The World Of Game Systems

The World Of Game Systems
Chapter 29 - Aku Sudah Lepas dari Tanggung Jawab Konyol ini



"Aku sudah kembali?"


Itu adalah perkataan pertamaku dalam kegelapan tanpa ujung ini, bahkan dasar maupun angkasa tidak bisa kuterka keberadaannya. Sepertinya kematian dalam dunia tersebut dan mati di dunia nyata rasanya sama ya? Tanpa pasokan cahaya menyuapiku, ketenangan berlebihan memberikan bonus mencekam pada pikiranku.


*Kring - Kring.


'Apa itu alarm? Masa iya aku meraungi hampir 2 bulan di dunia penuh keajaiban hanyalah mimpi belaka? Yang benar saja?'


Aku mengejapkan mata perlahan, saat selaput mata terbuka, buram memenuhi pandanganku. Tapi menghilang sekejap ketika kukedipkan tuk kedua kalinya.


"Kamarku?"


terperanjak heran nan terkejut, aku pangling sewaktu melewati gelapnya menjadi ruangan yang kini kukenali, apartemenku. Saking tidak percayanya, aku berulang kali melihat sekeliling, hingga setiap ujung dari tubuhku.


"Waktu itu-"


Aku teringat dimana detik detik bertarung satu lawan satu dengan pemimpin sekte keadilan, Zylx. Sungguh keseimbangan matchmaking terburuk, tapi itu bukanlah game, aku bersungguh - sungguh.


Setelah melawan sihir itu, aku sadar jika Zylx menyerang bagian badanku. Benar, tepat di bawah kanan perut, ulu hati.


Mengingat kejadian tersebut sampai aku reflek membuka kaos dan melihat adanya luka pada bagian itu. Sayangnya bertolak belakang oleh ingatanku, sama sekali tidak ada goresan maupun lebam sedikitpun.


'Akan tetapi, siapa peduli? Aku sudah melakukan yang terbaik saat disana bukan? Mungkin usai sudah petualanganku disana.'


"Ada baiknya juga, gadis bernama Mashiro itu mana mungkin bisa mengangguku." Cakapku berjalan perlahan menuju kamar mandi.


Namun sebelumnya langkahku terhenti oleh suara notifikasi pada smartphoneku. Tidak mungkin Alarm, aku sudah mematikannya tadi.


Sesaat aku meliriknya dari jarak pandang, terpampang jelas layar menampilkan status panggilan, Hoshizora Taka pelakunya. Selepasnya mengambil serta menjawab telponnya. "Halo, Aoi disi-"


"Aoi! Kamu tidak masuk? Sudah jam berapa ini?!"


Potong Taka, intonasi suara dalam speaker smartphone serasa langsung menusuk telingaku, seakan dia menempelkan mulutnya kemudian berteriak lantang.


'Jam?'


Aku terdiam sejenak, sedetik setelahnya melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 07.56; dan sekarang senin. Hanya selang semalam saja dimana aku pergi selama 2 bulan.


"Hah?! Jam segini?!"


Dengan kegigihanku pada situasi ini, aku langsung mengambil satu set alat mandi. Hanya saja tidak melakukan aktivitas itu, sekedar membasuh dan menggosok gigi sudah cukup bagiku.


Dilanjut memakai seragam dan menggigit satu buah biskuit kemudian langsung menapaki langkah kuat menuju sekolah.


Di tengah perjalanan, keinginanku untuk mengetahui jam pada Smartphone terpecahkan, "Hah?! Aku lupa!"


"Au ah masa bodoh!"


Sesampainya disekolah, gerbang besar nan kokoh sebagai pembatas antara kegiatan belajar dan bermain, hendak di tutup oleh pria paruh baya selaku penjaga pos di sana.


Hanya dengan sepatah kata, "Pak, tunggu." Itu sudah dapat menjadi penghenti gerakannya.


"Dasar, murid pemalas." Cibirnya ketika aku melewati sosoknya.


Perkataan tersebut memang layak diberikan padaku, menjadi upah dari perkataanku sebelumnya sekaligus perilaku telat ini.


Dihiasi oleh nafas tidak karuan, aku perlahan membuka pintu kelas. Tak lupa mengatakan "Permisi." Sebagai formalitas saja.


