
Aku juga tidak mau melakukannya, tubuhku bergerak sendiri. Dalam jangkauan ini mana mungkin bisa, tapi nyawa seseorang terpampang jelas dimataku.
Bertaruh dengan segala hal, waktu, kecepatan, serta perhitungan. Sama seperti tadi, aku tidak bisa mengontrol tubuh ku sepenuhnya. Memanfaatkan otot kaki untuk melontarkan seluruh badanku, menggapai Mikadzuki yang diam polos tanpa kecurigaan.
*Crazz!
"Berhasil?" Gumamku memejamkan mata, aku sedikit tidak yakin atas usahaku.
Sepertinya keberuntungan menyertaiku di hari ini, entah apa karena ini adalah ujung penghabisan dari simbol semanggi daun 4. Aku berhasil mendorong Mikadzuki dengan kedua tangan, menghempaskannya jauh dari posisi awal, menyelamatkan seorang Elf bangsawan itu dari rudal hidup.
Ternyata firasatku terhubung dengan kenyataan, lagi lagi keberuntungan itu tidak seutuhnya. Meskipun berhasil menghindari maut, tapi serangan tersebut tidak bisa dihindari, tetap pada target awalnya, tusukan besar sebuah stalagmit dari dasar tanah adalah mutlak. Mungkin aku tidak merasakan dampak pertama, tapi ini sesuatu yang memang terjadi.
[[Aoi!]]
Teriak shock mereka berdua dari kejauhan, Mikadzuki berusaha berdiri serta Taka yang terkejut melihatku
Luka fatal, tidak semulus pemikiranku. Serangan ini telak mengenai betis kiri, jika saja tidak ada tulang yang menahannya, kaki bagian bawah ini akan terpisah. Hampir sebagian, menyebabkan luka lebar dan dalam. Walaupun tidak langsung merenggut nyawa, namun salah satu penopang tubuh untuk bergerak tak dapat berguna lagi. Hanya terkapar di tanah kasar dan merintih kesakitan.
Darah bercucuran deras berasal dari kaki, warna yang tidak ada bedanya dengan panorama langit lantai ini. Keluar lebat bersama suasana keputusasaan, memperindah pertempuran ini.
'Keparat, aku kira dampak sakit di dunia ini tidak ada, ini sistem game MMORPG loh, hanya pengaruh di penggunaan tenaga saja. Sial.'
"Aoi, dalam tanah!" Sahut Mashiro panik melihat kondisiku serta bahaya yang bertubi tubi mengincarku.
"....!? "
Rasa panik dibalut terkejut membuatku langsung menengok kebelakang, fokus dalam Skill masih stabil dengan kaki kiri lumpuh. Nampak jelas tanpa buram sedikitpun batang dari stalagmit itu tumbuh baru disetiap jalurnya, membentuk peluru baru sekali lagi.
'Sial, Sial, Sial! Tidak bisa bangun!'
Jeritku gundah dalam batin, aku kehilangan banyak darah, Indikator dalam pandanganku juga berwarna merah di seluruh bagian kaki kiri.
"Aoi!"
Tak dibutuhkan waktu lama, akar akar baru tumbuh dari batang batu tersebut menjadi senjata mematikan. Stalagmit yang lebih kecil dari sebelumnya, tatkala anak terlahir dari induknya, sifatnya sama dengan induknya, mematikan dan membunuh siapapun yang ingin dia bunuh.
'Ayolah!'
*Crazz!
Dengan mengerahkan seluruh tenagaku yang tersisa, memaksakan tubuhku untuk berguling ke samping. Alhasil aku dapat menghindar dari maut tersebut, namun sepertinya hanya mengulur nafas terakhirku saja. Saat ini sudah padam cahaya kehidupanku, tidak jauh mengelak, aku cuma berputar dua kali, sisanya terhalang oleh batang pohon besar.
