The World Of Game Systems

The World Of Game Systems
Chapter 18 - Menjelajahi Dungeon Bonus 'Phase 5'



Malam kemenangan belum sepenuhnya tercapai, bahkan setelah pertaruhan nyawa itu. Detik tiap detik tergantikan oleh menit, kemudian diambil tugasnya oleh jam, kami bertiga memanfaatkan waktu sebaik baiknya untuk memulihkan tubuh serta Ergon semaksimal mungkin.


Karena lukaku yang tidak separah mereka berdua, aku bangkit dari tidur singkat. Kembali menapaki lantai tanah ini. Akan tetapi, setelah peperangan itu semuanya berbalik 180 derajat asalnya. Kali ini, tandus keringnya pijakan terbarui oleh kesuburan asri yang tidak pernah kulihat. Langit – langitnya juga berbeda, kepekatan darah merah itu telah pupus menjadi birunya laut.


“Gila, apa saja yang terjadi di tidurku.” Ucapku terheran memandangi panorama yang diberikan disini.


“Iya, ini adalah fase peleburan, hal terakhir yang harus kalian lakukan setelah ini.” Sahut Mashiro, memperjelas ucapanku.


“Peleburan ya…..”


“Benar, dimana hidup dan matimu dipertanyakan. Sekeras apapun usahamu, jika dungeon ini tidak menerimanya, Mati adalah gelar terakhirmu.”


Tidak kurang dari beberapa menit, Taka ikut terbangun. Tanpa rintihan kesakitan akibat lukanya, dia tetap tegar untuk berdiri.


“Ta – Taka?!” Sapaku melihatnya bangun.


“Halo…..mari kita segera lanjutkan perjalanan terakhir kita.” Balasnya, melihat lihat lekuk tubuhnya yang terluka dengan santainya.


“Anak ini….. sangat santai di segala situasi, setidaknya ekspresimu jangan terlalu santailah. Hidup dan mati kita dipertaruhkan loh.” Gumamku.


“Mikadzuki masih pingsan ya, sepertinya Mind Down - nya parah.”


Taka mengatakannya sembari membersihkan debu yang menempel di pakaian kemudian menghampiri Mikadzuki.


“Iya, jadi…. Dia sudah sering mengalami Mind Down ya?”


“Sering sekali, dirinya yang kecil dan imut itu memiliki 2 sihir legendaris di dalamnya.” Jawab Taka.


“Aku juga tidak tahu, apakah tubuhku akan kuat menanggung 2 kekuatan itu.” Sahut Mashiro dengan nada yang dibuat-buat, disela perbincangan kami.


‘Jadi sebesar itu ya resikonya.’ Pikirku dalam hati.


“Iyalah bodoh, kamu saja tidak tahu betapa mengerikannya Mind Down itu.”


'Jadi begitu ya….. repot juga.' Ucapku bersamaan nada lemas seolah tidak mempedulikan Mashiro yang mengoceh panjang lebar di sampingku.


“Hora! Kamu dengar tidak!”


Umpatnya, wajah serba tahu Mashiro seketika berubah menjadi para tahanan yang tidak sabar akan hari bebasnya.


‘Yaa…. Yaaa’


“Baiklah….. sudah cukup istirahatnya.”


Celetuk Taka memalingkan perbincangan kami berdua, meskipun dia tidak tahu apa yang aku lakukan ini, tapi itu seakan menghentikannya.


Pahlawan tanpa lisensi tersebut tidak pernah mengeluh akan kekurangan siapapun, dia selalu bersedia untuk berjuang walaupun badai menghalang.


“Hap, lalu dengan ini kita bisa melanjutkan perjalanannya.” Sambungnya menggendong gadis Elf paruh baya itu dipunggungnya.


‘Eh? Serius nih? Ahhhh baiklah mau bagaimanapun hasilnya udah jelas.’


Pikirku menghampiri mereka berdua.


Taka tersenyum kearahku, dilanjut dengan pergi mendekati mayat dari Bearrock Golem. Sama seperti yang dia lakukan sesaat berhasil membunuh lelaki misterius, mengarahkan telapak tangannya di badan monster. Sejurus, bangkai tersebut melebur perlahan seolah rapuh adalah kelemahan terbesarnya, serta meninggalkan beberapa kristal.


