
Sisi Kyokuro Mafal
*Wush!
“Ayumi?!”
Gadis itu terus mengeluarkan bahan abu rentan bakar yang mematikan tanpa berhenti sedetikpun, melihat perawakannya saja sudah memperlihatkan seberapa lelah kaki tumpuan tubuh tersebut bekerja. Nafas tersendat – sendat serta guyuran keringat membasahi parasnya, cukup membuktikan tubuh di perbatasan.
“Kenapa? Mafal? Apakah kamu lelah?” seru Ayumi setelah mendengar panggilan namanya.
‘Sial!’
Tidak mau kalah dari gadis tersebut, aku langsung menerjang asap kelabu ciptaannya. Aku paham betul jika sihir yang di ciptakannya ini sama persis dengan bubuk mesiu, yaitu bahan peledak. Meskipun penglihatan tidak berfungsi, aku masih bisa memanfaatkan Skill Animal Essence: Wolf dengan menggunakan indera penciuman untuk mendeteksi setiap musuh di sekitar.
‘Kalau terus menerus begini, malahan akan berbahaya bagi kita sendiri. Apalagi ini abu yang mudah terbakar, jika saja salah satu orang di sini memantikkan api itu akan mengakhiri semuanya,’
Dalam pergerakan gesit diantara tebasan, aku tetap berpikir tenang. Bermaksud untuk mempersiapkan keadaan terburuk kedepannya.
“Argh!”
“Hah?!”
“Ah!”
Jeritan para bawahan sekte keadilan itu terpampang jelas di daun telingaku, sesaat mencabik sekalian merenggut nyawanya.
Musuhku memang menggunakan senjata, pedang ataupun tongkat sihir di genggamannya. Namun semua senjata tersebut tidak berguna ketika penggunanya memiliki kekurangan, penglihatan dan pergerakan.
Aku dengan mudah mencakar tubuh mereka bermodalkan kuku di setiap jariku, bahkan disertai mata tertutup.
‘Dasar lemah,’
*Crash!
Waktu mengumpat perkataan itu, karena terlalu kesal aku menusuk keras tubuh seseorang sampai merasakan detak jantungnya di telapak tangan.
“Bahkan musuh satu orang yang posisinya buta tanpa secercah penglihatan saja kalian sudah menghabiskan banyak nyawa?” lirihku pada lawan di ujung nafasnya.
‘Entah apa yang kalian pikirkan sehingga ingin gabung dalam sekte konyol ini,’ tandasku dalam hati sambil mengibaskan tangan penuh darah kotor.
“Mafal, 3 orang, datang dari belakangmu, lorong!” teriak Ayumi memperingatkanku.
Mendengarnya, aku langsung berbalik melompat dan berjalan tengkurap bagaikan serigala yang ingin menerkam mangsanya secara gerilya.
“Maafkan aku jika bertemu di surga!”
Aku berteriak sembari melontarkan tubuhku kearah mereka bertiga yang berbaris kebelakang, memanfaatkan kegelapan di mata mereka untuk mencekram kepala orang paling depan, dan menekan kuat sebagai tumpuan agar kedua kaki dapat berbalik melayang menerjang wajah orang di belakangnya.
*Bruk!
Tendangan kedua kaki itu berhasil merobohkan dua orang sekaligus, tanpa memberi ampunan kepada mereka, aku langsung mencabik – cabik tubuhnya.
“Lemah sekali sih jadi orang, setidaknya ulur beberapa detik lah,” cibirku dihadapan makhluk tanpa syaraf yang bergerak sejengkalpun.
Kemudian seseorang mendekati ke arahku.
“Ya tentu saja, siapa juga yang tidak akan mati jika terkena serangan dadakan seperti itu,”
Orang itu adalah Ayumi, berkat efek Skill Detector milik Syu dan Skill Penyaluran – nya Asteria. Dia bisa mengetahui medan sekitar tanpa membuka matanya.
“Taka,” jawabku tegas.
“Kalau kamu membandingkannya dengan Taka, ya jelaslah,” seloroh Ayumi, dia sepertinya kesal mengetahui jawaban dari pertanyaannya.
