
Beberapa saat kemudian, orang-orang yang mencoba menyerang Yermo sebelumnya nampak ketakutan hingga membuat mereka semua lantas berlutut di hadapan pria tersebut.
“Ampuni kami tuan, kami sebenarnya tidak bermaksud jahat kepadamu,” ucap salah satu dari mereka.
“Apa mengayunkan senjata tajam ke arahnya bukanlah sebuah maksud jahat?” Tanya Yermo, menjelaskan mengenai ucapan orag tersebut yang bertentangan dengan perbuatannya tersebut.
“Tolong maafkan kami… Kami berjanji akan melakukan apapun sesuai perintahmu.” Merasa bahwa ucapannya sudah salah, serta mengetahui bahwa pria yang berada di depan mereka tersebut mampu menghabisi mereka dalam waktu sekejap, orang yang mengucapkan hal sebelumnya lantas bersujud memohon ampun bersama dengan yang lain, agar bisa diampuni oleh Yermo.
“Karena para dewa berkenan untuk memaafkan kalian, maka aku juga tidak memiliki hak untuk menghukum ataupun mencoba menghabisi kalian…”
“Puji para dewa… Aku tidak menyangka bahwa selama ini mereka sangat baik kepada kami… Kami memohon ampunan atas perlakukan kami melalui dirimu wahai tuan…” Mendengar pernyataan dari Yermo, orang-orang yang dibodohinya tersebut lantas bersujud meminta maaf atas perlakukan mereka yang kasar pada pria tersebut, sambil memuja para dewa yang kemungkinan disembah oleh bangsa Slivanic.
“Tapi, kalian juga harus memegang perkataan kalian, dimana kalian akan melakukan apapun yang kumau kan…”
“Aku hanya ingin bertanya apakah mungkin kalian mengetahui bahwa negeri Tengal menangkap para Venerate Pavonas? Aku datang kemari masuk ke wilayah kalian hanya untuk mengetahui hal itu,” ucap Yermo.
Orang-orang yang mendengarkan penjelasan dari Yermo lantas menunjukkan ekspresi bingung, layaknya mereka tidak mengetahui ataupun tidak mengerti dengan penculikan para Venerate Pavonas.
“Mungkin saja kalian memang tidak tahu-menahu mengenai hal semacam itu…” Gumam Yermo, melihat ekspresi dari orang-orang itu.
“Venerate Pavonas juga diculik…” Ucap salah satu dari orang-orang tersebut, lantas memberikan pernyataan yang membuat Yermo pun terkejut serta bertanya-tanya.
“Bukankah kupikir negeri Pavonas yang telah menculik Venerate-Venerate kami,” lanjutnya berkata.
“Apa? Venerate kalian juga diculik?”
Orang-orang tersebut langsung menganggukkan kepala mereka secara bersamaan, merespon pertanyaan dari Yermo bahwa benar para Venerate Tengal juga mengalami hal yang sama seperti para Venerate Pavonas juga.
Salah satu dari mereka kemudian menjelaskan bahwa Venerate pembasmi yang merupakan keturunan bangsa Slivanic di negeri Tengal, khususnya yang bertugas di wilayah perbatasan tersebut akhir-akhir ini satu per satu mulai hilang tanpa sebab yang pasti.
Merasa bahwa hal yang sama akan terjadi jika mereka mengirim bantuan Venerate pembasmi, para petinggi negeri Tengal pun lantas memerintahkan Venerate keturunan bangsa Tian, yang tidak lain merupakan orang-orang yang menyerang untuk mencoba mencari Venerate Tengal yang mereka sangka bahwa negeri Pavonas-lah menjadi pelakunya.
“Ngomong-ngomong tuan, kami sebenarnya adalah para pendekar yang berada dari sekte terbesar di negeri Tengal bernama Bunga Stepa,” ucap salah satu dari mereka, menjelaskan bahwa sebenarnya mereka merupakan para anggota yang berasal dari sebuah organisasi khusus negeri Tengal.
“Kalian para anggota sekte Bunga Stepa… Tapi, kukira semua bermusuhan…” Respon Yermo, nampak terkejut tidak menyangka bahwa orang-orang tersebut ternyata berada dalam satu afiliasi karena saat pertama kali masuk di dalam kedai tersebut mereka terlihat saling bertarung dan nampak bermusuhan satu sama lain, bahkan mereka juga nampak terlihat serius melakukan hal tersebut dengan bertarung menggunakan senjata tajam.
