The World Of Game Systems

The World Of Game Systems
Chapter 31 - Tidak, Aku Benar - Benar Terkena Kutukan Sekarang



Sisi Ali Syafiqi


"Selamatkan aku, juga duniaku!"


Lugas namun tegas, perkataan nan permintaan yang di ucapkan langsung kepadaku. Bersamaan tubuh tanpa tumpuan pasti, Mashiro memohon hingga merendahkan dirinya tepat dihadapan kakiku.


Dilihat darimanapun juga, aku sudah tidak punya harapan melawan pimpinan sekte keadilan itu sebelumnya. Nasibpun sudah menjawab benar semua perjuanganku, entah apa maunya sekarang.


"Ma - Mashiro?"


Sembari menurunkan tubuh rapuhku untuk sejajar dengan posisinya sekarang, aku dapat melihat seluruh raut wajah penuh penyesalan itu. Meskipun bukan psikolog atau seorang mentor, aku tahu pasti seberapa seriusnya dia waktu mengatakan sepatah kata yang dapat dianggap "remeh" itu.


Aku memegangi kedua pundak lemasnya, sebenarnya perasaan ini ingin mengutarakan permintaanku terlebih dahulu, Namun sesaat melihatnya terhenyak, aku mengurungkannya.


"Iya, aku ingin membantumu. Namun sebenarnya aku sudah kalah melawan Zylx, pimpinan sekte keadilan itu." Ungkapku secuil fakta dari ingatanku sebelumnya.


"Tidak!"


Tolak Mashiro menggelengkan kepalanya, rambut hitam yang menghiasi parasnya tersebut seketika berbalik. Seolah menjadi rumput bergoyang tuk menutupi gemburnya tanah pada pijakan.


"Aku tahu, ini salahku. Aku begitu ceroboh hingga berduel tanpa sepengetahuan mu."


"Tidak!"


Tidak ada perubahan membaik dalam kelakuannya, akan tetapi semakin mengeruh. Suara tangisannya itu benar benar memberikan suasana larut dalam penyesalan.


"Maaf, aku mengingkari janji yang telah kita buat."


Ucapku lirih, tidak ada yang ingin menunjukkan rasa bangga dari setiap kesalahan. Begiitu pula denganku, ikut tergenang dalam penyesalannya karena tidak dapat memenuhi janji.


"Tidak! Tidak! Tidak!"


Teriakan Mashiro bertahap mengeras hingga setiap sudut ruangan apartemen kosong ini bisa mendengarnya, disertai tangisan setelah kata penolakan tersebut.


"Aoi, kamu sama sekali tidak salah. Tindakanmu adalah sosok pahlawan bagiku, bukan berarti seluruh kerja kerasmu itu sia sia. Mana mungkin aku bisa menerima permintaan maaf darimu, seharusnya aku yang berhak mengatakan itu."


Terang Mashiro, isak tangisnya ditahan penuh oleh setiap kata yang diutarakan.


"..."


Aku terdiam bisu, tak dapat lagi berkata lebih. Apa yang dia maksud saja tidak kupahami. Mengingkari janji adalah seorang pahlawan? Jika benar, duniapun musti menolak keberadaannya.


"Iya, aku sungguh meminta maaf dari lubuk hatiku. Akulah yang membuatmu seperti ini, kemudian mengingkari ucapanku sebelumnya."


"Tapi-"


"Tidak Aoi, alasan aku tidak muncul sebagai bukti kontrak kita karena tertangkapnya aku oleh Zylx. Sejak saat itulah sekte keadilan mulai menjalankan aksinya."


Mashiro menjelaskan singkat sebab tidak ada kemunculannya 1 bulan terakhir, tepat saat aku berada dalam kamp pelatihan.


"Tertangkap?"


"Iya...."


Setelah itu Mashiro menjelaskan seluruh kejadian detailnya, dimana saat dia tertangkap hingga bisa kembali berhasil menghubungkan kembali *Skill kontrak* denganku.


"Jadi maksudmu "aku" disana masih hidup?"


Tanyaku otomatis ketika Mashiro menyelesaikan perkataan bak dongeng itu.


"Benar, kedua tubuh kita sekarang di kurung dalam kurungan sihir yang dibuat khusus oleh Zylx."


Ujarnya, posisi duduk mencondong tersebut menggambarkan seberapa serius perkataannya.


"Kurungan sihir? Apakah itu sama seperti Taka dan lainnya?"


Aku terselip ingatan dimana teman - temanku lainnya dijebak dan tengah terkurung.


"Tunggu, teman temanmu juga?"


"Iya, karena waktu itu..."


Kini giliranku untuk menceritakan kejadian yang menyebabkan pertemuan kami, setiap detik dimana bawahan Zylx menjebak partisipan Party Star. Dan hanya seorang dirilah aku melawannya hingga berduel satu lawan dengan Zylx.


"Tsukasa - dono dibunuh?!' Sahut Mashiro, matanya yang membulat selaras pada pandangan terkejut kepadaku.


