
“Aku tidak menyangka jika keesokan harinya Ernan akan dinyatakan hilang…” Lanjut Aryuna berkata, sontak merasa sedih hingga menundukkan kepalanya.
Gudov pun terdiam, tidak tahu bagaimana harus menghibur perempuan itu, namun setelah melihat Aryuna nampak bersedih mengenai hilangnya salah satu Venerate yang merupakan tunangan perempuan tersebut.
“Aryuna, saat ini aku masih percaya bahwa Ernan tunanganmu serta para Venerate lain masih selamat… Hanya saja kita masih belum tahu siapa atau pihak mana yang menculik mereka,” ucap Gudov.
“Karena itu dengan kemampuan yang kumiliki kita pasti akan mengetahui siapa yang menculik mereka, dan mereka kembali dengan selamat,” lanjut Gudov.
“Apa kau yakin bisa menemukan mereka dengan kemampuanmu?” Tanya Aryuna, ingin memastikan bahwa kemampuan pemuda tersebut bisa menemukan siapa yang menculik para Venerate Pavonas di wilayah perbatasan, termasuk tunangannya.
“Tentu saja… Karena itu ayo pergi bersamaku untuk mencari mereka,” ucap Gudov, menjawab pertanyaan Aryuna dengan percaya diri.
“Kalau begitu, ayo kembali memberitahukan kepada tuan Alesov…” Aryuna kemudian mengajak Gudov menemui Alesov kembali, karena telah mempercayai perkataan pemuda itu.
“Yah… Jangan terlalu cepat…” Ucap Gudov sambil berdiri dari tempat duduknya.
“Eh… Kenapa?” Tanya Aryuna, lantas kebingungan mendengar ucapan pemuda itu, yang ternyata ingin menunda hal akan mereka lakukan.
“Kita memerlukan satu orang lagi untuk berangkat bersama kita…” Jawab Gudov, ternyata bertujuan untuk merekrut Venerate lain untuk pergi bersama dengan mereka ke wilayah perbatasan.
***
“Jadi kalian ingin mengajakku pergi ke perbatasan untuk mencari kebenaran mengenai hilangnya para Venerate yang berada disana... Apa kau yakin bisa menemukan mereka?”
Beberapa saat kemudian, Gudov dan Aryuna menemui salah satu Venerate pembasmi di ternyata menemui Bergen, rekan mereka yang sebelumnya menjalankan tugas dikota lain, mengusir roh jahat yang merasuki salah satu warga.
Bergen nampak bertanya kepada Gudov maupun Aryuna mengenai tawaran tersebut yang membuat merasa sedikit ragu bahwa mereka tidak bisa menemukan siapa yang telah menculik para Venerate Pavonas, dimana Gudov pun lantas menjelaskan bahwa dirinya memiliki kemampuan khusus berkomunikasi dengan makhluk astral yang baru saja dilakukannya setelah menguak kebenaran dari seseorang yang memiliki sebuah niat jahat.
Gudov pun meyakinkan bahwa kemampuan tersebut didapatkan olehnya setelah tidak langsung mengaktifkan kekuatan kakangan surgawi ketika melawan roh jahat yang memang dilihat oleh Bergen dan Aryuna saat itu.
“Kau bisa berkomunikasi dengan makhluk suci?” Tanya Bergen, ingin memastikan bahwa pemuda itu memang benar memiliki kemampuan seperti itu.
“Iya… Aku yakin bahwa kita bisa menemukan keberadaan dari rekan-rekan kita yang diculik dari roh-roh yang berada di sekitar sana,” jawab Gudov, meyakinkan agar Bergen mau ikut bersama dengan mereka.
“Bagaimana yah…?” Respon Bergen, sambil berpikir mengenai keputusan yang akan diambilnya karena merasa bahwa dirinya sedikit ragu untuk ikut.
“Tak perlu bingung lagi… Tentu saja kau ingin ikut pergi kan… Ayolah…”
“Ekh… Tunggu dulu, aku belum menyetujuinya.”
Tanpa pikir panjang, Aryuna pun langsung merangkul pria itu kemudian menariknya beranjak dari tempat itu bersama dengan Gudov untuk menemui Alesov bahwa mereka sudah siap untuk berangkat ke wilayah perbatasan.
***
“Jadi kalian bertiga akan pergi kesana?” Tanya Alesov.
