
Sisi Nathan-sensei
Lihatlah seberapa terpuruknya remaja ras serigala ini. Bulu birunya saja sudah hampir hangus dan akan digantikan oleh hitamnya abu, beberapa menit bahkan detik ia sebelum ditemukan Aoi, itu pasti memengaruhi hidupnya
“Seharusnya tadi Seishou menggunakan skill analisa dulu ke Mafal, nantikan aku bisa menyembuhkannya,” gumamku sambil memandangi tubuhnya yang belum sadarkan diri.
“Kalau begini, aku menggunakan skill penyembuhan juga akan membahayakan dirinya.”
Semua orang tahu, penggunaan kemampuan penyembuhan kebanyakan menggunakan pengoptimalan regenerasi tubuh, termasuk Skill milikku. Jika aku meleset sedikit saja mengarahkan Skill penyembuhan kepada bagian tubuh yang tidak optimal, takutnya bagian itu akan memaksakan bagiannya untuk mengerahkan darah untuk melapisi organ terluka.
“Sungguh merepotkan.”
Sedetik setelahnya, aku mendengar pergerakan lirih namun cepat. Seolah angin membantu pergerakannya, termasuk menyembunyikan setiap langkah dan nafasnya. Hal itu membuat mataku reflek terbebankan pada sumber suara, menyebar seluruh pandangan pada pemandangan penuh api ini.
‘Siapa yang bisa menggunakan sihir angin di sini? Tidak mungkin itu hanya suara angin biasa, itu sangat lincah.’
Dalam situasi ini, aku langsung cekatan mengambil keputusan yang sekiranya berada di titik keberhasilan serta keselamatan tertinggi. Yaitu dengan membawa tubuh Mafal semakin menjauh dari area Kamigatsuchi, meskipun ada batasan di sini. Akan tetapi gerak-gerik mencurigakan sebelumnya itu membuatku sedikit berjaga-jaga.
Sekedar menaruh tubuhnya di balik pilar yang menurutku lebih aman dan tertutup. Tentunya kuberikan juga lapisan penghalang yang sedikit tipis, setidaknya bisa tahu jika ada sesuatu rancu padanya.
“Siapa!? Di sana!”
Tidak ada reaksi, pastinya. Terhalang suara percikan api dan minimnya oksigen alasannya. Namun itu tidak menjadi penyebabku untuk mundur. Terlebih lagi Aoi dan lainnya ada di dalam sana.
Ternyata ada balasan, suara nyaring besi yang tergeletak keras. Seperti bungkusan kaleng berukuran sedang. Kemudian memunculkan asap tebal secara langsung, ekstrak biji MonkShood. Meskipun dampaknya tidak ada pengaruhnya bagiku, namun tetap saja pergerakanku terhenti karena disfungsinya mata.
‘Sial!’
Keyakinanku atas pergerakan sekte keadilan kembali menguat, firasatku memang benar. ‘Kalian semua, sekarang masa depan pengguna kekuatan Skill di sini ada di tangan kalian semua. Aoi, Yogairu, Taka, Asteria, Azuzi, dan Seishou juga.
Sisi Hoshizora Taka [Hoshizora Leora]
“Leora, salah seorang yang mengikuti kita sudah kubereskan,” ucap Ai dari belakang kemudian menyamakan kecepatan geraknya di sampingku.
“Siapa? Apakah ada partisipan lomba lain?”
Ai terdiam sejenak, ia mungkin mengingat siapa seorang tadi. Sejujurnya aku tidak masalah, selagi itu bukan Asteria, adikku semata wayang.
“Aku cukup sering menemuinnya, aku lupa siapa dia. Perawakan yang cukup familiar bersama Mashiro. Dan juga itu tidak akan bertahan lama, asap racun Monkshood sebelumya hanya sedikit. Dalam hitungan menit, mungkin dia akan kembali menyusul kita.”
Menggunakan racun Monkshood memang keputusan tepat, tapi jika tidak berpengaruh pada korbannya, itu akan menjadi sekedar kabut tebal saja. “Begitu ya, jadi tinggal siapa saja di dalam sana?”
“Yogairu, Aoi, dan Mashiro,” jawab Ai antusias, dia yakin rencanaku ini akan membuat dampak yang nyata. “Ketiga orang itu akan berselisih jika kamu berhasil manipulasinya, dan keributan kita pastinya akan memancing Zylx kemari.”
“Iya, aku paham itu. Berenang sambil minum air.”
Singkat waktu, kami mengambil jarak diantara mereka bertiga. Sejarak mata memandang. Netra kami saling bertemu kemudian bersama menganggukkan kepala, seakan menggunakan tatapan saja sudah bisa menjadi alat komunikasi.
Ai menggunakan kembali tudungnya kemudian melesat lebih dahulu mengecoh perhatian mereka menggunakan kalengan kosong. Dilanjut aku mengeluarkan pedang milik Taka dari Blackstorage. Tipe pedang lurus panjang yang digunakan gaya aliran dua pedang, aku hanya menggunakan salah satu.