“Itu karena kami sebelumnya memiliki perbedaan pendapat… Mungkin kau melihat kami sebagai preman-preman yang sering memalak para warga…” Ucap salah satu dari mereka, menjelaskan kepada Yermo bahwa apa yang dilihat oleh pria itu merupakan sebuah kesalahpahaman saja.
Setelah mendengar penjelasan tersebut, tiba-tiba Yermo pun berdiri dari tempat duduknya sambil memasang ekspresi serius.
“Kurasa kau benar tuan… Jika kau membantu kami, mungkin akan lebih mudah kita menemukan para Venerate yang diculik, karena jika bukan Pavonas yang melakukan hal tersebut berarti tinggal satu negeri yang menjadi pelakunya…”
“Negeri Chundo… Khususnya wilayah utara, dimana para Venerate yang berada dikubuh sang raja senja…” Ucap Yermo, menyambung ucapan dari salah satu anggota organisasi sekte tersebut dengan menyatakan bahwa masalah tersebut merupakan ulah dari para Venerate Chundo.
***
Berpindah pada kapal nelayan yang sedang berlayar di lautan, dimana tampak Gudov duduk di pinggiran kapal, menatap laut lepas sambil memilikirkan mengenai para Venerate Pavonas yang menghilang tanpa alasan yang pasti.
“Kejadian seperti ini juga pernah terjadi tepatnya puluhan yang lalu… Aku tidak menyangka bahwa ini akan terulang lagi…”
Tiba-tiba seorang pria paruh baya yang tidak lain merupakan Erchilus, pemilik dari kapal nelayan tersebut datang menghampiri Gudov sambil membicarakan mengenai sesuatu.
“Apa maksudmu para Venerate pembasmi yang satu per satu menghilang?” Tanya Gudov, menerka bahwa pria tersebut sedang membicarakan mengenai hilangnya para Venerate Pavonas.
Erchilus pun mengangguk, merespon bahwa hal yang ditanya oleh pemuda itu memang benar.
“Saat itu… Banyak para Venerate pembasmi yang menghilang dan tidak kembali lagi sampai saat ini…”
“Hanya salah satu Venerate yang bisa berhasil selamat dan kembali lagi, namun Venerate itu tidak mau mengatakan apapun mengenai apa yang terjadi kepadanya serta siapa yang melakukan hal itu padanya, serta rekan-rekannya,” ucap Erchilus, menjelaskan mengenai kejadian hilangnya para Venerate yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu.
“Kau tahu banyak mengenai Venerate… Apa kau memang benar-benar nelayan biasa?” Respon Gudov sambil bertanya kepada Erchilus, dimana Gudov sedikit curiga dengan pria paruh baya tersebut yang terlihat bukan seperti seorang warga biasa.
“Tentu saja… Aku bisa mengetahui banyak hal mengenai Venerate setidaknya karena temanku adalah seorang Venerate… Pria yang menjadi pemimpin wilayah inilah orang itu,” jawab Erchilus.
“Pantas saja tuan Alesov mengatakan bahwa kau merupakan kenalannya… Ternyata kau adalah memang temannya,” respon Gudov.
***
Setelah sedikit berbincang dengan Erchilus, tidak terasa bahwa kapal yang mereka naiki tersebut beberapa saat kemudian, akhirnya berlabuh di pelabuhan kota Brinaroz.
Gudov bersama dengan dua rekannya kemudian turun dari kapal, dimana mereka bertiga harus pergi sendirian sementara kapal serta para nelayan yang ada hanya mengantar mereka sampai di tempat itu.
“Hei anak-anak muda… Setidaknya berhati-hatilah melakukan misi kalian…” Ucap Erchilus memberi nasehat sebelum kapalnya tersebut hendak berlayar kembali.
“Tenang saja tuan… Kami pasti akan menemukan dan membawa kembali rekan-rekan kami yang hilang…” Balas Gudov.
“Semoga beruntung…” Respon Erchilus, namun memasang ekspresi wajah yang nampak khawatir.