“Nahhh kristal ini dapat dijadikan kunci untuk kelantai selanjutnya, dan juga jumlah ini banyak sekali.” Tukas Taka menyentuh beberapa kristal yang berserakan ditanah.


“Ah – iya.”


“Terakhir, kita harus menemukan pintu rahasianya.” Ucapnya memainkan kristal berbemtuk limas tidak beraturan dengan tangannya.


“Pintu?” Tanyaku tidak tahu.


“Benar, gerbang yang menghubungkan dengan Core dari dungeon ini.” Sahut Mashiro, menjawab pertanyaan polosku.


“Etto, semacam jalan masuk rahasia, aku juga tidak tahu jelas bentuknya bagaimana. Namun firasatku mengatakan dibalik air terjun itulah dia berada." Imbuhnya memperjelas jawaban Mashiro sambil menunjuk kearah air terjun dibalik pohon besar


“Jadi begitu, mari kita lihat bersama.” Ajakku.


“Ayo!”


Kami pergi kearah air terjun yang menjulang tinggi, seolah kita dijadikan seukuran semut dihadapannya. Dilanjut dengan menerobos masuk aliran derasnya, dan melihat apa ada ruang atau pintu rahasia di dalamnya.


“Wohh beruntung! Ini dia!”


Teriak Mashiro menunjuk kearah lubang bebatuan yang ada dalam gua tersebut, tidak jelas dengan bentuknya, seakan terbentuk dengan alami oleh tetesan air.


Mendengar arahan aku berhenti sejenak, dan melihat teliti lubang itu, terselip di pikiranku bentuk yang sama dengan kristal limas tidak beraturan yang diambil Taka sebelumnya. Aku berniat untuk memberitahunya.


“Taka bukannya i -.”


“Wah benar benar, ini dia! Sama persis bukan?”


Taka dengan semangatnya terkekeh oleh kristal yang dia pegang, membandingkannya berkali – kali bermodalkan pandangan mata.


Tanpa basa basi, Taka menghampiri lubang batu tersebut dan mencocokkan sisi alas dari kristal itu dengan lubang alami di hadapannya.


“Coba saja, mungkin itu cocok.”


Ucapku memandangi perilaku Taka yang masih bingung akan masalah lubang batu dan kristal itu.


“Ba – baiklah.”


Taka memasukkan kristal itu kedalam lubang, sepertinya dia tidak memaksakan kehendak untuk presisi dari bentuk kristal. Namun, siapa sangka benda berwarna hijau indah berkilauan itu cukup cocok di lubang tersebut.


“Wahh pas Aoi!” Teriaknya terkejut.


Entah darimana asalnya semua kejadian yang kulihat dengan mata telanjang ini terjadi. Serentak, bebatuan sebagai dinding kokoh goa runtuh secara perlahan kemudian membuka sebuah jalan rahasia di dalamnya.


“Ini ya?”


“Benar Aoi, mari kita masuk.”


Kami pun memasuki stage terakhir, kepasrahan masih belum tumbuh dalam benakku. Aku tetap percaya, kerja sama yang dibentuk dengan Taka akan membuahkan hasil pasti.


Sama seperti lantai sebelumnya, suasana ciptaan lorong ini benar benar mencekam. Kegelapan sampai di penghujung mata memandang. Untuk pencahayaannya? Hanya terlihat obor di setiap pilar yang amat jauh jaraknya. Itu lebih terlihat sebagai penunjuk jalan daripada penerangan.


“Ta – Taka, aku tidak bisa melihat apapun.” Ucapku ragu untuk melewati medan didepan.


“Tidak apa, tidak ada monster atau apalah disini.”


Balasnya, aku bisa mendengar langkah kakinya menjauh dari posisiku berada.


“Tu – tunggu.”


Mau, tidak mau, aku memijakkan kaki perlahan, mulai memasuki lantai dasar.


Beberapa saat setelah merasakan hawa medan dalam ini, aku merasa perbedaan yang sangat besar. Contohnya, suhu ruangan ini. Normalnya, jika kita memasuki ruang bawah tanah tanpa celah udara, pasti akan merasakan gerah. Namun disini tidak, suhunya benar benar nyaman. Sesuai dengan tubuhku.