Tunggu, entah apa yang terjadi sebelumnya. Tidak ada guru disini, namun aku juga tidak tahu mengapa semua orang dikelas ini memandangiku. Wajar karena aku terlambat, tapi pasti ada alasan lain.


Benar, Taka dan Yogairulah menjadi respon pertamanya padaku. Seolah sepasang anjing yang mendekati majikannya, mereka menghampiriku bersamaan ekspresi heran di wajahnya.


"Pagi Taka."


Sapaku mengangkat telapak tangan sejajar bahu dengan ragu ragu.


Tidak ada perbedaan pada mereka berdua, raut wajahnya benar benar membuatku kesal.


Tak ada angin dan hujan sekalipun, sepasang sahabat konyol tersebut tiba tiba berbisik dihadapanku. Tidak, bukan berbisik kalau suaranya saja jelas terdengar.


"Yogairu, itu Aoi?"


Tanya Taka mendekatkan mulutnya kemudian melapisinya dengan telapak tangan. Mungkin sebagai pembatas suara, seberapa idiotnya dia?


"Tidak."


Balas datar Yogairu, malahan dia masih menatapku.


"Lah? Dia Aoi bodoh."


"Tidak."


"Lihatlah!"


"Kubilang tidak ya tidak! Apa sih! mana ada dia punya warna mata berbeda seperti ini." Teriak Yogairu memecah keusilan Taka.


'Mata? Biru dan merah? Seriusan? ini masih ada sampai dunia ini?'


Tanya hatiku, setumpuk pertanyaan tersebut mana bisa kujawab. Aku pun sendiri tidak bisa melakukan apa apa, ingin bercermin juga sadar kalau smartphoneku tertinggal.


"Benar tuh Aoi, kenapa warna matamu bisa belang seperti itu?" Celetuk


Taka menanyakan pertanyaan yang hendak ku berikan pada mereka.


"Mata? Belang? Maksudmu aku?"


"Jangan jangan...kamu buta sebelah karena kebanyakan bermain game ecchi ya?" Sahut Yogairu.


"Bodoh!"


Sangkal Taka sambil melayangkan pukulan sisi tangan di kepala Yogairu. "Apasih, aku yang seharusnya bertanya soall itu padamu." Imbuhnya.


Tanyaku kembali, walaupun sudah tahu jawabannya, aku ingin memastikannya secara langsung.


"Kamu tidak tahu? Nih." Ujar Taka menunjukkan Smartphone dengan kamera depan padaku.


Aku bercermin menggunakan itu, baru kali ini aku memanfaatkan teknologi bernama kamera di smartphone. Dan memang benar, warna mata ini sama persis sewaktu aku di dunia tersebut. Warna biru dan merah, sungguh mencolok dan menganggu.


"Oh benar..."


"Hah?! 'oh benar?' itu saja?"


Gundah Taka, mungkin dia sedikit khawatir padaku, namun itu sesuatu hal percuma, maaf ya.


"Tapi yah, sepertinya cocok cocok aja sih, nanti mungkin efeknya kamu akan jadi pusat perhatian." Cakap Yogairu.


Soal pusat perhatian, memang tak bisa di elakkan lagi. Aku juga sudah mengalaminya saat di dunia itu, sampai mati disana juga. Seharusnya di dunia ini lebih siap dari terjangan pertanyaan orang orang.


"Iya seperti itu, mungkin sepulang sekolah akan kuperiksakan, tapi jujur ini tidak ada pengaruh sama sekali pada penglihatanku."


Pungkasku meluruskan kehebohan di pagi ini. Kemudian berjalan melewati mereka berdua dan menuju tempat dudukku.


Kali ini, Hana Eri. Siswi otaku menaruh pandangannya padaku, lalu membuka perbincangan, "Aoi ya, kamu pakai softlens? Jijik tahu, dasar Chunni." Cibirnya terkekeh.


"Orang bodoh mana yang mau pakai softlens di satu mata, bodoh apa kamu?"


Jawabku tidak peduli, sebenarnya aku masih merasa semua orang memperhatikanku. Namun dikarenakan Hana yang satu satunya duduk diseberang dan cukup sering berbicara kepadaku. Dialah sosok pengganti Mashiro dalam dunia ini, menyebalkan sekali.


