
Gundai terlebih dulu masuk ke dalam lorong panjang yang dipenuhi oleh bongkahan kristal memancarkan cahaya, dimana Jungdai beserta dengan Galshu mengikuti pemimpin negeri Tengal itu dari belakang.
**
“Aku tidak tahu jika ada sebuah lorong penghubung antara negeri Tengal dan Pavonas… Apakah dulunya Tengal dan Pavonas pernah melakukan sebuah aliansi, walau pada masa sekarang mereka menjadi tidak akur?” Tanya Jungdai, penasaran melihat lorong panjang, tempat mereka berada tersebut.
“Lorong penghubung ini sudah ada sebelum era perang besar terjadi… Dulunya negeri kita pernah menguasai wilayah Briseria, mereka membuat lorong ini agar lebih mudah untuk menyebrang ke wilayah yang direbut dibandingkan harus melewati sungai yang berada di atas…” Jawab Gundai.
“Dan aku rasa bahwa para Venerate Pavonas tidak mengetahui lorong ini ada sejak era perang besar,” lanjut pemimpin negeri Tengal itu berkata, menjelaskan kepada Jungdai serta Galshu yang sedang bersamanya.
“Yang mulia, disamping itu… Mengenai Venerate yang memiliki kekuatan kekangan surgawi dari makhluk itu, bukankah setahuku dia sudah mati puluhan tahun yang lalu?” Tanya Galshu.
“Memang benar… Pemilik kekuatan makhluk suci yang kita tahu sudah tiada puluhan tahun yang lalu… Namun, yang tiada hanyalah Venerate-nya saja, dan kekuatan tersebut tetap akan berpindah ke Venerate lain,” jawab Gundai.
Pemimpin negeri Tengal itu kemudian menjelaskan bahwa setelah kematian dari Venerate yang memegang kekuatan kekangan surgawi dari salah satu makhluk suci, pada saat itu juga kekuatan tersebut akan keluar dengan sendirinya dari Venerate tersebut, dan mencari wadah yang baru.
Kekuatan kekangan surgawi tersebut memiliki sebuah keunikan dalam mencari wadah yang baru, dimana kekuatan tersebut akan masuk ke pada Venerate yang memiliki garis keturunan dari Venerate yang sebelumnya.
Gundai juga menjelaskan bahwa untuk sekarang mereka sulit untuk mencari keturunan-keturunan dari Venerate awal pemegang kekuatan makhluk suci tersebut, diakibatkan karena pembantaian yang terjadi kepada clan dari Venerate tersebut yang akhirnya membuat clan tersebut tidak eksis lagi.
Gundai yakin bahwa keturunan dari Venerate tersebut tetap masih tersisa sampai sekarang, serta salah satu diantara mereka pasti memegang kekuatan dari makhluk suci tersebut.
***
Setelah Gundai selesai menjelaskan kepada Galshu maupun Jungdai, mereka bertiga menemui sebuah jalan buntu, yang di depannya hanya terlihat sebuah dinding batu.
“Ayah, apa-apaan ini? Tidak ada jalan lagi disini…” Tanya Jungdai, nampak kebingungan sambil melihat ke sekitaran, tidak melihat jalan lain, kecuali jalan kembali ke negeri Tengal.
“Tenang saja… Setiap pintu masuk tetap akan memiliki sebuah pintu keluar di sisi lainnya,” ucap Gundai.
Pria itu kemudian megangkat kedua tangannya ke depan, yang sontak langsung menyalurkan kekuatannya pada di dinding batu yang berada di depan. Sambil terua memproyeksikan energi milknya, Gundai juga mengucapkan sebuah kalimat yang cukup panjang, hingga ketika pria tu selesai mengatakannya, dinding batu itu tiba-tiba saja bergeser, dan ternyata merupakan pintu keluar dari lorong yang panjang tersebut.
“Pantas saja kau mengatakan sebelumnya bahwa Venerate Pavonas tidak bisa mengetahui mengenai lorong penyebrangan ini,” ucap Jungdai, nampak megerti ketika Gundai membuka pintu keluar dari lorong yang panjang itu.
Gundai, Jungdai beserta Galshu berjalan melewati pintun keluar tersebut, dan sampai di sebuah lembah, dimana ketika mereka menatap ke arah kanan, tampak kota Vegoblashcensk berada beberapa kilometer di depan mereka.
