
Sisi Yogairu Kineku
Arah menuju utara, Asteria dan Azuzi adalah alasan terbentuknya tim ini. Selagi mereka yang lebih muda memiliki kebebasan, tanggung jawab kami sebagai senior mungkin telah usai. Dimanapun kita berada, perempuan dan anak kecil yang diutamakan, sungguh kekuatan Mindset.
‘Aku sedikit heran dengan mereka semua, padahal ruangan terbanyak berada disini, tapi mengapa penjagaannya sedikit lengah?’
Aku berkata pada diriku sendiri, menapaki langkah cepat sembari membuntuti kedua gadis itu dari belakang.
Beberapa musuh di depanku tentunya teralihkan pada Asteria dan Azuzi yang berlarian polos, diantaranya berkata,
“Hey, liat itu dua gadis ada disini?”
“Ya. Ya, apakah mereka tersesat?”
“Bagaimana kalau kita tangkap mereka.”
“Setuju, ide bagus sepertinya. Lalu kita bawa mereka ke ruang kosong.”
“Laksanakan!”
Untungnya aku mendengar percakapan konyol tersebut, dengan langkah kaki ringan, kuberikan mereka sayatan kecil di setiap orangnya secara gesit.
“Siapa disana?!”
Sebelum mereka menolehkan kepala kebelakang, tanpa sepatah kata, aku langsung membakar jantungnya. Di lanjut mengaktifkan Skill Aura untuk menyembunyikan keberadaanku kembali.
‘Untunglah, itu tidak terlalu menarik perhatian,” batinku sesaat kemudian mempercepat langkahku agar bisa mengambil jarak cukup dibalik sepasang gadis tersebut.
‘Rencana Ohoshi keliatannya sempurna, jalur ini penjagaannya berkurang bukan karena suatu alasan tertentu. Gerakan 3 tim secara bersamaan membuat beberapa pasukan sekte keadilan mau tidak mau memberikan bantuan kesana, tinggal berharap seberapa lama mereka menahannya.’
*Beberapa saat lalu
“Maksudmu memanfaatkan Skill milik Asteria untuk mengelabui mereka?” sahut Mafal terkejut.
Ohoshi menghela nafas, kemudian mengambil ranting dan mulai menggambar ulang formasi diatas lantai
usang.
“Iya, bukan hanya Asteria saja. Kita harus saling memanfaatkan Skill satu sama lain.”
Walaupun dia menggambar formasi baru, tapi benar benar tidak ada bedanya dengan gambaran Mafal.
“Sama saja formasinya, tidak ada bedanya juga,” cakapku dengan tatapan datar, tentu saja karena hal
yang dilakukannya itu sia – sia.
“Tidak, kita dapat satu anggota baru, benar begitukan Azuzi?” balas Ohoshi menengadahkan wajahnya
kepada gadis muda berambut pink.
“Maksud Ohoshi – niisan itu Kumarokun?” reflek Azuzi membalas ucapan Ohoshi.
“Benar, kalau begini kesempatan berhasil akan meningkat,”
Ohoshi merubah salah satu posisi batu yang berada di arah selatan untuk di letakkan di utara, kemudian menggambar lingkaran kecil pada ujung selatan yang bermaksud sebagai tambahan peleton.
“Kumarokun di sana kan?” tanya Syu, karena dia merupakan seorang di arah selatan.
“Iya, lalu Asteria dan Azuzi akan bersamaan menuju ke utara. Tak lupa juga Yogairu yang akan berjaga menggunakan kemampuan menghilangnya.” timpal Ohoshi sambil melingkari 3 batu di arah utara yang bukan lain adalah bagianku, Asteria, dan Azuzi.
‘Aku jadi pengawal ya, ini mengingatkanku waktu Taka dan Aoi pergi.’
‘Oh iya, memang Taka dan Aoi tidak ada.’
Kemudian Kak Ayumi mengerutkan dahinya, perempuan itu sungguh memiliki pemikiran yang lambat.
Melihat ekspresi heran Kak Ayumi, Mafal melontarkan pertanyaan kepadanya.
