
Berpindah pada pasukan Tengal yang telah sampai pada sebuah kota yang berada di seberang sungai, yang merupakan wilayah dari negeri mereka sendiri.
Tampak Galshu merasa kesal karena belum bisa mendapatkan patung emas yang diperintahkan oleh pemimpin negerinya. Walaupun salah satu Venerate Pavonas, yang tidak lain merupakan Yermo, sebelumnya telah memperlihatkan patung tersebut kepadanya, namun Galshu tidak bisa mendapatkan kesempatan yang bagus untuk merebutnya dari tangan pria tersebut, dan malah terpaksa harus mundur kembali ke negerinya.
“Tuan Galshu… Lebih baik kau tidak mengkhawatirkan hal itu,” ucap pangeran negeri Tengal yang bernama Jungdai.
“Tapi, khan telah menyuruhku menemukan patung keramat itu apapun yang terjadi… Entah apa yang akan terjadi jika aku memberikan laporan kepada khan bahwa aku memang sudah menemukan patung itu, namun gagal mendapatkannya…” Ucap Galshu, tidak bisa begitu saja merasa tenang karena perintah dari pemimpin negerinya tersebut harus dipenuhi, jika tidak maka akan terjadi sesuatu yang buruk kepadanya.
“Karena itu kau harus tenang dulu, karena khan, ayahku telah datang kemari untuk dengan sendirinya karena ingin mencari patung emas yang juga dirasakannya berada di kota itu.”
“Apa…? Khan datang kemari…” Galshu pun lantas terkejut mendengar pernyataan dari pangeran Tengal tersebut.
“Ayo ikut aku… Dia ingin mengatakan sesuatu juga kepadamu,” lanjut Jungdai berkata, mengajak Venerate Tengal itu untuk pergi ke suatu tempat, menemui pemimpin negeri Tengal.
***
Setelah mengikuti Jungdai ke suatu tempat, mereka pun sampai di sebuah bangunan kediaman yang berada di kota itu.
Saat hendak memasukinya, Galshu pun memperlihatkan ekspresi wajah yang nampak khawatir karena masih merasa takut bahwa khan negeri Tengal yang akan ditemuinya pasti tidak mau menerima informasi yang hendak diberikan olehnya.
**
Tak berapa lama Galshu bersama pangeran Tengal, Jungdai sampai di sebuah ruangan, dan menemui Gundai, khan negeri Tengal di dalamnya.
Dengan sigap, Galshu pun langsung berlutut di hadapan Gundai untuk merendahkan dirinya terlebih dahulu.
“Yang mulia, aku akan jujur kepadamu… Sebenarnya aku telah menemukan patung keramat yang sempat hilang… Benda itu berada di kota Vegoblashcensk, Pavonas seberang sungai sana… Namun, karena patung itu dipegang oleh seorang Venerate yang setingkat denganku, maka aku kesulitan untuk mendapatkannya, dan lebih memilih untuk mundur sementara… ” Sambil memberi salam dengan merapatkan kedua tangannya, Galshu pun memberitahukan informasi mengenai keberadaan dari patung emas yang disuruh oleh khan tersebut untuk mencarinya pada pria tersebut.
“Berarti kesimpulannya, patung keramat itu masih tetap hilang, karena kau belum bisa mendapatkannya,” ucap Gundai.
“Mohon maaf Yang mulia… Aku akan segera melakukan penyerangan ke kota itu secepatnya, untuk mengambilnya kembali.” Mendengar ucapan dari Gundai, Galshu pun langsung bersujud karena merasakan bahwa hal tersebut akan menjadi hal yang buruk baginya.
“Jangan lakukan penyerangan lagi… Kali ini kita harus diam-diam masuk ke negeri itu untuk mencarinya.”
“Apa? Kita akan menyusup Yang mulia… Maksudku apa mungkin kali ini akan bersama denganmu?” Galshu pun terkejut mendengar penjelasan dari Gundai, dan lantas bertanya balik khan negeri Tengal tersebut.
Hal yang sebenarnya membuat Venerate Tengal itu terkejut bukan sepenuhnya mendengar penjelasan dari Gundai, namun karena khan tersebut tidak memberikannya hukuman akibat telah gagal mengambil patung keramat yang diperintahkannya.
