
Sisi Norio Ohoshi
Pertarungan adil jika dilihat oleh mata telanjang saja, namun orang yang mengerti seberapa jauh pengalaman dan pembelajaran akan mengerti betapa menyimpangnya kondisi ini. Sayang sekali pemahaman itu semua tidak berarti ketika sihir, pedang, perisai, bahkan darah sudah menjadi tontonan semata kami.
“Kenapa? Apakah setelah kamu melihat sihirmu sendiri melukai rekanmu, kamu menjadi takut?”
Seorang musuh yang sekiranya mirip seperti diriku, yaitu seorang pengguna sihir bertanya kepadaku. Sosok berjubah hitam misterius, selalu membuatku bertanya – tanya, siapa dia? Apa maunya? Dan Apa tujuannya?
“Ketua,” lirih Ken, tubuh besarnya membuat dia menguras tenaga lebih untuk bangkit dari keterpurukan itu.
“Ken…”
Sadar bahwa dia terluka parah, aku memejamkan mata dan mulai merapal sihir penyembuhan.
‘Wahai cahaya dibalik kegelapan, kekuasaanmu selalu ada dimanapun, engkaulah yang membuat kehidupan dunia ini, percayakanlah padaku.’
“Determind Heal.”
Sejurus, bersamaan menyelesaikan rapalan tersebut, aku menengadahkan telapak tanganku pada badannya dan mengeluarkan lingkaran sihir emas.
“Terima kasih, ketua,”
Melihat perlakuanku, Zylx tersenyum kecil. Kemudian memberikan tepukan kecil untuk sekian kalinya, lalu berkata, “Wah – wah, kebaikan teman yang patut di abadikan.”
“Dasar brengsek,” kesal Ken karena cibiran Zylx, kali ini dia sedikit tenang dan hanya memberikan lirikan dengki yang tidak akan mempengaruhi Zylx sedikitpun.
“Tenang dulu Ken, mereka berbeda dari para bawahan yang telah kita habisi.”
Aku mengatakannya lirih, bertujuan agar Ken tetap tenang dan mencegahnya berbuat tindakan gegabah seperti sebelumnya.
“Ini sepertinya akan menarik!” teriak lelaki bertudung sembari melontarkan bola sihir dari jarak cukup jauh ke arahku.
“Iron safant!” balas Ken, karena dia berada di sampingku, Ken menggunakan lengan besarnya untuk menutup serangan tersebut.
Namun, mereka juga tidak memberikan kesempatan kami menyerang. Sekarang giliran Zylx, sesaat serangan ditangkis, dia maju hendak menebas pedangnya pada Ken.
“*SolGrafyt*!”
Dalam keadaan terpaksa ini, aku mengeluarkan satu satunya Skill Special milikku. Meskipun efektif di segi perapalan maupun dampak, tapi Skill itu sungguh menguras hampir seperempat dari jumlah Ergon – ku.
Serangan yang memanggil area disekitar dan menarik semua orang tanpa terkecuali ke dasar tanah, seolah bumi membencinya, Zylx sekarang merasakan itu.
“Tuan!” teriak rekan Zylx.
“Tidak akan kubiarkan! Earthquace!” timpal Ken, memberikan sepasang pukulan di tanah dan menciptakan gelombang retakan menjulur kearah musuh.
Pekerjaan bagus oleh Ken, sebelum anak buahnya menghampiri Zylx, Ken menggertak pergerakan lelaki tersebut menggunakan retakan tanah.
“Tidak kusangka jika ras dengan penggunaan sihir minim bisa memilki skill yang menarik,” ujar Zylx santai, sedangkan tubuhnya berupaya keras agar bisa bangkit.
“Benar, ras serigala demi – human sepertimu juga memilki *Skill Specia*l, dasar aneh!”
Sindiran tersebut diucapkannya bersamaan lingkaran sihir tipe api di sekitar Zylx yang tersungkur.
‘Melindunginya ya? Berarti tinggal kamu saja sasaran empuknya,’ batinku sempat berpikir kegunaan lingkaran sihir itu.