“Kenapa Ayumi, kamu tidak paham?”
“Tidak terlalu sih, tapi setelah Azuzi dan Asteria menuju tempat aman, lalu kita bagaimana?”
“Nah, karena itulah Skill Penyaluran milik Asteria dibutuhkan,” sahut Ohoshi menimpali pertanyaan Kak
Ayumi.
Sedangkan gadis muda yang
di sebut namanya itu malah ikut heran.
“Skill Penyaluran?”
Ohoshi menganggukkan kepala, seraya berkata, “Sebelumnya kamu menggunakan Skill itu kepada Yogairu lalu
menghubungkannya dengan Mafal dan Syu bukan?”
“Iya, itu karena Yogairu – niisan.”
“Lalu Yogairu, kamu memanfaatkannya,” lanjut Ohoshi memalingkan pandangannya padaku.
“Oh iya, aku bisa menggunakan Skill Animal essence milik Mafal dan Bounty layer – nya Syu,”
Aku mengatakannya dengan jujur, percuma saja jika aku berbohong, mau tidak mau kita akan menjalankan
rencana ini.
“Aku paham, jadi menggunakan Skill Detector milikku kepada setiap anggota tim di jalur yang
berbeda,” celetuk Syu, karena dia juga yang pertama kali menyadari efek Skill Penyaluran ini.
“Benar, Syu,”
“Tapi Asteria tidak akan bisa menggunakan Skill itu untuk semua anggota disini,” sanggahku mengingat sesaat gadis muda tersebut menggunakan Skillnya untuk 3 orang saja sudah cukup membuatnya lemas.
“Tidak – tidak, aku sebagai Magician juga paham betul kok,”
Sambil mengucapkan itu, tangan Ohoshi kembali bergerak dan menulis nama nama kita di antara penanda batu.
“Aku hanya berniat menggunakan Skill Penyaluran hanya untuk 3 orang di bagian umpan, salah satunya saja,” sambungnya memberi lingkarang besar ditengah jalur timur, barat, dan selatan.
“Jadi di ketiga jalur itu memiliki Skill Detector yang memungkinkan untuk tidak tersesat ataupun terpisah,”
“Setidaknya kita bisa bergantian bersembunyi atau lebih baik langsung membasmi semuanya,” cakapku memberi reaksi atas renca buatan Ohoshi itu.
Sepertinya mereka juga
setuju, terlihat diantara saling menatap yakin dan beberapa kali menganggukkan
kepala.
*Kembali Masa Kini
‘Sial, jika saja aku dapat menggunakan lagi Skill milik Mafal itu,” batinku sesaat memberikan tebasan lebar kepada musuh yang lebih besar dibandingkan diriku.
“Yogairu – niisan?” cakap Azuzi ketika menoleh kebelakang karena dentuman keras tubuh lawanku ini jatuh.
Tentu saja itu memancing perhatian beberapa anggota sekte keadilan disana, gema suara bagaikan robohnya
karung besar menyebar di sudut ruangan ini.
Dengan cekatan aku langsung pergi menghampiri mereka berdua dan berbisik, “Maju saja terus hingga pilar kedelapan dari sini kemudian bersembunyi dibaliknya.”
“I – iya, ayo Azuzi,” setuju Asteria sambil menggandeng lengan sahabatnya itu.
“Tunggu aku meratakan semua keroco ini,”
“Yah sekarang, cocok buat membuktikan seberapa jauh aku bisa membakar jantung kalian!”
Sepatah kata itu adalah aba – aba penggunaan Skill bara api pada belatiku, bukan selayaknya sihir api yang membakar objek pegangannya. Kali ini senjataku dikhususkan untuk langsung memunculkan sang jago api di organ dalam mereka.
Tapi sayangnya, aku tidak bisa menggunakan Skill Aura sebagaimana menghilangkan keberadaanku dari mereka. Bukan masalah besar juga, asalkan aku bisa memprediksi Skill mematikan yang hendak menghujam diriku, aku tidak akan mati semudah semut dipijak manusia.
