The World Of Game Systems

The World Of Game Systems
Chapter 43 - Dua Pertemuan yang Berbeda



Sisi Aoi Syafiqi


“Tak kusangka bakal sebesar ini jika berada di dekatnya.”


Aku dan Mashiro sudah sampai di tujuan utama, garis start kita, memasuki penghalang besar nan kokoh. Keberadaannya saja mengharuskanku untuk menengadahkan wajah jika ingin memandangi seberapa luasnya penghalang ciptaan puluhan orang ini, seolah benda bercahaya siluet ungun tenang itu hendak mengelabui bola mata kami.


“Meskipun ukurannya saja besar, bahkan lapisannya juga memumpuni,” sahut Mashiro sambil meraba sedikit menggunakan jari – jemari.


“Jadi Mashiro, apakah kita bisa memasukinya?”


“Bisa kok, jangan khawatirkan itu. Sebagus – bagus ciptaan makhluk tidak akan sempurna jika dibandingkan dengan sang pencipta,” balas Mashiro tenang.


“Lalu, apa ada celah atau kekurangan dari penghalang sihir ini?”


Mashiro menganggukkan kepalanya sekali, ekspresi tersenyum aneh itu membuatku berpikir yang tidak – tidak.


“Tu – tunggu Mashiro, apakah kamu akan menghancurkannya?” reflek mulutku mengatakannya.


Sesaat, raut muka Mashiro berubah datar ketika hendak menimbali perkataanku.


“Apa sih yang kamu pikirkan Aoi? Kamu kira aku seorang yang suka menghancurkan segalanya begitu?”


“Ah tidak tidak.”


“Lagian aku juga punya pemikiran normal, kalau kuhancurkan penghalangnya mereka akan terpancing dan bakal kearah kita. Apakah kamu mau menghajar kerumunan itu?”


“Iya, benar. Apakah kita akan menggunakan Skill Teleportasi atau semacamnya untuk masuk?” tanyaku sekali lagi, mengingat ketika kami berdua kabur dari kurungan menggunakan Skill Orifiece Herm.


“Tidak ada cara begituan jika menghadapi penghalang, sebanyak apapun jenis penghalang, pasti memilki anti – teleportasi didalamnya. Baik itu sihir, pasif, maupun Skill,” jelas Mashiro singkat, kemudian berjongkok dan meraba dataran.


“Apa yang kamu lakukan?”


“Zylx benar benar bodoh ketika menggunakan sihir penghalang,” celetuk Mashiro, entah apakah itu jawaban dari pertanyaanku atau ia berbicara dengan dirinya sendiri.


“Penghalang ini hanya setengah saja, memang benar ini cukup luas dan tebal. Tapi mereka menggunakannya hanya untuk langit langit saja, bukan termasuk alasnya,” sambungnya kemudian bangkit.


“Maksudmu, penghalang sihir ini tidak sepenuhnya bola, tapi hanya setengah saja?”


“Itu benar, daripada repot – repot menghancurkan penghalang tebal ini, lebih baik kita lewat dalam tanah,” usul Mashiro.


“Baiklah, jadi sekarang kita harus menggali ini atau apakah Mashiro memiliki Skill yang setidaknya mendukung untuk melakukannya?”


“Kalau itu, aku tidak punya. Aku tidak terlalu mementingkan sihir tanah, meskipun menggunakan sihir penghancur, bekas lubang akan terlalu bahaya jika di masuki,” terang Mashiro, dengan jawabannya tersebut, sudah memberitahukan otak kami untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan.


“Ternyata harus pakai cara manual ya,” ujarku sambil mengambil beberapa batu dan mulai menggali perlahan.


*Doar!


Namun, waktu permukaan batu menyentuh tanah, terdengar ledakan besar bersamaan dengannya.


“A – apa itu?” lirihku terbata – bata, saking paniknya jika itu karena ulahku.


“Seharusnya aku yang bertanya padamu tau,” seloroh Mashiro.


“Bukan – bukan, itu seperti suara ledakan besar, apakah ada sesuatu yang terjadi di dalam?”


“Tentunya itu mustahil, penghalang ini memungkinkan untuk meredam suara dari dalam,”


“Lalu apa?”


“Sepertinya ada seseorang yang memaksakan dirinya untuk masuk, sama halnya dengan kita,” pungkas Mashiro, pandangan waspada terhadap sekitar.