“Ayah… Ingat bahwa tujuan kita kemari hanya untuk mencari patung keramat itu… Aku tidak mau kau menyerang warga yang tidak memiliki hubungan dengan hal ini,” ucap Jungdai, terlebih dahulu memperingati pemimpin negeri Tengal itu.
“Aku tahu… Kalau begitu, mulai dari sini kita harus menyamarkan hawa keberadaan kita,” balas Gundai sambil memberikan perintah kepada Jungdai dan Galshu untuk menyamarkan hawa keberadaan mereka agar tidak dapat diketahui oleh para Venerate Pavonas yang berada di kota tersebut.
“Iya Yang mulia… Patung keramat tersebut dipegang oleh salah satu Continent Venerate Pavonas, Yermo Balanouski…” Jawab Galshu.
“Cukup tunjukkan saja siapa orang itu kepadaku… Jika dia hanya seorang Continent Venerate, pasti kita bisa patung itu dari tangannya,” respon Gundai.
Mereka kemudian terbang ke langit menuju ke kota Vegoblashcensk untuk mencari patung emas yang dipegang oleh Yermo.
***
Sementara itu di kota Vegoblashcensk, tampak Gudov berada di sebuah ruangan, masih menunggu ibunya yang masih terbaring dengan tidak sadarkan akibat kejadian yang sebelumnya menimpanya.
Dengan rasa khawatir, remaja itu masih tetap berharap agar ibunya bisa kembali pulih, walau melihat keadaannya yang memang parah.
“Eh…” Tiba-tiba Gudov pun terkejut melihat ibunya bisa sadarkan diri.
“Ibu… Kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu sekarang?” Ucap Gudov sambil bertanya mengenai keadaan dari ibunya tersebut.
“Gudov… Untung saja kau masih baik-baik saja…” Ucap ibunya, merasa senang melihat remaja tersebut masih dalam keadaan baik-baik saja.
“Jangan khawatir… Walaupun dalam keadaan seperti ini, namun para dewa masih memberikan kesempatan kepada ibu,” lanjut ibunya berkata, menjelaskan bahwa dirinya masih baik-baik saja.
“Syukurlah…” Mendengar hal tersebut Gudov lantas memeluk ibunya, yang masih memiliki kesempatan untuk bisa bertahan hidup.
“Gudov, tunggu dulu… Lukanya masih sakit.” Karena Gudov menarik tubuh ibunya, luka yang diterima oleh ibunya tersebut lantas terasa sangat sakit.
“Maaf ibu…” Sadar akan hal tersebut, Gudov dengan cepat langsung melepas ibunya.
“Ibu… Sekarang hanya tinggal tersisa kita berdua saja… Karena ayah sudah tiada,” Ucap Gudov sambil menundukkan kepalanya, merasa sedih ketika memberitahukan kepada ibunya bahwa ayah dari remaja tersebut telah tiada akibat kejadian sebelumnya.
Ibu dari Gudov pun terdiam mendengar hal tersebut, walaupun merasa sedih, namun dia tidak mau memperlihatkan rasa sedihnya kepada putranya tersebut.
“Ibu tahu ini sangat berat… Namun, kita juga harus tahu bahwa ayahmu sudah tenang disana,” ucap ibu Gudov.
“Tapi ibu… Kenapa kita harus mendapatkan hal seperti ini? Aku tidak menerimanya… Jika saja aku memiliki kekuatan seperti para Venerate, aku pasti akan membalaskan atas kematian ayah.” Gudov nampak tidak menerima kenyataan atas kematian ayahnya ketika ibunya mengatakan untuk pasrah, walaupun begitu, bila remaja itu ingin melakukan pembalasan dendam, dia tetap tidak bisa melakukannya akibat tidak memiliki kekuatan layaknya seorang Venerate.
“Gudov… Kau harus tenang… Ini sudah menjadi takdir kita akan mendapatkan hal seperti ini.” Melihat Gudov yang nampak kesal mengalami hal tersebut, ibunya lantas menenangkan serta menasehati putranya, bahwa jika remaja tersebut melakukan pembalasan dendam terhadap, ayahnya tetap saja tidak akan bisa kembali lagi.
“Ibu… Kau dan ayah selama ini memang seorang Venerate kan… Bagaimana denganku? Apa aku juga bisa menjadi Venerate seperti kalian?” Tanya Gudov, nampak ingin mendengar jawaban dari ibunya adalah benar.