The World Of Game Systems

The World Of Game Systems
Chapter 19 - Setidaknya Hasil yang Kudapatkan Seimbang



Sisi Kineku Yogairu


Langit senja dalam hadapannya menciptakan suasana tenang nan damai, warna keemasan yang terbentuk dalam penyelesaian hari adalah keindahan tersendiri. Menghabiskan waktu bersama titik penghabisan sang surya.


“Argh, Taka dengan Aoi ngapain sih? Sudah 2 hari belum pulang.”


Kesalku bangkit berdiri dari istirahat kecil.


“Di rumah cuma tinggal kami bertiga, Azuzi dan Asteria. Apakah aku harus menjaga dua gadis lugu ini setiap saat?!”


Tahu akan keadaan sudah hampir malam, aku pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Rumah berukuran sedang ini sangat sepi disaat dua dari anggotanya pergi, terlebih lagi Taka, seorang dianggap sebagai kepala keluarga, menghilang belakangan ini. Kondisinya pun dapat tertebak, tidak ada salah satu dari mereka yang dapat menggantikan tugasnya.


Aku melihat Azuzi sedang memakai celemek dan memegang beberapa telur di dapur, dilanjut oleh Asteria di sampingnya mencuci alat makan.


‘Sial, jika Azuzi lagi yang memasak. Aku tidak akan bisa makan nanti malam.’


Pikirku dalam hati menghampiri mereka berdua selagi asik dengan pekerjaannya.


“Sore Yogairu– san.”


Sapa Asteria, intonasi ucapannya seakan tidak peduli sementara aku sudah didepannya. Bahkan pandangan adik imut Taka tersebut tidak sekalipun melihat kearahku.


“Anu… Yogairu – niisan, apakah saat menggoreng telur itu….menggunakan gula atau garam?”


Tanya Azuzi sedikit terjanggal di setiap ujung kata, dan menunjukkan sekantung gula dan garam dikedua tangannya kepadaku.


‘Bahkan gula dan garampun kamu tidak tahu? Pantas saja rasa sup daun bayam kemarin rasanya manis’


Aku teringat tempo semalam dia membuatkan makan malam untuk kami, dan rasanya itu benar benar aneh.


“Azuzi, biarkan aku saja yang memasak. Kamu membantu Asteria dengan piring piring kotor itu.” Balasku mengambil kedua bahan perasa makanan yang dipegangnya.


Gadis muda berparaskan warna ungu dirambutnya itu hanya menganggukkan kepalanya dan menuruti apa ucapanku. Sementara itu, Asteria menyambut teman sebayanya bersamaan senyuman manis.


Suasana menjadi hening seketika, hanya terdengar suara percikan api dan kucuran air diantara kita bertiga. Tidak tahu apa sesuatu tuk dibahas, aku juga mengabaikan mereka dan fokus oleh masakanku.


“Kalau tidak ada Taka – niisan, jadi sepi ya.”


Celetuk Asteria setelah menyelesaikan pekerjaannya, membasuh tangannya dan pergi duduk di sofa.


“Benar, Aoi – niisan juga.” Diikuti Azuzi yang masih mengeringkan beberapa piring di telapak tangannya.


“Iya….. Aku juga rindu dengan masakan Taka.”


Sahutku asal mengikuti keluh kesah sepasang gadis itu.


“Tunggu, Yogairu – san!? Kamu hanya memikirkan makanan?” Tegas Asteria tidak terima akan perkataanku.


“…”


Aku hanya terdiam bisu mendengar cemoohannya, aku juga sadar jika diriku kelewatan walaupun itu cuma sekedar candaan.


“Ahhh….Taka – niisan dan Aoi ngapain aja sih, katanya cuma pergi ke hutan Elf bertemu Mikadzuki. Tapi sampai 2 hari, mereka tersesat apa?”


Gerutu gadis berambut hitam kebiruan itu sambil merenggangkan badan mungilnya.


“Bagaimana kalau kita ikut kesana?”


Sahut Azuzi mengibaskan tangannya bertujuan untuk membuang percikan air yang menempel ditangannya.


“Bisa saja sih….Bagaimana jika besok sepulang sekolah?”


Tawarku kepada mereka sebagai jalan penengah untuk topik perbincangan ini.


“Iya! Setuju!” Teriak Asteria.


“Kalau Asteria – chan ikut, aku juga.”


Dilanjut Azuzi, sepasang gadis seumuran itu benar benar tidak ingin terpisahkan bukan? Salah satu darinya memilih ini, kemudian salah satunya mengikuti. Tidak masalah juga, karena mereka adalah teman dekat.


‘Hmm, mungkin ini cara terbaik. Aku juga malas menjaga dua gadis polos ini.’ Otakku mengatakan itu sendirinya, dibarengi masakan yang sudah kusiapkan dimeja.


