
“Mana yang kamu janjikan hari itu, terlebih lagi dimana pimpinanmu!”
Teriakan Taka dengan memegang pedang yang diselimuti oleh darah, memecah keheningan. Dia yang biasanya tenang dalam kondisi apapun, mendadak menjadi orang berbeda saat ini. Tatapan mata yang dipenuhi nafsu membunuh serta kedua bilah pedang di tangannya seakan ingin membunuh siapa yang akan menghalanginya.
Dunia ini penuh dengan masalah yang akan mengikuti semua perjalanan. Latih tanding bersama Yogairu akhirnya selesai, tapi setelah itu Taka yang tiba tiba menyerang lelaki misterius. Ibarat kata, keluar lubang buaya masuk kandang harimau. Hari hari penuh kejutan dimulai sekarang.
“Jawab aku brengsek!” Teriak Taka kepada lelaki yang sedang kesakitan.
Aku sempat heran dengan Taka, dia benar benar seperti pembunuh sekarang. Tapi, aku juga penasaran kenapa dia tidak berpikir dua kali sebelum menyerang lelaki itu, maksudku Taka tidak mungkin menyerang orang yang tidak bersalah. Ini pasti ada hubungan dengan masalah yang di hadapinya, entah itu masa lalu atau yang akan datang.
“Haha, apakah itu yang dilakukan seorang Ksatria? Menyerang seseorang tanpa tahu identitasnya? Sungguh tidak masuk akal!” Balas lelaki misterius dari kejauhan.
“Berisik!” Taka mengucapkan itu dengan berlari mendekatinya untuk kedua kalinya.
*Ting!
Suara pedang yang saling terbentur memanaskan situasi, kali ini lelaki itu sadar jika Taka menggunakan kedua tangannya untuk menyerang.
Aku dan Yogairu hanya terdiam bisu melihat Taka bertarung di sana. Bahkan Yogairu yang kukira dekat dengannya tidak tahu apa apa akan hal ini.
“A – Aoi apa yang kamu lakukan, ayo kita bantu dia!” ajak Yogairu sambil mengeluarkan pedang kecil.
Aku masih terdiam dan melihat pertarungan mereka berdua yang sengit, sementara itu Yogairu berlari mendekati mereka.
Mengetahui itu, aku langsung memegang lengan Yogairu dan menghentikannya.
“Tunggu, kita belum tahu jelasnya. Bukankah lebih baik kita memastikannya dahulu sebelum bertindak?” Sahutku menghentikannya.
“Lepaskan! Apa kita akan tahu masalahnya hanya dengan diam dan melihatnya? Setidaknya bantu dia untuk sekarang.” Tolak Yogairu sambil menarik tangan dan mendorongku.
Saat Yogairu mendekati pertarungan mereka, Taka berteriak kepadanya.
“Jangan mendekat!”
Seketika lelaki misterius itu melemparkan biji seperti kacang berukuran besar berwana kecoklatan yang dibalut dengan gumpalan dedaunan, walau Yogairu berhasil menangkisnya. Tapi biji itu meledak dan mengeluarkan asap.
Dan tepat saat itu, Yogairu berada di tengah tengah asap yang dihasilkan dari ledakan biji itu. Tiba tiba dia kehilangan keseimbangannya dan terjatuh.
“Sial! Mati kau sialan!” Teriak Yogairu dengan tubuh yang tersungkur ke tanah.
Dibalik kabut asap putih, Taka masih bertarung mati matian dengan lelaki misterius, keduanya tidak berhenti memberikan serangan mematikan. Kemudian, di tengah tengah pertarungan sengit, lelaki itu menatapku dengan tatapan tajam dan melemparkan biji yang sama sebelumnya kearahku.
Aku berhasil menghindari lemparan biji tersebut, namun tidak dengan ledakan asapnya.
“Tahan nafas dan larilah! Jangan hirup!” Seru Taka dengan nafas terengah engah.
Tidak sempat, sebelum dia bilang aku sudah menghirupnya. Walau tidak berbau, asap itu membuat tubuhku lumpuh dan tidak bisa digerakkan, aku pun jatuh terpaku di tanah.
Aku melihat indikator tubuhku semuanya berwarna merah, kecuali bagian kepalaku. Bar tenagaku juga menghilang, aku tidak tahu harus berbuat apa. Sepertinya biji itu dibuat untuk melumpuhkan seluruh bagian tubuh kecuali kepala. Dengan dampak sekuat itu, bisa saja akan menyebabkan kematian dalam jangka waktu lama.
“Musuhmu adalah aku, mereka tidak ada hubungannya dengan mu!” Teriak Taka sambil terus menyerang dengan kedua tangannya.
“Seharusnya aku yang bilang begitu padamu. Mangsaku adalah mereka, bukan kamu!” Lelaki itu masih kuat menahan semua serangan kuat yang diberikan Taka dengan tubuh penuh darah.