“Apakah dia akan berniat menghancurkan penghalang ini?”


“Entahlah,”


“Kalau begitu lebih baik kita cari dia, siapa tau dia bisa diajak kerja sama,” usulku, sejujurnya aku juga tidak mau repot – repot menggali lubang jika bisa menghancurkan gumpalan sihir ini.


“Hmm, kalau kamu segitunya mencari siapa pelakunya. Dia ada di seberangmu loh,” ujar Mashiro dengan ekspresi datar yang menyebalkan sembari menunjuk kearah orang disebelahku, jaraknya cukup jauh tapi aku masih bisa melihat sosoknya.


“Eh?”


Aku terkejut dengan rupanya.


“Siapa? Aoi mengenalnya?”


“Jas itu, dia Nathan – sensei bukan?”


Aku yakin sekali itu, dia memakai jas yang dikenakan waktu menjadi guru pembimbing, jas pengajar West Dranitte Academy.


“Natnat?”


Tanpa basa basi lagi, aku memusatkan suaraku menggunakan kedua telapak tangan dimulut seraya berteriak memanggilnya, “Halo! Kamu Nathan – sensei kah?!”


Dia menelengkan kepalanya sejenak, kemudian membalas panggilanku tersebut dengan berteriak, “Benar kok!”


“Apa yang sensei lakukan?!”


“Gabut!” balasnya dengan nada yang disama – samakan dengan, nada suaraku.


“Ha?”


“Duh, apasih yang kalian lakukan itu, tinggal menghampirinyakan selesai,” pungkas Mashiro kemudian pergi menghampiri Nathan – sensei.


“Tu – tunggu Mashiro.”


*****


“Walah, Aoi toh,” sapa Nathan – sensei pada kami yang menghampirinya.


‘Walah? Kenapa orang ini begitu santainya?’ heranku dalam hati.


“Kamukan-”


“Halo Natnat, lama tidak bertemu,” sahut Mashiro menyeringai.


“Ma – Mashiro – seishou? Beneran nih?!”


Reaksi dari Nathan – sensei yang tidak terduga muncul bersamaan menyadari adanya Mashiro, mungkin mereka berdua memiliki hubungan tertenu. Itu terlihat dari panggilan Nathan – sensei sesaat memanggil Mashiro dengan imbuhan “seishou”.


“Lalu kalau bukan beneran ini apa? Mimpi?”


‘Benar ini mimpi…’ batinku menyahuti perkataan Mashiro.


Sedetik setelahnya, Mashiro melirikku dengan tatapan sinis disambi berkata dalam hatinya, ‘Berisik, apa sih kamu ini.”


“…”


Aku hanya terdiam mematung dan menelan air liurku.


“Ah, kalau itu. Aku ada urusan sedikit yang sedikit lama,” nyinyir Mashiro mengalihkan sorot matanya.


‘Adalah bohong,’ batinku kembali.


‘Berbicara lagi kuberi hukuman berat untukmu,’ tidak luput Mashiro menjawab ucapanku itu diikuti mata sinisnya.


“Begitu ya, syukurlah kalau Seishou bisa datang kemari,”


“Ya, yang terpenting sekarang. Apakah kamu tahu apa ini Natnat?”


“Aku tidak tahu jelasnya, namun ada pertandingan Party Star disini dan-, Hah? Aoi?! Ka – kamu tidak ikut Party Star?!”


'Aku yang seharusnya mengatakan itu, bukannya Sensei yang tidak hadir?'


Belum sempat Nathan – sensei menyelesaikan penjelasannya, sesaat dia menyadari adanya Party Star dan aku disini intonasi bicaranya sungguh berbeda.


“Aku paham itu, Aoi sudah menceritakan semuanya. Singkatnya ini ulah Zylx, sekte keadilan,” tegas Mashiro.


“Ya, aku memang merasakannya,” timpal Nathan – sensei.


Dalam keadaan ini, posisiku benar benar terkucilkan. Diantara kedua master ini, aku adalah warrior sebenarnya, jadi mau tidak mau aku harus membantu mereka, setidaknya tidak menjadi beban.


“Kalau begitu, bagaimana kalau kita masuk saja,” ucap Mashiro.