Sisi Aoi Syafiqi


Langit langit berlukiskan mimpi buruk perlahan rontok menyisakan rintikan putih seakan salju menghujani diri kami, dinding disamping kanan kiri juga ikut runtuh tidak tersisa. Pertaruhan hidup dan mati kami sudah mencapai puncaknya, dimana keberhasilan adalah pijakan kedua kakiku.


“Kalian berhasil menyelesaikan Dungeon Bonus ini dengan kerja keras serta kerja cerdas kalian.”


Seru suara serak dan dalam, tidak lain dan tidak bukan adalah inti atau core dari dungeon ini. “Seperti janjiku sebelumnya, aku akan memberikan hadiah pantas kepada kalian bertiga.” Tampaknya menyusuri kembali ucapan yang dijanjikan sebelumnya.


“Inikah peleburan?”


Gumamku ternganga terhadap pemandangan indah nan menyejukkan ini.


“Mikadzuki Fin sebagai seorang pemanah serta penyihir yang berbakat, “Eagle eye” akan cocok dalam tubuhmu.”


“Kemudian Hoshizora Taka, Kelincahanmu adalah senjata terbaik di dunia ini, “Hien” pasti berguna.”


“Lalu, Aoi Syafiqi. Konsentrasi dan jumlah Ergon luar biasa di tubuhmu merupakan salah satu kunci keberhasilan kalian. “Magnify” ialah Skill lemah dan mungkin bisa kamu tingkatkan.


Setelah menyebutkan satu persatu dari nama kami beserta hadiah yang dia maksud, permukaan serta atap di antara kami bertiga melebur seketika. Menciptakan hujan cahaya berkilauan cerah seolah bintang jatuh berukuran mini. Bukannya jatuh ke dasar tanah, percikan tersebut menempel di tubuh kami bertiga dan menyerap kedalamnya kemudian hilang begitu saja.


[Skill baru didapatkan karena telah menyelesaikan quest khusus]


[Active Skill: Magnify]


Notifikasi mengambang tersebut muncul dihadapanku sekian kalinya bersamaan dengan kami bertiga kembali di hutan Elf, tempat kami masuk dalam goa tanpa ujung sebelumnya. Akan tetapi tidak terlihat sama sekali bekas galian ataupun monumen yang mirip sewaktu kami memasukinya.


“Be – Berhasil?”


Terdengar suara serak tercampur lelah seorang wanita. Tentu saja, dia adalah Mikadzuki yang tersadarkan dari Mind Down - nya.


“Aku….telah membunuh kakakku.”


Kala itu, sorot matanya berubah, sungguh tidak ada warna kehidupan disana, kosong tanpa secercah debu didalamnya.


“Ma – maksudnya? “Membunuh kakak?” Kamu sendiri, Taka?"


Aku reflek bertanya atas apa yang barusan dia katakan.


“Aku pernah memiliki kakak laki laki. Karena ketika itu, aku sangat benci, sangat iri, sangat dendam!”


Teriaknya bersama amarah yang keluar dari mulutnya.


“Bahkan, aku sampai tidak mengingat wajah maupun suaranya tatkala itu.”


“Lalu, baga-.”


“Aku bunuh, benar! Aku bunuh dia, dan tenanglah hidupku sampai kini.” Pungkasnya keras memotong ucapanku belum sampai kuselesaikan.


“Hei, Aoi. Sampai kamu bocorkan semua hal ini, pertama kali orang yang kubunuh adalah kamu.” Tegasnya padaku, tatapan tajam nan mematikan itu tak terelakkan dihadapanku.


Namun, semua itu sudah berlalu. Berkat hal tersebut pula kami bisa menyelesaikan dungeon ini hidup hidup. Seperti masa pelangi datang menggantikan hujan badai lebat, kali ini kami menikmati keindahan semua ini.


“Taka, turunkan aku dong….” Lirih Mikadzuki dari balik punggung Taka.


“Eh?”


Sesaat mendengarkan suara lembut tunangannya, Taka ikut sadarkan diri. Sorot matanya saat ini hidup kembali, raut mukanya juga menggambarkan kebahagiaan.


“Ini memalukan jadi cepat turunkan aku.”


Muka memerah Mikadzuki bersembunyi dalam balik tengkuk tunangannya yang setia menggendongnya setiap detik, bisikan lirih itu masih bisa kudengar dari jarak cukup dekat ini.


“Tapi-.”


“Cepat!”


Bentak Mikadzuki memerintah Taka, sampai sampai lelaki muda itu tidak berani untuk melanjutkan ucapannya.


“Syukurlah mereka berdua baik baik saja…..”