“Mengumpulkan sihir? Lambat!” teriakku sembari melompat cepat menuju hadapan para penyihir di lantai atas dan memberikan sayatan kecil yang berkelanjutan.
Beberapa langkah lebar saja sudah melampaui sisi ujung aku melompat sampai orang terakhir di barisan mereka. Waktu aku melirik kebelakang, beberapa penyihir sudah tergeletak tanpa nafas sekalipun.
“Kalau penyerang dari jarak jauh sudah habis, tinggal kalian saja!”
Belum cukup, aku langsung melompat turun di antara prajurit berpedang. Walaupun jubah hitam pakaian mereka tidak ada perbedaan mencolok, aku bisa mengetahui peran di setiap orang dengan melihat senjata miliknya. Meskipun hanya sebatas pegangan atau atribut, aku masih bisa merasakannya menggunakan Skill Aura.
“Habisi dia!” teriak salah satu orang lebih kekar di tengah tengah gerombolan.
‘Dia pemimpinnya kah?’ batinku.
Teriakannya benar benar membangkitkan nafsu membunuh mereka, itu seperti pengembala domba yang memerintahkan hewan ternaknya untuk makan.
*Ting!
Aku menepis tebasan dari arah belakang, untungnya serangannya tidak secepat tebasan Aoi ataupun Taka. Terlebih lagi ini salahku karena terlalu fokus di bagian pasukan depan, sampai sampai tidak
memperhatikan kondisi belakangku.
Tentu saja, tanpa basa – basi menolak tanganku kebelakang dengan tujuan menusuk tubuhnya.
“Lemah sekali, menyerang musuh dari belakang,” lirihku pada mayatnya.
‘Yah, kalau menyerang dari belakang kuanggap lemah, lalu aku yang menyerang dan menghilang ini apa?’
Entah kenapa otakku terselipkan pertanyaan itu sesaat aku menyindir tubuh tanpa nyawa. Namun saat ini aku hiraukan pemikiran konyol tersebut dan fokus pada sekumpulan musuh di hadapanku.
“Beraninya gerombolan!” teriakku sambil melemparkan belati kecil di salah satu musuh maju.
“Satu lawan satu sini!” sembari mengambil kembali pedang yang menancap di perut dan memanfaatkan posisi condong untuk lompat memutari orang di hadapanku.
*Ting – Ting
Aku menebas memutar, gerakan yang bertujuan menepis menggunakan punggung lengan tangan kiri di sertai tebasan kecil di tangan kanan.
Membuat bagian besar depan dari kelompok itu kewalahan dan kugunakan mayat untuk pijakan lebih tinggi dan melompat kearah orang dengan tubuh sedikit besar itu.
“Kalau kamu mati, semuanya akan tunduk padaku ya?” seruku padanya, tidak lupa kuda kuda dua pedang dan kaki siap untuk melontarkan tubuh di hadapannya.
“Coba saja.”
Karena dia memerintah diriku untuk mencoba, jadi aku langsung melesat maju kearahnya dan menyingkirkan pedangnya serta memberikan tusukan keras ke arah tubuh.
Akan tetapi...
*Ting!
‘Armor?!’
Aku salah perhitungan, dibalik jubah hitam konyol itu. Armor logam yang membuat dirinya lebih kekar.
“Haha! Kenapa? Pengguna pedang mana mungkin bisa menembus ini,” ujarnya terkekeh.
“Yah itu tidak masalah sih,” balasku melepaskan genggaman pada kedua pedangku kemudian memegangi kedua lengannya.
‘Makhluk Legenda pemberi anugrah api.’
‘Kekuatan penghancur dan penyiksa tiada tara.’
Sesaat merapalkan mantra tersebut, aku sengaja menyalurkan Skill Bara Api untuk membakar armor logam yang melapisinya.
“Ah – Argh! Apa ini?! Panas!”
“Panas!”
Mendengar jerit sakitnya pada sorot mataku ini, aku memberikan senyuma kecil padanya serta berkata, “Pengguna pedang mana mungkin bisa menembus ini? Sayangnya aku adalah pengguna keduanya!”
Bersambung….