“Tentu saja Seishou, aku selalu mengikutimu.”


“Permisi… apakah kita akan menggali lubang lagi?” tanyaku memecah perbincangan serius diantaranya.


“Menggali?”


“Iya, Mashiro bilang kalau penghalang ini bisa ditembus lewat dalam tanah,” terangku.


“Jangan bilang kalau ledakan tadi adalah niatmu untuk membobol ini?” celetuk Mashiro kepada Nathan – sensei.


Dengan polosnya, Nathan - sensei cuma mengangguk santai.


“Ah, biarlah. Lagian Natnat itu selalu ceroboh, kalau begitu, mari kita gunakan Skill Penghancur milikmu Natnat,” sambung Mashiro sembarimenghela nafas.


‘Penghancur?’


“Bersiaplah!”


Sisi Norio Ohoshi


Sudah cukup banyak mayat dihadapan kami berdua, jika saja di tumpuk mungkin bisa menjadi piramida. Apapun itu, sepertinya disini sudah nampak sepi.


“Oi, Ketua,” suara kasar dari jauh itu, siapa lagi kalau bukan si Giant, Ken.


“Ada apa Ken? Apakah disini sudah tidak ada lagi musuh?”


“Kenapa ketua menanyakan hal itu padaku? Bukannya yang diberikan *Skill*Detector itu ketua?” balas Ken, kemudian menghampiriku.


‘Oh iya, aku hampir lupa,’


Dengan itu aku memejamkan mata dan memfokuskan pikiranku, menggunakan *Skill Detect*or milik Syu seolah melihat langsung peta disertai pasukan musuh disana.


‘Sepertinya efek Skill penyaluran sudah mau luntur ya?’ batinku, berbeda juga dari sebelumnya yang bisa menampakkan langsung sosok musuh dengan jelas.


“Ada dua musuh lagi, Ken bersiaplah,” ujarku memperingati Ken.


“Dari lorong sana, aku tidak tahu lebih lanjutnya,” sambungku menujuk kearah lorong yang disamarkan oleh kabut debu.


“Tidak masalah, palingan tidak ada bedanya dengan sampah lainnya,”


Bersamaan kalimat itu diucapkan, tanpa arahanku, Ken langsung maju.


Namun,


*Blark!


Belum sempat aku mengucapkan sepatah kata kepadanya, aku mendengar suara ledakan sihir yang tidak memungkinkan bagi seorang Giant seperti Ken menggunakannya. Diikuti tubuh Ken terlontar keluar dari lorong tersebut tepat setelah ledakan.


“Ken?!”


“Tch, si – sial,” rintih Ken kemudian bangkit kembali.


‘Kali ini siapa? Dari sebanyak ini anak buah sekte keadilan, tidak ada yang mampu memberikan sihir sedahsyat itu,’ gumamku dalam hati, sempat melihat kearah para mayat.


Tidak menunggu waktu, dua orang perlahan menampakkan bayangannya dari lorong.


*Prok – Prok


Diikuti tepuk tangan beberapa kali, wujudnya kini terpampang jelas. Satu orang bertudung sama halnya dengan bawahan lainnya, satu lagi lelaki berambut putih, Zylx.


“Zylx?!”


“Hebat sekali ya, bisa menghabiskan hampir seperempat pasukanku ini hanya dengan dua bocah sepertimu,” ucap Zylx.


“Wolf Tang!”


Tanpa membalas kalimatnya itu, aku memberikannya Skill Wolf Tang. Cengkraman sang angin berbentuk udara yang siap melahap keduanya.


*Wush…


Tapi dengan mudahnya, seorang disamping Zylx menyerap Skill tersebut bermodalkan tangan menjulur kedepan.


‘Serius?!’


“Sialan kau!”


Setelah aku melancarkan serangan yang digagalkan, Ken mengeluarkan kemampuannya dan maju untuk kedua kalinya.


“Wolf…Tang.”


Degh.


Bawahan bertudung tersebut menirukan rapaln Skill - ku beserta dampaknya\, Ken berhasil jatuh sebelum sempat berada di hadapannya.


‘Meniru, Skill - ku?’


“Sepertinya sudah cukup ya untuk memberikan salam hangat,” tandasZylx melihat Ken tersungkur.


“Gato, giliranmu sekarang.”


Bersambung….