
Sisi Norio Ohoshi
*Wush!
Berkali-kali aku menghindari serangan sihir api yang dahsyat itu, untung saja aku lahir menjadi seorang demi – human ras serigala. Ini lebih lincah, jadi aku bisa cukup sering mengelak. Tapi, masalahnya bukan berarti posisiku ini unggul. Malahan keadaan sungguh berbalik meskipun aku sudah berhasil menyandera pimpinannya, Zylx sebagai tawananku.
“Apa itu? Apakah penyihir dari ras demi – human sepertimu hanya bisa menghindar?” cibir Gato sembari terus menerus mengeluarkan sihir api mematikannya.
“Yah, ini gaya bertarung campuran dari ras kami,” balasku.
“Tch, apakah ini gaya bertarungmu?” Gato meludah kemudian berhenti dari serangannya, seperti istirahat mengambil menghela nafas.
Aku mengikutinya untuk berhadapan langsung, walaupun begitu aku tetap waspada dengan serangan setelahnya.
“Wolf…Tang!”
‘Sial!’
Untung saja aku sempat mendengar suara lirih itu.
‘Sungguh, jika saja aku tidak memiliki Skill bawaan Animal essence ini, aku pasti sudah menundukkan kepalaku padanya,’ batinku sesaat jungkir balik dua kali kebelakang.
Telinga selayaknya pendengaran serigala ini sangatlah membantu, terlebih lagi peningkatan fungsi bagian penggerak lebih lincah daripada sebelumnya.
“Memang benar ya, aku yang menirukan sihirmu ini pasti tidak akan berguna jika melawan dirimu yang multitalenta,” seloroh Gato, entah itu pujian atau sindiran.
“Tapi aku heran kenapa kamu tidak menjadi petarung saja, seperti seorang yang mengalahkan kakakku,” lanjutnya.
“Jawabannya adalah ini, *Winlf Blas*t!”
Aku menjentikkan jariku untuk memanggil pusaran ledakan di bawahnya. Sebuah sihir angin yang kukembangkan dari Skill Wolf Tang dan elemental angin bawaanku.
Dampak serangan kejutan itu berhasil, meskipun tidak sepenuhnya memberikan luka padanya.
“Tch, kalau begitu, apakah kamu bisa begini!” seru Gato kali ini dia melesat kearahku.
*Ting!
‘Argh!’
Kali ini Gato menyerang menggunakan tongkat sihirnya. Senjata itu sudah berbalik penggunaannya sebagai pedang berbilah tajam, beruntungnya jari kuku sempat menepisnya.
“Ras demi-human memang merepotkan ya!” Gato menyerang kembali, dan aku hanya menghindarinya.
Dia berulang kali menebas pedangnya, dari arah kepala menuju tubuh dan merubahnya menjadi tusukan tajam. Sebaliknya, aku sekedar berpindah haluan dari serangannya tersebut. Dalam jarak ini adalah salah satu kelemahanku sebagai penyihir.
Jika ada penonton yang melihat pertarungan kami, mereka akan heran kepadaku, aku yakin. Pasalnya tubuh yang melengkapiku diriku di khususkan untuk bertarung jarak dekat, “Tapi mengapa dia tidak memanfaatkannya?” Begitulah sekiranya pendapat mereka. Aku juga yakin jika Gato pasti ingin menanyakan hal itu kepadaku.
Aku memiliki alasan, tubuhku rapuh dan aku tidak berbakat dalam hal itu. Namun dibalik tubuh lemah, aku dikaruniai sihir elemental dan juga Skill hebat yang tidak dimilki oleh demi-human ras serigala sepatutnya.
“Cih!”
‘Sekarang kesempatanku!’ batinku sesaat Gato terlalu meleset lebar untuk mengayunkan pedangnya ke arah wajah.
Kemudian, aku memanfaatkan celah tersebut untuk menciptakan ledakan sihir angin di bawah kami.
“Winlf Blast!”
Selaras dengan pemikiranku, ledakan tersebut tepat muncul diantara kami berdua. Menyebabkan kami saling terhempaskan mundur, namun lain kata untuk aku yang sudah merencanakan ini.
“Wolf Tang!”
Benar, aku sengaja mengambil resiko ini untuk membuat celah agar aku bisa menggunakan Skill ini.
*Wush!
Seranganku tersebut berhasil kulancarkan sempurna, namun aku tidak bisa melihat jelas hasilnya bagaimana. Akibat ledakan Skill Winlf Blast sebelumnya membuat ruangan ini di penuhi kabut debu, namun hatiku tetap teguh.
‘Aku yakin itu mengenainya, bagaimanapun atau sesempurna pembentukan sihir dalam kondisi ini, seharusnya dia terkena dampak,’
Akan tetapi, aku kembali merasakan sihir angin berkumpul yang sama persisnya dengan Skill Wolf Tang milikku. Kali ini ada dua, dari samping kanan dan kiri.
‘Apa itu?’
‘Dia?!’
Aku tahu jika dia menggunakan Skill - ku untuk menyerang di dalam kabut ini\, dengan itu aku menolak tubuh kebelakang. Tapi percuma\, aku kurang cekatan dalam serangan buta dan tiba-tiba seperti ini.
