
Sisi Mashiro
Membuka mata adalah hal yang kulakukan pertama kali setelah merasakan tamparan keras, kesal dicampur marah sudah pasti menyulutku. Namun perasaan tersebut bertumpang tindih terhadap realita di ujung mataku.
"Aoi?!"
Benar, dia adalah satu satunya keajaiban. Sekarang mungkin sudah menjadi malapetaka karena si bodoh itu.
Aku memperhatikan raut wajah Zylx, ekspresi bangga dan kesenangan berlebih, terlalu menjijikkan.
"Aoi ya? ternyata kamu mengenalnya." Ujarnya.
"Kenapa kamu membawanya kesini! Dia sama sekali tidak ada hubungannya!"
Aku membentaknya, sedikit perlawanan, tapi sia sia bagi dirinya yang bisa membunuhku setiap detik.
"Tidak ada hubungannya? Apa yang membuatmu mengatakan omong kosong seperti itu? Sudah jelas bocah ini anak buahmu." Sangkal Zylx, itu sudah pasti.
Aku benar benar melupakan sesuatu, walaupun Skill Analisa yang kuberikan padanya itu kubatasi, namun tidak dengan indera pengecap dan penciuman. Zylx pasti jelas merasakan suatu persamaan mencolok.
Sial....
Mencoba menelan ludah serta memalingkan wajah sebagai ekspresi tidak peduli, Zylx tiba tiba menarik daguku dan menghadapkannya langsung pada mukanya.
"Kamu pasti menaruh harapan pada bocah ini." Desisnya, mata tajam itu telak menciutkan nyaliku tuk melawannya. "Yah, tapi sayangnya. Dia sudah kalah telak melawanku. Ironis sekali bukan?"Tambahnya.
'Aoi? Melawannya? Anak ini, melebihi harapanku. Syukurlah.'
Entah apa yang kulakukan, bersyukur dalam situasi seperti ini. Nyawaku saja di ujung tanduk, mungkin karena mendengar hasil kerja kerasku selama beberapa tahun terakhir. Tapi jika Aoi masih hidup hingga sekarang, apakah kekuatannya sebanding dengan Zylx, menurutku keberuntungannya saja besar.
"Tapi rencanamu untuk menghentikanku sekarang sia - sia bukan? Tidak ada lagi yang dapat menghalangiku." Seru Zylx menjauh dariku.
"Hanya masalah waktu saja keinginanku terkabulkan"
'Andai saja hari itu-,'
Cukup, untuk apa menyesali perbuatan yang kubuat sendiri. Sudah takdir dunia agar berjalan sesuai kehendaknya, dan menjadi kewajibanku sebagai makhluk penghuni dunia ini. menganggap semua perbuatanku benar ya? Bodohnya diriku.
Tak ada angin, tak ada hujan. Pimpinan Sekte Keadilan itu kembali, entah apa maunya kali ini.
"Rindu ya?" Sapaku melontarkan sindiran di depan dirinya.
Zylx tersenyum kecil, sudah menjadi kebiasaannya memberikan senyuman ambigu tersebut sedari aku bertemu dengannya. Kemudian berkata, "Sangat disayangkan jika dirimu dan bocah itu mati sia sia, bagaimana jika memberikan semua skill padaku?"
Orang bodoh mana yang akan menerima tawaran kotor seperti itu, bahkan aku tidak sudi menyebutnya makhluk berakal.
"Tidak! Sampai mati- tidak, Aku lebih baik mati daripada menerima perkataan orang idiot!"
Aku menolak, berteriak lantang hingga menggema di setiap sudut goa. Tidak peduli seperti apa kematian yang akan diberikannya padaku, itu lebih baik daripada membahayakan roda kehidupan.
"Begitukah? Padahal sudah kubilang jangan menggantikan penderitaanmu dengan kematian." Zylx terlihat kesal, senyumannya sirna.
"Kalian, pindahkan kedua orang tolol ini kedalam kurungan sihir."
Perintahnya kepada anak buah di samping lorong, jubah hitam membuat keberadaan mereka tersamarkan oleh kelamnya dinding dungeon.
*Bruk!
Dilempar lagi untuk kedua kalinya yah, cocok bagiku yang menjadi biang kerok permasalahan. Tatkala sampah tak dapat di daur ulang, benda itu akan dibakar habis. Mungkin sampah saja masih lebih bermartabat dibandingkan diriku. Rasanya ingin menembakkan sihir pada leherku, tapi setidaknya aku berharap dapat melihat sejauh mana hasil perbuatanku ini.
Entah keberuntungan atau bagaimana maksud Zylx, Aoi mendampingku kali ini. Syukurlah aku tidak sendirian sekarang, walaupun dia tidak tersadarkan diri. Terkurung dalam sangkar berkilauan bagaikan hewan idaman. Tipe kurungan yang dapat menggunakan sihir didalamnya, tapi tidak bisa menghancurkan penghalangnya dengan sihir itu.
Sungguh sihir merepotkan, Zylx pasti sengaja supaya tidak repot repot memberikan makanan maupun minuman untukku.
"Aoi, kamu sudah berjuang sampai detik ini. Maaf ya tidak bisa menepati janjiku."
Gumamku melihat keadaannya terkapar lemas, memang tidak ada bekas darah ataupun luka fatal di tubuhnya, namun sesuatu benturan keras menyebabkan peredaran darah pada otaknya terhambat.
Tidak tahu berapa menit hingga jam telah berlalu, seseorang bertudung hitam datang menghampiri kami. Dari balik ruji itu dia memberikan sepiring makanan, pastinya untuk Aoi.
Setelahnya sosok tersebut membuka tudung, dia adalah sorang ras Elf yang memenjarakanku sebelumnya.
