The World Of Game Systems

The World Of Game Systems
Chapter 37 - Setelah Keterpurukan, Sekarang Aku Mendapatkan Skill Special?



Mashiro menyeringai padaku, sosoknya pada tubuh asli sangat memberikan kesan tambahan, dilanjut mendekatkan bibirnya di dekat daun telingaku dan berbisik, “Iya Aoi, bukankah kamu mau mengalahkan Zylx? Bukankah dengan itu semuanya akan berakhir?”


“A – ah, yah.”


Aku sedikit menolak tubuh, bukan pertama kalinya aku mengalami kejadian seperti ini. Namun bagaimana penjelasannya itu tetap memalukan.


“Apalagi aku akan membantumu.”


Lanjut Mashiro sembari menelengkan kepalanya, entah mengapa dia melakukan itu. Berlagak imut agar bisa memohon? Padahal tubuhnya sudah babak belur serta penuh luka.


“Aku tahu itu, tapi sekarang kondisi tubuh kita yang harus diperhartikan.” Selorohku memandangi beberapa luka gores bahkan tusukan di sekujur tubuhnya.


“Ah, tapi-.”


“Oh ya, bagaimana caranya memindahkan Ergon kepadamu?”


Aku paham betul alasan mengapa gadis tersebut tidak bisa menyembuhkan dirinya atau setidaknya menutup luka tersebut, Mashiro pernah mengatakan telah menghabiskan seluruh sisa Ergon – nya. Jadi sesaat aku langsung memotong kalimatnya.


“Tidak Aoi, aku tidak apa – apa.”


Aku mengernyitkan dahi, melihat penampilannya mana mungkin setiap orang menganggap itu “Tidak apa – apa”. Jadi aku mencoba meratapi kondisi sekitar dan menerka – nerka barang yang mungkin akan berguna dalam situasi ini.


“Makanan?”


Serentak tubuhku bangkit dan menghampiri sepiring berisi beberapa buahan dan roti juga.


“Ini, Mashiro. Setidaknya makanan ini bisa memulihkan sedikit Ergon dan penyembuhan tubuhmu.” Sambil melemparkan lembut roti kepada Mashiro.


“Ah.”


Mashiro menangkapnya, lalu tertegun sejenak memandangi sepotong roti yang berada dalam genggamannya. Sedetik kemudian menghadap padaku seraya berkata. “Tapi, ini bagianmu Aoi. Aku juga tidak butuh makanan untuk


sekarang.”


“Duh, apa sih. Bukannya kita akan mengalahkan musuh bebuyutanmu? Bagaimana mungkin kamu bisa menang dengan keadaan seperti itu?”


“Iya, tapi ini memang untukmu. Mereka tahu jika aku bisa hidup tanpa makanan sedikitpun.”  Aku tersenyum kecil, kemudian kembali menghampirinya.


“Aku tidak peduli jika ini bagianku, tapi aku juga tidak akan membiarkan seseorang yang terpuruk di hadapanku. Apalagi aku ini tidak berguna, setidaknya biarkanlah diriku ini berguna sesaat, meskipun tidak begitu berpengaruh padamu.”


“Kalau begitu, apelnya juga.”


Tunjuk Mashiro pada apel yang hendak kumakan, saat ini dia sungguh seperti anak kecil manja.


“Dasar…Ini, jangan sampai dimuntahkan kembali.”


Tanpa terasa, adanya detik terus melaju hingga tak ada sang pemberani yang berani menghentikannya untuk mendorong menit. Begitu pula menit, kali ini sedang menggantikan tugas detik agar bisa dilanjutkan oleh jam.


“Sudah selesai, aku sekarang bisa cukup untuk menggunakan beberapa Skill – ku.” Sahut Mashiro, beberapa cahaya indah berwarna hijau mengelilingi elok tubuhnya.


“Itukah Skil Recovery yang katamu berhasil digunakan untuk menghidupkan tubuh ini sebelumnya?”


Cakapku pada Mashiro, sejujurnya itu hanya perkiraanku saja. Pasalnya warna hijau tersebut bukankah mirip seperti Heal atau Regen jika di game bergenre RPG, MMoRPG dan sejenisnya.


“Ah, ya. Tapi kalau setingkat menyembuhkan metabolisme tubuh yang sekarat seperti kasus dirimu dulu itu sudah beda tahap.”


“Begitu ya, omong omong soal tahap. Bagaimana cara kita melewati tahap pertama ini?”


Tanyaku mengalihkan pembicaraan, bukan karena tidak ingin mendengar penjelasannya lebih lanjut. Tapi semua itu berbanding terbalik jika harus memahami kinerja Skill yang bahkan diriku sendiri ini tidak


memilikinya.


“Aku ada beberapa cara, apalagi kurungan ini bisa menggunakan sihir di dalamnya bukan?”


“Iya, tapi katamu dulu tidak bisa menghancurkan kurungan ini dengan sihir? Lalu menggunakan apa?” Tanyaku pada Mashiro karena sedikit keterlambatan otakku dalam mengotak – atik informasi.


“Kalau bisa kabur tanpa menghancurkannya, toh kenapa juga harus menggunakan cara kasar.”


“Eh?”


Mashiro mendekatiku, sedikit berjinjit untuk menyamakan kedudukan bibirnya pada daun telingaku dan mengatakan, “Portal Sihir.”


Sontak otomatis tubuhku menghindar darinya, dengan gelagapan dan berkata, “Ma – ma – maksudmu, Por-.”


