The World Of The Venerate: Cursed Exorcist

The World Of The Venerate: Cursed Exorcist
Chapter 33 - Negeri Chundo



“Hwanghon katamu…” Respon salah satu Venerate pembasmi yang lain, sontak terkejut ketika mendengar nama dari seseorang yang disebut oleh rekannya tersebut.


“Apa kau mengetahui sesuatu?” Tanya Venerate yang terakhir kali masih sadarkan diri.


Rekannya tersebut kemudian menjelaskan bahwa Hwanghon yang disebut oleh orang-orang misterius yang menculik mereka merupakan salah satu World Venerate yang bergelar sebagai raja senja penguasa bagian utara semenanjung Chundo atau bisa disebut juga sebagai negeri Chundo, dimana dalam pernyataan tersebut terungkaplah bahwa sebenarnya orang-orang misterius yang menculik mereka bukanlah berasal dari negeri Tengal seperti yang diyakini oleh Yermo dan Alesov, melainkan negeri yang memiliki perbatasan titik batas wilayah dengan negeri Pavonas dan negeri Tengal.


“Jadi… Selama ini yang menculik kita adalah orang-orang dari negeri Chundo…” Respon salah satu Venerate pembasmi, terkejut mendengar pernyataan dari rekannya.


“Iya… Jika orang-orang yang menculik kita membahas mengenai Hwanghon berarti tidak salah lagi bahwa mereka memang berasal dari negeri Chundo…”


“Dan kemungkinan besar sekarang kita memang telah berada di semenanjung negeri Chundo,” ucap Venerate yang menjelaskan mengenai apa yang terjadi kepada mereka berlima.


***


Beberapa saat kemudian, kelima Venerate pembasmi yang berada di dalam peti kemas kendaraan, merasakan bahwa kendaraan yang membawa mereka nampak berhenti, layaknya telah di berada tempat tujuan.


“Sepertinya kita sudah sampai…” Ucap salah satu Venerate pembasmi.


Tak berapa lama kemudian, pintu peti kemas kendaraan tersebut dibuka dari luar oleh orang-orang misterius yang mengenakan jubah.


Kelima Venerate pembasmi itu sontak ditarik keluar oleh orang-orang berjubah tersebut, sembari kedua tangan mereka sedang terbelenggu dengan sebuah borgol.


Dengan perasaan was-was mereka berlima memperhatikan ke sekitaran, dimana beberapa dari mereka sontak bertanya-tanya di dalam hati sebenarnya mengapa orang-orang misterius itu membawa mereka di tengah hutan yang bahkan tidak terlihat sebuah pemukiman, perkotaan atau lain sebagainya.


“Hei, bukankah kalian akan membawa kami menemui raja kalian… Tapi kenapa kalian malah membawa kami ke dalam sebuah hutan belantara seperi ini?” Karena merasa penasaran, salah satu Venerate Pavonas lantas bertanya mengapa orang-orang misterius yang diyakini merupakan Venerate negeri Chundo, membawa mereka ke tempat itu.


“Jangan khawatir… Hwanghon sudah menunggu kalian di tempat peristirahatannya…” Ucap salah satu orang berjubah, hanya memberikan sebuah jawaban singkat mengenai raja yang disebut mereka sebagai Hwanghon, dimana telah menunggu di suatu tempat yang berada di tengah hutan tersebut.


Masih dengan perasaan yang was-was para Venerate dari negeri Pavonas tersebut hanya bisa pasrah ketika mereka masih terus digiring oleh kelompok Venerate berjubah itu masuk lebih jauh ke dalam hutan.


***


Tak lama setelah mereka berjalan memasuki hutan tersebut, orang-orang misterius yang membawa kelima Venerate Pavonas seketika sampai di sebuah pintu gerbang yang cukup besar dilengkapi oleh sebuah tangga, akan tetapi para Venerate Pavonas nampak kebingungan, pasalnya tepat di sisi seberang pintu gerbang tersebut tidak terlihat apa-apa selain pepohonan yang sama seperti sisi seberang tempat mereka berada.


“Ayo duduk…”


Ketika pancaran dari proyeksi energi para Venerate misterius menyatu, pintu gerbang tersebut tiba-tiba memancarkan sebuah cahaya yang cukup terang, membuat kelima Venerate Pavonas lantas terkejut sambil bertanya-tanya di dalam hati saat melihatnya.