Gumamku melepas lega menengok perilaku mereka berdua.


‘Omong omong, Mashiro. Apakah kamu bisa jelaskan semua Skill yang diberikan Inti Dungeon kepada kami?’ Tanyaku dalam hati kepada Mashiro.


“Ah iya….”


Jawab Mashiro meganggukkan kepala berkali kali , kemudian melanjutkan ucapannya diikuti ekspresi terkejut, “Hi – Hien!? Loh, Taka bisa menggunakan ilmu bela diri langka tersebut tanpa latihan bertahun tahun lamanya?”


Sepertinya Mashiro terheran heran dengan Skill bernama “Hien” dan tentunya aku juga tidak tahu jelasnya.


Langit berwarna merah bercampur emas adalah atap impian mereka bertiga selama ini, bagaikan kemewahan emas berkilauan bertaburan diatas. Fenomena pergantian tugas sang surya dan rembulan menyatukan dua titik pusat mereka, menciptakan angkasa tanpa batas yang menaungi kita.


“Jadi… Mari kita pulang?”


Celetuk Taka kepada kami berdua, sambil menikmati keindahan cakrawala.


[[Iya!]]


Kami akhirnya menapaki jalan arah pulang, bagaimanapun juga, ini merupakan takdir yang ingin dialami semua orang. Di barengi beberapa penjelasan ringan oleh Taka dan Mikadzuki tentang “Hien” dan “Eagle Eye” milik mereka berdua.


Pemahamanku sekedar tahu akan “Hien” merupakan perumpaan burung layang layang, dikenal cukup gesit dan dapat dengan cepat mengubah arah serangan dalam satu gerakan. Penggunaan rotasi lengan, siku, serta pergelangan tangan diterapkan sehingga serangan bisa berubah lintasan. Itu adalah musuh alami dari Skill milikku.


Sedangkan “Eagle Eye” milik Mikadzuki, ialah penjabaran organ tubuh burung elang kepada tubuh manusia. Seperti namanya, penggunanya mewarisi seluruh kinerja fungsi mata elang. Betul – betul pas ditubuh Mikadzuki.


Dibalik semua itu, aku tidak tahu detailnya mengenai Skill milikku ini. Taka dan Mikadzuki hanya bisa menggelengkan kepalanya, Mashiro pula terdiam serupa kura-kura dalam tempurungnya.


‘Ah….udahlah, nanti tahu tahu sendiri’ Eluhku.


“Pembesaran?” Sahut Mashiro menampar keras diriku yang mengeluh pasrah. “Skill yang dapat membesarkan gelombang suara…. Seperti itulah.” Jelasnya ragu ragu, hal tersebut sangat berlawanan oleh semangatnya manakala dia megatakan sebuah kalimat sebelumnya.


‘Seperti itulah, apa itu? Sama sekali tidak membantu.’


Ucapku menirukan nada bicaranya. Meskipun aku sendiri tidak paham pasti penjelasan tiga skill yang diberikan Inti Dungeon kepada kami bertiga, terlebih lagi “Active Skill” aneh dalam tubuhku ini. Jika saja penjelasan Taka dan Mikadzuki tentang Skill mereka nan hebat itu benar, pasti kemampuan milikku sedikit mirip dengannya.


“Pembesaran ya?” Gumamku lirih memandangi keelokan senja di depan arah tujian kami berada, desa Elf.


“Sudah sampai ya? Tidak terasa.” Kata Taka.


Nampak, sekumpulan orang orang tepat berada dihadapan kami. Terlihat sorak gembira diantara mereka sesaat melihat kedatangan kami, seakan pahlawan yang disambut meriah atas kemeneangan di medan pertempuran. Namun itulah kenyatannya, hasil dari semua usaha.


Seorang pahlawan tidak dapat disebut “pahlawan” tanpa ada pengakuan, bukan seenaknya kita sendiri yang memutuskan kalau kita adalah pahlawan. Dan kenyataannya, fenomena seperti inilah salah satu kesenangan. Dimana semua orang menyadari semua kerja keras, tumpah darah, dan air mata kita terbayarkan langsung olehnya.


“Selamat ya!”


“Terimakasih banyak untuk kalian!”


Terdengar suara sorak gembira dari beberapa Elf yang menunggu kedatangan kami, tidak sedikit juga anak anak kecil berlarian menghampiri.


[Role baru didapatkan karena telah mengalami alur tentu]


[Hero non – license level 1]


[Pengakuan dari semua orang membuat kepercayaan yang diberikan kepadamu bertambah, penggunaan senjata apapun ditingkatkan sebesar 10%]


“Aoi Syafiqi, seorang pahlawan!” Tegas Mashiro memberikan senyuman serta kepalan tangan pebuh semangat.


Bersambung….