“Tapi, sejujurnya aku masih khawatir dengan Taka,”
Mengingat kejadian beberapa jam lalu, meskipun sosoknya adalah musuh bebuyutan bagiku. Perlakuannya adalah pengorbanan bagi kami juga.
“Tidak mungkin sih kalau dia kalah dengan mudah,”
“Yah, rasanya tidak enak juga kalau seorang musuh bebuyutan kalah terlebih dahulu dari musuhnya,”
“Ngomong apasih, aku tidak paham,” ungkap Ayumi dengan nada datar disebabkan ucapanku sebelumnya.
“Ya ya….”
“Omong – omong, bubuk bakar ini bukannya terlalu banyak?” tanyaku sesaat menyadari beberapa abu yang perlahan turun dan berkumpul pada alas.
“Yah, aku terlalu bersemangat dan sedikit kesal tadi, jadi sepertinya tidak akan masalah,” jawab Ayumi dengan ringannya tanpa memperhatikan dampak yang diakibatkan setelahnya.
“Kalau tidak segera dibersihkan palingan akan terjadi kebakaran atau ledakan besar,”
Sisi Katsuya Syu
*Bruk! – Bruk!
Entah suara hentakan kaki atau seseorang yang terlempar keras, semua itu sudah menjadi hiasan di otakku sedari bersama Kumarokun, boneka batu ciptaan gadis muda tersebut.
‘Gila, meskipun Kumarokun katanya sebagai Defender di Party Taka, kerusakan ini sudah lebih dari amukan Ken,’ batinku melihat dataran yang tidak dapat disebut dataran jika landasannya saja retak akibat serangan Kumarokun.
Meskipun mendapatkan keuntungan seperti itu, aku tidak tinggal diam. Sembari menjaga jarak dari serangan para bawahan sekte keadilan, aku memberikan tembakan koin menggunakan jari jemariku.
*Ctaks!
Suara renyah sebiji koin yang melesat kencang mengenai dahi seorang prajurit, bukan sekedar menyerang menggunakan benda logam kecil itu, setiap seranganku sudah disertai Skill Escalade.
‘Skill Centralizaton milik Ohoshi benar benar meningkatkan semua Skill – ku,’
Skill Escalade yang sebelumnya dibutuhkan waktu lama untuk digunakan, sekarang hanya dibutuhkan sedikit fokus agar dapat memulainya. Itu berkat pemberian Skill milik Ohoshi sebelumnya.
Tidak hanya itu saja, beberapa orang mungkin menganggap seranganku ini hanyalah asal mengenai target musuhku. Tapi sebenarnya tidak, dalam pandanganku sekarang aku selalu mengincar bagian berkilau di tubuh musuh, Skill Bounty Layer adalah penyebabnya.
“Yo, Kumarokun tinggal beberapa saja sepertinya sudah habis ini,”
“Itu saja sih jawabannya, dia juga Creature Mob,” gumamku.
Perkataanku tadi memang benar apa adanya, beberapa musuh terlihat mundur di jalur ini. Mungkin alasan terbesarnya adalah adanya Kumarokun disini, hanya tinggal beberapa saja berada di mulut lorong.
“Aku saja deh,”
Karena aku dari tadi hanya terpaku di tengah sambil melempari koin, jadi agar memanaskan tubuhku sedikit, kuputuskan untuk langsung menghampiri sisa prajurit sekte keadilan.
‘Sihir?’
Salah seorang merespon kehadiranku dan menghujani dengan bola sihir yang mengarah padaku. Namun hal itu percuma bagiku karena Skill Detector ini membuatku bisa memprediksi arah serangannya.
“Percuma saja!” teriakku sembari melayangkan lenganku kesamping bermaksud untuk membuka Black Storage kemudian memunculkan sebilah pedang tetap di genggamanku.
*Slash!
Tongkat sihir mereka sepatutnya tidak dapat menghentikan laju tebasanku, telak mengenai orang tersebut. Sejurus kemudian langsung menghampiri para penyihir tersisa dan menghabisinya ditempat.
“Sudah semuakah?”
“Grmm – Grmmm!”
