
“Lalu, aku punya rencana untuk mengalahkannya dengan satu serangan!”
Kegelapan yang menyelimuti panorama disini perlahan menunjukkan wujudnya, seperti yang kita tahu, “Gelap memiliki terangnya sendiri.” Sudah terbayang pada hadapanku. Kemudian terlihat sosok secarik cahaya kecil menampakkan dirinya, meredupkan kembali kepekatan saat ini.
[[Apa itu?]]
Dengan tatapan penuh keyakinan serta pasokan percaya diri di wajah Taka, ia menjelaskan apa yang akan dia rencanakan. Bagaikan kepala nahkoda sedang mengkoordinir anggotanya.
“Ini mungkin sebatas perhitunganku, jika senjataku dapat mengenai tubuhnya sedikitpun aku pasti bisa menaklukkannya!” Tega Taka mengepalkan tangan.
“Mungkinkah-.”
“Nightmare! Tidak ada cara lain.”
Tukas Mashiro membuat ucapanku terhenti seketika, membuat mereka berdua menaruh perhatian kepadaku.
Tidak ada angin, tidak ada hujan. Mikadzuki searah dengan perkataan Mashiro, entah bagaimana cara dia mengetahui itu, atau cuma perasaannya. Serentak menghadap Taka serius dan memeluknya.
“Ta – Taka! Jangan, sebaiknya jangan! Memangnya, kamu bisa mengendalikan itu? Nan-.”
“Cup, cup, sudahlah. Ini salah satunya cara, Mikadzuki percaya saja denganku, nanti kita pergi ke kota yuk setelah ini.”
Mengetahui itu, Taka langsung membalas pelukan. Mikadzuki dan mengelus – elus kepalanya untuk menghibur sosok Elf yang tersungkur sedih.
“Kemudian, bagaimana caramu untuk menggunakannya? Sedangkan, kita saja tidak tahu apa yang monster itu rencanakan.” Tanyaku penasaran dengan kelanjutan rencananya.
“Kamu, Aoi. Percayakan nyawaku dalam Skill milikmu. Soal armor ditubuhnya, biar Mikadzuki mengurusnya, iya kan?”
Jawab Taka atas pertanyaanku kemudian melanjutkan pergerakan tangannya di sekujur rambut Mikadzuki sambil tersenyum manis kepadanya.
“He’em, tapi ini mungkin yang terakhir…. Tersisa 27, aku bisa menggunakannya sekali sebelum tubuhku mind down.” Terima Mikadzuki menganggukkan kepalanya yang berada dalam pelukan Taka.
“Tapi, dengan kekuatan sihir sebesar itu. Apa tidak menarik perhatiannya?” Tanya Mashiro masih sepenuhnya belum yakin dengan rencana Taka.
'Ah iya, dipikir secara logika juga sepertinya akan begitu, walaupun tidak bisa melihat, dia masih bisa merasakan energi yang kuat itu.' Pikirku dalam hati sembari memegang dahi terheran bisu.
Taka menyadarinya dan mulai menanyakan apa yang membuatku melakukan hal tersebut.
“Kenapa Aoi? Kamu masih bingung dengan rencana yang kujelaskan tadi ya?”
“Ah, tidak. Aku hanya bertanya tanya, apakah dengan Crescent Moonlight yang menyimpan sihir sebesar itu tidak akan menarik perhatian Monster?”
“Karena itulah aku dibutuhkan! Aku ada untuk mengalihkan perhatiannya, sama seperti yang kita lakukan sebelumnya, kali ini kamu yang memanduku untuk menghindari serangannya.”
Jawab Taka dengan antusias dalam setiap katanya. Mengulurkan tangan kanannya kepadaku bermaksud untuk menjalin kerja sama.
“Ya!” Balasku menerima ajakannya, saling menggenggam tangan mengikat kembali rasa kepercayaan antara kita berdua.
Secarik cahaya kecil di kenal sebelumnya, kini sudah menjadi kobaran api penuh semangat, membakar dan juga mengalahkan kegelapan nan kian abadi.
“Memanfaatkan semua Skill semua orang disini ya, pemikiran bagus! Ksatria tanpa lisensi!” Sahut Mashiro terpukau dengan rencana Taka.
3 remaja SMA yang berjuang mati matian untuk menghitung seberapa besar harga hidupnya menggunakan seluruh kemampuannya, Taka sebagai inti dari rencana ini dengan "Nightmare" adalah senjata terakhirnya.