Terlebih lagi, aku juga hampir tidak pernah berkomunikasi dengan murid lainnya. Karena itulah mereka terbilang "sungkan" untuk menanyakannya padaku. Iya, walaupun aku tetap bisa mendengar mereka berbisik seraya melirikku.


Sepulang sekolah, seperti biasanya aku berdiam sejenak di kelas, setidaknya hingga sebagian siswa sudah pulang. Tapi ini,


"Aoi, katanya mau memeriksakan matamu." Sahut Taka dari tempat duduknya kemudian beranjak menuju kearahku.


'Apasih maunya dia ini, di dunia sana dan disinipun kamu tidak ada bedanya.'


Aku kesal, bagaimana lagi? sedari tadi hari hariku sungguh tidak nyaman, jam segini yang menjadi waktu bebasku sekarang ditambah lagi Taka.


"Ah, aku bisa pergi sendiri, lagian aku niatnya pergi nanti malam." Jawabku sedikit beralasan agar memunculkan rasa penolakan dalam dirinya.


Namun percuma, "Eh, padahal kalau malam optik kebanyakan sudah tutup loh."


Sial...


Aku harus mencari alasan, sebanyak apapun itu. Asalkan dia menyerah dan aku bisa menikmati waktu luangku tuk bermain game.


"Kamu tidak ke klub lari?"


"Yang benar saja, ini memasuki musim panas tahu, aku harus sering mengambil hari istirahat."


Lagi?


"Eh, mungkin aku akan memanggil dokter saja kerumah, katamu kalau malam sudah tutupkan?" Aku memalingkan wajahku, kebohongan itu sudah keterlaluan.


"Begitu ya, baiklah. Aku pergi pulang dulu, dan semoga baik baik saja."


Pungkas Taka mengurungkan niatnya dan menjawab dengan penekanan intonasi kecewa, aku sedikit kasihan.


"I - iya, hati hati dijalan."


'Selesai sudah!'


Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa kembali bermain game Rhytm - ku. Sekolah tidak membawa Smartphone sungguh yang terburuk.


Sesaat dirumah, tanpa melepas seragam, aku langsung mengambil Smartphoneku serta membuka game itu.


"Gila...Sudah berapa lama aku tidak memegang benda ini." Itulah perkataanku ketika melihat intro dari game Rhytm.


Namun, apa ini?


Waktu aku mendengarkan musik intronya, seolah melayang. Semua terasa ringan, panas dan nyaman. Bukan karena saking lamanya aku tidak bermain game, tapi perasaan ini, aku berkali kali merasakannya.


"Skill peningkatan?!"


Heran berbalut terkejut, aku langsung mematikan smartphoneku. Dan benar saja, perasaan efek Skill Escalation itu hilang sekejap. Belum puas lagi, aku memutar musik yang sebelumnya membuatku mengaktifkan Skill tersebut tempo hari.


"Ini benar benar Skill Escalation." Gumamku.


"Kalau begini terus, aku tidak akan bisa menikmati musik dan game Rhytm sekalipun."


Aku teringat dimana setelah tidak sengaja melepaskan Skill Escalation sebelumnya di dunia ini, terhenyak langsung serta mati rasa di sekujur tubuh, aku masih ingat jelas kejadian itu.


"Sial sial sial!" Teriakku kesal memukuli alas sofa beruntun.


'My Skill.'


Untuk memastikan lagi, aku membaurkan pandangan untuk melihat statusku. Dan memang itulah faktanya, ini benar benar indikator dan bar memenuhi layar mata.


"Escalation, Magnify dan...Kontrak?"


Aku masih mengenali Skill itu dengan sangat rinci, kemampuan yang membuatku merasakan seluruh kejadian aneh ini.


"Jadi aku sudah mati atau belum di dunia sana? Ataukah lagi lagi Mashiro menyelamatkanku?"


"Tidak, mana mungkin. Sudah 1 bulan aku tidak menemuinnya. Dia pasti sudah mati."


"Dan apakah aku harus tersiksa dengan skill aneh dalam tubuhku ini?!"


Bersambung.....