The World Of The Venerate: Cursed Exorcist

The World Of The Venerate: Cursed Exorcist
Chapter 49 - Tiga raja dalam satu negeri



“Kota mistis... Kenapa harus disebut seperti itu tuan Badkil?” Tanya Gudov, karena nampak penasaran dengan pernyataan dari Badkil barusan.


“Kota itu disebut sebagai kota mistis karena pada jam tertentu akan muncul di dunia ini, namun diluar waktu itu, kota tersebut akan menghilang,” jawab Badkil.


Pria itu menambahkan penjelasan kembali bahwa kota Hwangsom yang menjadi tempat menetap salah satu raja negeri Chundo, yaitu Hwanghon, sebenarnya berada dalam dua dimensi atau ruang yang berbeda. Menurut mitos yang beredar di negeri-negeri sekitar, seperti negeri Pavonas, kota Hwangsom akan muncul ketika hari hendak berganti senja dan akan menghilang ketika berada pada penghujung tengah malam.


“Sebelum kita berpetualang di negeri yang cukup unik ini aku ingin mengatakan bahwa Hwanghon hanyalah salah satu raja yang memimpin negeri ini ketika senja sampai tengah malam,” ucap Badkil, menjelaskannya kepada Gudov, yang nampak belum mengetahui mengenai keunikan dari negeri tempat mereka berada sekarang.


“Berarti ada raja lain yang akan memimpin negeri ini dalam waktu sisanya,” ucap Gudov.


“Aku pernah mendengarnya… Raja-raja yang ada selain Hwanghon adalah Bam dan Saebyeog kan…” Sambung Bergen, menyebut dua raja negeri Chundo, selain Hwanghon.


“Benar sekali… Bam, raja malam, sedangkan Saebyeog adalah raja fajar… Mereka berdua, termasuk kota-kota dimana tempat mereka berada akan mengalami hal yang sama pada waktu tertentu seperti kota Hwangsom yang kubahas,” ucap Badkil.


“Baiklah tuan Badkil… Kurasa kita memang harus menuju ke kota mistis itu… Entah kota tersebut akan muncul ketika hari mulai senja, namun aku tidak mau menunggu lagi dan memikirkan bagaimana keadaan dari Venerate Pavonas yang diculik, termasuk Aryuna…” Ucap Gudov sambil berdiri, karena telah berhasil memulihkan keadaannya kembali setelah seharian berjalan tanpa henti keluar dari hutan yang menyesatkan mereka.


“Benar sekali… Walaupun cukup menyesal sudah datang kemari, namun aku juga sangat khawatir dengan keadaan mereka, terutama Aryuna.”


Begitu juga dengan Bergen yang kini sudah kembali pulih setelah sangat kewalahan seperti Gudov.


“Kharcana… Apa kau juga baik-baik saja?” Tanya Badkil.


“Iya… Setidaknya aku tidak terlalu kelelahan seperti Bergen dan Gudov,” jawab Kharcana.


“Baiklah… Karena stamina semuanya sudah kembali terkumpul, waktunya kita melanjutkan perjalanan…”


***


Berpindah ke kota Hwangsom yang selalu dihiasi dengan langit senja, dimana pada kediaman dari Hwanghon, tampak di sebuah ruangan Aryuna sedang menemani anak perempuan yang sebelumnya merupakan putri dari Hwanghon sendiri, tengah memainkan sebuah melodi indah dari sebuah alat musik gesek tradisional.


“Kakak… Apakah menyukainya?” Tanya anak perempuan itu kepada Aryuna mengenai melodi yang dimainkannya.


“Bagus sekali nona Areum… Kau sangat berbakat memainkan alat musik di usiamu yang sangat muda,” jawab Aryuna, memuji Areum dengan menunjukkan ekspresi tersenyum, merasa senang mendengar melodi yang indah dari permainan musik anak perempuan tersebut.


Akan tetapi, disamping ekspresi senang yang diperlihatkannya, Aryuna sebenarnya sangat merasa cemas mengenai keberadaan dari para Venerate Pavonas, termasuk tunangannya yang kemungkinan besar ditahan di kota mistis tersebut.


Walaupun ingin mencoba mencari keberadaan dari para Venerate Pavonas yang belum diketahui keberadaan mereka, namun Aryuna kini tidak bisa berbuat apa-apa untuk keluar dari ruangan tersebut karena tepat diluar, ada beberapa prajurit yang sedang berjaga, yang tentu saja dengan tujuan untuk memperhatikan pergerakan dari perempuan tersebut.