Sekian kalinya, akar itu mengumpulkan kekuatan pamungkasnya, saling bekerjasama membentuk kesatuan penakluk nyawa.
"Bangunlah! Ayolah! Sial, tubuhku tidak mau lagi menurutiku." Kesalku memukuli kedua paha ku, berharap keajaiban merasukiku.
*Woshh! - Crozz!
Tepat sebelum stalagmit hidup itu memunculkan wajahnya, sesuatu menghempaskan diriku. Menyebabkan aku terpuruk menjauh dan selamat dari maut di kedua kalinya.
"A - apa itu?"
Aku yang tidak tahu apa apa terheran bisu, mencoba melihat ke belakang teralihkan kepada tempat dimana nyawaku di ujung tanduk. Rintihan kesakitan serta tubuh mati rasa tak dapat dihindari.
Terlihat dari sudut lain, Mikadzuki diselimuti nafas terengah-engah menjulurkan tangan kanannya di atas pohon. Dilanjut Taka yang berlari melalui dahan setiap pohon dengan cepat mendekatiku yang tidak berdaya ini, kemudian mengulurkan tangannya serta wajah tersenyum haru dihadapanku.
tanpa berpikir panjang, aku meraih tangannya. "Terimakasih" kepadanya atas pertolongan berharganya ini. Setelah memeganginya erat seakan tali yang tersambung satu sama lain, Taka mengangkatku di punggungnya dan pergi menjauh dari area serang monster tersebut di atas dahan pepohonan.
Mikadzuki juga ada disini, dia sepertinya tidak berani menatapku, terus menunduk penuh penyesalan.
"Terimakasih, aku berhutang nyawa kepadamu."
Lirih nya kepadaku sambil merobek sebagian kecil jubahnya, wajahnya masih menghadap ke bawah sungkan. Menggunakan kain bajunya sebagai perban sementara yang dibalut di betis kakiku.
"Ah - ya."
Suasana menjadi hening seketika, tidak ada suara pergerakan dari sudut manapun. Bearrock Golem itu masih terpendam disana, entah bagaimana kita bertiga mengalahkannya dengan sisa tenaga saat ini.
"Aoi, monster itu, memulihkan diri." Celetuk Taka memecah situasi kembali menjadi suram.
"Memang benar, Bearrock Golem diatas level 90 dapat menyembuhkan lukanya, tapi dibutuhkan waktu lama." Balas Mashiro menjelaskan perkataan Taka.
"Jadi kita sama sama melakukan hal bodoh ya, sama sama memperlambat situasi. Namun kita benar benar kalah telak saat ini." Kata Mikadzuki.
'Sial......'
HP (Health Point) indikator diatasnya bertambah sedikit demi sedikit, monster itu sepertinya memanfaatkan tanah dan bebatuan untuk menambal lukanya. Sembari menciptakan area serang, posisinya sangat menguntungkan. Kita juga tidak boleh asal mendekatinya, jarak serang stalagmit hidup itu belum diketahui.
Sebaliknya, kita bertiga sudah terpojok. Mikadzuki sudah mulai kehabisan Ergon, sekujur tubuh Taka dibasahi oleh keringatnya, diriku juga bisa apa? Tanpa senjata, kaki terluka, sihir saja tidak punya. Hanya menunggu gelombang kedua saat monster itu selesai dengan penyembuhannya.
"Ah sial, apakah tidak ada hal yang bisa kulakukan saat ini. "
"Apakah di dunia ini, aku tetap menjadi beban mereka berdua?"
"Sial! Sial! Sial! Sial!" Gumamku memejamkan mata serta kedua tangan mengepal memukuli dahan pohon.
Getaran yang dihasilkan dari beberapa pukulanku menyebabkan ranting-ranting kering serta daun berguguran jatuh ke tanah, tak lama stalagmit hidup atau spike rock milik monster tersebut menusuk keluar ditempat ranting jatuh.