Diikuti oleh "Crescent Moonlight" Mikadzuki yang siap menghancurkan apapun, dan Aku, bersama Skill " Escalation" serta Mashiro untuk mengontrol semuanya. Siap melawan penuh kekuatan Bearrock Golem tersebut.
“Yosh! Mari kita hancurkan bedebah batu hidup itu!”
Teriak antusias Taka, berdiri tegap merenggangkan kedua tangannya kesana kemari.
Seperti yang telah direncanakan oleh Taka, kami mengatur masing – masing posisi sesuai arahannya. Tentu saja tanpa mengambil resiko percuma, dengan cara melewati pepohonan sebagai jalan penyelamat dari tanah neraka ciptaan monster boss itu.
Aku berada di tengah semacam alat pengemudi bagi mereka berdua, sedangkan Mikadzuki di belakang menyiapkan seluruh ergonnya untuk menciptakan "Crescent moonlight" sebagai penghancur kiamat ringan ini. Sebaliknya, Taka dengan berbekal kepercayaan diri serta kemampuan bertarungnya menjadi prajurit utama di bagian depan.
Mikadzuki menundukkan kepalanya, paras wajah anggunnya tertupi oleh bayangan yang diciptakan oleh tudung nan menutupi kepala hingga badannya. Memulai mengancang – ancang dirinya dengan merapalkan rapalannya, kali ini lebih keras sehingga seluruh kehidupan di lantai ini dapat mendengarnya.
“Di langit dan hutan yang dalam ini, wahai jutaan bintang yang menyebar di bentangan langit malam…..”
“Ayo Aoi! Persiapkan dirimu!” Sahut Taka meluncur dari atas pohon mendekat kearah Monster itu, memancing perhatiannya.
“….dengarkanlah lantangan suara rendahku dalam karunia angin abadi, dan limpahkanlah kasih sayangmu pada orang orang yang telah melupakanmu….”
Mendengar arahan Taka, aku segera memusatkan pikiranku. Berduel pikiran lagi dengan Monster tersebut. Karena hal ini sering kulakukan, tidak di butuhkan waktu lama aku sudah bisa menguasai tahap pertama tanpa gangguan sedikitpun, yaitu bagaimana caraku agar menangkap lawanku dalam ruangan putih dan hampa ini.
“Aoi!?”
“Itu, aku mendengarnya. Suara Taka! Walaupun dia tidak ada disini, cukup mendengar suaranya tidak masalah!” Gumamku.
“Ternyata begini bentuk tubuh sosok makhluk pengecut yang menimbun dirinya.” Celetuk Mashiro mengamati Monster itu, dia berbagi pandangan dengan diriku, karenanya dapat dengan jelas baginya ruang hampa ciptaanku ini.
“….. datanglah wahai siliran angin, Antarkan pengembara melintasi rimba dan cakrawala….” Mikadzuki masih fokus mengucapkan rapalannya, kali ini sorot matanya bercahaya seperti di lantai sebelumnya, aliran cahaya juga menghiasi setiap sisi tubuhnya.
“Taka! Hindari depanmu, arah jam 2!” Teriakku melihat sebatang rudal hidup yang menyerang dari bawah tanah dan mengincar dirinya.
Kegesitan tubuh Taka lagi lagi mendukung dirinya, menghindari serangan itu dan tetap berlari mengitari monster tersebut untuk mengulur waktu.
“….Bersama denganmu, cahaya bulan sabit. Tuntunlah aku dan berikanlah tubuh kecil ini kekuatan yang maha dahsyat, Crescent Moonlight!” Rapalan yang telah diucapkan oleh Mikadzuki terdengar kepada dewanya, Bulan sabit muncul diatasnya bagaikan roh suci pengawal.
“Sebentar, tahan!” Tukas Taka kewalahan menghadapi tubuh besar Bearrock golem tersebut, sepertinya dia sedang mengukur jarak serang serta keefektifan menggunakan kedua bilahnya untuk digabung dengan “Nightmare” sebagai senjata terakhir.
“Awas Taka! Bawahmu!”
“Sial-.”
Serangan dari dua arah, pukulan tangan raksasa serta ancaman dari bawah pijakannya menyebabkan kehilangan konsentrasi yang ia pikul.
Namun, pengalaman bertarungnya sudah melebihi kata “cukup” membuatnya selamat dari ujung tanduk. Pemikiran cepat serta keyakinan untuk memilih keputusan, menggerakkannya agar tidak pernah menyerah di segala kondisi, berguling kebelakang adalah pilihan yang bijak.