“Nona Areum… Apakah aku bisa meminta sesuatu kepadamu?” Tanya Aryuna dengan suara berbisik.


“Apa itu kakak?” Anak perempuan bernama Areum tersebut nampak mengerti bahwa Aryuna ingin meminta sesuatu tanpa harus didengar oleh para prajurit yang berada diluar, hingga membuatnya bertanya balik dengan suara berbisik juga.


“Tolong bantu aku agar bisa keluar dari ruangan ini untuk mencari keberadaan rekan-rekanku,” jawab Aryuna, karena merasa bahwa anak perempuan itu dapat dipercaya untuk bisa membantunya.


“Kakak… Apa mungkin kau ingin mencari tawanan penjara yang mengenakan sebuah lambang burung berwarna merah?” Tanya Areum, nampak mengetahui sesuatu mengenai para Venerate Pavonas.


“Apa mungkin lambang seperti ini?” Aryuna pun langsung memperlihatkan lambang yang mirip seperti miliknya kepada Areum.



“Iya benar, itu adalah lambang yang sama…” Ucap Areum sambil menganggukkan kepalanya.


“Kalau begitu, tolong bantu aku nona Areum… Mungkin kau tahu tempat mereka berada…” Ucap Aryuna, memohon agar anak perempuan itu bisa membantunya menemui para Venerate Pavonas.


Areum pun nampak memikirkan sesuatu setelah mendengar permohonan dari Aryuna, karena merasa bahwa hal tersebut memang cukup sulit untuk dilakukan olehnya.


“Kakak… Tolong tutup telingamu dan pejamkan mata sekarang,” ucap Areum.


“Kenapa?”


“Ayo kakak… Jika kau ingin pergi melihat meraka cepat tutup telinga dan matamu rapat-rapat, sebelum aku memberi isyarat untuk membukanya.”


Aryuna pun langsung mengikuti syarat yang diberikan oleh Areum karena percaya bahwa anak perempuan itu memang benar-benar akan membantunya.


Setelah Aryuna menutup kedua telinga serta kedua matanya sambil menundukkan kepala, Areum pun sejenak mengambil nafas panjang, lalu kembali memainkan melodi yang indah dari alat musik gesek yang dipegangnya.


Melodi indah yang dimainkan oleh anak perempuan itu, perlahan demi perlahan menjadi keras hingga dapat didengar oleh para prajurit yang sedang berjaga diluar ruangan.


Tiba-tiba para prajurit yang berjaga tersebut, satu per satu mulai jatuh tekapar tak sadarkan diri setelah mendengar melodi yang dimainkan oleh anak perempuan tersebut.


Tidak tanggung-tanggung, orang-orang yang merupakan para pelayan, yang berada di bangunan yang sama dengan ruangan tempat Areum serta Aryuna berada tiba-tiba mulai berjatuhan tak sadarkan diri setelah melodi tersebut didengar oleh mereka semua.


***


Kembali pada ruangan tempat Aryuna dan Areum berada, dimana Areum sendiri akhirnya menghentikan permainan musiknya, kemudian menyentuh Aryuna yang tengah menutup telinga serta kedua matanya.


Merasakan isyarat dari Areum, Aryuna pun langsung membuka kembali kedua telinga serta matanya, dan mengangkat kepalanya lagi.


“Orang-orang di bangunan ini telah berhasil kubuat pingsan… Ayo kita harus bergegas…” Ucap Areum, mengajak Aryuna keluar dari ruangan tempat mereka berada.


Sambil mengikuti Areum keluar dari ruangan tersebut, Aryuna terkejut melihat orang-orang yang berada di bangunan tersebut, dimana sepanjang mereka lewat memang telah tidak sadarkan diri, membuat Aryuna tampak bertanya-tanya siapa sebenarnya anak perempuan yang bersamanya tersebut.


***


Setelah keluar dari bangunan sebelumnya, Aryuna terus mengikuti Areum keluar dari kediaman milik Hwanghon, menuju ke suatu tempat.


***


Tak berapa lama keluar dari kediaman tempat tinggal dari Hwanghon, Aryuna dan Areum akhirnya sampai di sebuah bangunan tua, dimana tidak terlihat satupun orang yang lalu lalang ditempat itu.