Melihat itu, aku beranggapan jika seluruh tanah di lantai bos ini adalah area serang nya. Sekalipun dia tidak memiliki penglihatan, asalkan bisa merasakan getaran disekitarnya, dia akan menganggapnya lawan.
"Ya, Dataran ini adalah latar mematikan bagi kalian, tidak ada pijakan aman saat monster itu menggunakannya."
Tegas Mashiro, kekhawatiran dan gelisahnya tadi, tercurahkan semua pada keadaan ini.
"Aku tidak bisa memegang ucapanku, menggunakan Skill - mu adalah keuntungan besar bisa melihat serangannya. Namun permasalahannya ada di dalam armor tebalnya, bagaimana cara menembusnya......
Sembari menunjuk ke arah tubuh monster yang di tutupi oleh bebatuan tebal.
......Perhitunganku, Crescent Moonlight memiliki kemungkinan kecil. Namun ini tergantung Mikadzuki serta Taka sebagai umpan." Sambung Mashiro dengan serius menjelaskan panjang lebar rencananya, baru kali ini aku melihat sosok ahlinya.
Setelah mendengar rencana Mashiro, aku sedikit lega karena adanya kesempatan. Lamun, saat melihat kondisi mereka berdua yang kelelahan, rasa bersalah muncul di benakku. 'Aku hanya bisa dibelakang dan menonton Taka yang mati matian berjuang. Apakah aku pantas jadi teman mereka?'
"Hei, Aoi..... tolong jelaskan kepadaku tentang Skill - mu."
Ucap Taka lagi lagi memecah suasana genting ini semakin dalam dengan nada seraknya.
"Skill... Milikku?"
"Benar, tidak mungkinkan cuma sekedar meningkatkan performa tubuh? Aku sudah menyadarinya sejak kamu latih tanding dengan Yogairu."
Lanjutnya, kali ini tatapan dengki melihatku pasti, pandangan akan kebencian dan balas dendam yang berlawanan dengan kepribadiannya, mengingatkanku soal Taka tanpa kasihan membunuh lelaki misterius lalu.
"Ah.. itu, itu benar benar s-"
"Tidak Mungkinkan! Kamu sengaja menjebak kami disinikan? Tingkah lakumu, pengalamanmu, sudah jauh berbeda dengan Aoi yang kukenal! Menyelamatkan Mikadzuki? yang benar saja! kamu sudah tau semuanya kan!? Bentak Taka memotong pembelaan ku, sambil menghunuskan belatinya di leherku, hawanya sungguh membunuh pikiranku.
"Ti - tidak bukan begitu."
Balasku gagap, saking paniknya dengan situasi ini, bagaikan terkurung di kolam piranha dalam kandang macan.
"Apa maksudmu ha? Meninggalkan senjata yang tertancap di musuh? Omong kosong! Tidak, kalau kamu menyangkal itu kebetulan, lalu bisa bisanya kamu lakukan dua kali?"
"Jelaskan semuanya!" Kekang Mashiro melihat keadaanku
'Ta - tapi itukan-'
"Tidak ada waktu, jika kamu mati, kontrak kita akan gagal, jiwaku juga ikut terbawa denganmu."
Ditengah - tengah medan pertempuran tanpa ujung ini, ada perkelahian kecil di antaranya. Menyangkut keberhasilan suatu pihak. Taka yang siap menebas leherku, Mikadzuki terheran dengan apa yang dilakukannya. Hasrat untuk melerai mungkin muncul, tapi ketakutan dan kepatuhannya berlawanan dari apa yang dia lakukan.
"Baiklah..... "
Jawabku sembari memegang lengan Taka lalu menjauhkan belatinya perlahan dari hadapan leherku.
Serentak, Taka mengibaskan lengannya dengan tujuan menolak tanganku. Tetapi, dia memilih tenang dan mundur untuk mendengarkan. Sama sekali tidak ada perubahan, curiganya masih tercermin kan di tangan kanan yang gemetar sambil memegangi belati miliknya, dipikirannya mungkin sangatlah kacau, menganggap teman kepercayaan saat ini menghianati dirinya.
