
“Dimana patung itu?”
“Maaf, tapi aku sudah menjualnya dan mendapatkan uangnya… Kalau kau marah, aku rela membagi bagianku padamu,” ucap Tseydle.
“Ini kuberikan padamu seratus Crown… Emasnya terjual dengan berat tiga kilogram, jadi aku, Zinon dan Yukarin membaginya masing dua ratus Crown.” Tseydle kemudian memberikan separuh bagiannya kepada Gudov.
“Aku tidak perlu uang itu… Tapi, kalian menjual emas itu dengan harga dua ratus untuk perkilogramnya?” Namun, Gudov tidak mau menerima uang tersebut dan lantas bertanya sesuatu.
Tseydle pun menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan dari Gudov.
“Akh…” Mengetahui hal tersebut, Gudov pun menjadi kesal dan menendang kaki Tseydle karena temannya tersebut dengan gampangnya dapat dibodohi.
“Asal kau tahu, satu kilogram emas itu bisa dijual sampai empat ratus ribu Crown… Padahal sebenarnya aku mau mengatakan bahwa patung itu harus diberikan pada tuan Yermo karena kalian dengan sembarang memungutnya, tapi kau malah menjualnya, dan akhirnya dibodohi,” ucap Gudov dengan kesal membentak temannya tersebut.
Mendengar penjelasan dari Gudov, Tseydle pun terkejut, tidak menyangka bahwa dia telah ditipu oleh pemilik toko sebelumnya.
“Lalu kita harus bagaimana Gudov? Aku sudah terlanjur menjualnya?” Tanya Tseydle, kebingungan harus melakukan apa.
“Ikut aku… Kita pergi ke tempat dimana kau menjual patung itu.” Gudov pun langsung menarik Tseydle untuk kembali ke toko tempatnya menjual patung tersebut.
***
Gudov dan Tseydle sampai di toko sebelumnya dan kemudian masuk ke dalamnya, menghampiri si penjaga toko.
“Oh kau… Ada apa kembali lagi?” Tanya si penjaga toko.
“Aku ingin mengambil kembali patung emas itu,” tanpa menunggu Tseydle menjawab pertanyaan dari penjaga toko, Gudov langsung meminta patung emas yang dijual kepada mereka.
“Maaf nak, tapi benda itu sudah tidak bisa dijual kembali kepada kalian,” ucap si penjaga tokoh.
“Apa? Kalian bahkan sebenarnya menipu teman-temanku dengan membeli patung itu, dengan harga murah… Setidaknya kembalikan patung itu, kalau kalian menginginkan uang kalian maka akan kuberikan.” Gudov mengambil uang dari sakunya yang jumlah bahkan lebih dari enam ratus Crown, harga yang diberikan oleh sang pemilik toko.
“Maaf sekali nak, sudah kubilang bahwa benda itu tidak akan kami jual lagi.” Namun, si penjaga toko menolak uang dari Gudov dan dengan tegas mengatakan bahwa mereka tidak akan menjualnya.
“Sekarang keluar jika kalian tidak memiliki urusan lain,” ucap si penjaga toko, kemudian mengusir Gudov dan Tseydle.
Karena tidak bisa berbuat apa-apa, kedua remaja itu pun keluar dari toko tersebut tanpa membawa kembali patung emas tersebut.
“Gudov bagaimana ini?” Tanya Tseydle.
“Lupakan saja… Karena kalian sudah terlanjur menjualnya, kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi…” Ucap Gudov lalu pergi meninggalkan temannya itu.
***
Waktu pun berlalu, pada malam harinya di toko tempat barang-barang antik sebelumnya, nampak sang pemilik toko sedang berada di sebuah ruangan, dimana patung emas yang dibelinya dari Tseydle kini berada di atas sebuah meja.
Ketika sang pemilik itu itu pergi keluar sejenak, tiba-tiba patung emas itu bergetar dengan sendirinya hingga terjatuh ke lantai.
Pemilik toko itu lantas terkejut serta merasa bingung karena yakin sebelumnya patung itu berada di atas meja kini telah tergeletak di lantai.
