The World Of The Venerate: Cursed Exorcist

The World Of The Venerate: Cursed Exorcist
Chapter 53 - Dimensi lain



“Tekhnika ekzortsista... Evil exterminator light...”


“Uakh...!”


Tanpa diduga, Gudov muncul dan langsung melancarkan serangan proyeksi elemen cahaya pada Venerate Chundo yang melakukan kekerasan kepada warga, hingga terhempas dan seketika tak sadarkan diri saat terkapar.


“Apa-apaan ini?” Sementara rekan-rekan dari Venerate Chundo yang diserang oleh Gudov sontak terkejut, tidak menyangka bahwa ada Venerate asing yang secara diam-diam berada di salah satu desa di negeri mereka.


Dengan sigap para Venerate Chundo yang lain langsung meluncur ke arah Gudov sambil secara bergantian melancarkan serangan fisik maupun proyekso energi dalam skala yang besar, hingga Gudov pun harus melawan dan menghindari serangan mereka.


“Ukh...” Perlahan-lahan Gudov mampu menangani serangan-serangan yang dilancarkan oleh para Venerate tersebut, namun karena sudah mulai kewalahan dengan pergerakan mereka yang lebih gesit, pemuda itu pun seketika menerima salah satu serangan mereka, sampai membuatnya terkapar.


Ketika salah satu Venerate Chundo hendal melancarkan serangan proyeksi energi, tiba-tiba Badkil muncul mendahului Venerate itu. Badkil melancarkan proyekso elemen cahaya sekali lagi kepada Venerate tersebut hingga membuatnya langsung tak sadarkan diri.


Dengan sigap Badkil pun meluncur melawan para Venerate Chundo satu per satu sambil dibantu oleh Kharcana yang langsung bergabung pada pertarungan tersebut.


**


Sementara Gudov yang terkapar sontak dibantu oleh Bergen untuk kembalo berdiri, namun disaat mereka hendak bersiap untuk membantu Badkil dan Kharcana, kedua orang itu lantas terkejut karena tidak menyangka bahwa kedua Venerate tersebut dengan mudah telah mengalahkan para Venerate Chundo yang memiliki jumlah lebih banyak dibandingkan mereka.


Hal tersebut dikarenakan Badkil serta Kharcana tampak jaih lebih kuat dari para Chundo yang memiliki tingkatan lebih rendah dibandingkan dengan mereka berdua.


“Setidaknya kita telah memiliki sebuah cara untuk menuju ke kota Hwangsom berkat kedatangan mereka...” Ucap Badkil.


“Kalian Venerate juga?” Tanya salah satu warga desa, tampak terkejut mengetahui bahwa Gudov serta yang lain merupakan para Venerate yang dengan sukarela mau membantu mereka.


“Iya... Tapi, pandangan kalian terhadap kami sebenarnya berbeda jauh dengan pandangan para warga biasa yang berada di negeri asal kami,” jawab Badkil.


Pria itu kemudian menjelaskan kepada para warga bahwa mereka sebagai Venerate tidak pernah melakukan hal semena-mena kepada para warga yang berada di negeri asal mereka. Badkil menjelaskan bahwa para warga negeri Pavonas memandang para Venerate sebagai pelindung mereka dan bukan hal sebaliknya yang dipandang oleh warga Chundo yang menganggap bahwa para Venerate sebagai kehadiran yang harus disegani serta ditakuti.


“Anggap kami seperti orang biasa saja, kami tidak akan menyakiti kalian seperti yang dilakukan oleh mereka,” ucap Badkil kepada para warga agar mereka tidak salah paham.


Mendengar hal tersebut, dengan serentak para warga desa tersebut langsung bersujud sambil mengucapkan terima kasih karena telah membantu mereka.


“Tuan... Sebagai permintaan terima kasih, kami akan memberikan upeti yang sebenarnya akan diberikan oleh para Venerate negeri kami,” ucap salah satu warga.


“Eh, tidak-tidak... Kami tidak akan menerima hal itu, kami membantu kalian karena tidak mau melihat para warga lemah diperlakukan semena-mena oleh mereka.” Badkil pun langsung menolak pemberian para warga dengan menjelaskan bahwa mereka dengan tulus memang hanya berniat untuk membantu para warga.