Kejadian yang tidak diinginkan kami berdua, aku juga tidak tahu detail mengenai Skill - ku ini. Terlebih lagi harus menjelaskannya kepada seseorang yang menentangku, belum diketahui juga Taka akan puas atau tidak dengan penjelasanku.
Terpaksa, aku menceritakan apa yang ku ketahu, tentu saja tidak semuanya, menambahkan sedikit bumbu kebohongan didalamnya untuk menyelamatkan diriku.
Mashiro membantuku perlahan, mulai dari Skill "kontrak" menjadi Skill "pendamping" yang berarti Mashiro ialah menjadi roh pendamping yang telah mengajarkanku hal hal yang tidak aku pahami sebelumnya. Kemudian, tentang Skill "Escalation" sebagai penambahan kekuatan ekstra setiap bagian tubuh. Temasuk juga mataku yang dapat melihat pergerakan musuh dengan syarat memahami ritmenya.
"Belati serta pedangmu bagaimana?"
Tanya Taka, dia belum puas dengan semua penjelasan yang ku berikan. Sudah sepatutnya begitu, mana mungkin penghianat akan dengan jujur menceritakan kejadian yang dialaminya. Namun bersama Mashiro, aku yakin bisa meluruskan kesalah pahaman ini.
Di lain sisi, Mikadzuki berpihak kepadaku. Entah karena rasa iba atau kepercayaannya.
"Tidak, dilihat kondisinya. Aoi memang sengaja melemparkan pedang saat di gerbang, karena tidak mau memperpanjang waktu untuk melawannya." Sangkal Mikadzuki membelaku.
"Lalu, jika kamu di posisi Aoi, bagaimana jika tusukan yang kamu berikan kurang mengenainya. Sebab itulah, Aoi memukul tangannya untuk memperdalam dampaknya, dan juga tidak ada waktu buat melepasnya." Sambungnya meyakinkanku serta memukuk telak pendapat Taka.
Sehabis menerima sepasang kenyataan pedas dari kami, Taka mematung bersalah. Memukul dirinya mundur sembari melepas belatinya. Raut wajahnya kembali normal, tidak ada hawa membunuh, namun muka penyesalan menghiasinya.
"Maaf, aku sungguh minta maaf karena langsung menuduhmu tanpa berpikir dua kali."
"Tidak apa, bukannya kita ada teman?"
Balasku mendekati Taka dan memegang pundaknya.
*Groar!
"Iya, tapi sebelum itu. Kita harus melawan Bos terakhir ini."
Raungan keras yang dilanjut mengeluarkan tangan kanan bos tersebut sama sekali tidak membuat suasana lebih baik, Bearrock golem sudah menyelesaikan setengah jalan dari penyembuhannya. Dua masalah berturut-turut harus diselesaikan tanpa jeda henti.
"Tangan kanannya muncul karena kewaspadaan, walaupun dia adalah bos lantai ini, pemikirannya sangat dangkal." Celetuk Taka menjelaskan apa yang monster itu lakukan sekarang.
'Maksudnya?'
Mashiro menghela nafas besar, percaya diri dengan ucapannya.
"Bearrock golem, selagi dia menyembuhkan bagian tubuhnya, setiap organ yang dianggapnya optimal akan dia gunakan lagi."
"Kalau begitu, ini adalah kesempatan kita." Sahut Mikadzuki.
"Kesempatan? Roh pendampingku berkata jika satu crescent moonlight bisa melemahkannya, apa itu maksudmu?"
"Mungkin saja, karena ini adalah keuntungan serta kerugian dengan rasio 50 : 50."
Jelas Taka mengangkat kedua belatinya kembali.
"Lalu, aku punya rencana untuk mengalahkannya dalam satu serangan."
Bersambung....