"Iya, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Di depan para penonton, dan juga para pengawalnya yang seketika berubah menjadi serdadu sekte keadilan. Oh ya mereka memasang penghalang juga." Jelasku kembali, mungkin aku sedikit lupa untuk menceritakan bagian itu padanya.


"Penghalang juga ya, meskipun Taka dan lainnya bisa bebas dari kurungan sihir itu. Tapi mustahil bagi mereka untuk melewati penghalang kecuali anggota sekte keadilan sendiri."


"Kenapa?"


Mashiro perlahan menghela nafas besar, sepertinya penjelasannya akan panjang.


"Berbeda seperti kurungan yang diciptakan Zylx ditempat kita berdua, kurungan khusus untuk mereka itu berbanding terbalik. Seorang di dalamnya tidak dapat menggunakan sihir, bahkan indikator Ergon hilang."


"Lalu bagaimana cara lepas atau menghancurkan kurungan sihir itu?" Tanyaku, mungkin jawaban dari pertanyaan ini bisa menjadikan rencana berikutnya.


"Ada dua cara, meminta pemanggil kurungan untuk melepaskannya. Tapi cara itu 100% tidak akan berhasil."


"Lalu?"


Dia menaruh pandangan berat padaku, seraya mengatakan, "Kurungan bisa dilahap oleh kurungan yang lebih kuat lain."


Sisi Hoshizora Taka


"Iya itulah satu satunya cara agar bisa keluar dari sini."


Aku menyelesaikan penjelasan tentang bagaimana cara lepas, sebelumnya pertanyaan ini dilontarkan oleh Yogairu karena kesal.


"Dibilangi, mana mungkin peserta lomba besar seperti ini ada di dalam ruang tunggu konyol seperti ini."


Meskipun aku telah menjawab rasa amarahnya, namun sedikitpun tidak ada penurunan. Bahkan dia masih menyesal dan menyalahkan kami atas terjebaknya disini.


Mafal yang ada di kurungan sebelah juga mendengar penjelasanku, sedang sibuk memegangi dagunya, entah berfikir keras mencerna penjabaranku sebelumnya atau dia merencanakan sesuatu.


"Taka, katamu bisa dikalahkan oleh kurungan lain yang lebih kuat? omong kosong macam apa itu, bahkan disini kita tidak bisa menggunakan Ergon." Sangkal Mafal menggundahkan pandangannya padaku.


"Benar itu Taka - niisan."


Sahut Azuzi menyetujui fakta yang dikatakan lelaki selaku musuhku di pertandingan selepas ini. Akan tetapi sekarang bukan waktunya untuk menganggap dia adalah musuh jika nasibpun sama seolah anak kembar.


Aku memberi jeda tuk melanjutkan penjelasanku selanjutnya, jika saja salah satu dari mereka tahu seberapa efektifnya menggunakan Skill tanpa Ergon, ini akan lebih mudah diterima perkataanku. Namun sayangnya, kebanyak berlatih membuat otak mereka sangat tumpul.


"Walaupun Ergon tidak ada, bukannya kita masih bisa menggunakan Skill Skill bawaan? Seperti Skill Default atau tidak passive?"


Tuturku singkat, seharusnya mereka paham dengan secuil perkataan itu.


Orang di depanku, Yogairu. Memang benar benar orang idiot, kemudian berkata "Hah?! Sekarang kamu beralasan bisa menggunakan Skill tanpa Ergon sedikitpun?! Yang benar saja!"


Teriakannya sangat mencerminkan isi otak yang kosong, pepatah "Tong kosong nyaring bunyinya." Mungkin salah seorang pencipta kalimat itu terinspirasi darinya.


Apakah memang aku harus menjelaskannya secara detail? Ini sangat merepotkan.


"Mungkin perkataan Ta - kyun itu benar, meskipun tidak ada bar Ergon tapi masih ada Skill." Celetuk Asteria, untung saja gadis selalu adikku itu sedikit menerima perkataanku.


"Benar tapi kita tidak tahu bagaimana dampak pada tubuh." Mafal mulai mengikuti Asteria, syukurlah.


'Baiklah... '


"Hap - Hap."


Aku melontarkan sepasang pukulan Hien, meskipun lambat tapi sudah cukup sebagai bukti nyata penggunaan Skill tanpa Ergon.


"Lihatka-."


Deg...


'A - argh!'


Tepat setelah aku memberikan contoh untuk mereka, sebuah lonjakan besar melayang tepat dalam jantungku. Seolah organ tersebut menerima gelombang besar dari pasokan darah, tak ada luka namun sangat sakit.


Detik berikutnya, aku mendengar tepukan tangan berirama, samar lalu menguat secara bertahap.


*Prok - Prok - Prok


"Tak kusangka engkau telah memiliki teknik legendaris itu."


Suara seorang gadis, diiringi tepukan tersebut. Berbeda dengan intonasi lembut Asteria maupun Azuzi, kesannya seolah meremehkanku.


Aku memaksakan diriku untuk mengetahui sumber suara itu, benar saja dia adalah sosok bawahan sekte keadilan.


'Suara...gadis?'


"Sepertinya kamu paham akan konsep dari kurungan ini."


Bersambung...