"Kita bertemu lagi ya, Gadis pengguna Skill dewa." Ujarnya.
"Benar dasar penghianat." Aku menyindirnya. Ras Elf adalah salah satu makanan pembuka bagi Sekte Keadilan, namun mengapa dia malah menjadi bagian dari predator pemangsanya itu?
Dia meludah, kemudian berkata "Apa sih maumu ini? Apakah kamu iri karena tidak dibawakan makanan seperti dia?" Tanyanya, mimik wajah seakan menjadi jari telunjuk. Sungguh menyebalkan.
"Kalau mau, aku bisa memakan makanannya. Tapi sayangnya, aku bukan tipe orang yang akan menghianati teman bahkan kelompok ras sekalipun."
"Dirimu sendirilah yang berhak memutuskan kehidupanku? Aku masih ingat jelas perkataan konyol itu." Jawabku sedikit meninggikan nada suara. "Lagian hidup untuk diri sendiri? Yang benar saja, sungguh egois." Imbuhku semakin membakar amarahnya, aku ingin tahu seberapa kuat emosinya itu.
"Darimana dan dari siapa kalau hidup sendiri itu egois? Bukankah seseorang yang dikaruniai kekuatan adalah jawabannya? Selalu tidak puas dengan sesuatu." Sangkalnya, dia benar benar tenang, berbalik sekali dengan emosinya.
"..."
Aku terbungkam seribu kata, pernyataan itu benar benar melayangkan tusukan telak. Sadar akan semua perbuatanku ini, setiap perkataan yang dia ucapkan sebelumnya adalah perjalanan hidupku.
Dia tersenyum sinis, melanjutkan perkataannya. "Bagaimana? benarkan apa yang kuucapkan?!"
"Ai Enma ya namamu? Ucapanmu barusan benar benar membulatkan tekadku untuk menghapuskan semua ingatan itu. Jawaban diatas kekuatan adalah kematian, benar begitu bukan?"
Pasrahku, saking ingin tahu namanya, aku menggunakan sisa Ergon - ku untuk mengetahui nama dari sesosok elf tersebut.
"Setelah mendengar itu, kamu langsung ingin mengakhiri hidup begitu saja? Dasar pecundang." Balas Ai, dia mendatarkan senyumannya. "Padahal kukira kamu menyadari makna dari perkataan Zylx." Tambahnya.
"Jangan menggantikan penderitaanmu dengan kematian."
Suara itu jelas terdengar langsung dalam gendang telingaku, begitu pula nada Zylx.
"Kamu mengatakannya pada orang yang salah, idiot."
Ucapku, padahal dia sendiri berada dihadapanku, matanya juga melihat seberapa terpuruknya diriku. Untuk nyawa saja dipegang oleh orang, mana mungkln juga aku bisa menghentikan tujuan Zylx.
"Pengguna Skill Dewa katamu? Apakah perilakumu itu layak menyandang gelar itu?" Tukasnya menjawab nan menyindirku.
'Skill? Kontrak!'
Aku teringat pasal kontrak jiwa dengan Aoi, hanya saja memori itu luput saat aku melihat sosok asli dirinya.
"Paham sendirikan jika kurungan ini memungkinkan untuk menggunakan Skill didalamnya?"
Pungkas Ai, kemudian mengembalikan lagi posisi tudung yang menutup sosoknya dan pergi ditelan cahaya hitam.
Namun aku tidak gegabah begitu saja, ada dua kemungkinan. Antara Aoi selamat di dunia asalnya atau jiwanya tersesat, aku beranggapan serta yakin dalam opsi pertama. Dari beberapa kilas sewaktu berada didunianya, serta tubuh Aoi yang masih terhubung dengan jiwanya.
"Baiklah! Aku harus bisa!"
Menjawab Tekadku ini, aku menggunakan sisa Ergon - ku untuk membuka portal. Sebelum itu, memisahkan jiwa dari tubuhku terlebih dahulu adalah satu satunya syarat melakukan eksperimen gilaku.
"Gemulai cahaya yang mensucikan diri ini."
"Tubuh penuh dosa yang dipilih oleh dewa untuk mengemban amanahnya."
"Mengaumlah!"
"Sebagaimana dirimu berada di ambang kematian."
"Terimalah harapan bodoh ini, Diamond Soul!"
Rapalan yang telah kuucapkan penuh keyakinan itu menghabiskan seluruh Ergon yang tersisa. Hasilnya adalah cahaya matrix komplek, sedemikian rupa melahap tubuhku.
"Berhasil?" Gumamku dalam kegelapan ini, dan perlahan menampakkan cahaya di dalamnya.
Sebuah gambaran ruangan kamar aneh memenuhi pandanganku, minimnya pencahayaan ini membuatku risih.
'Kalau tidak salah, tempat ini adalah pertama kalinya Aoi bangun setelah terkena racun monkshood.' Batinku melihat sekeliling.
Saat mataku berlalu lalang, aku menyadari seseorang yang terdiam pasrah dalam pandangan kosong. Dia adalah Aoi, tubuh lemas itu sudah menggambarkan betapa terpuruk dirinya.
"A - Aoi?"
Sapaku bimbang, membuat fokus Aoi terpatah ketika aku memanggilnya.
Dia langsung memalingkan pandangan kemudian mencari - cari sumber suara tersebut, hingga akhirnya menyaksikan sosokku.
"Mashiro?" Balasannya membuatku tersenyum lega.
"Ternyata itu benar kamu, Aoi."
"Mashiro ya? Aku punya satu permintaan padamu."
Tegas Aoi padaku, matanya yang berbinar itu pasti menggambarkan keseriusannya.
"Akupun begitu."
Bersambung...