
Yermo pergi ke sebuah balkon yang berada pada lantai atas di tempat suci tersebut kemudian melihat ke arah kota Vegoblashcensk.
“Apa?” Betapa terkejutnya pria itu melihat armada kapal tempur dari negeri Tengal sedang menyebrangi sungai untuk mendekati kota tersebut.
Dengan cepat Yermo turun kembali lalu pergi ke sebuah ruangan dan mengambil sebuah alat komunikasi yang terletak di atas meja untuk menghubungi seseorang.
“Halo… Dengan siapa aku berbicara?” Tak berapa lama alat komunikasi itu lalu tersambung kepada seseorang yang tidak mengetahui siapa yang memanggilnya.
“Ini aku Yermo Balanouski…”
“Yermo Balanouski… Ada apa tuan?” Orang yang menjawab panggilan tersebut lantas terkejut ketika mendengar nama dari pria itu.
“Cepat segera kirimkan bantuan ke kota Vegoblashcensk… Pasukan Tengal akan segera menyerang,” ucap Yermo.
“Kota Vegoblashcensk… Kau sedang menghubungi ke kota Vosmoc, jika kami mengirimkan bantuan maka itu akan terlambat,” balas orang yang menjawab sambungan komunikasi tersebut.
“Jelas saja kalian hubungi pasukan yang berada di kota paling dekat… Cepat lakukan karena aku tidak bisa melindungi semua orang yang berada di kota,” ucap Yermo membentak orang yang dihubunginya tersebut, karena situasi di kota tersebut sudah sangat genting.
“Baik tuan… Akan kami usahakan menghubungi bantuan terdekat… Kalau begitu tutup dulu…” Ucap orang tersebut, kemudian menutup sambungan komunikasi tersebut.
Yermo pun lantas bergerak pergi ke kota karena tidak mau tetap tinggal diam menunggu sampai bantuan datang.
***
Di sekolah, tampak Gudov yang sedang berada di dalam ruangan kelas tiba-tiba langsung terkejut melihat armada kapal yang berada di sungai depan kota Vegoblashcensk sedang mendekat.
Disaat yang bersamaan semua murid yang berada di dalam sekolah tersebut langsung berlari untuk keluar dari dalam kelas mereka masing-masing.
***
Ketika kapal perang dari negeri Tengal berlabuh dipinggir kota Vegoblashcensk, seluruh prajurit yang berada di dalamnya langsung menyerbu kota tersebut, menyerang orang-orang yang tak bersalah tanpa pandang bulu.
**
“Tuan Galshu… Sepertinya kita tidak perlu melakukan hal seperti ini… Lebih baik kita cari saja keberadaan patung keramat itu dengan kemampuan observasi,” ucap Venerate Tengal bernama Salkhishu.
“Heh, mencari secara diam-diam bukanlah gayaku… Aku ingin mendapatkan patung itu dengan caraku sendiri,” balas Galshu.
“Tapi, ini akan menyulut peperangan anta Tengal dan Pavonas… Walaupun negeri Pavonas memiliki wilayah paling luas membantang, para Venerate mereka tidak akan diam saja bisa mendapatkan serangan dari negeri yang memiliki hubungan yang tidak baik dengan mereka,” ucap Salkhishu, memperingati atasannya mengenai dampak yang akan terjadi dengan penyerangan yang dilakukan oleh mereka.
“Salkhishu… Lebih baik kau berhenti mengoceh dan turun dari kapal ini… Jika kau ingin mencarinya lakukan saja, tapi aku tetap tidak mau menarik semua pasukan yang sudah turun menyerang.” Namun Galshu tetap menolak peringatan dari Salkhishu, dan malah menyuruhnya untuk mencari dengan cara yang dikatakan oleh pria itu.
Tidak mau melawan perintah atasannya, Salkhishu pun lantas turun dari kapal tersebut untuk berusaha mencari patung emas yang tidak tahu keberadaannya di dalam kota tersebut.
**
Sembari berjalan masuk ke dalam kota
Vegoblashcensk, Salkhishu nampak merasa kasihan melihat para warga diserang oleh para prajurit negeri Tengal tanpa ampun, yang sebenarnya hanya untuk mencari patung emas yang dibutuhkan oleh Khan mereka.
