
Sisi Hoshizora Taka
Ledakan besar berasal dari barat, jadi kami pergi untuk membatasi area tersebut sekaligus memantaunya. Sedikit info dari Ai,katanya ledakan itu sudah direncanakan sebelumnya. Dia memanfaatkan hal itu sebagai beberapa penanda, salah satunya adalah ini.
“Kamigatsuchi sudah dikonfirmasi menyebar,” ucap serius Ai sembari mengintip di sela kayu yang terbakar.
“Kamigatsuchi? Ada seseorang yang memiliki kemampuan itu di sini?”
Aku sedikit terkejut akan ucapan itu. Pasalnya, kekuatan itu hampir sebanding dengan milik Mashiro, jika salah satu pihak saling memiliki kemampuan penghancur yang besar, tempat ini benar-benar akan menjadi medan pertempuran.
“Keluarga Kineku, ada beberapa anggotanya yang diberi anugrah dewa karena telah menjadi pembantu dewa api.”
“Ah, aku pernah dengar itu.”
“Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanyaku.
Tidak ada perubahan pada Ai, matanya masih fokus mengintai di sana. Lalu berapa saat kemudian ia berkata, “Kita perkirakan rencana kegagalan mereka.”
“Mereka? Maksudmu bukan hanya Zylx saja?”
“Iya, masalah utamanya adalah musuh kita bukan hanya Zylx saja, beberapa partisipan Party Star juga menjadi lapisan penghalang kita. Semestinya kita harus melampaui keduanya.”
Aku paham akan maksud Ai, rencana ini juga sangat berisiko. Salah langkah saja, nyawa Ai akan terancam oleh sekte keadilan. Di sisi lain, keadaan adikku juga bahaya kalau beberapa temannya mengetahuiku.
“Rencana kita?”
Ai mengambil nafas besar, kemudian berkata, “Anak buah Zylx ada 3 orang dan menuju arah mata angin kecuali arah utara, anggota partisipan party star sebelumnya berpusat pada Party Mafal dan Party adikmu yang berhasil kabur, namun hanya 5 dari Party Mafal saja yang diketahui.”
“Sisanya?”
“Waktu aku ke sana, hanya ada 9 orang denganmu, jadi sisanya ada 3 orang.”
“Jangan bilang kalau Asteria juga ikut?”
Aku hampir lupa, Asteria selalu ikut Taka, jadi kemungkinan besar dia berada dalam colloseum ini, singkatnya nyawa adik terakhirku itu juga di ujung tanduk.
Jawabannya iya, Ai menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu, mari kita ke arah utara,” usulku langsung, aku yakin pasti bahwa ketiga orang itu akan menuju arah utara. Mengingat lagi jika kelima orang dari Party Mafal menyebar ke setiap arah.
“Huh? Maksudmu?” sanggah Ai, sepertinya dia menolak usulanku, itu terlihat dari intonasi bicarannya.
Aku juga mulai gelisah karena tidak mengetahui kejelasan kabar Asteria, Aku juga tidak bisa diam saja kalau anggota keluargaku terluka apalagi terbunuh.
“Kita belum tahu kabar Asteria, bukankah seharusnya begitu?”
“Tapi, Leora, mereka-,”
“Ayolah, percuma saja kita berhasil mengalahkan Zylx kalau salah satu keluargaku terbunuh,” potongku langsung, pikiranku benar-benar telah terlampaui oleh emosi.
Ai dengan lembut memegangi kedua pundakku diikuti senyuman indah di parasnya, kemudian bertutur, “Tenanglah dulu, Leora. Tenang, mereka bertiga di satu arah, mereka juga punya kekuatan hebat. Percayalah.”
Hal itu membuatku sedikit tenang, kehadirannya sungguh menghangatkan serta menyejukkan pikiranku secara bersamaan.
“Bukankah Asteria mewarisi kekuatan bintang milik ibumu?”
“I-iya.”
“Kalau begitu syukurlah, apakah sekarang lebih tenang?”
Aku tersenyum lega, terhipnotis oleh pemahamannya akan diriku serta paras wajah yang membuatku selalu ingin memilikinya. Hanya ucapan “Iya, dan terima kasih banyak.” Yang bisa kuucapkan kepadanya.
“Tujuan pertama kita adalah memastikan kehancuran sekte keadilan di hari ini dan segera mencari Asteria,” ungkap Ai.
“Iya, dan aku punya rencana yang mungkin efektif di keadaan ini.”
Aku terpikirkan suatu cara gila dan sangat berisiko, namun tingkat keberhasilannya bisa dibilang hampir sempurna. Semua itu bisa dilakukan asalkan kita, “Apakah kamu bisa mengurangi dampak pengurangan perubahan fisik di Skill Nightmare ini?”
Ai mengerutkan dahinya, dia berpikir keras untuk membantuku sebisanya. Sedetik kemudian dia dapat pencerahan dan berkata, “Hanya ada satu cara yang bisa kulakukan, yaitu mengurangi kesadaranmu.”
“Tidak masalah, aku bisa mengatasinya, karena ini juga tubuh adikku sendiri.”
“Sudah, jangan pikirkan hal itu. Percayalah.” Aku memotong ucapannya menggunakan jari telujuk yang membungkam langsung pergerakan mulutnya. Dan Ai tersenyum seakan menerimanya.
“Baiklah, aku percaya, tapi apa yang akan kamu rencanakan?”
“Hanya menciptakan sedikit kericuhan.”
