
Malam itu, Myori tak bisa tidur. Seperti biasa ia keluar untuk mencari udara segar di malam hari. Tanpa sepengetahuan Kazuo yang sudah tertidur pulas, Myori keluar dari kamar menuju taman belakang resort. Pantulan sinar bulan terefleksi dengan indah di permukaan kolam yang tenang. Malam itu memang sudah cukup larut, tak banyak orang berkeliaran di taman, kecuali beberapa pelayan dan pegawai resort.
Myori berjalan-jalan seorang diri mengelilingi taman resort yang cukup luas. Udara malam yang segar dihirupnya, ketenangan melanda hati dan pikirannya. Ia berjalan menuju sebuah kursi taman di samping kolam, ia hendak duduk di kursi itu untuk beberapa saat. Namun di sana ada seorang pria yang juga sedang duduk di pinggiran kolam, memain-mainkan air membuat bayangan sinar bulan yang terpantul menjadi bergelombang. Tetapi Myori tak menghentikan langkahnya, justru ia semakin penasaran dengan sosok pria yang sepertinya ia kenal, ia mendekat dan semakin dekat.
“Kau di sini ternyata!” kata Myori tiba-tiba, mengejutkan lamunan pria itu. Ia sangat terkejut dengan keberadaan Myori di hadapannya.
“Myori! Benarkah itu kau?” tanyanya tidak percaya sambil berdiri.
“Ya, ini aku!” kata Myori.
“Aku tak percaya ternyata wanita yang kulihat itu benar-benar kau, Myori. Aku senang dapat bertemu lagi denganmu. Sungguh tak kusangka!” kata Lee.
Myori tersenyum di balik sinar lampu yang menyorotinya. Keduanya duduk di kursi taman yang berada di samping kolam itu.
“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Lee penasaran.
“Aku hanya tak bisa tidur! Jadi aku keluar untuk mencari udara segar!”
“Maksudku, apa yang kau lakukan di Jeju?”
“Ohh... Itu, aku sedang....” kata-katanya terputus, ia ingat bahwa dirinya sedang berbulan madu dengan suaminya. Sepertinya ia tak akan sanggup mengatakannya pada Lee. Tapi ia harus mengatakannya bahwa ia sudah menikah sekarang dan Lee harus mengetahuinya.
Lee memandanginya heran.
“Aku... sedang berlibur!”
“Benarkah? Sungguh kebetulan sekali!” kata Lee riang.
“Ya, aku sedang berlibur bersama suamiku!”
DUG!!! Lee tercengang. Ia seperti tersambar kilat mendengar kata-kata itu. Hatinya hancur seketika.
“Suami?!” berharap Lee salah mendengar.
“Ya, kami sedang berbulan madu di Jeju! Maafkan aku, Lee!” kata Myori yang menyadari ada hati yang pecah saat ini.
Lee tersenyum, meskipun hatinya begitu perih. “Syukurlah kau sudah menemukan orang yang dapat menyembuhkan luka itu. Kau sungguh beruntung!”
“Maafkan aku, Lee! Aku tak bisa memegang janjimu!”
“Tak apa! Kau berhak mendapatkan yang lebih baik dari orang sepertiku.” Lee tertunduk.
Keduanya terdiam lama sekali, merasakan hati yang sama-sama dingin namun tak bisa saling menghangatkan.
“Dia merasa lebih baik bersekolah di sekolah barunya. Ia juga telah menemukan teman-teman yang menyenangkan. Meskipun begitu aku harus terus mengawasinya.”
“Ya, dia sangat membutuhkan perhatianmu. Salamkan dariku untuknya, ya?”
Lee mengangguk.
“Myori!”
“Hmm?”
“Bolehkah aku meminta satu permintaan darimu?”
“Apa itu?”
“Maukah kau kenalkan suamimu padaku?”
Myori terdiam. Ia harus mengabulkan permintaan Lee kali ini.
“Tentu saja!” kata Myori tersenyum dingin.
“Terima kasih!”
“Temui kami di restauran resort ini ketika jam makan siang. Kami akan menunggumu di sana!”
“Baiklah, aku akan menemui kalian!”
“Mungkin sebaiknya aku kembali ke kamar. Aku khawatir suamiku akan bingung mencariku!”
Lee terdiam. Sejujurnya, ia sama sekali tak ingin melepaskan Myori pergi apalagi pada orang yang sama-sama mencintainya. Namun Myori bukanlah miliknya, ia harus melepasnya pergi.
“Lee....! Sampai ketemu besok!”
“Ya, bye....!”
Myori berjalan dengan langkah cepat menuju kamarnya, air matanya tertetes. Ia berharap ia tak akan bertemu dengan Lee lagi setelah pertemuan besok. Hatinya akan semakin terluka jika ia masih dapat bertemu dengannya. Myori memeluk suaminya yang sedang tertidur sesampainya di kamar. Kazuo terbangun bingung dengan keadaan Myori yang dilihatnya sedang menangis.
“Kau kenapa?” tanya Kazuo. Tapi Myori tak menjawab pertanyaan suaminya itu, ia hanya bisa memeluk suaminya itu. “Kau mimpi buruk?! Tenanglah, aku di sampingmu!” Kazuo mengira Myori mengalami mimpi buruk. Ia memeluk istrinya itu, berusaha menenangkan dan menidurkannya.
Sedangkan di tempat lain, Lee tak dapat lagi membendung air matanya. Hatinya begitu sakit, ia sungguh menyesal membiarkan Myori jatuh ke pelukan orang lain. Tak ada kesempatan baginya untuk memiliki Myori. Ia menyesali realita kehidupan yang dialaminya, ia harus mengorbankan perasaannya untuk masa depan hidupnya dan Ryu, sesuatu yang tak dapat ia jelaskan pada Myori. Lee menceburkan dirinya di kolam, menenggelamkan dirinya berkali-kali, mencabik-cabik air tanpa bisa merusaknya. Hatinya sungguh telah hancur berkeping-keping namun entah siapa yang bisa memperbaikinya.
***