Seluruh tubuhku memang tidak bisa digerakkan, tapi pendengaranku masih jelas. Aku juga bisa melihat betapa tajamnya ayunan pedang mereka tanpa henti. Tidak kenal kata ‘lelah’ dan ‘menyerah’ setiap serangan kuat ditangkis dengan pedang yang digenggam dengan kuat, begitu juga sebaliknya.
Taka seharusnya dalam keadaan yang menguntungkan dan bisa menyerangnya dengan telak, sayangnya penggunaan tipe pedang mempengaruhi gerak juga. Pedang panjang melengkung yang digunakan lelaki itu dengan mudah menutupi celah serangan Taka, sedangkan pedang yang digunakan Taka lebih efektif dalam membalas serangan, bisa dibilang tipe penyerang dan bertahan. Istilah itu pada dasarnya adalah ‘counter’ di game fighting.
Sampai saat dimana Taka kehilangan pijakan serta keseimbangan tubuhnya, lelaki itu langsung memanfaatkannya dengan menyerang bagian kepala. Dengan reflek tubuh yang cepat, Taka menghindari serangan tersebut. Namun dia terkejut saat melihat darah yang menetes di tangannya, ternyata tebasan sebelumnya tidak terhindari sepenuhnya, dan memberikan goresan di pipinya.
Tanpa membuang waktu, lelaki misterius dengan cepat menendang perut Taka, dia pun terdorong dan terjatuh di tanah. Belum sempat bangun, lelaki itu menginjak tangan dan dadanya. Taka tidak bisa bangun lagi, dia tidak bisa melakukan apapun, hanya suara nafas yang tersendat yang bisa didengar.
“Ayolah, dari awal kita bisa berbincang manis dulu bukan?” Ujar lelaki itu sambil menghunuskan pedang di badan Taka.
Taka hanya terdiam dan mencoba menggerakkan tangannya yang dipijak, akan tetapi pijakannya semakin kuat. Dia merintih kesakitan.
“Liatlah anjing liar kini sudah jinak, lagian aku tidak tertarik dengan anjing liar ini.” setelah mengucapkan itu, dia semakin menekan pijakan kakinya, kemudian dilanjut dengan menginjak – injak dada Taka.
“Ahh, aku sedikit kasihan dengan mu, jadi kamu pilih mana? Kamu mati? Atau kedua temanmu ikut aku?” Ucapnya dengan mengarahkan pedangnya diwajah Taka.
“Memangnya ada jaminan jika aku mati, teman temanku akan dilepaskan?” Gumam Taka dengan memalingkan wajah.
“Ha!? Bilang apa kau sialan!” Lelaki itu langsung menusuk lengan kiri Taka.
Keadaan kini berbalik, diawal memang kemenangan berpihak kepada Taka. Kini tidak, kepasrahan berada di atasnya. Bahkan sekarang darahnya yang keluar bercucuran, sedangkan luka lelaki itu sudah mulai menutup.
“Argh!” jeritnya kesakitan, darah segar mulai membasahi lengannya.
“Apa? Kesakitan ya? Kasihan sekali anak ini, dulu kakakmu sekarang kamu, haha!” Lelaki itu tertawa dengan keras di atas tubuh Taka.
Aku melihat itu dengan rasa kasihan kepadanya, dia rela melindungi kami berdua dengan mengorbankan nyawanya. Kemudian aku melihat ke arah Yogairu, dia nampak putus asa, terlihat air mata mulai keluar dari matanya.
“Kakakku ya? Haha, sudah lama sekali tubuhku tidak merasa sesakit ini.” Ucap Taka sambil tertawa.
Tatapan Taka berubah, sorot matanya dipenuhi dengan kekosongan. Diikuti dengan senyum kecilnya.
“Kau masih menikma-.”
*Croz!
Tiba tiba pedang yang menusuk lengan Taka tumbuh bercabang dan memanjang menusuk tubuh lelaki itu.
“Ti – tidak mungkin!” Ucap lelaki itu terkejut, sementara darah mulai menetes dari mulutnya.
Kemudian, Taka langsung menendangnya. Keadaan kini berbalik lagi, sekarang lelaki itu terjatuh, dia terlihat kehilangan banyak sekali darah. Bukan soal menang dan kalah, akan tetapi hidup dan mati. Saat ini lelaki misterius tersebut sudah berada di ambang kematian.
“Ayolah, mana semangatmu tadi?!” Teriak Taka sambil beberapa kali menendangi tubuhnya.
“Ahhhh tidak menjawabnya?” lanjutnya dengan mendekatkan wajah kepada lelaki itu.
*Plak Plak!
Taka menampar wajah lelaki tersebut berkali kali, terlihat lelaki itu sudah tidak memiliki cahaya kehidupan di matanya.