Sisi Asteria Hoshizora
Hanya kami berdua di balik pilar ini mengintip jerih payah Yogairu – niisan menganyunkan belatinya melawan para sekelompok sekte itu.
Azuzi yang sedang mengintip tiba – tiba menyembunyikan dirinya dan perlahan menghadapku.
“Apakah kita harus menolong Yogairu – niisan?” celetuk Azuzi diikuti wajah cemas.
“Bukannya tadi Yogairu – niisan menyuruh kita untuk menunggu disini saja?”
“Iya, tapi Asteria – chan tidak kasihan melihat Yogairu – niisan bertarung sendirian?”
Aku tertegun seketika mendengar perkataan Azuzi, tapi mustahil bagi kita untuk membantunya.
“Kalau begitu aku saja yang akan membantunya,”
Sejenak gadis itu beranjak dari balik pilar dan menampakkan dirinya, namun belum seluruh tubuh mungilnya terlihat oleh musuh. Aku menarik kain bajunya.
“Tu – tunggu, Yogairu – niisan pasti memiliki alasan agar kita menunggu disini,” ujarku menghentikan pergerakan Azuzi.
“Tapi apa?”
“Yogairu – niisan bilangnya di suruh menunggukan? Sebaiknya itu saja yang kita lakukan,”
Azuzi terdiam mendengar perkataanku, kemudian sepasang matanya memperhatikan sekitar sedang mencari sesuatu yang dianggapnya penting.
“Ada apa Azuzi – chan?” reflek aku bertanya akan tingkah lakunya itu.
“Mungkin Yogairu – niisan bertujuan untuk mencari tempat bersembunyi setelah menghabisi mereka semua,”
“Ah, mungkin benar tapi dimana?”
Azuzi tetap mengawasi sekitar, kemudian sorot matanya tertuju pada retakan batu di pilar seberang.
Sembari menyudutkan matanya dan badan yang sedikit condong, Azuzi menunjuk ke arah retakan itu seraya berkata, “Mungkin ada sesuatu dibalik dinding yang retak di sebagian bawah itu,”
“Aku mungkin setuju, tapi Azuzi – chan. Bagaimana kita bisa mengetahuinya?”
Azuzi menganggukkan kepala, lalu sejurus dia mengatakan, “Kumarokun datanglah,”
Dan benar saja muncul boneka berukuran setengah dari tinggi kami yang terbentuk dari alas tanah colloseum ini.
“Ku – kumarokun?” ucapku terheran karena wujud Kumarokun yang dipanggil Azuzi kali ini lebih kecil dari biasanya.
“Kuma – Kuma!” sahut boneka kecil tersebut.
“Sssht, jangan berisik,” seloroh Azuzi sambil menempelkan ujung jari telunjuk pada bibir boneka batu ciptaannya.
‘Dia imut!’ batinku.
“Jadi Kumarokun, Azuzi minta tolong hancurkan dinding yang retak diseberang itu ya,” pinta Azuzi menunjuk kearah tujuan kalimatnya.
“Kuma – kuma,”
Menuruti perintah Azuzi, boneka batu itu berjalan santai menuju seberang hingga merobohkan dinding retak tersebut, benar saja terlihat disana ada ruangan.
“Ada ruangan!” seru Azuzi.
“Iya, mungkin di sanalah maksud dari Yogairu – niisan,”
Kami secara bergantian merangkak perlahan menuju seberang, beruntungnya tidak ada yang tahu pergerakan diantara kami berdua.
“Ini seperti ruangan rahasia,” ucapku santai melihat seberapa kosong namun menampakkan seluruh sudut tempat ini.
“Iya, mungkin semuanya akan menyusul,” timpal Azuzi.
“Semoga saja Ta – kyun bisa kesini juga,”
“Iya, pastinya,”
Sisi Hoshizora Taka [Leora Hoshizora]
“Mudah saja kan rencanaku?” pungkas Ai di hadapanku setelah panjang lebar berbicara.
“Aku paham, membunuh Zylx dan mengambil seluruh kekuatannya ya? Itu mudah bagiku,”
Bersambung…