“Ssst!”


Mashiro menempelkan jari telunjuknya pada bibirku, seolah jari tersebut adalah lakban yang membungkam padu mulut bahkan pita suaraku.


“Jangan keras keras loh…. Aoi tidak ingin kesempatan emas ini gagalkan?”


Dalam mulut yang tertutup oleh satu jari, aku tidak berani mengucapkan sepatahpun kalimat, cuma membalas perkataannya dengan menganggukkan kepalaku berkali – kali.


“Dasar, otakmu sekosong apasih, kalau bisa kabur dengan mudah mengapa harus menggunakan cara kasar sampai menghancurkannya.”


“Zylx benar benar meremehkan diriku sebagai gadis pengguna Skill Dewa.” Setelah mengatakan itu Mashiro memberikan senyuman penjahat.


“…”


Sedikit menjaga jarak dengan mengambil beberapa langkah mundur dariku dan mulutnya yang bergerak lirih sedang membaca sebuah rapalan.


“Wahai sang waktu yang abadi, semua orang bangga dengan kehadiranmu.”


“Namun sebaliknya juga ada yang membenci keberadaanmu.”


“Dan dengan tanggung jawabmu itu kamu tidak pernah berhenti sejenak untuk istirahat bahkan berbaring.”


Aku juga ikut menjaga jarak darinya, entah karena alasan apa, itu hanya reflek gerak tubuhku. Sesaat mencoba melihat keadaannya, Mashiro memejamkan matanya, diikuti kedua jari jemari yang saling menggenggam erat di


depan dadanya.


”Aku sebagai makhluk yang jauh di atas tabiatmu, seremah roti dibandingkan seisi alam semesta memohon kepadamu.”


“Harapanku adalah kebodohoan, dan suatu kebodohan adalah tekad nyataku.”


“Orifiece Herm….”


Sejenak, muncul lubang dengan dominasi warna hitam bercampur kehijauan yang sangat indah. Perpaduan warna tersebut mengingatkanku pada langka dan wibawanya permata hijau.


“Ayo Aoi.”


Mashiro meraih tanganku dan langsung berlari memasuki lubang besar nan cukup untuk dimasuki orang bertubuh ideal.


“E- eh.”


Seketika pandanganku benar – benar berubah seutuhnya, mungkin karena silaunya cahaya sesaat memasuki lubang Teleportasi sebelumnya, bisa juga diakibatkan halusinasi.


Pasalnya, percaya atau tidak percaya. Aku sekarang sudah berada dalam tempat berbeda, alam sekitar, tepatnya ladang dan di sekitarnya adalah puluhan bahkan ratusan pohon menjulang. Ini berbeda seluruhnya waktu aku di kurungan penjara sihir.


“Tempat ini….”


Benar, aku terselipkan ingatan saat aku pergi seorang diri menuju air terjun untuk latihan. Waktu itu sudah cukup lama jika dipikirkan sekarang.


“Iya, jika kita lurus terus dan memasuki hutan, akan sampai ke air terjun. Aoi masih mengingatnya ya?” Celetuk Mashiro melanjutkan gumamanku dan menunjuk kearah hutan.


“Kalau begitu berarti,”


Aku menyambung kalimatku tersebut dengan berpaling kebelakang dan mendapati gelombang sihir besar di arah pemukiman.


“Iya, itukan maksudmu Aoi? Sihir penghalang ciptaan ratusan penyihir bawahan Zylx.” Sahut Mashiro.


Letak colloseum yang berada di pusat pemukiman itu sungguh memberikan kesan mencekam, tempat strategis itu mana mungkin tidak akan terlihat oleh seluruh orang.


“Kalau begitu, ayo Mashiro.”


“Iya.”


Kami berdua bergegas pergi ke tempat akhir, melewati jalan bebatuan kasar menuju pemukiman.


“Mashiro, kenapa kamu tidak menggunakan sihir teleportasi itu?” Tanyaku sejenak tanpa berhenti melangkahkan kaki tuk bergerak maju.


“Bukan masalah mau atau tidak maunya, butuh banyak Ergon untuk menggunakannya. Terlebih lagi bangunan itu baru saja di renovasi sebagian besarnya.” Jawab Mashiro yang ada di sampingku.


“Di renovasi?”


“Iya, Skill Orifiece Herm itu kalau dibahas bukan masuk dalam sihir teleportasi.”


Mashiro berhenti sejenak untuk mengambil nafas, aku mengikutinya.


“Skill itu kinerjanya hanya memangkas waktu perjalanan saja. Yah, salah satu syaratnya adalah tempat yang pernah aku datangi.” Sambungnya.


“Jadi karena tempat itu berubah struktur atau isi dalamnya, kamu tidak bisa langsung menggunakan Skill Orifiece Herm di Colloseum ya?” Balasku menimbali penjelasan singkat Mashiro.


“Iya begitulah kira kira.”


Pungkas Mashiro, menghadap ke arah tujuan utama kita. Kurang lebih sudah setengah perjalanan berlalu, kami mungkin bisa segera sampai kesana beberapa menit lagi.


“Ayo, lanjut Aoi.”


“Ya!”


Bahkan sang surya seakan mendukung tindakan kami, benda gagah nan berwibawa itu tanpa ragu sedikitpun terus memberikan karunia kehidupan. Tidak peduli anugerah darinya akan membawa pahala atau petaka, dia akan tetap menjalani tanggung jawabnya sepenuh hati.


Bersambung...