The World Of Game Systems

The World Of Game Systems
Chapter 33 - Masih denganku, Hoshizora Taka dan Elf Penghianat



Sisi Hoshizora Taka


“Benar, aku adalah seorang Elf.”


Sepatah kata berbumbu pekat oleh fakta tersebut terlalu menekan pandanganku, bukan luka fatal maupun tebasan pedang terkuat, namun hanya cukup dengan menggerakkan bibirnya saja sudah membuat tubuhku merasakan pahit nan sakit.


Diakhiri oleh tudung terbuka bebas, seluruh bagian yang memberikan kesan “pengenalan” itu nampak jelas. Sosok misterius itu telah terungkap diri aslinya, gadis berperawakan elf, berdaun telinga panjang selayaknya ras setengah manusia, serta rambut hitam yang tidak aku ketahui seberapa panjang dikarenakan terhalang oleh jubahnya.


“Yah, penghianat ya?”


Balasku, setidaknya aku harus memberi kesan terhadap penampilannya.


Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang ada di hadapanku sekarang, bahkan suatu kelompok dimana aku dibesarkan olehnya sudah menjadi kaki tangan dari sekte ini. Alih alih tidak percaya, ingin rasanya untuk menusuk kedua bola mataku ini. Tapi hal tersebut cuma dilakukan orang orang bodoh.


‘Dia?! Aku tidak bisa melihat identitasnya?’


Batinku terkejut sesaat ingin mengetahui nama dari seorang penghiant itu, namun entah apa alasannya aku tidak bisa menggunakan pasif dari role ‘Murid’ maupun ‘**P**enduduk Desa’.


‘Padahal tidak ada aura sihir besar darinya, tapi mengapa?’


Berbeda saat mengetahui seberapa kuat musuh yang kuhadapi, jam terbang dan pengalaman bertarungku mengajarkan hal seperti itu. Hasilnya adalah sebanyak apa pengaruh tekanan jika berhadapan dengannya, bisa jadi sihir ataupun Skill seperti milik Yogairu.


Namun beberapa orang berpendapat, sebanyak apapun metafora dari berbagai sudut pandang orang lain, menilai seseorang hanya sekedar melihat penampilan dan rupanya saja adalah formalitas semata. Aku sendiri tidak akan mengambil tindakan gegabah seperti itu sebelum mengetahui sifat alamiahnya.


Gadis Elf tersebut sedikit memberikan senyuman, seakan lega atas perbuatannya itu, seraya berkata, “Oh ya, aku belum mengenalkan diriku ya?”


“Iya, wajar sih bahkan Mashiro saja sampai menghabiskan sisa Ergon - nya untuk mengetahui namaku.” Imbuhnya sembari melangkahkan kaki kecil dan mengitariku.


‘Mashiro? bukannya dia sudah hilang?’


Aku tidak habis pikir dengannya, bahkan dia sendiri dapat menutupi identitas aslinya. Tak terkecuali pengguna Skill dewa, Mashiro, dibuat habis Ergon - nya. Tidak heran jika sebegitu mudah dia menutupi kekuatan aslinya.


“Tidak usah, mengetahui nama penghianat sepertimu tidak akan merubah martabatmu sedikitpun.”


Sembari mengeluarkan satu belati kecil lagi tuk mengisi genggaman tangan kiri, tak lupa sorot mataku yang tidak sedetikpun lepas pada keberadaannya.


“Walah walah, ada apa sih dengan orang orang saat ini? Menganggapku sebagai penghianat? Padahal tidak tahu apa apa tentangku.”


“Bagaimana tidak? Logika sudah mengatakannya sepeti itu, salah satu mangsa alami kini menjadi seorang pemangsa. Apakah itu tidak cukup untuk mengisi otak kosongmu?”


Mendengar ucapan tegasku tersebut, dia terkekeh, “Haha! Pemangsa katamu? Memangnya apa yang kamu tahu dariku? Apakah kamu bisa membuktikan diriku adalah pemangsa?”


