
Sisi Mashiro
*16 Tahun silam
Pagi cerah diikuti gelombang sihir di pojok dinding rumah membuat suasana ini begitu nyaman. Semenjak orang-orang mengetahui diriku di beri anugrah beberapa dewa sekaligus, hidupku sungguh tidak tenang. Untung saja sekarang aku bisa bersantai ringan, meskipun masih banyak tugas Guild yang belum kukerjakan.
“A-anu Seishou,” panggil Natnat, dia adalah tangan kanan sekaligus menjadi murid terbaik di west dranitte academy.
Nampak anak itu sedang mengumpulkan energi sihir besar di kedua tangannya, sebuah bakat alami miliknya. Kemudian menunjukkannya padaku.
“Lebih sempurna?”
“Tidak Seishou, aku rasa kekuatan ini bisa kukembangkan.”
“Kembangkan?”
“Benar, lihat!”
Natnat menggerakkan tangannya perlahan, hampir menempel satu sama lain kemudian direnggangkannya kembali. Sihir hijau berkilauan tersebut nampak mengikuti pola gerakan telapak tangannya, dari membesar dan mengecil, lalu sebaliknya.
“Wah, hebat-hebat, lalu apa yang akan kamu hasilkan dengan itu?”
“Tidak tahu,” jawab Natnat polos sambil menggelengkan kepalanya.
Sedetik setelahnya, terdengar suara ketukan pintu lirih. Sontak Natnat langsung menghampirinya.
“Aku saja, Seishou.”
“Baik, tunggu sebentar, akan kubuka!” seru Natnat kemudian membuka pintunya.
“Zylx?” ucap Natnat sesaat melihat anak itu adalah sosok yang mengetok pintu.
“Se-selamat siang,” sapanya lirih dengan intonasi kata yang lambat. Dia tertunduk malu, membuat rambut putih panjang itu menutupi ekspresinya.
Karena sedikit penasaran, aku bangun dan menghampiri mereka berdua. Sepertinya mereka tidak jauh berbeda, terbukti dari tinggi mereka yang hampir sama dan saling mengenal satu sama lain.
“Selamat siang, siapa ya?” balasku.
“Aku, Zylx. Ingin menjadi muridmu, sensei,”
Seorang anak bernama Zylx mengatakannya dengan lugas namun blak-blakan. Siapa yang tidak terkejut ketika siang damai begini tiba-tiba datang seorang anak dan ingin menjadi muridnya?
Tapi, sepertinya Natnat sedikit terganggu akan hal tersebut, kemudian mencoba mengangkat suaranya, “Tunggu, apa yang membuatmu mengatakan itu?”
“Bukan urusanmu tahu.”
‘Eh? kok suaranya berubah?’ batinku sesaat, kali ini dia juga ikut meninggikan suaranya.
“Kenapa? Aku juga muridnya Seishou, kenapa bukan urusanmu?”
“Berisik.”
“Hah?”
“Orang yang pintar dan genius sepertimu tahu apa?” gerutu Zylx. “Kamu pernah dengarkan nenek moyang kita pernah berkata apa? Mashiro-sensei pun pasti juga tahu.”
“Aku?”
Anak ini, mengapa berdebat juga harus membawa namaku juga? Aku sendiri bahkan tidak tahu perkataan nenek moyang itu.
“Mereka berkata kalau kemampuan seseorang berasal dari 1 perbandingan dari 100, sedangkan kerja keras adalah sisanya,” ujarnya lugas namun tegas.
Natnat terlihat terdiam akan sepatah kalimat tersebut, jadi aku akan membantunya, “Benar, aku tahu itu. Lalu memangnya mengapa?”
“Entahlah, dari perkataan itu tidak bisa dipungkiri lagi, jika kerja keras saja tidak cukup jika tidak memilki satu pun bakat. Benar begitu bukan?”
“…”
Aku terdiam seribu kata, perkataannya memang bisa di anggap benar. Aku sendiri adalah satu-satunya.
“Memang benar, keadilan? Di dunia ini sepertinya tidak ada bukan?”
“Makhluk hidup sudah pasti bisa merubah nasibnya kedepan. Tapi, tidak dengan takdir yang telah ada. Fisik, bakat, umur sudah terhitung mutlak, seberapa keras berjuang, mereka tidak akan bisa merubah semua itu.”