Ketiganya lantas menganggukkan kepala secara bersamaan, merespon bahwa mereka telah merasa yakin akan pergi membantu para Venerate yang berada disana mencari kebenaran mengenai penculikan rekan-rekan mereka yang belum mereka ketahui bahwa hal tersebut merupakan perbuatan dari Venerate yang berasal dari negeri Chundo.
“Kalau begitu, aku akan mengijinkan kalian untuk pergi kesana…” Ucap Alesov, mengijinkan Gudov beserta yang lain pergi menjalankan misi menemukan kebenaran mengenai penculikan dari para Venerate Pavonas.
“Benarkah tuan Alesov…” Respon Gudov, nampak senang mendengar hal tersebut.
“Benar… Ngomong-ngomong, ada kapal nelayan yang menjadi kenalanku… Kurasa hari ini kapal itu akan menuju ke kota Brinaroz di dekat perbatasan,” ucap Alesov, menyarankan mereka menuju ke wilayah perbatasan dengan menumpang ke salah satu kapal.
“Walaupun waktu tempuhnya sama seperti berangkat menggunakan kendaraan, tapi kalian setidaknya bisa sedikit bersantai,” lanjut Alesov berkata.
“Terima kasih tuan Alesov… Kami akan menumpang ke kapal itu…” Respon Gudov, menerima saran dari pria tersebut.
“Cari pria bernama Erchilus, dia bersama kapalnya pasti sekarang berada di pelabuhan… Dan katakan bahwa aku yang menyuruh kalian pergi bersama mereka.”
“Baik tuan Alesov, kalau begitu kami pergi dulu…” Setelah mendengar nama dari pemilik kapal yang hendak menuju ke wilayah perbatasan, Gudov pun berpamitan kepada Alesov, pergi bersama dengan Aryuna dan Bergen.
***
Tak berapa lama kemudian, ketiga Venerate itu sampai di pelabuhan kota Lavodikvost, menyadari bahwa tidak segampang itu mereka akan menemukan kapal nelayan yang dikatakan oleh Alesov, dimana pelabuhan tempat mereka berada merupakan kota pelabuhan terbesar yang berada di negeri Pavonas dan bukan hal yang mudah bisa menemukan salah satu kapal diantara ratusan kapal, khususnya kapal-kapal nelayan yang berlabuh di sepanjang pelabuhan yang luas tersebut.
“Jadi kita harus menemukan pria bernama Erchilus bersama dengan kapal nelayannya…” Ucap Bergen, memasang ekspresi kebingungan harus mencari kapal tersebut diantara kapal-kapal yang ada.
“Erchilus…! Apa ada orang yang bernama itu ditempat ini?!” Karena tidak mau menyerah, Gudov pun sontak berteriak memanggil nama dari pemilik kapal nelayan kenalan dari Alesov.
Sambil berjalan melewati kapal-kapal yang ada, Gudov pun terus berteriak memanggil nama dari pemilik kapal yang belum kunjung mereka temukan, membuat Aryuna serta Bergen lantas merasa malu melihat orang-orang menatap Gudov serta mereka yang nampak sedang mencari seseorang yang bermasalah.
“Haah… Kita tetap saja sulit menemukan orang itu…” Ucap Aryuna, merasa bahwa ide berteriak memanggil nama dari kenalan Alesov yang dilakukan oleh Gudov nampak percuma, karena tidak ada satupun orang yang merespon panggilan tersebut.
“Hei anak muda… Apa kau tidak diajari sopan santun ketika memanggil nama orang yang jauh lebih tua dibandingkan dengan dirimu sendiri.”
Tiba-tiba seorang pria paruh baya yang berada di atas sebuah kapal langsung mengomentari panggilan dari Gudov, karena terdengar tidak sopan.
“Maaf tuan aku tidak memiliki pilihan lain karena orang yang kupanggil akan segera berangkat ke kota perbatasan,” ucap Gudov, menjelaskan kepada pria tersebut bahwa dirinya terpaksa harus memanggil nama dari kenalan Alesov untuk berpacu dengan waktu.
“Ngomong-ngomong tuan, apakah kau mengetahui tuan yang bernama Erchilus tersebut?” Tanya Gudov kepada pria paruh baya itu.
“Erchilus… Aku mengenalnya, dia adalah pria yang tampan pemberani bahkan mampu mengarungi lautan tanpa rasa takut,” jawab pria tersebut, mengenal orang yang menjadi kenalan dari Alesov, dengan menjelaskan bahwa dirinya nampak mengagumi orang tersebut.