“Bahkan sedari pertarungan konyol tadi, aku tidak sekalipun berambisi untuk melawanmu. Seharusnya otakmu lah yang harus diisi oleh pengetahuan itu.”


“…”


Sanggahnya terus menerus sambil melontarkan fakta dan pertanyaan yang dihiasi oleh sindiran padaku, gadis tanpa kuketahui nama itu sekarang sudah menunjukkan sisi asli. Tatkala diputari oleh seekor hiu ganas di tengah laut lepas dengan bermodalkan sebidang kayu mengapung sebagai alas bukti bisu keadaanku.


‘Sial, aku sungguh berada diujung tanduk.’


Ucapku dalam batin selagi menelan ludah.


Semakin sering aku menolak perkataannya, semakin kuat juga faktanya. Aku sekarang tepat dalam posisi serba salah, melawan ucapannya hingga berujung tumpah darah, kedua dari kemungkinan itu sudah terlihat pemenangnya.


“Bagaimana? Apakah kamu masih menganggapku seperti sebelumnya?” Celetuk gadis elf serta menghentikan langkahnya.


Muak dan kesal akan omongannya, tanpa berpikir panjang, aku langsung melesat maju. Mau tidak mau cekcok ini berujung menjadi pertarungan.


*Slash!


Aku mengayunkan tangan kananku beserta pedang panjang sebagai mortirnya, dan belati kecil sebelumnya itu kugunakan sebagai tumpuan atau kunci dari perlindungan tubuhku.


Namun sekali lagi meleset, gadis itu sekarang berada jauh dalam jangkauan titik serangku. Seolah dia dapat berpindah tempat sekejap mata, sepertinya Skill yang menghabiskan banyak Ergon. Sedikit iri, tapi bukan keahlianku.


‘Cepat!’


Tahu akan tingkat kekuatan diriku dengannya sangat berbeda jauh, aku mencoba untuk tetap tenang. Mengambil langkah mundur perlahan, menggunakan selang waktu itu untuk berpikir bagaimana caranya aku bisa lolos dalam situasai merugikan ini. Setidaknya jangan sampai kehilangan pijakan kaki, cukup itu saja.


“Kenapa mundur? Bukannya tadi kamu yang menyerang duluan?” Cibir gadis elf.


“Bukankah jarak seperti ini lebih menguntungkan satu sama lain? Seharusnya kamu berterima kasih padaku.”


“Aku tahu itu, bagaimana mungkin aku menang satu lawan satu denganmu. Dalam segi Skill dan pengalaman saja sudah menjadi jawabannnya.”


“Meskipun kamu mengeluarkan sebanyak apapun sihir, pastinya Ergon - mu telah terkuras banyak. Aku juga tidak sungkan sungkan membelah sihir konyol itu.”


Dia tersenyum kecil, kemudian melanjutkan perkataannya sembari tangan yang menjulur padaku. “Kalau begitu, mengapa kita tidak berbincang santai saja?”


“Baiklah, lalu, apa yang ingin kita permasalahkan kali ini? Masa lalumu? Keluargamu? Atau tujuanmu?”


Aku menimbalinya oleh segudang pertanyaan konyol, sudah menjadi haknya untuk menolak pertanyaan tidak masuk akal tersebut.


“Masa lalu? Keluarga? Tidak - tidak, siapapun makhluk di dunia ini tidak akan peduli dengan semua itu. Mereka hanya memandangmu ketika sudah mencapai puncaknya, kemudian menganggapnya sebagai keberuntungan atau anugrah.”


Cakapnya lugas namun tegas, perkataan itu memang benar derajatnya. Aku sendiri saja sudah menjadi salah satu dari bagian dari kalimat tersebut.


“Begitu ya? Memang tidak sepenuhnya salah, dan tidak sepenuhnya benar.”


Sanggahku tetap teguh pendirian akan ucapan yang bertubi - tubi menghantui pikiran oleh faktanya.