Zylx mengatakannya serius, kali ini Natnat telah terpojokkan oleh kalimatnya sendiri, tak terkecuali diriku. Dalam umur semuda Natnat, dia dengan mudah mengatakan kalimat berbobot seperti itu. Aku yakin jika anak tersebut sudah mengalami seberapa berat hidupnya berjalan, sesuai dengan ucapannya.
“Lalu, apa tujuanmu untuk menjadi muridku?” tanyaku langsung.
Zylx menghela nafas besar, sepertinya dia akan mengatakan perkataan berbobot atau sesuatu yang membebani mulutnya, “Mashiro-sensei, aku ingin meminta 1 saja bakat darimu.”
Sedetik setelahnya, air mata lirihnya keluar, membuktikan seberapa mengharapnya dia kepadaku.
“Kamu-.”
“Orang berbakat sepertimu memangnya tahu penderitaanku? Manusia tidak akan menyadari seberapa tersiksa hidup seseorang tanpa mengalaminya sendiri?!”
Meskipun tertunduk serta kedua tangan yang terus mengusap isak tangisnya, lantang suara Zylx memotong sekaligus menggema di ruangan hangat. Membuat diriku sedikit tersentuh akan ucapannya.
“Baiklah, asal kamu bisa mendapatan 99 kerja keras dari 100, aku akan memberikan 1 satu untukmu membuktikannya.”
*Kembali masa kini
“Nathan ya?” tukas Zylx dengan jarak yang cukup jauh sehingga aku hanya bisa mengenali suaranya.
“Memang benar, hidup itu tidak ada yang tahu jawabannya,” balas Natnat di sebelahku.
Aku tidak diam begitu saja, tahu jika dia bukanlah “Zylx” yang kukenal dahulu. Aku membuat sihir penghalang sama persis sebelumnya berbentuk belah ketupat yang berukuran cukup untuk melindungi kami berdua.
“Mashiro…sensei, ternyata tidak sebodoh yang kukira.”
“Dasar manusia tidak tahu balas budi!” teriak Natnat, “Sejauh ini Seishou memberikan apa yang kamu inginkan, dan ini balasanmu? Yang benar saja!?”
Aku hanya diam sembari memegangi pundak satu-satunya muridku tersebut. Keduanya adalah muridku sejak mereka remaja, aku tidak tahu pasti apa yang kulakukan diantaranya sama rata. Tapi, jika hasil sudah ada di depan mata, siapapun tidak akan bisa merubah itu.
Zylx tersenyum kecil, memandangi kami bedua dengan tatapan mengintimidasi seraya berkata, “Balas budi katamu? Tentunya aku tidak lupa itu, benar bukan Mashiro?”
“Apa katamu!” tegas Natnat.
Tentunya, sihir solar yang sudah diketahui Zylx sedari muda dapat ditangkis dengan mudah. Bukan kebetulan, namun mereka berdua sudah sering kali melakukan latih tanding sewaktu muda.
“Haha! Seranganmu dari dulu tidak ada yang berubah ya Nathan,” ujar Zylx di balik asap ledakan yang menyelimuti sosok dirinya.
“Tapi, bisa langsung melumpuhkan para penyihirku itu sudah hebat loh!”
Tidak diam begitu saja, Zylx memberikan serangan api yang sudah menjadi ciri khasnya ke arah kami berdua. Untung saja sihir itu berhasil ditahan oleh penghalang sihir ciptaanku sebelumnya.
“Api,” gumamku sesaat setelah sihir Zylx mendarat dan diredam oleh penghalangku.
“Benar Seishou, elemen yang egois seperti sifatnya.”
Perlahan, udara di sekitar mulai dipenuhi oleh ketegangan yang membaluti emosi berbeda di setiap orangnya. Aku dan Natnat melawan Zylx, langit terhampar dengan awan senja sepoi-sepoi. Terasa mencekam bagi orang lain, namun keadaan ini sudah menjadi sarapanku sewaktu mendidik mereka berdua dulu.
“Tidak Natnat, aku merasakan api yang lebih ganas daripada ini.”
“Kekuatan milik Zylx?” tanya Natnat penasaran.
“Sepertinya bukan, aku ragu dia memiliki Ergon sebesar itu.”
Ucapanku benar apa adanya, kekuatan penghancur yang luar biasa terasa muncul di sekitar sini. Jika saja dibandingkan dengan sihir Zylx sebelumnya, kemungkinan jumlahnya bisa enam atau sepuluh kali lebih besar.