“Lebih aneh orang yang tidak pernah menerima dirinya sendiri, sampai membunuh banyak orang demi mendapatkan kesempuranaan,” balasku.
“Sialan! Kau!”
Emosinya tersulut, itu tergambarkan dari intonasi suara dan tangan yang sibuk mengumpulkan sihir tuk melayangkannya kepada kami berdua.
“Biar aku urus Ketua!” sahut Ken menapaki langkahnya maju menghampiri lelaki bertudung itu.
Tapi, entah mengapa dia malah melenyapkan sihir di kedua tangannya dan memberikan senyuman kecil tanpa berpindah tempat di hadapan Ken.
“Sol…Grafyt.”
“Hah?!”
Lelaki itu, menyalin Skill Special – ku. Kemudian menggunakannya langsung dalam percobaan pertama kepada Ken, terlebih lagi dia melakukannya sangat sempurna.
“Ken!”
‘Sial!’
“Oh iya, aku belum memperkenalkan diriku, sebagai akhir hayatmu, berterima kasihlah karena aku adalah nama terakhir yang kamu ingat, Hyaki Gato.”
Sisi Katsuya Syu
“Kenapa Kumarokun? Padahal sudah tidak ada musuh loh,” ucapku kepada beruang batu yang terus menerus menolehkan wajah kanan – kiri tersebut, meskipun dia tidak memilki raut muka padu, namun aku bisa melihat kegelisahan dan tatapan waspada darinya.
“Kuma, grrr,”
‘Apasih yang dia bicarakan ini, seharusnya aku minta tolong ajarkan berkomunikasi pada Azuzi tadi,” cakapku dalam hati.
Berbeda dari rencana lainnya, aku tidak memutuskan untuk bersembunyi. Apalagi tumpukan orang ini sudah menjadi tempat duduk tatkala singgasana pribadiku, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan.
“Apakah kamu rindu dengan Azuzi? Pemilikmu?”
“Kuma – kuma,” balasnya cepat sambil menggelengkan kepala berkali – kali.
“Kamu lapar?”
“Kuma,”
“Atau kamu lelah?”
“Kuma,”
‘Lagian pertanyaan macam apa itu, dia kan batu, kenapa juga aku menanyakan hal tersebut.’
Setiap kali aku menanyakan apapun itu kepadanya, dia selalu mengatakan “Kuma” dengan nada yang sama bahkan tidak ada bedanya saat menggelengkan kepala.
“Huft…”
‘Apa toh, bikin khawatir saja, setidaknya kalau ga bisa berbicara, pakai gerakan tubuh,’ batinku kesal menempelkan kedua telapak tanganku pada pipi bermaksud sebagai tumpuan.
Dan benar saja, aku melihat dua orang berjalan perlahan kemari. Satu bertudung hitam lalu sebelahnya,
‘Zylx?’
Aku tidak akan salah, dia adalah Zylx, pimpinan sekte keadilan.
“Kumarokun, bersiaplah,” seruku, kemudian bangkit.
“Kuma!”
‘Kewaspaan Kumarokun benar apa adanya, ini akan jadi lebih dari mimpi buruk,’ batinku sesaat dilanjut mengeluarkan pedang dari Black Storage.
Tidak menunggu waktu lama, kedua sosok musuh tersebut muncul. Kedatangannya saja sudah membuat seluruh ruangan ini menciut, namun tidak dengan nyaliku.
“Kukira cuma satu orang saja disini, tapi bersama dengan makhluk ciptaannya ya,” ujar Zylx, suaranya menggema didalam ruangan.
“Ya, aku kira kau juga begitu. Aku harap bisa satu lawan satu denganmu,” balasku.
“Fiuwww…”
Seseorang di samping Zylx bersiul, aku tidak tahu pasti maksudnya.
“Bagaimana kalau batu itu kamu hancurkan saja, dan melawanku terlebih dahulu,” ucapnya setelah suara siulan tersebut.