Melihat para warga kembali bersujud pada mereka, Gudov pun merasa kasihan karena sampai saat ini para warga negeri Chundo hanya mendapatkan sebuah doktrin yang salah terhadap cara pandang mereka terhadap para Venerate. Gudov pun berharap bahwa suatu hari nanti para warga dari negeri tersebut akan menganggap para Venerate sebagai sosok-sosok yang harus melindungi mereka dan bukan sebagai sosok yang harus ditakuti.


“Jika kalian ingin berterima kasih, maka kalian harus menjawab pertanyaan kami, apakah besar kota bernama Hwangsom bisa kami temukan jika mengikuti sungai ini?” Tanya Badkil, mengulang pertanyaan yang sempat dikatakannya tadi.


Sejenak para warga pun memikirkan sesuatu untuk menjawab karena masih merasa ragu serta takut untuk menjawab pertanyaan dari pria itu.


“Kumohon, jika kalian mengetahui sesuatu tolong jawab kami, karena tujuan kami kemari untuk mencari keberadaan rekan-rekan kami yang diculik oleh para Venerate Chundo,” ucap Badkil, meyakinkan para warga untuk menjawab pertanyaannya.


“Kota mistis Hwangsom memang terletak di sungai ini, namun butuh waktu tertentu untuk bisa masuk ataupun melihat kota itu,” ucap salah satu warga, akhirnya mau menjawab pertanyaan dari Badkil.


“Apakah waktu itu adalah ketika hari menjelang senja?” Tanya Badkil.


Para warga pun lantas menganggukkan kepala mereka secara bersamaan, merespon pertanyaan dari Badkil bahwa hal tersebut memang benar.


“Tapi, kota itu adalah tempat tinggap dari legenda kaisar senja negeri ini,” ucap salah satu warga, memperingati Badkil dan yang lain mengenai kota tersebut serta Hwanghon yang paling ditakuti dan disegani oleh para warga.


“Kami mengerti siapa raja senja yang kalian takuti itu, namun setidaknya kami harus mencari keberadaan dari rekan-rekan kami yang diculik,” balas Badkil, mengerti tentang keberadaan Hwanghon yang mengancam, namun tugas mereka masuk ke tempat itu harus berusaha untuk mencari para Venerate Pavonas yang diculik.


****


Berpindah pada Aryuna, Ernan, Areum, serta dua Venerate Tengal yang telah sadarkan diri, dimana mereka semua kini berjalan disebuah tempat yang cukup mencekam karena berada di sebuah lembah yang luas dengan permukaannya tertutup oleh sebuah kabut cukup tebal, serta pemandangan langit yang tampak seperti langit ketika hari hendak berganti malam.


“Ernan, apakah kau tidak salah mengirim kami kemari?” Tanya Aryuna, tampak bingung serta merasa sedikit ketakutan karena tidak menyangka bahwa mereka akan muncul di tempat seperti itu.


“Entahlah... Aku juga tidak mengerti mengapa kita bisa muncul ditempat seperti ini,” jawab Ernan, tidak paham kenapa bisa-bisanya teknik pemindahan ruang miliknya, yang sebenarnya memiliki tujuan memindahkan posisi antara dirinya serta sebuah benda yang pernah ditandai oleh pria itu di suatu tempat, tiba-tiba saja mengalami sebuah kesalahan sampai membuat mereka semua masuk ke sebuah dimensi asing.


“Kami berterima kasih karena telah membebaskan kami dari penjara itu, namun jika seperti ini bagaimana caranya kita bisa keluar?” Tanya salah satu Venerate Tengal, mengeluh karena tiba-tiba berada di tempat asing yang tampak mencekam seperti itu.


“Maaf tuan... Sepertinya ada sebuah kesalahan hingga aku membuat kalian masuk ke dimensi aneh ini,” jawab Ernan sambil meminta maaf kepada dua Venerate Tengal tersebut.


Disaat mereka sedanf berjalan, tanpa diduga segerombolan makhluk-makhluk raksasa berwarna hitam meluncur ke arah mereka.


“Ernan... Apa itu?” Tanya Aryuna dengan ekspresi wajah khawatir.


“Aku juga tidak tahu... Namun yang pasti, apapun yang datang mendekat ke arah bukanlah sesuatu yang baik,” jawab Ernan, nampak merasakan sesuatu yang buruk dari makhluk-makhluk hitam yang datang secara bergerombol ke arah mereka.