Tapi, sesaat aku menengoknya, dia langsung menghela nafas besar dan menggerakkan mulutnya seperti berbicara dengan seseorang atau telepati.
*Blam-Blar!
Sejurus setelahnya, ledakan besar terjadi sebuah suara keras menggelegar luas di salah satu bagian colloseum. Seolah balon berlebihan udara di dalamnya, tidak ada dampak pasti yang terlihat dari luar sini. Akan tetapi, jika ditaksir dari suara ledakannya saja, kurang lebih seperti gumpalan sihir ciptaan 50 orang.
“Zylx, jangan bilang kamu ingin menghancurkan colloseum,” sahutku.
Dia memberikan pandangannya padaku, kemudian berkata, “Tidak, tentu saja aku tidak memiliki niat seperti itu. Tapi, ini mungkin hasil bonus dari niatku.”
Sesudah mengatakan itu, muncul sepasang nan sejajar pusaran sihir tepat atas dan bawahnya. Diikuti sosoknya yang langsung menghilang memudar dari pandanganku.
“Omong kosong Zylx!” teriak Natnat sambil melontarkan kembali sihirnya, namun sudah pasti serangan itu meleset karena kurang cepatnya lajuan.
“Aoi?”
“Aoi?” sahut Natnat setelahku, intonasinya sedikit mirip.
Kemudian pandangan kami saling bertemu dengan tatapan heran satu sama lain.
“Seishou, maksudnya Aoi yang menjadi sebab ledakan sihir itu?” tanya Natnat langsung.
“Mustahil, dia tidak memiliki sihir api seperti milik Zylx.”
“Tapi, ada kemungkinan dia melawan seorang yang memiliki sihir api,” imbuhku.
“Iya, namun kalau bukan Zylx mau siapa lagi?”
Aku tertegun sejenak sambil memegangi daguku, memikirkan kemungkinan yang tidak pasti, ‘Benar, siapa yang memilki sihir sebesar itu ya?’
“Oh ya Seishou, anda bisa memiliki Skill yang sedikit mirip dengan telepati bukan?” celetuk Natnat memecah telak konsentrasiku. “Kalau begitu, kenapa tidak digunakan saja?”
“Tapi, itu Skill yang sangat boros, bukan hanya aku saja, Aoi juga akan kena dampaknya,” sanggahku.
Di sela itu, aku teringat Skill Kontrak dengan Aoi juga. Entah mengapa itu baru terpikirkan dalam otakku sesaat mengucapkan penolakan pada Natnat.
“Ah, aku bisa menggunakannya.”
“Hmm? Syukurlah kalau begitu.”
Aku memejamkan mata, mengalihkan fokusku pada setiap kata yang hendakku ucapkan.
‘Aoi, apakah kamu bisa mendengarkanku?’
‘Huh-hah? Mashiro? Dimana? Hah!?’ teriak Aoi, namun sepertinya hanya aku saja yang dapat mendengarnya. Sedangkan Natnat memandangku dengan tatapan aneh.
‘Tidak-tidak, kamu pasti sekarang celingak-celinguk mencariku bukan? Ini Skill Kontrak, santai saja.’
‘Seperti telepati jadinya, tapi kenapa dia tahu aku sedang celingak-celinguk?’
Aku hanya diam saja, itu pasti pikirannya yang berbicara, jadi aku tidak mempedulikannya.
‘Omong-omong, Aoi. Apakah kamu tadi merasakan ledakan?’
‘Ah, ya. Baru saja ini.’
‘Kamu tidak apa?’
‘Tidak apa, aku berjalan menjauh dari sumber suara itu.;
‘Begitu ya, syukurlah.’
Aku membuka mata dan kembali fokus pada diriku, Natnat masih memandangiku dan ketika tahu aku selesai, dia berbincang padaku.
“Jadi bagaimana?”
“Aoi, tidak apa. Katanya dia sedang menjauh dari sumber suara itu.”
“Begitu ya, lalu dia kemana? Apakah Taka dan lainnya sudah bebas?”
“Oh, iya aku lupa menanyakannya.”
Aku kembali melakukan sesuatu yang sama sebelumnya dan berbicara dengan Aoi, tapi,
‘Aoi, bagaimana Taka dan party lainnya?’
‘Ini bohongkan? Anggota party Mafal….’
‘Apa maksudmu Aoi?!’
Bersambung….