“Haha, menghancurkannya? Melawanku terlebih dahulu? Apa yang membuatmu berkata seperti itu sedangkan tumpukan orang sepertimu itu menjadi pijakan kakiku.”
Aku tertawa kecil atas ucapannya, salah satunya yang harus kuwaspadai adalah Zylx, kalau masalah anak buah,seyogyanya yakin pasti jikalau dia tidak ada bedanya dengan sampah yang kupijak.
“Ini!”
Dia melentangkan tangan dibalik jubahnya, seolah kelelawar bersiap untuk mencari makannya pada malam hari. Tidak cukup itu saja, dia mengibaskan
lengannya kedepan secaranya bertahap dan mengeluarkan serangan jarum cepat tanpa
kasat mata berukuran jari orang dewasa.
Akan tetapi, percuma saja bagiku dalam keadaan Skill
Detector. Aku melangkahkan kaki kesamping begitu saja serta berhasil menghindarinya.
‘Hampir saja, dengan kecepatan dan kekuatan serangan
seperti itu, Kumarokun juga pasti akan hancur,’ cakapku di hati ketika melirik serangan
yang meleset itu menusuk dan membuat retak dinding di belakangku.
“Aku sepertinya setuju dengan usulanmu, Hino,” celetuk
Zylx.
“Silahkan yang mulia,”
Menyahuti perkataannya sendiri, Zylx tersenyum kecil. Namun senyuman serta sorot matanya tidak tertuju padaku, melainkan Kumarokun.
‘Sihir? Apa itu?!’
Tingkah lakunya pasti ada maksud tertentu, dan benar saja aku merasakan gumpalan sihir pekat di pijakannya, malahan berjalan menjalar ke arah Kumarokun berada.
“Kumarokun! Awas!” reflek aku berteriak.
*Crazz!
Belum sempat beruang batu tersebut mengolah ucapanku, muncul sebuah akar hitam keras tepat di bawahnya. Serangan tersebut membuat Mob Creature ciptaan Azuzi hancur berkeping – keping.
“Ku – kumarokun?” desisku menyadari keguguran rekan timku, meskipun dia tidak memilki perasaan maupun ingatan berharga denganku. Rasanya begitu menyakitkan kalau harus menyaksikan kehancurannya.
“Sudah terpenuhikan usulanmu, Hino?” sahut Zylx kemudian melangkahkan kakinya pergi dari ruangan ini.
“Terima kasih yang mulia.”
“Tunggu!” teriakku sembari mengeluarkan tembakan koin kepadanya.
*Ting!
Belum sempat peluruku mengenai Zylx, ditengah jalurnya dipecahkan oleh jarum milik seorang bertudung bernama Hino itu.
“Bukannya adil seperti ini? Syu?” sahut Hino, menyebut namaku.
“Keparat!”
Terlalu naik pitam menyebabkan diriku hilang kontrol, menjatuhkan pedangku dilanjut memberikan dua serangan koin berkelanjutan.
*Ting – Ting
Sia – sia lagi usahaku, lemparan jarum itu sungguh akurat hingga dapat mengenai koin kecil tanpa meleset sekalipun.
“Fiuww…”
“Kamu menarik ya orangnya, Syu,” tandas Hino kemudian membuka tudung yang menyembunyikan identitasnya.
Kini sosoknya terlihat jelas dalam pandanganku, rambut hitam panjang dengan mata dibalut oleh perban adalah jawabannya.
‘Dia, buta?’
“Sepertinya kita tidak jauh berbeda ya, Syu.”
‘Tapi serangan tadi benar benar dahsyat, bahkan akurasinya sangat akurat.’
“Siapa sebenarnya dirimu, Hino?” tanyaku memberikan tanggapan atas penampilan yang konsepnya sama sepertiku.
“Aku hanya orang yang banyak kekurangan dan mencari apa artinya kesempurnaan itu,” jawab Hino lugas, “Aku lebih penasaran siapa dirimu, Syu?”
Bersambung…