Tidak mau terlalu lama penasaran, pria itu lantas memungut patung tersebut dan kembali menaruhnya di atas meja.
Dia kemudian sedikit memperhatikan patung tersebut. Entah apa mungkin imajinasinya atau bukan, kedua mata dari patung itu tiba-tiba memancarkan sinar berwarna merah.
Merasa terkejut mata dari pria itu lantas melotot melihat sinar yang memancar dari kedua mata patung emas tersebut.
“Akh…” Seketika sebuah kepungan asap berwarna hitam keluar dari patung emas itu dan masuk ke dalam tubuh pria itu melalui kedua mata, lubang hidung serta mulutnya.
Tak berapa lama, pria pemilik toko itu tersadar kembali dengan kedua matanya yang kini berubah warna menjadi berwarna merah.
Dia kembali berdiri dengan ekspresi wajah yang datar, lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
**
Setelah dari ruangan sebelumnya, pria itu menghampiri si penjaga toko yang merupakan karyawannya.
“Kau belum pulang pak?” Tanya si penjaga toko.
Akan tetapi, pria itu tidak menjawab pertanyaannya, membuat si penjaga toko bingung dan kemudian menatap pria itu.
Sang penjaga toko sontak terkejut melihat kedua mata pria itu kini berwarna merah dan terlihat sangat mengerikan.
“Pak, kenapa denganmu?” Tanya si penjaga toko, sedikit ketakutan melihat tatapan tajam dari pria itu.
“Uakh…!” Tanpa pikir panjang, pria itu menyerang karyawannya hingga tidak berdaya.
***
Di tempat lain, terlihat Yermo yang berada di tempat suci tiba-tiba terkejut merasakan sebuah tekanan kekuatan yang cukup besar.
Dengan cepat pria itu berdiri dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan ruangan yang dia tempati.
***
Beberapa saat kemudian, Yermo sampai di toko barang antik tersebut, dimana barang-barang yang berada di dalamnya telah berhamburan dan mendapati sang penjaga toko telah tewas akibat diserang oleh atasannya sendiri.
Sambil menghampiri penjaga toko yang telah terkapar tak berdaya itu, pria tersebut menutup kedua matanya dan kemudian sedikit mendoakannya.
Yermo kembali berdiri, meninggalkan penjaga toko itu lalu masuk ke sebuah ruangan, dimana terdapat patung emas yang menjadi sumber dari masalah tersebut.
Dia mengambil patung tersebut kemudian membacakan sebuah kalimat yang sulit dimengerti membuat patung emas itu sejenak memancarkan cahaya berwarna merah di kedua matanya.
Setelah selesai Yermo kemudian menyimpan patung emas itu ke dalam saku baju panjangnya, lalu pergi meninggalkan toko tersebut.
***
Yermo yang merupakan seorang Venerate menggunakan kekuatannya untuk mendeteksi pria yang kerasukan kekuatan yang berasal dari patung emas sebelumnya.
Setelah merasakan sebuah tekanan kekuatan dengan cepat Yermo meluncur mengikuti sumbernya.
Dia sampai di tengah sebuah hutan yang gelap dan sunyi sambil kembali mendeteksi tekanan kekuatan yang kemungkinan merupakan pria pemilik toko barang antik tersebut.
Tiba-tiba pria sang pemilik toko muncul dan langsung menyerang Yermo, namun dengan sigap pria itu langsung melancarkan tendangan lebih dulu hingga sang pemilik toko terhempas ke jarak yang jauh.
Dengan santai Yermo menunggu pria itu kembali berdiri menanti serangan selanjutnya, akan tetapi hal tersebut tidaklah terjadi karena pria pemilik toko seketika langsung melarikan diri.
Hal tersebut langsung membuat Yermo dengan sigap meluncur untuk mengejar pria yang sedang kerasukan tersebut.
Akan tetapi, setelah meluncur lebih jauh ke dalam hutan Yermo seketika kehilangan jejak dari pria itu.
Dia kembali mengaktifkaan kekuatan observasinya, namun entah kenapa tekanan kekuatan serta hawah keberadaan pria itu tidak bisa lagi di deteksi olehnya.