“Tolong…!”
“Ampuni kami!”
***
Di sisi lain, para murid-murid sekolah terlihat diarahkan keluar dari dalam kota untuk menuju ke tempat yang lebih aman. Akan tetapi, Gudov yang memikirkan mengenai orangtuanya, tiba-tiba berlari ke arah yang berlawanan menuju ke kota.
Disaat sedang berlari, Gudov berpapasan dengan Velana, dan seketika tangannya langsung dipegang oleh perempuan itu.
“Gudov… Kau mau kemana?” Tanya Velana sambil memegang erat tangan Gudov, tidak memperbolehkan remaja itu untuk pergi menuju ke kota.
“Lepaskan… Aku mau mencari orang tuaku.” Seketika Gudov langsung menepis genggaman tangan Velana hingga terlepas.
Di saat yang bersamaan, remaja itu pun langsung berlari sekencang mungkin menuju ke kota karena sangat mengkhawatirkan kedua orangtuanya.
“Gudov…!” Teriak Velana, memanggil Gudov, namun sudah terlambat karena remaja itu sudah lari jauh masuk ke dalam kota.
***
Ketika sampai di depan rumahnya, Gudov pun terkejut melihat kedua orang tuanya diseret oleh para prajurit negeri Tengal dengan kasar.
“Lepaskan mereka…!” Teriak Gudov.
Remaja itu mengambil sebuah kayu yang tergeletak di tanah kemudian berlari ke arah prajurit Tengal yang sementara menyeret ayah serta ibunya.
“Akh…” Namun sayangnya, salah satu prajurit Tengal datang, dan dengan mudah langsung menyerang Gudov hingga terhempas.
Gudov pun terkapar dengan keadaan yang lemah karena menerima serangan yang keras dari salah satu prajurit Tengal tersebut.
Tanpa ampun prajurit yang sebelumnya menyerangnya, mengambil kayu yang tergeletak di tanah, kemudian memukulkannya dengan keras pada kepala Gudov, hingga remaja itu pun seketika tak sadarkan diri.
“Tunggu… Jangan sakiti dia…!” Ketika prajurit itu hendak mengayunkan kayu yang dipegangnya pada Gudov, ayah dari remaja itu pun langsung bermohon untuk jangan melakukan hal tersebut.
Mendengar permohonan dari ayah Gudov, prajurit itu melempar kayu yang dipegangnya, mengurungkan niatnya, lalu mengangkat Gudov yang sudah tidak sadarkan diri.
Dia kemudian membawa Gudov, bersama dengan para prajurit negeri Tengal lain yang menyeret kedua orang tuanya pergi dari tempat itu.
***
Waktu pun berlalu, pada malam harinya, Gudov tiba-tiba tersadar telah terikat diantara para warga, dan berada di tengah kota, sembari para prajurit negeri Tengal berdiri mengelilingi mereka semua.
Ketika tersadar, hal yang dicari olehnya pertama kali adalah kedua orang tuanya, dimana setelah memperhatikan ke sekitaran remaja itu akhirnya bisa merasa legah melihat ayah serta ibu masih baik-baik saja, namun dalam keadaan tangan mereka sedang terbelenggu diantara para warga kota.
Tak berapa lama setelah itu, Galshu pun datang menghampiri para warga serta para prajurit negeri Tengal.
“Salam warga kota Vegoblashcensk… Maaf jika kedatangan kami harus membuat sebuah kekacauan…” Ucap pria itu, tanpa merasa bersalah sedikitpun telah memerintahkan para bawahannya untuk melakukan kekerasan kepada para warga yang tidak bersalah.
“Tujuan kami disini adalah untuk mencari sebuah benda pusaka yang berasal dari negeri kami sendiri, yang sebelumnya sempat aku rasakan keberadaannya di kota ini,” lanjut Venerate Tengal itu berkata.
“Apakah diantara kalian ada yang mengetahuinya?” Tanya Galshu.
Para warga pun nampak kebingungan, karena tidak mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh Venerate Tengal tersebut, dimana merupakan orang-orang awam yang memang tidak mengerti dengan hal semacam itu.