“Tidak, Atasnya!” Potong Mashiro melihat kepalan tangan monster itu siap ******* tubuh Taka dengan hempasan kuatnya.
“Ah Atasmu!”
Taka langsung menengok keatas, tahu akan serangan telak itu dia tidak mengambil langkah besar. Namun hanya bergeser sedikit kesamping untuk mengelaknya serta memberikan dua tebasan kecil tepat di pergelangan tangan itu.
“Ini lebih dari perhitungan kita! Satu Crescent Moonlight tidak cukup untuk menembus armornya!” Teriak Taka mengambil jarak serang dari monster itu, sedikit mengatur kembali pernafasannya.
“Lebih dari perhitungan, maksudnya?” Gumamku heran dengan ucapan Taka.
“Aku sudah menduga ini, dia adalah creature mob biasa yang dijadikan boss di sini, jadi tidak kaget jika ada kelebihan fisik maupun kekuatan.” Sahut Mashiro.
Walaupun tahu akan ketebalan armor monster tersebut, Taka sama sekali tidak berhenti untuk menyerang maju. Bahkan kecepatan serang Spike rock telah terlampaui oleh kegesitan larinya. Baginya, saat ini serangan mematikan itu adalah bayangan yang selalu mengikuti di belakangnya.
“Bergemalah, Senandung Bulan, panggillah, Tsukuyomi. Sang penguasa waktu malam, wahai dewa bulan, lahaplah segalanya dengan anugrahmu dan kabulkanlah segala harapan! Tumbuhlah menjadi besar!”
Mikadzuki sedari tadi terdiam mematung kembali merapalkan sihirnya, kali ini tudung yang menutupinya terbuka lebar memperlihatkan gemulai wajahnya bersinar menyaingi terangnya Crescent Moolight ciptaannya.
“Itukan-.”
“Berkahilah wadah itu dengan kekuatan, menara berkah untuk menara harapan, hingga tiba waktunya lonceng berdentang, kupanggil engkau akan kejayaan dan ilusimu. Tumbuhlah menjadi besar!”
Gemerlap Crescent Moonlight membesar seiring dia mengucapkan rapalan tersebut, kini cahayanya dapat menyinari seluruh luasnya lantai ini, mengalahkan warna darah dari langit langit ini, semua pandangan teralih pada benda angkasa ciptaannya itu. Pergerakan monster itu juga terhenti karena wibawa cahaya bulan sabit.
“Dasar Mikadzuki, kamu berhasil menyambungnya ya.” Ucap Taka lirih.
“Cahaya keemasan yang diberikan oleh dewa, kepada tubuh ini yang telah meraup berkah dewa. Hempaskanlah palu keadilan, semoga engkau dikaruniai. Tumbuhlah menjadi besar! Uchide no Kazuchi! Menarilah!” Pungkasnya.
Replika bulan sabit buatan sekarang sudah menjadi bulan sabit seutuhnya, setelah merapalkan sihir tersebut. Ukurannya kini empat kali lipat lebih besar dari ukuran sebelumnya. Benang benang cahaya juga bergerak kesana kemari menghiasinya bak cipratan sinar matahari.
“Tidak kusangka rumor sihir palu ajaib itu nyata, dan dia adalah satu dari lima penggunanya.” Jelas Mashiro, matanya berbinar binar melihat keindahan bulan sabit.
“Ayo! Mikadzuki!” Teriak Taka dari kejauhan.
“Menarilah! Luminous Wind!”
Seketika bulan sabit besar itu pecah berkeping keping, pecahannya tetap melayang. Namun berbalik dengan kenyataan, ternyata keping keping batu bulan yang bersinar itu terlihat indah seakan bintang bintang bertebaran luas di atas kami. Disisi keindahannya, satu persatu dari kepingan itu melaju ke arah monster itu.
*Duarr!
Sebiji batu bulan yang bersinaran bertemu dengan armor batu milik Bearrock golem tersebut menciptakan ledakan amat luar biasa, mengupas armor dikulitnya. Dilanjut beberapa kepingan lainnya mengikuti serangan pertama. Seakan hujan meteor terpusat kepadanya.
Tidak dibutuhkan waktu lama untuk menghabiskan semua pecahan bulan menjadi bom hidup kepada boss di lantai ini, asap bekas ledakan menutupi semuanya, dampaknya tidak bisa diperhitungkan oleh akal sehat manusia.