“Iya, aku juga tidak akan menyalahkan ucapanmu itu. Aku paham betul jika tidak ada makhluk yang sempurna di dunia ini.”


“Lalu memangnya apa maumu? Tidak mungkinkan hanya untuk melepaskan kami begitu saja?” Timpalku mengalihkan perbincangan sekaligus rasa penasaran tentang tujuannya.


“Sebentar, kamu saja tidak tahu namaku, kemudian langsung ingin mengetahui tujuanku begitu saja?”


“Baiklah – baiklah.”


“Ai Enma, yah setidaknya kamu bisa memanggilku dengan nama itu.”


Ucapnya mengenalkan diri, diikuti tubuh yang menunduk tatkala memberi hormat kepada sang raja.


Aku terkejut dengan kelakuannya, apakah bisa disebut “normal” jika sekedar memberitahukan namanya sampai menunduk seperti itu.


“A – ah ya, mengapa pakai menunduk segala?”


“Tidak apa, ini adalah permulaan.” Balasnya sembari bangun dari tubuh yang merendah.


“Permulaan?”


Mulutku otomatis menanyakan hal itu, pasalnya sudah hampir 1 jam kami berbicang hingga bertumpah darah. Namun dia masih menganggapnya permulaan?


“Iya, Taka. Ini adalah permulaan.” Ucapnya sekali lagi.


“Ma – maksudmu?”


“Padahal kamu sendiri yang menanyakan tujuanku, sekarang malah kamu bertanya maksudnya apa.”


“…”


Aku terdiam bisu, bagaikan terasa saat berada di satu satunya pijakan, cuma jurang kosong yang harus kupilih untuk selamat. Antara terjebak oleh perkataannya, atau bertarung melawannya. Iya, sudah pasti hasilnya adalah kematian.


“Memang apa tujuanku kesini kalau tidak untuk bertemu denganmu? Hoshizora Taka.” Ujarnya diikuti langkah tuk menghampiriku.


“Aku?! Apa hubungannya denganku!”


“Ah tidak, sejujurnya aku hanya ingin bertemu dengan kakakmu. Tapi sayangnya kini tinggal Skill - nya saja.”


Ai mengatakannya dengan santai, akan tetapi hawa keberadaanya sungguh mencekam. Bersamaan oleh waktu, dia juga semakin dekat denganku.


Aku tidak diam begitu saja, berusaha menghindar dan melangkah mundur kebelakang.


“Kakakku?! Leora – niisan?”


“Iya benar. Aku berharap bisa bertemu dengannya.”


‘Leora niisan, kenapa? Dan kenapa dia bertanya begitu padaku?’


Hanya dapat membatin pasrah, aku sendiri tidak ingin mengingat kejadian “itu”. Terlebih lagi orang luar yang menanyakan hal itu kepadaku.


Mungkin sudah wajar jika setiap orang bertanya tentang sosok terkenal tersebut pada keluarganya sendiri, Hoshizora. Namun Ai Enma, dia seolah ingin melahap kosong kenyataan serta ingatan pribadiku tentang kakak.


“Yah, mungkin aku hanya bisa mendengar suaranya saja. Tapi itu sepertinya sudah cukup.”


“…”


Pungkas Ai, tak terasa tempat untuk pelarianku sudah habis terhalang oleh tembok lusuh dalam sebuah colloseum ini. Mungkin sudah waktunya bagiku untuk menerima kenyataan ini.


Tepat di hadapan sorot mataku, Ai meletakkan jarinya pada dadaku. Meskipun perlahan dan lembut, sentuhan itu terasa sangat menyakitkan. Seakan jari kecil tersebut dibaluti oleh tombak besar yang telak menusuk dadaku. Sampai detik terakhir aku kehilangan pandangan, buram dan semakin buram hingga meratapi kegelapan.


“Selamat datang, Leora – kun.”


Bersambung….