Jawabannya adalah sepasang kakiku yang terkena hempasan angin kuat itu, kalau saja aku menghindar menggunakan tubuh bagian atas, itu akan menjadi mimpi buruk. Tapi sama halnya saja jika tubuh penggerak terkena luka fatal.
“Sial!”
‘Tidak apa-apa karena rasa sakit menghilang, namun sudah pasti jika tulang kakiku patah,’ batinku memikirkan kembali luka di kaki, bukan termasuk pesimis kalau mengira resiko terburuk kedepannya. Alasan terbesarku adalah aku merupakan salah satu penggunanya, sudah puluhan bahkan ratusan monster maupun makhluk berakal yang kubunuh menggunakan Skill ini.
“Eehm,” suara Gato kembali muncul dibalik kabut yang perlahan mulai memudar ini.
“Apakah sekarang kamu yakin melawanku menggunakan Skill dan taktikmu yang hanya sebatas itu? Sebaiknya persiapkan nama untuk di ukir di nisan terlebih dahulu, haha! Lawak!”
Tepat berada di hadapanku yang terpuruk, wajah ekspresi meremehkan tersebut memenuhi pandangan. Gato dengan memperlakukan diriku menjadi seorang bayi, saat ini keberadaannya sudah menjadi belati tajam untuk menusuk jiwaku.
“Berterimakasihlah padaku, karena tidak langsung membunuhmu.”
“Cih, omong kosong,” cibirku.
“Tidak-tidak, bukan berarti tidak bisa, aku hanya tidak ingin,” jelas Gato singkat kemudian mengeluarkan rantai sihir dalam genggamannya.
“Aku hanya menunggu seorang yang berhasil membunuh kakakku saja, apakah kamu tahu?”
“Mana mungkin aku tahu!”
“Iya juga sih, dia berhasil mengalahkan kakakku, dia lebih kuat darimu. Dan juga, siapa yang mau berteman dengan orang lemah sepertimu?!” lanjutnya, intonasi kasar dan menunjukkan senyum lebar bersamaan dengan rantai sihir.
“Teman? Aku punya banyak, apakah aku harus memberikannya padamu?”
“Cih, aku? Teman? Tidak butuh! Dan apa yang membuatmu yakin untuk mengatakan itu adalah teman?” Di dunia ini cuma ada orang yang memanfaatkan dan dimanfaatkan tahu, apakah kamu pernah berpikir jika kamu dapat pertolongan dari orang yang kamu sebut 'teman' dalam keadaan kalah seperti ini?”
“Tidak bukan?!”
‘Apakah perkataannya itu sungguh benar….’
Aku terlalu takut untuk berpikir semakin dalam, kenyataan ini sungguh menenggelamkan diriku.
Sisi Zylx
Ruangan gelap yang di terangi oleh bola batu sihir berkilauan. Saking indahnya, bola mataku terpantulkan oleh siluetnya, sungguh menenangkan. Tapi, ada suatu hal yang lebih mengagumkan daripada itu.
“Dua orang selesai,” gumamku sambil memandangi bola sihir.
“Tak kusangka bocah serigala biru itu memiliki Skill Special yang sangat menakjubkan.”
Bola sihir tersebut menampilkan pandangan dari seluruh Clone tubuhku, aku sengaja menggunakan Skill tersebut untuk memantau seberapa jauh para tikus itu memberontak sarang kucing.
“Tinggal 3 orang lagi yah, itu,” ucapku sambil terus memutar bola sihir.
“Dapat, salah satu Clone milikku yang bersama Hino.”
Tontonan yang sungguh menarik, pertarungan sengit, apalagi dari kedua kubu itu sama persis. Mereka saling mengayunkan pedang dan memanfaatkan serangan jarak jauh miliknya. Pandangan diantaranya sungguh mengkiaskannya dengan macan melawan singa untuk menentukan siapa raja hutan sebenarnya.
“Sudah pasti Hino yang akan menang, dari pengalaman, kekuatan, dan pengetahuan sudah beda jauh darimu anak imut itu, lelaki berambut hijau dengan poni panjang.”
“Lalu…”
Setelah mengetahui pertarungan antara All Rounder, aku memutuskan untuk menengok sisanya, Yaitu Yuna.
“Tunggu, 3 orang? Jika 2 orang sudah tertangkap dan 1 lagi sibuk bertarung, lalu siapa ini?”
“Kalau begitu ada 6 bocah yang berhasil lolos, lalu sisanya?” heran, aku memijat dagu.
Aku sadar jika setiap kurungan pasti di isi oleh satu party sama, terdapat 5 orang. Akan tetapi, jika jumlah angka bukan kelipatan 5, sisanya pasti bersembunyi di suatu tempat. Masih di colloseum ini, mustahil kabur melebihi itu.
“Kalau mereka paham akan kinerja penghalang…”
Suatu celah pikiran tersebut masuk dalam otakku, dan langsung membuat diriku bergegas menuju colloseum.
Bersambung….