“Tentu saja… Apa mungkin harus menunggu kau mendapatkan hukuman terlebih dahulu?” Jawab Gundai, sambil bertanya mengenai hukuman yang harus diberi olehnya pada Venerate Tengal itu.
“Mohon ampuni aku Yang mulia… Aku berjanji kali ini pasti kita akan mendapatkan patung keramat itu,” ucap Galshu, memohon agar khan tersebut tidak memberikannya sebuah hukuman.
“Lupakan saja hukumanmu itu…Lagipula kau masih dibutuhkan untuk misi menyelinap yang akan kita lakukan…” Ucap Gundai.
“Kalau begitu, apa yang akan kita lakukan selain merebut patung emas yang berada disana Yang mulia?” Tanya Galshu, nampak penasaran dengan hal tersebut.
“Mencari seseorang yang memiliki kekuatan makhluk suci kekangan surgawi…” Jawab Gundai.
Gundai menjelaskan bahwa selama ini baik negeri Pavonas maupun negeri Tengal memiliki satu tujuan yaitu menemukan seorang Venerate dengan kekuatan dari makhluk suci yang memiliki kemampuan untuk mengekang kekuatan dari para Venerate, layaknya menjadi manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan.
Dan bukan hanya itu saja, Gundai menjelaskan bahwa kekuatan dari makhluk suci yang dipegang oleh Venerate tersebut juga bisa disalurkan pada sebuah wadah logam.
“Jika kita bisa menemukan Venerate itu, maka Tengal bisa memiliki kekuatan yang besar untuk mengalahkan Pavonas…”
“Tujuan sebenarnya mengapa aku ingin mendapatkan patung keramat itu adalah untuk menemukan Venerate yang memegang kekuatan tersebut,” ucap Gundai.
***
Kembali ke kota Vegoblashcensk, dimana Gudov sedang berada di sebuah ruangan tempat ibunya sedang berbaring dengan keadaan yang masih kritis.
Sambil memasang ekspresi wajah yang sedih, Gudov tidak menyangka bahwa secepat ini dia kehilangan ayahnya di usia remaja, dimana saat ini juga ibunya sedang terbaring dengan keadaan yang kemungkinan juga berada pada hidup dan mati.
Tak berapa lama kemudian, tampak Yermo masuk ke dalam ruangan tersebut untuk melihat keadaan ibu Gudov berserta remaja tersebut.
“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Yermo.
“Tentu saja tidak… Bagaimana mungkin dalam keadaan seperti ini aku bisa merasa tenang tuan Yermo,” jawab Gudov.
“Maaf… Aku sudah salah menanyai hal itu… Aku juga meminta maaf karena tidak sempat membantu kalian sebelumnya,” ucap Yermo.
Gudov pun terdiam mendengar hal tersebut dari Yermo karena bagaimanapun juga, hal itu memang telah terjadi, dan remaja itu harus rela bila ayahnya sudah tiada.
“Tuan Yermo… Apa mungkin kau mengetahui bahwa ayahku juga adalah seorang Venerate?” Karena merasa penasaran sebelumnya melihat ibunya menggunakan kekuatan dari para Venerate pembasmi, Gudov pun bertanya kepada Yermo apa mungkin ayahnya juga memiliki kekuatan yang sama.
Sejenak Yermo pun menjadi terdiam sambil merasa terkejut mendengar hal tersebut dari Gudov.
“Darimana kau mengetahui hal itu?” Tanya balik Yermo.
“Ibuku melawan pria yang berasal dari negeri seberang… Dia menggunakan sebuah senjata yang nampak bercahaya, layaknya ibuku melapisinya dengan kekuatan miliknya,” jawab Gudov.
“Jadi… Akhirnya kau bisa mengetahuinya yah…” Respon Yermo.
“Walaupun tidak terlalu mahir, namun ibu serta ayahmu memanglah seorang Venerate sama sepertiku… Mereka sebelumnya telah berjanji untuk hidup sebagai manusia biasa, namun karena kejadian itu, dan demi untuk melindungimu mereka pun akhirnya kembali memperlihatkan kekuatan mereka,” ucap Yermo, akhirnya menjelaskan bahwa kedua orang tua dari remaja tersebut memanglah seorang Venerate.