Sisi Aoi Syafiqi
Lalu, setelah kita mengetahui jawaban dari ledakan serta api yang tak kunjung padam ini, apakah ada sesuatu yang bisa kita lakukan? Pertanyaan itu ingin sekali rasanya kuucapkan, namun ada yang lebih paham rencana melebihi pemikiran singkatku.
“Yang terpenting sekarang kita mencari “Sang sandera” di roh api Kamigatsuchi ini?” usul Yogairu terlebih dahulu, itu cukup untuk menjawab pertanyaan pikiranku.
Akan tetapi, di sisi lain Mashiro menggelengkan kepalanya, ia tidak setuju dengan usulan Yogairu. Kemudian memberikan usulan lain berupa, “Kita mengumpulkan yang lainnya terlebih dahulu, setidaknya kita bisa mengungguli jumlah lawan.”
“Tapi, bukankah lebih baik kita selamatkan terlebih dahulu Kak Ayumi?” balas Yogairu.
“Tidak, apakah kamu tidak belajar dari yang lalu? Kamu berkali-kali mengelilingi lantai ini, tapi apa yang kamu dapat? Hasilnya kosong bukan?”
“Apalagi roh api ini bisa menahan jam bahkan 1 minggu lamanya untuk menyadera seseorang,” imbuh Mashiro.
“Sedikit tambahan, apakah tidak apa membiarkan kobaran api terus menyala di bagian colloseum ini?” Aku bertanya, bukan bermaksud mengusulkan hal lain lagi, namun sudah menjadi logika jika api akan terus membakar sekitarnya hingga tak tersisa.
“Tidak, benar begitu Yogairu-kun?”
“Iya, roh api bukan sekedar api yang sifatnya membakar, tapi menjaga,” jawab Yogairu.
“Yang namanya roh api itu pasti masih memiliki jiwa, dan jiwa juga semestinya memiliki pemikaran selayaknya makhluk hidup lainnya.
Dan pastinya Ayumi akan membatasi daerah kobaran apinya ini agar tidak menyebar ke seluruh bagian colloseum,” sambung Mashiro menjelaskan jawaban dari Yogairu sebelumnya.
“Tapi yah, meskipun Kak Ayumi dapat mempertahankan bentuk roh apinya untuk waktu cukup lama, tetap saja aku tidak rela.”
Keduanya tetap bepegang teguh pada usulannya masing masing, aku juga tidak tahu betul mana yang paling efektif di keadaan ini. Mungkin memanfaatkan kondisi Kakaknya Yogairu dan mencari sisanya adalah pilihan terbaik, namun itu sedikit egois jika dilakukan dihadapan Yogairu.
Dibandingkan itu, usulan Yogairu juga sulit untuk diterima. Beralaskan Yogairu yang tidak bisa menemukan “Sang sandera” di dalam kobaran roh api ini, membuat usulannya kurang kuat.
“Kalau begitu, mari kita pergi ke utara,” celetuk Yogairu, membuat pandanganku dan Mashiro juga terarahkan padanya.
“Ke utara? Untuk apa?” tanya Mashiro yang heran karena Yogairu secara mendadak merubah keinginannya. Aku pun begitu, tidak biasanya Yogairu yang keras kepala dengan mudahnya menerima keputusan orang.
‘Asteria dan Azuzi, ah aku teringat itu,’ batinku sesaat teringat juga akan penjelasan Yogairu sebelumnya.
“Mengumpulkan sisanya bukan? Asteria dan Azuzi berada di ruangan tersembunyi yang ada di arah utara.”
“Itu mungkin lebih bagus.” Aku setuju atas sarannya kali ini, dan menoleh ke arah Mashiro, dia menganggukkan kepalanya juga.
Usulan Mashiro disertai tambahan dari Yogairu telah menjadi tujuan baru kita kali ini, kami mulai berjalan meninggalkan bagian yang hampir seluruhnya terbakar dan menuju arah utara.
Akan tetapi, sesuatu rancu menghentikan langkah kami sebelum akhirnya keluar dari bagian barat ini. Suara tebasan serta kedua bilahnya yang saling bertemu membuat kita waspada akan hal itu dan mencari-cari dimana sumbernya.
“Siapa lagi di arah ini Yogairu?” tanyaku langsung, sebelumnya dia sudah menceritakan rencana mereka yang menyebar ke seluruh arah mata angin. Dan di arah ini hanya ada Mafal dan Kakaknya Yogairu, lalu siapa lagi?
“Aku juga tidak tahu,” jawabnya singkat.
Dan jawabannya langsung muncul di hadapan kami berdua, dalam bayangan kabut hitam api, percikan kedua bilah sungguh menyala di antaranya. Dilanjut sosoknya yang terlihat samar-samar, seorang berjubah hitam dan seseorang lagi dengan pusat pandanganku pada rambutnya.
“Taka?!”
Iya benar, itu adalah siluet rambut yang pernah kuingat. Warna rambut ungu yang sedikit terbaur oleh kebiruan tua, membuatku langsung memutuskan itu adalah Taka dan salah satu anak buah sekte keadilan yang sebelumnya kulihat di lorong.
“Taka? Apa yang kamu bicarakan?” sahut Yogairu.
“Dan salah satu anak buahnya,” sambung Mashiro.
‘Bukannya tadi mereka bersama, tapi mengapa sekarang beradu pedang. Apa yang terjadi?’
Bersambung…