The World Of The Venerate: Cursed Exorcist

The World Of The Venerate: Cursed Exorcist
Chapter 52 - Keberadaan yang ditakuti dan disegani



“Sebuah kota...” Ucap salah satu warga, merespon pertanyaan Badkil karena nampaknya tidak mengetahui mengenai hal tersebut.


“Iya... Kota Hwangsom, kurasa kalian mengetahui tentang kota itu?” Tanya Badkil.


Mendengar hal tersebut, para warga pun seketika berjalan pergi meninggalkan Gudov dan yang lain dengan memasang ekspresi wajah yang nampak ketakutan.


“Kenapa mereka terlihat ketakutan saat ditanyai mengenai kota itu?” Tanya Gudov, penasaran.


“Sesuai yang kuduga... Para warga yang berada di negeri ini sepertinya menganggap bahwa para Venerate adalah sosok yang harus mereka segani serta takuti...”


“Bukan sebuah alasan mengapa aku mengajak kalian masuk ke desa ini secara langsung tanpa sebuah penyamaran, karena aku sebelumnya sudah mengetahui bahwa para Venerate negeri Tengal biasanya tidak menempati desa-desa diseluruh wilayah negeri ini...”


“Jika saja mereka datang ke tempat ini, kurasa mereka hanya akan mengambil upeti atau memberikan sebuah peraturan bagi para warga,” ucap Badkil, menjelaskan hal tersebut kepada semua.


***


Berpindah ke desa lain di negeri Chundo, dimana para Venerate Tengal yang berasal dari organisasi sekte khusus bersama dengan Yermo juga mengalami hal yang sama, dimana ketika menanyakan mengenai arah dari kota Hwangsom, para warga yang ditanyai lantas enggan untuk menjawab, dan seketika pergi meninggalkan mereka.


“Hei... Tolong jawab kami jika kalian mengetahuinya...” Ucap salah satu Venerate Tengal, tampak memaksa para warga desa tersebut yang masih enggan menjawab pertanyaan mereka.


Hal yang sama tetap terjadi, dimana para sontak tidak mau menjawab pertanyaan tersebut, namun tetap dipaksa oleh salah satu Venerate Tengal itu.


“Algadai...”


“Siap tuan... Ada apa?” Tanya Venerate Tengal yang bernama Alghadai tersebut, dengan sigap langsung memberi hormat serta mengurungkan niatnya memaksa para warga desa ketika Yermo memanggilnya.


“Biarkan saja mereka... Ada sesuatu yang tidak kau ketahui mengenai para warga di negeri ini...”


Yermo pun menjelaskan kepada Alghadai bahwa para warga desa tersebut, maupun yang berada di desa-desa lain, di negeri Chundo sangat segan kepada para Venerate mereka.


Hal itu merupakan hal yang sama yang dijelaskan oleh Badkil kepada Gudov dan yang lain, namun terdapat sedikit perbedaan dari versi penjelasan Yermo, dimana para warga negeri Chundo yang merupakan manusia biasa dan bukan merupakan para Venerate, sebenarnya menganggap para Venerate Chundo sebagai para dewa mereka, terutama untuk Hwanghon yang kemungkinan merupakan salah satu dari dewa tertinggi mereka, dari salah satu raja-raja negeri tersebut.


Dan oleh karena itu, ketika orang luar yang tidak tahu apa-apa mengenai keberadaan dari salah satu tempat berdiamnya para Venerate Chundo, yaitu kota Hwangsom, mereka lantas merasa ketakutan karena para Venerate telah menjadi sosok yang sangat mereka segani.


“Lalu bagaimana kita mencari kota mistis itu?” Tanya Alghadai, kebingungan harus melakukan apa.


“Satu-satunga cara untuk menemukan kota mistis itu adalah mengikuti sungai ini,” jawab Yermo.


“Setidaknya kita sebagai Venerate pembasmi memiliki kemampuan observasi yang lebih unggul... Aku yakin kita pasti akan menemukan keberadaan kota itu jika mengikuti sungai ini,” lanjut Yermo.


“Maaf tuan... Kurasa hal itu hanya bisa dilakukan olehmu, karena aku dan yang lain bukan Venerate pembasmi.” Alghadai lantas memberikan sebuah pernyataan bahwa dirinya memang bukan keturunan bangsa Slivan, yang tentu saja sulit untuk mendeteksi keberadaan dari makhluk astral, ataupun sesuatu kasat yang lain.


