The World Of The Venerate: Cursed Exorcist

The World Of The Venerate: Cursed Exorcist
Chapter 40 - Menuju ke kota Brinaroz



“Maaf… Maksudku, apakah kau tahu diamana dia berada sekarang?” Ucap Gudov, menanyakan tentang keberadaan dari pria bernama Erchilus, karena pria paruh baya tersebut hanya memberikan jawaban yang tidak penting bagi mereka.


“Erchilus… Orang itu ada di…”


Gudov, Aryuna serta Bergen lantas menatap ke arah jari pria para bayah tersebut yang sedang menunjuk ke arah atas dan perlahan-lahan mulai turun kebawah, kemudian menunjuk menunjuk dirinya sendiri, yang lantas membuat ketiga orang itu pun menjadi kebingungan dengan maksud dari si pria paruh baya.


“Haah… Dia melakukan hal konyol lagi…” Tiba-tiba seorang nelayan yang kemungkinan mengenal pria itu muncul dan langsung mengomentari kelakuan konyol dari pria tersebut.


“Kalian sedang mencari Erchilus kan… Dialah orangnya…” Ucap nelayan tersebut, menunjuk bahwa si pria paruh baya merupakan Erchilus.


“Jadi kau adalah Erchilus tuan?” Tanya Gudov.


“Tentu saja…” Jawab si pria paruh baya sambil menganggukkan kepalanya.


“Kenapa tidak dari tadi saja kau mengatakannya…” Gumam Gudov, nampak sedikit kesal ternyata orang yang sedang mereka cari merupakan pria tersebut.


“Memangnya ada urusan apa kalian mencari dia?” Tanya nelayan yang baru saja datang tersebut.


“Kudengar kalian akan pergi ke kota Brinaroz… Tuan Alesov Jarawski meminta bahwa kita harus menumpang ke kapal kalian,” jawab Gudov.


“Alesov… Dia yang memerintahkan kalian ke kota Brinaroz?” Tanya pria paruh baya bernama Erchilus tersebut, sedikit terkejut ketika Gudov menyebut nama Alesov.


Gudov pun mengangguk, merespon pertanyaan pria itu bahwa mereka memang mendapatkan perintah seperti itu.


“Kalau begitu, ayo naik… Kita akan segera berangkat,” Respon Erchilus, lantas dengan senang hati menyuruh mereka bertiga untuk naik ke atas kapal nelayan tersebut.


Mendengar ajakan tersebut, Gudov, Aryuna serta Bergen pun langsung berjalan menaiki kapal tersebut.


“Sepertinya kalian mendapatkan misi setelah banyak Venerate pembasmi yang menghilang di daerah sana…” Ucap Erchilus.


“Tenang saja… Perjalanan ke kota Brinaroz dari sini hanya akan memakan waktu sekitar tiga jam saja…” Lanjutnya, menginformasikan mengenai waktu tempuh ke kota yang berada di dekat wilayah perbatasan.


Setelah Gudov dan dua rekannya telah naik ke atas kapal, bersamaan dengan para kru nelayan yang juga telah bersiap, kapal tersebut kemudian mulai berlayar meninggalkan pelabuhan kota Lavodikvost menuju ke kota Brinaroz.


***


Berpindah ke sebuah kota yang berada di wilayah negeri Tengal, serta berada dekat dengan wilayah perbatasan antara tiga negeri.


Tampak seorang pria yang memiliki penampilan gaya berpakaian berbeda dengan para warga, tidak lain merupakan Yermo, sedang berjalan menuju ke suatu tempat sambil diperhatikan oleh para warga yang sedikit kebingungan melihat penampilannya.


“Apa dia berasal dari negeri seberang?”


“Aku rasa memang benar…”


Para warga pun sontak menduga-duga mengenai asal Yermo, dimana berasal dari negeri seberang yang dimaksud mereka tidak lain merupakan negeri Pavonas, namun Yermo sendiri nampak tidak peduli dengan ucapan para warga mengenainya, dan terus berjalan layaknya tidak mendengar apapun.


***


Setelah berjalan cukup jauh dari pusat kota sampai diperhatikan oleh para warga negeri Tengal, Yermo kemudian masuk ke sebuah kedai.


“Uakh…” Baru saja masuk ke dalam kedai tersebut, tiba-tiba seseorang terhempas ke arahnya, yang membuat Yermo dengan sigap bergerak ke samping untuk menghindar.