Orang-orang misterius yang menyalurkan energi pada pintu tersebut berjalan melewati cahaya dari pintu gerbang tersebut, sembari rekan mereka yang lain menarik para Venerate Pavonas berdiri kembali, lalu menggiring mereka berjalan melewati pancaran cahaya di pintu gerbang tersebut.


**


“Dimana ini?” Gumam salah satu Venerate Pavonas, sontak terkejut ketika melewati pintu gerbang yang bercahaya tersebut, tiba-tiba saja mereka muncul di suatu tempat yang berbeda.


Dengan kebingungan, Venerate Pavonas tersebut menoleh ke belakang menatap pintu gerbang yang layaknya sebuah portal menuju ke tempat lain.


Para Venerate Pavonas kemudian memperhatikan keadaan sekitar, dimana mereka berlima nampak terkejut kini berada di sebuah perkotaan yang cukup memiliki suasana yang berbeda dengan kota-kota yang berada di negeri Pavonas sendiri.


“Lihat ke langit… Bukankah kupikir ini masih siang hari…” Ucap salah satu Venerate Pavonas memberitahukan kepada para rekan-rekannya bahwa langit yang berada di atas mereka kini terlihat layaknya hari hampir menjelang malam, pahadal sebelum mereka melewati pintu gerbang sebelumnya dan sampai di tempat tersebut langit yang mereka ketahui masih layaknya seperti langit di pagi hari ataupun siang hari.


“Berarti sesuai dengan julukan dari Hwanghon itu sendiri… Mengingat dia merupakan sang raja senja yang memimpin negeri Chundo selama delapan jam per hari, bergantian dengan dua raja lainnya…”


Venerate Pavonas yang mengetahui mengenai negeri Chundo sontak menjelaskan kepada para rekan-rekannya bahwasannya, Hwanghon yang diketahuinya merupakan salah satu World Venerate serta pemimpin semenanjung Chundo yang kemungkinan akan berkuasa pada waktu tertentu. Sesuai dengan julukannya sebagai raja senja, kemungkinan besar bahwa World Venerate misterius itu memimpin negeri ini diantara waktu hari mulai beranjak ke sore hari hingga malam hari.


Venerate Pavonas yang mengetahui hal tersebut juga menjelaskan bahwa kemungkinan tempat dimana mereka berada kini merupakan tempat khusus bagi sang World Venerate itu, yang memang tidak terikat oleh waktu kepemimpinannya.


“Aku rasa diluar perkotaan ini… Waktu yang sebenarnya ada memang masih siang hari,” ucap Venerate tersebut.


Para Venerate Pavonas yang baru pertama kali mendatangi kota aneh tersebut, tidak henti-hentinya dikejutkan, kini mereka lantas terkeut ketika melihat ternyata kota tersebut layaknya sebuah kota normal, dimana terlihat cukup banyak warga yang lalu-lalang sambil melakukan aktivitas mereka masing-masing.


Kelima Venerate tersebut juga kebingungan melihat para warga nampak tidak memperhatikan mereka, padahal mereka yang layaknya seperti seorang tawanan berjalan di tengah kota bersama dengan orang-orang berjubah yang membawa mereka, memang sangat cukup untuk mencuri perhatian para warga yang sedang lalu-lalang.


Mereka berlima pun merasakan bahwa para warga dikota itu memang sudah sangat terbiasa dengan kedatangan orang luar yang dijadikan seorang tawanan, hingga para warga sudah tidak merasa kaget atau terkejut dengan hal tersebut.


***


Setelah berjalan melewati tengah kota, kelima Venerate yang dibawah oleh orang-orang berjubah akhirnya sampai di depan sebuah pintu gerbang kediaman yang luas, tepat berada di dalam kota tersebut.


“Maju… Dan ikuti karpet panjang itu…” Ketika pintu gerbang dari kediaman yang luas tersebut terbuka, orang-orang berjubah itu mendorong kelima Venerate Pavonas masuk ke dalam, sambil menyuruh mereka berjalan melewati karpet panjang menuju ke depan sebuah bangunan utama yang berada di dalam kediaman tersebut.