Tidak, bahkan disini sangat senyap. Aku bisa mendengar suara detak jantungku sendiri, ini amatlah nyaman. Bagiku, seorang introvert. Semua lingkungan disini adalah surgaku, menyendiri tanpa seseorang penganggu.


“Aoi! Aoi!”


Usut punya usut, terdengar suara seseorang berteriak seolah memanggil kembali dari kehidupan lama.


‘Siapa?’


“Aoi! Sadarlah!”


‘Suara itu…Taka?’


“Aoi!”


‘Berisik! Setidaknya biarkan aku bersantai sebentar.’


*Plak!


Seseorang yang tidak tahu darimana asalnya tiba tiba menamparku dengan keras, bukan hanya rasa sakit, namun suaranya menggelegar sampai ke telingaku.


“Apa! Ada apa!” Teriakku kesal terbangun dari kegelapan itu, nampak Taka di hadapan sedang memandangiku.


Aku tahu dari raut wajah khawatirnya, pasti ini adalah halusinasi. Maksud dari “layak atau tidak layaknya kamu di Dungeon.” Aku bersyukur dapat sadar dari semua itu, mungkin maut akan mendatangi tubuhku jika saja tidak terbangunkan.


“Syukurlah Aoi.” Celetuk Taka lega sambil memberikan senyuman kecilnya kepadaku.


“I – iya.”


Aku mencoba melihat sekeliling, mengamati apa yang akan terjadi setelahnya. Melirik kesana kemari, dari sisi kanan ke sisi kiri. Mashiro juga ada disampingku, wajahnya tidak jauh beda saat pertama kali kita bertemu, antara puas dan semangat.


“Sepertinya kita bertiga layak, untuk menjadi bagian dari dungeon ini.” Ucap Taka menyentuh dinding kasar didepannya.


“Jadi, suasana sebelumnya itu …. ujian?” Tanyaku heran dengan kejadian yang kualami sebelumnya.


“Benar, tapi pertaruhan baru dimulai.”


Tepat setelah Taka mengatakan itu, langit langit ruangan bergetar. Diikuti suara gemuruh dari segala sudutnya, seakan tempat dalam tanah ini ingin mengubur kita hidup hidup.


“Jadi kalianlah, yang menyelesaikan dungeon ini. Dua manusia dan satu elf dalam kondisi pingsan. "


Suara dengan intonasi berat nan dalam muncul dan bergema dari suatu tempat entah darimana.


“Benar, Inti penjaga dungeon.” Sahut Taka membalas suara misterius itu.


‘Mashiro, apa yang terjadi?’


“Inti dungeon, dimana kamu akan berbicara langsung dengannya. Ini adalah peleburan dan pertaruhan, hidup dan mati.”


Jawab Mashiro melihat langit langit, penasaran akan sumber suara tersebut.


“Hoshizora Taka-.”


“Baik!”


“- Lalu, Aoi Syafiqi.”


“Ba – baik.”


Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, maka dari itu aku mengikuti sosok pahlawan tersebut, namun yang kupercayai saat ini hanyalah Taka dan Mashiro.


“Aku tidak ingin berlama – lama saat ini. Mudah saja, kalian berdua harus menjawab tiga pertanyaanku dengan jujur.”


Suara Inti dungeon kembali terdengar, menawarkan sebuah jalan damai yang akan dilalui oleh kami bertiga.


“Baik apakah itu.” Jawab Taka.


“Tentu saja, jika kalian berhasil melewati semua pertanyaan itu, aku akan memberikan imbalan yang setimpal. Tapi, jika kalian berbohon di setiap kalimatnya. Kupastikan kalian hancur tak tersisa.”


“Jadi pertanyaan pertama: Ingatan.”


Jelasnya disertai suara gemuruh dari samping sisi kanan dan kiri.


“Kalian harus mengatakan......Cinta pertama.”


Sambungnya memfokuskan pertanyaan yang hendak ia berikan.


[[Ha?]]


Mendengar pertanyaan Inti dungeon, kami terdiam bisu dan saling melihat satu sama lain. Terheran pilu untuk jawaban yang akan diberikan.