“Hyahhhhh!” Teriak seorang lelaki tanpa ragu menerjang gemersang asap, mengenggam kedua belati dengan erat di tangannya dan siap meluncurkan serangan kuat dibalik usahanya.
*Jleb – Slaark
Belati tajam nan lancip itu menusuk telak bagian tubuh dari monster, saking kuat terjangannya, belati itu masuk hingga batang pegangannya. Kemudian muncul serabutan besi dari dalam tubuhnya, tentunya itu berasal dari pedang yang tertancap masuk di badannya kemudian tumbuh bercabang dan menusuk seluruh organ dalam badan monster.
“Ber – berhasil.” Ucap Mikadzuki lemas diikuti tubuhnya yang tidak memiliki tenaga untuk menyokong berat badannya, terjatuh tersungkur di dahan pohon.
“Mi – Mikadzuki!?” Teriakku terkejut dan menghampirinya.
“Setelah menggunakan dua sihir tingkat khusus secara bersamaan, pasti ini adalah Mind Down.” Sahut Mashiro melihat kondisi Mikadzuki yang terkapar lemas.
“Mind Down?” Gumamku terheran heran akan istilah itu.
Di sisi lain, aku sadar jika Taka masih di dalam kabut asap ini. Tak lama, asap yang menutupi seluruh pandangan ini mulai memudar.
Aku bisa melihat sosok pahlawan dalam peperangan ini, Hoshizora Taka namanya. Tangan yang masih menempel di tubuh monster tersebut, nafas terengah engah sampai menggambarkan pergerakan denyut tidak wajar ditubuhnya, serta tubuh yang dimandikan kucuran darah.
Entah bekas darah dari tubuh monster atau dari dirinya. Tubuhnya juga terkena dampak dari serangan brutal tersebut, berupa beberapa tusukan ringan bekas dari akar besi nan tumbuh tanpa dapat dikontrol.
“Ta – Taka!?” Teriakku histeris melihat kondisinya berlumuran darah.
Logikannya dia dapat mendengar teriakanku, tetapi dia diam saja. Mengisyaratkan tangannya dengan menunjukkan telapak tangan kearahku sebagai kode untuk memberhentikanku agar tidak mendekatinya.
“…”
Sejurus, dia menampar pipinya beberapa kali dengan keras, suaranya sangat nyaring di dengar.
Melihat hal tersebut, aku teringat dimana saat dia menjadi “bukan dirinya” sebelumnya. Di hari mana kala dia melawan pria misterius itu. Dan aku yakin, kali ini dia akan tersadarkan dari semua ini.
“Ah, maaf membuat mu khawatir.” Katanya dengan nada lemas menghampiriku.
“I – iya, terimakasih Taka.” Balasku, aku tidak mau menanyakan bagaimana kondisinya. Mau dilihat dari manapun babak belur serta luka itu tidak bisa membuatnya mengucapkan “Tidak apa apa.”
“Mikadzuki?” Tanyanya melihat sekitar dan sempat sekujur tubuhku namun sepertinya dia lebih khawatir akan tunangannya.
“Eh, dia disana, mungkin pingsan atau mind down.” Balasku menunjuk kearah pohon besar dengan nada gagap tidak tahu sebab Mikadzuki terbaring lemas.
“Syukurlah dia tidak apa apa, yang terpenting kita harus memanfaatkan waktu istirahat ini untuk sela-.”
Bruk*
Belum menyelesaikan ucapannya, Taka sudah tidak kuasa menahan tubuhnya untuk berbaring. Melepas semua kepenatannya setelah mengerahkan seluruh kekuatan serta pengalaman yang dia miliki selama ini. Sepertinya role “Hero” miliknya benar benar cocok bagi Taka untuk mengemban tanggung jawab tersebut.
“Tu – tunggu, Taka?” Aku dibuat heran berkali kali olehnya, tidak ada yang bisa kulakukan. Saat ini aku harus mengikuti ucapannya, istirahat adalah hal paling penting saat ini.
“Jika mengalahkan Boss ini bukan penyelesaian, lalu hal buruk apalagi yang menanti kita?” Gumamku sambil memejamkan mata tuk beristirahat.
“Peleburan, tempat dimana hidup dan matimu dipertaruhkan ada disana. Itu adalah akhir dari dungeon ini.” Terdengar jelas suara Mashiro yang ada disebelahku, aku mencoba untuk tenang apapun yang terjadi dan menyelesaikan semua ini bersama sama.
Bersambung…..