gelap. Awan tebal menutupi bintang-bintang jauh di atas sana. Malam terasa dingin berangin menyapu jalanan-jalan sepi di kota. Suara desir dedaunan melengkapi suasana kesendirian jiwa-jiwa di dalam kamar.
Di dalam kamarnya, Myori merasakan kegugupan. Ia menggegam ponselnya, membuka kontaknya, mencari nomor Lee di layarnya. Tetapi ia ragu untuk menghubunginya. Beberapa kali ia melakukannya, tetapi tetap saja ia tidak berani menekan tombol call di ponselnya. Myori menutupi wajahnya dengan bantal, kemudian tiba-tiba ponselnya berdering. Ia langsung menyambar ponselnya yang tadi ia jauhkan dari dirinya.
“Hallo!” sapa Myori.
“Hai! Bagaimana apakah kau bisa ikut bersama kami?” tanya suara dalam ponsel.
“Oohh, Lee?!!” Myori tidak melihat layar ponselnya sebelum mengangkat.
“Ya! Maaf mengganggumu, kau sudah tidur?” tanya suara ramah itu.
“Maaf! Belum, aku belum tidur!”
“Jadi, bagaimana? Kau bisa ikut bersama kami liburan ke Kyoto?” tanyanya lagi.
“Hmm, baiklah sudah kupikirkan! Aku akan ikut bersama kalian ke Kyoto!”
“Yesssss!!! Uhm, maaf!
Myori tersenyum mendengarnya.
“Baiklah kalau begitu, Senin pagi besok, aku akan menjemputmu! Uhm, maksudku, kami akan menjemputmu di rumahmu! Jadi persiapkan dirimu ya! Kita akan berlibur di Kyoto selama 5 hari. Ryu akan sangat senang mendengarnya! Terima kasih banyak Myori!”
“Terima kasih banyak juga, Lee!”
“Baiklah, selamat malam Myori! Selamat tidur dan semoga mimpimu indah!” salam perpisahan Lee.
“Kau juga! Bye…”
“Bye!”
***