“Nah, waktunya untuk mengeluarkan kejujuran kalian.”


Tegasnya, suara serak nan dalam itu benar benar tidak cocok dengan pertanyaan yang ia berikan.


“Oi, Oi, Oi. Beneran nih? Taka sih gampang, karena Mikadzuki adalah tunangannya. Lah aku?” Gumamku panik.


“Baik, cinta pertamaku adalah tunanganku sendiri, Mikadzuki Fin.”


Jawab tegas Taka dengan wajah penuh keyakinan dibaliknya, sudah mestinya dia menjawab itu.


“Ehm, Hoshizora Taka. Kejujuran loh, apakah kamu yakin dengan jawaban itu.”


Balasan seram oleh Inti dungeon, dinding samping kanan tiba tiba bergerak mendekati kami perlahan.


“Bukan kejujuran? Bohong?!”


Gumamku terkejut serentak langsung menengok Taka. Kepercayaan diri yang telah dibangun diwajahnya seketika runtuh, mukanya kini dibasahi oleh keringat dingin.


“Ta – Taka?”


“Baiklah – baiklah! Aku menyukai Asteria Hoshizora! Iya adikku sendiri!”


Teriaknya penuh emosi, rasa malu yang ia simpan keluar sepenuhnya bersamaan oleh amarah.


[[Eh?!]]


Aku terkejut mendengar itu, bahkan Mashiro yang terlihat tidak tertarik “begituan” ikut kaget.


“Kamu mengatakan sebuah kejujuran.”


Terima Inti dungeon dengan suara lebih santai, dinding disamping kami juga terhenti.


[[Eh?!]]


Rasa terkejut yang belum reda sejak Taka mengucapkan isi hatinya, Inti Dungeon menganggapnya kejujuran. Seakan air yang mengeruh, rasa penasaran serta kaget tercampur baur menjadi satu.


“Selanjutnya giliranmu, lelaki dengan warna mata yang unik.” Lanjutnya mengarahkan suara seramnya kepadaku.


“Eh? Itu, anu, ah-.”


Belum mengeluarkan ucapanku, dinding disamping mulai bergemuruh dan bergerak mendekat.


“Aoi!” Teriak Taka panik.


‘Sial, aku tidak tahu mau jawab apa.’


“Iya - iya, dia seorang gadis yang lebih muda dariku, namanya Azuzi Namida!”


Jawabku menundukkan kepala untuk menyembunyikan rasa malu setengah mati ini.


“Sudah kuduga.” Lirih Mashiro menggodaku.


‘Berisik, apasih!’


“Baguslah, kalian lulus pertanyaan pertama.”


Ucap Inti Dungeon perlahan menghentikan laju dinding.


“Sst – Aoi, rahasiakan, ini adalah sisi lain dari diri kita, oke?”


Celetuk Taka, suara kecil itu benar benar menjadikan pernyataan kami berdua adalah dokumen rahasia.


“Jelaslah.” Jawabku melirik Taka.


Pertanyaan yang diberikan oleh Inti Dungeon memanglah pertaruhan hidup dan mati, namun semua itu teralihkan dengan mudahnya soal pertama. Kini, awal dari sebuah pijakan sudah kami lampaui. Seolah mengarungi lautan penuh badai menggunakan kapal selam anti kiamat, semua rintangan hanyalah pandangan belaka.


“Baiklah, saatnya pertanyaan kedua….Logika Matematika.”


Gelombang susulan telah dia luncurkan bersamaan tebak - tebakan konyolnya.


‘Serius nih? Aku tidak tahu tentang matematika, sial.’ Pikirku dalam hati khawatir akan pertanyaan yang diberikan oleh Inti Dungeon.


“Mudah saja, karena hanya ada tiga orang disini, dan satunya pingsan. Aku akan memberikan satu soal saja.”


Jelasnya menggerakkan dua sisi dinding yang siap melunakkan tubuh kami, kapanpun dia mau.


“Soal yang tidak masuk akal pastinya.”


Gumam Mashiro mengerutkan dahinya, aku masih bisa mendengar suara kecilnya. Karena tidak tahu apa apa, aku memutuskan untuk diam dan menghiraukannya.