“Lalu….. apa yang kamu maksud dengan kakakku?” Ucapnya dengan nada lesu, serta mencekik lehernya.
“A- am- ampuni aku! To – tolong, Siapapun!” Jeritnya terbata – bata.
“Ohh, minta tolong ya? Baiklah!” Balasanya dengan senyum jahat serta pedang kecil di tangan Taka, dihiasi dengan hawa membunuh diwajahnya.
“A- ahhh!”
*Crotz, Crotz!
Taka menusuk tubuhnya dengan tanpa henti, bahkan tidak terlihat rasa kasihan sedikitpun di wajahnya.
“Ahaha! Mati! Mati! Mati! Mati!”
Teriak Taka diikuti dengan tusukan bertubi – tubi.
“Ahh sudah mati ya, padahal pertanyaanku belum dijawab loh, ah yaudahlah.” Ujar Taka dengan nada malas.
Setelah dia tahu jika lelaki itu sudah mati, dia meninggalkannya dan berdiri terdiam di depan mayatnya. Tiba – tiba dia menampar pipinya sendiri, berulang kali. Hingga dia melihat ke arahku dan Yogairu.
Dia menatapku dengan sorot mata yang sama seperti menatap lelaki misterius itu sebelumnya, kemudian dia menampar pipinya sendiri untuk sekian kalinya. Setelah itu mulai mendekatiku.
“Tu – tunggu Taka, aku temanmu Aoi.” Ucapku untuk menyadarkannya.
Tubuhku gemetaran, rasa bingung dicampur ketakutan menggumpal dipikiranku. Aku tidak bisa berpikir jernih, hanya kematian yang ada dipikiranku.
Dia mulai mendekat, tatapannya kosong seakan hanya melihat kearah depan. Namun, saat aku berada di depannya, dia melewatiku. Sepertinya Taka pergi ke arah aliran air terjun.
“Maaf! Aku ketinggalan sesuatu yang besar ya!” Teriak Mashiro yang muncul di sebelahku.
Aku terkejut, tiba tiba Mashiro datang entah darimana.
‘Ah, panjang ceritanya. Yang terpenting aku tidak bisa menggerakkan tubuhku saat ini, dan lihat Taka yang dilumuri dengan darah.’ Ucapku.
Mashiro melihat sekeliling, dia mengambil biji yang dilemparkan kepadaku sebelumnya.
“Biji buah ricin ya? Tidak heran kamu lumpuh begini, untung saja kamu hanya menghirupnya.” Jawab Mashiro sambil mengamati dengan teliti biji yang dia pegang.
‘Kesampingkan soal itu, lihat Taka. Maksudku, apakah dia tidak apa apa?’
Serentak Mashiro melihat ke arah Taka, dan sadar dengan mayat lelaki. Kemudian dia mendekati Taka untuk memeriksa kondisinya.
“Pertarungan hidup mati ya? Keren! Taka menang melawan bandit buronan level tinggi?”
Dia masih terlihat tidak peduli dengan kondisi Taka. Mau bagaimana pun, dia adalah seorang dokter, hal seperti ini sudah menjadi sarapan sehari harinya.
“Soal Taka ya, dia sepertinya tidak apa. Lukanya mungkin akan sembuh beberapa hari. Dilihat dari sorot matanya dia menggunakan Cursed Skill - nya, tenang saja, dia masih sadarkan diri.” Lanjutnya.
‘Jadi begitu, baiklah.’
Aku sedikit lega mendengar hal itu, nampaknya Taka juga sedang membasuh tubuhnya.
Tak lama kemudian, Taka menghampiriku sambil membawa daun yang berisi air dan menyiramku. Raut wajahnya menjadi normal, dia juga tersenyum saat mengucurkan air ke kepalaku.
Aku melihat indikatorku langsung berwarna hijau, serta display bar tenagaku juga muncul. Tubuhku juga bisa digerakkan.
“Te – terimakasih, omong omong bagaimana lukamu?” Tanyaku sambil mengusap wajah.
Dia hanya terdiam dan sedikit tersenyum, kemudian menunjuk ke arah Yogairu.
Aku sadar jika Yogairu masih belum bisa menggerakkan tubuhnya, kemudian langsung mengambil air dan mengguyurkan padanya. Dia pun berdiri sambil meregangkan tubuhnya.
“Terimakasih Taka! Aku berhutang kepadamu.” Ucap Yogairu sambil mengulurkan tangannya kepada Taka.
Taka menjabat tangannya dan tertawa kecil.
“Haha, baiklah baiklah, aku tunggu itu. Omong omong ini sudah gelap mari kita pulang dan makan enak, aku traktir!” Balasnya sambil mendekat kearah mayat lelaki misterius.