*Ting!
Balasan yang sempurna dari Ai menepis laju pedangku, membuat suara itu nyaring terdengar. Pandangan ketiga orang itu pasti mengarah kepada kami. Menyesuaikan irama berpedang dengan Ai, kami perlahan demi perlahan menuju kearah keberadaan mereka.
Sebelumnya Ai juga tidak lupa mengurangi penggunaan Skill Nightmare dalam diri Taka. Agar efek samping perubahan bagian tubuh ini tidak terlalu mencolok untuk dicurigai.
Hingga datanglah kami dari kabut tipis dan menampakkan wujud berbalutkan semua kebohongan ini. Terus menerus mengayunkan pedang untuk berakting, namun saling memberikan tebasan terbaiknya. Ai juga memanfaatkan sihirnya sedikit demi sedikit kepadaku.
‘Leora, cobalah untuk berinteraksi pada mereka.’ Nada suara Ai entah darimana terdengar di telingaku. Padahal dari jarak ini dia hanya menggerakkan bibirnya.
‘Coba yakinkan mereka jika kamu adalah Taka.’
Aku baru saja mengingatnya, tujuan Ai mengurangi penggunaan Skill Nightmare pada diriku adalah untuk memanipulasinya. Kunci dari siasat pembohong atas kesalahpahaman antar dua pihak.
“Kalian semua! Pergilah dari sini! Aku akan menahannya!”
Sesaat aku melirik tak sampai satu detik adanya, pandangan campur aduk terpasang di antara mereka. Itu terasa seperti waktu yang melambat. Heran, bingung dan terkejut tercampur aduk.
“Aku akan membantumu!” Terdengar suara pedang yang ditarik dari sarungnya. Itu dari salah satu mereka.
‘Leora, bisa gawat jika mereka berbalik menyerangku.’
Pertemuan kedua bilah pedang serta tembakan sihir palsu masih saja dilakukan di kala kegentingan ini. Aku juga bingung harus mengambil keputusan apa.
Wush….
Suara tebasan keras disusul energi sihir yang kurasakan dari balik badanku. Itu serangan dari salah seorang mereka.
‘Mashiro? Tidak, dia bukan ahli pedang.’
Tidak, itu bukan sewajarnya sihir alami. Itu campuran, sebuah peningkatan serta pengembangan. Tentu saja mengarah pada Ai. Beruntungnya ia merespon serangan tersebut menggunakan lekukan gerakan tangan untuk membelahnya. Serangan berhasil digagalkan.
‘Ini buruk, serangan itu sangat merepotkan! Dari anak dengan perubahan fisik di matanya,’ Ai menekan nada batinnya.
Aku menengoknya, mata merah dan biru yang mirip dengan Mashiro dia ada di tengah antara Mashiro dan Yogairu. Aku tidak mengenalnya, apakah ia juga teman Taka? Itu masih belum benar kepastiannya.
Aku paham itu, serangan aneh. Bahkan perubahan fisik yang sungguh tidak wajar. Sebagian mata, seberapa kuat pengaruh kekuatannya? Meskipun Ai terlihat santai saat menghalau serangannya, tidak menutup kemungkinan jika kekuatan itu hanya sekedar monoton.
‘Kita pancing mereka keluar.’
Aku menganggukkan kepala penanda paham akan perintahnya. Kemudian mengambil langkah jauh hingga Ai sekaligus ketiga orang itu mengikuti pergerakanku.
Adu pedang terus berlanjut, tapi Ai memberikan serangan yang jauh meleset dariku. Tidak, itu sepenuhnya bukan serangan, namun arahan.
‘Belakangku?’ Aku membatin menerka kemana arah serangan itu.
‘Kita terpaksa mundur, mereka akan mengikuti kita, dan aku akan kabur terlebih dahulu.’ Ai antusias dengan perkataannya, kali ini dia yang membuat gerakan baru. Yang mengharuskan diriku untuk mengimbanginya.
Kita sampai di ujung batas area Kamigatsuchi. Ketiga orang dari sana masih belum terlihat kepastiannya, apakah ketiganya kesini atau salah satunya, itu masih samar.
‘Aku akan pergi mencari Asteria dan…’
Belum sempat Ai menyelesaikan ucapannya, terasa terjangan keras dari seluruh bagian tubuhku. Membuat penglihatanku sedikit memburam dan perlahan menggerogoti kesadaranku. Sedikit demi sedikit cahaya di mataku pudar. Hanya menyisakan diri Ai pada hadapanku.
“Le-Leora?” Suara Ai terkejut, aku tidak begitu bisa melihat wajahnya.
“Bertahanlah, sebentar. Ah sial!”
Setelahnya, dingin di dahiku terasa. Sejuk dan sentuhan rapuh. Aku mencoba membuka mataku, mengerahkan seluruh kesadaranku pada kedua netra itu.
“Taka!” Panggil seorang, itu nama adikku. Tubuh yang kusinggahi sekarang.
“Sial!”
Bersambung….