“Jadi, diketahui usia Orc 4 kali dari usia gadis Elf. Dalam kurun waktu 4 tahun, usia Orc akan menjadi 3 kali dari usia gadis elf. Nah, sekarang berapakah usia Orc dan gadis Elf tersebut?”


Setelah mengucapkan pertanyaan matematika tersebut, mulailah sisi samping dari dinding bergerak kembali. Seakan memberikan waktu terbatas bagi kita menyelesaikan setiap pertanyaan yang dia lontarkan.


“Usia Elf itukan lama jadi sekitar 15 kalau gadis, benarkan?” Lirihku, aku mencoba untuk berpikir semampuku.


“Tentu saja salah!”


Suara kesal Inti Dungeon mendengar gemercik suaraku, dinding yang bergerak semakin mempercepat lajunya.


“Bodohmu mempercepat kematianmu, bodoh!” Tegas Mashiro membentakku, meskipun dia hanyalah roh, perkataannya sungguh mengenai seluruh jiwa dan ragaku.


Perjalanan enteng yang kuanggap sebagai kapal selam anti kiamat, bertemu dengan karang tinggi bak pegunungan. Pikiran manusia bahkan tidak akan pernah menyentuh kehendak tuhan. Rasa keyakinan ditubuhku, runtuh dengan mudahnya.


“Usia gadis Elf adalah 8 tahun, dan Orc 32 tahun.”


Jawab Taka memecah kembali seluruh keputus asaanku, Inti Dungeon yang mendengar jawabannya seketika terdiam beserta kedua sisi dinding.


“E – Eh?”


“Ya itu jawabannya.” Lelaki muda berparaskan pahlawan membungkam bisu Inti Dungeon dengan perkataannya. “Misalkan, usia Orc itu antara 20 sampai 100 tahun, lalu kemungkinan usia gadis Elf ketika 4 kali lebih kecil itu terbatas sampai 21 tahun.” Sambungnya menghela nafas.


“Tapi, jika kamu menambahkan 4 tahun kedalamnya, maka satu satunya jawaban adalah “Usia keduanya dapat dibagi 3 maka hasilnya 12 dan 36, lalu tinggal dikurangi 4”. Ketemu jawabannya 8 dan 32 tahun.” Sambung Taka menyelesaikan penjelasan atas jawaban sebelumnya.


“….”


Aku ikut tertular penyakit bisunya Inti Dungeon saat mendengar penjelasan Taka, tidak tahu apa maksudnya. Bahkan Mashiro yang paham tentang ilmu pengetahuan ternganga melihat Taka.


“Ya….Tadi aku pakai cara kasar untuk memecahkannya, dan cara itu benar – benar nggak efisien.”


Masih belum puas dengan penjelasan dari ucapannya, Taka terus menerangkan cara yang dia gunakan.


“Kalian tahukan? Teka – Teki yang Inti Dungeon berikan adalah persamaan Stimultan, itu adalah materi yang kompleks.” Pungkasnya.


“Cukup – cukup, aku sudah puas dengan jawabanmu, iya benar 8 dan 32. Sudah cukup!” Geram Inti Dungeon menangkap jelas penguraian teka teki yang diberikan oleh Taka.


“Benar? Serius?” Heran Mashiro mendengar Inti Dungeon menerima jawaban Taka.


Kali ini, dengan Taka sebagai nahkoda yang memimpin pergerakan kapal. Kata mutiara “Usaha tidak akan menghianati hasil.” Terwujudkan olehnya. Pemuda pantang menyerah itu sungguh mengeluarkan seluruh bakatnya.


“Baik, lalu pertanyaan terakhir…..Pengakuan.” Suara gemuruh mulai muncul kembali tuk sekian kalinya. “Katakan dosa kalian.” Intonasi suara besar dan dalamnya kali ini cocok dengan pertanyaan yang diutarakan.


“Aku…..” Suara lirih Taka terdengar dari balik wajah menunduknya, hampir tidak terlihat raut muka sama sekali. Bagaikan memakai topeng untuk menutupi diri aslinya.


“Aku, telah membunuh Leora Hoshizora, Kakakku sendiri.”


Bersambung….