“Begitu yah... Kalau begitu serahkan saja padaku... Lebih baik kita lanjutkan saja perjalanannya,” respon Yermo, kemudian mengajak para Venerate Tengal untuk kembali melanjutkan perjalanan, dimana kini mereka harus mengikuti sungai yang menjadi satu-satunya jalan menuju ke kota mistis bernama Hwangsom.


***


Berpindah pada desa tempat Gudov dan yang lain berada, dimana tiba-tiba saja para warga desa tersebut langsung dibuat ketar-ketir ketika sekelompok prajurit, yang tidak lain merupakan para Venerate negeri Chundo datang memasuki desa tersebut.


Sementara Badkil dengan sigap langsung mengarahkan Gudov, Bergen, serta Kharcana untuk bersembunyi agar tidak dilihat oleh para Chundo yang datang memasuki desa.


**


“Berani kau menanyakan hal seperti itu...”


“Akh...”


Tanpa pikir panjang, salah satu Venerate yang berada di depan warga yang bertanya sontak mengibaskan tangannya dengan kuat, hingga warga tersebut jatuh tersungkur.


“Kami datang untuk mengambil upeti untuk bulan ini...”


**


“Apa-apaan mereka? Beraninya memukul warga lemah seperti itu...”


Dari tempat persembunyian, Gudov yang mengintip nampak merasa kesal ketika melihat salah satu Venerate Chundo memukul salah satu warga desa itu tanpa merasa kasihan.


“Gudov... Tetap disini, dan jangan lakukan apapun.”


Saat pemuda itu hendak bergerak, kemungkinan untuk membantu warga yang nampak kesulitan akibat para Venerate tersebut, seketika Badkil langsung menahan pemuda itu untuk tidak ikut campur dalam permasalahan internal dari negeri yang mereka datangi itu.


**


“Berikan upeti untuk bulan ini sekarang juga, atau kalian akan merasakan kemarahan dari Hwanghon,” ucap salah satu Venerate, mengancam para warga untuk memberikan upeti dengan membawa-bawa nama pemimpin dari negeri tersebut.


Dengan sigap ketika mendengar ucapan dari Venerate tersebut, para warga lantas berbondong-bondong mengambil harta mereka, hasil panen pertanian, serta beberapa barang berharga lainnya untuk dikumpulkan di depan para Venerate tersebut.


Ketika semua barang telah terkumpul, salah satu Venerate Chundo memasang ekspresi wajah kesal karena upeti yang para warga desa itu berikan sepertinya kurang dari apa yang mereka mau.


“Tambah lagi...”


“Demi Yang mulia Hwanghon, tolong maafkan kami... Untuk bulan ini kami hanya bisa memberikan sebanyak ini. Hasil panen kami berkurang akibat kekeringan melanda pertanian kami,” ucap salah satu warga, menjelaskan mengenai kurangnya upeti yang mereka berikan.


“Kekeringan... Bagaimana mungkin desa yang berada di pinggir sungai bisa mengalami kekeringan?”


“Mohon ampuni kami tuan... Kami sudah berusaha mengumpulkan upeti yang kalian inginkan, tapi hanya ini yang bisa kumpulkan.”


“Kalau begitu, demi Hwanghon kalian akan diampuni dimulai dari kau...”


“Uakh...!”


Dalam sekejap salah satu Venerate yang menuntut upeti langsung melancarkan serangan proyeksi energi dalam skala uang besar kepada warga yang memohon, hingga terhempas ke jarak yang jauh sampai tak sadarkan diri.


Para warga yang melihat perbuatan Venerate tersebut lantas ketakutan hingga membuat mereka semua berlutut dengan tubuh gemetar.


**


“Mereka kejam sekali, memaksakan upeti yang besar untuk para warga yang tinggal di desa kecil ini,” ucap Bergen.


“Aku merasa kasihan sampai ingin membantu mereka, tapi jika kita ketahuan berada di tempat ini, aku takut jika hal itu akan berdampak cukup buruk,” sambung Badkil.


“Eh... Dimana Gudov?” Disaat bersamaan Kharcana tampak terkejut karena menyadari Gudov yang sebelumnya bersama mereka tiba-tiba telah menghilang.