Saat Taka berada di depan mayat itu, dia menaruh telapak tangannya di dada kiri mayat tersebut. Setelah beberapa detik, dia menarik sesuatu dari tangannya. Itu sebuah kartu, seperti kartu identitas yang terikat dengan nyawa seseorang.
“Hap, ini dia!” Serunya sambil menujukkan kartu itu.
Kartu itu berwarna merah cerah, terlihat beberapa tulisan yang berisi nama serta role yang dimiliki orang tersebut. Isinya, Hyaki Gako dan Rolenya adalah ‘Petualang’ level 42 dan ‘Bandit’ level 36.
“Dengan ini mari kita pulang dan makan malam!” Ajak Taka dengan semangat.
......................
Kami pun pulang kembali ke Rumah Taka, sebelum itu kami pergi ke tempat seperti ‘Guild’ jika di game MMoRpg. Suatu tempat yang digunakan sebagai sarana penukaran hasil jarahan dengan koin serta penuh dengan papan quest di setiap sudutnya.
Taka memberikan kartu identitas lelaki yang sudah mati itu kepada penjaga yang ada disana, kemudian dia langsung diberi sekantung kecil yang berisi 1 permata dan 80 koin emas. Itu merupakan jumlah yang sangat banyak.
Sesampai dirumah, kami disambut hangat oleh Asteria dan Azuzi. Setelah mengalami hari yang berat, hanya dengan melihat dua gadis bagaikan bidadari dapat meringankan beban pikiranku. Dilanjut dengan makan malam bersama mereka berdua.
“Ta – kyun, habis mengalahkan satu pimpinan dungeon lagi? Lihat luka di pipimu, apakah tidak apa?” Tanyanya sambil menyentuh luka yang ada di pipi Taka.
*Uhuk.
Aku tersedak saat Asteria memanggil Taka dengan sebutan itu, aku sedikit terkejut kukira hanya di dunia asalku, ternyata benar benar sama persis.
Mereka serempak melihat kearahku, kemudian Azuzi memberikan ku segelas air.
“Nih, Aoi – niisan.”
“Ah, Terima kasih.” Balasku sambil menerima gelas yang dia berikan.
Suasana tenang serta kehangatan mewarnai waktu makan malam, seberapa berat hari yang telah berlalu pasti akan ada celah waktu yang menyenangkan.
Kami menyelesaikan makan malam dengan membersihkan meja serta mencuci piring, setelah itu aku memikirkan rumah yang aku tinggali di dunia ini seraya duduk menikmati minuman hangatku. Tidak sendiri, Mashiro di sebelahku sedang mengamatiku, aku mencoba tidak mempedulikannya.
“Tidak ada, disini memang tempat tinggalmu. Bersama mereka berempat.” Ucap Mashiro.
“HA!?” teriakku terkejut.
“Ka – kau bilang, ini sama persis sama duniaku!” Tanya ku dengan suara keras.
Kemudian seseorang datang, dia adalah Yogairu Kineku. Dengan rambut acak acakan serta baju yang tidak rapi dia terlihat keren dengan tampang seperti badboy jika dia berada di duniaku.
“Kamu tidak tahu waktu apa? Besok kamu tidak pergi sekolah?” Tanyanya dengan wajah kesal.
“Ah, maaf.” Balasku sambil pergi ke tempat tidur.
Tunggu, pergi sekolah? Ada sekolah di dunia tidak jelas seperti ini? beban pikiranku bertambah, aku terkejut mendengar ucapan Yogairu sebelumnya.
Dengan berbaring tengkurap di kasur yang lembut, aku menghela nafas besar. Berharap kehidupanku menjadi normal seperti dahulunya, di dunia asalku dengan beberapa game serta teman yang selalu bersamaku.
Sebelum memejamkan mataku, Mashiro tiba tiba duduk tepat di sampingku. Dilanjut dengan memainkan jari jemarinya di hadapanku. Dia membuatku tidak bisa tidur dengan nyaman, akhirnya aku menyerah untuk tidur dan mulai berbincang dengannya.
“Hei, Mashiro. Aku masih penasaran ‘sekolah’ di dunia ini. Apakah itu sungguhan?” Tanyaku sambil berbalik menghadap langit langit.
Setelah menanyakan hal itu, Mashiro ikut berbaling disebelahku serta menempelkan kepalanya di pundakku.
Ini terlalu memalukan, meskipun dilapisi dengan tebalnya selimut. Aku masih bisa merasakan kepala lembutnya, bukan hanya itu. Aroma wangi rambutnya memberikan kenyamanan tambahan yang ingin selalu kubuai setiap waktu.
“Sepertinya kamu mulai nyaman ya, Tentu saja itu benar, jadi bersiap lah di hari esok.” Jawabnya.
“Sial, kenapa di dunia seperti ini juga harus ada sekolah? Bukannya itu aneh?” gumamku sambil menghela nafas.
Bersambung…….
...****************...