“Ekh…” Tiba-tiba suasana kacau di dalam kedai tersebut menjadi senyap ketika orang-orang yang saling bertarung satu sama lain melihat seorang pria yang memiliki gaya berpakaian berbeda dengan mereka, yang langsung membuat mereka mengetahui bahwa pria yang sedang berdiri di depan pintu masuk tersebut berasal dari luar negeri Tengal.


“Orang Pavonas kah…” Gumam salah satu pria negeri Tengal, mengetahui asal Yermo.


Tanpa memperdulikan orang-orang yang masih tetap memperhatikannya, Yermo pun berjalan menuju ke sebuah bar, kemudian duduk di depannya.


“Berikan aku sebotol minuman terbaik disini…” Ucap Yermo, meminta minuman keras pada penjaga kedai.


Yermo sedikit terkejut karena tidak sesuai dengan ekspetasinya, dimana penjaga kedai memberikan sebuah guci yang di dalamnya berisi minuman keras.


“Kami tidak menyediahkan botol disini, silahkan jika kau ingin menumannya langsung.” Sambil ditatap oleh Yermo yang menunjukkan ekspresi kebingungan, penjaga kedai tersebut lantas menjelaskan mengapa minuman keras yang berada di negeri Tengal tersebut berbeda dengan yang berada di negeri Pavonas.


Karena tidak masalah dengan hal tersebut, Yermo kemudian mengangkat guci tersebut kemudian perlahan-lahan meminum minuman keras tersebut.


“Uhuk… Uhuk…” Ketika sedang fokus meminum minuman keras, tiba-tiba sesorang menepuk bagian belakang pria tersebut, yang lantas membuatnya langsung tersedak kemudian batuk-batuk.


“Hei orang Pavonas, apa yang kau lakukan di negeri Tengal?” Ucap orang yang menepuk bagian belakang Yermo.


“Setidaknya kau perlu menunggu sampai aku selesai minum, dimana sopan santunmu?” Balas Yermo, memperingati orang yang mengganggunya tersebut.


“Sopan santun katamu… Itu jika kau bisa membuatku bertekuk lutut…”


“Hentikan saja… Hari ini dewa tidak memperkenankan menemui ajalmu…” Ucap Yermo, menepis ucapan orang yang mengganggunya.


“Apa katamu...? Kau berbicara seperti pemuka agama saja… Itu tidak akan berhasil untuk membuatku menebas kepalamu…”


Karena merasa risih dengan ucapan pria itu, orang tersebut lantas mengayunkan pedang ke leher Yermo, namun dalam sekejap pria tersebut langsung menghindari ayunan pedang itu dengan mudah.


“Uakh…!” Yermo kemudian melancarkan kepalan tangannya, menghempaskan orang tersebut sampai terkapar dalam keadaan lemah.


Melihat hal tersebut, orang-orang yang berada di dalam kedai tersebut dengan seketika berbondong-bondong menyerang Yermo dengan menggunakan senjata mereka masing-masing.


Dengan lincah, Yermo pun langsung menepis semua ayunan senjata dari mereka dengan tangan kosong, tanpa membuat tangannya terluka padahal beberapa senjata yang diayunkan ke arahnya merupakan senjata tajam.


Setelah menepis semua serangan mereka, Yermo mengisi minuman keras dari guci yang dipegangnya masuk ke dalam mulut, kemudian menyemburkannya secara merata pada orang-orang yang menyerangnya.


“Wahai dewa Grust… Mohon ampuni kesalahan mereka semua…” Ucap Yermo, memejamkan kedua matanya sambil mengucapkan sebuah doa pengampunan kepada orang-orang yang menyerangnya.


“Akh…!” Tiba-tiba minuman keras yang membasahi pakaian orang-orang tersebut, menciptakan sebuah efek ledakan yang cukup kuat, hingga membuat mereka terhempas ke segala arah.


Akibat hal tersebut, orang-orang yang menyerang Yermo terkapar dalam keadaan lemah, serta sebagian dari mereka langsung ketakutan karena tidak menyangka bahwa pria yang berasal dari negeri seberang tersebut merupakan seorang Venerate.


“Ampuni kami…” Ucap salah satu dari mereka lantas berlutut di depan Yermo.


“Berhentilah melawan karena dewa tidak akan menyukai apa yang kalian lakukan…” Balas Yermo.


Orang-orang yang menyerang pria tersebut lantas percaya dan berterima kasih karena mendapatkan pengampunan dari seorang Venerate taat kepada dewa yang disembah oleh orang Pavonas maupun sebagian orang Tengal.