
Setiap orang pasti memiliki alasan karena dia melakukan sesuatu, pertimbangan rasional pemikiran dikalahkan dengan harga diri begitulah hukum di dunia ini. Namun jika seseorang sudah menghilangkan harga diri demi tujuannya, pilihan tersebut adalah mutlak.
Hoshizora Taka, meskipun aku baru baru ini mengenalnya, aku merasakan setiap pilihan yang dibuatnya tidak pernah salah. Tidak peduli orang disekitar menganggapnya seperti apa, hanya dirinya yang tahu apa yang dia perbuat.
Meminta maaf seolah - olah dia yang melakukan semua ini ya, baiklah.
“Ayolah Taka, sudah – sudah aku tidak tahu bagaimana jelasnya, yang terpenting semuanya baik baik saja.”
Aku mengatakannya perlahan, mungkin sudah cukup untuk menenangkan situasi ini.
“Baik, Mikadzuki, kemarilah dan minta maaf kepadanya.” Terima Taka, kemudian melepaskan kedua tanganku serta memanggil gadis yang berdiri mematung dibelakangnya.
Gadis elf itu menghampiriku, tatapan keputusasaan terlihat dari raut wajahnya.
“Saya sungguh minta maaf, saya kira anda membuntuti Taka, karena kulihat sepertinya anda berbicara dengan seseorang.” Sesalnya menundukkan tubuhnya dihadapanku.
“Ah, tidak usah dipikirkan. Semuanya sudah berlalu, sudah pasti aku maafkan.” Balasku.
Sudah wajar jika dia melakukan kesalahan yang tidak disengaja, semua orang pasti pernah melakukan itu. Terlebih lagi keadaanku juga lebih baik.
Taka dan gadis elf tersebut tersenyum mendengar itu, sepertinya mereka sudah menyelesaikan satu masalah berat.
“Omong – omong dia adalah tunanganku, Mikadzuki Fin. Serta elf yang bertanggung jawab atas keamanan hutan ini.” Kata Taka.
‘Tu – tu – tunangan? Serius nih? Ini tidak bohong kan? Oy Mashiro dimana kamu, tolong jelaskan ini semua.’ Ucapku Terkejut dalam hati.
Mikadzuki langsung memalingkan wajahnya, daun telinga panjangnya juga berwarna kemerahan. Dia tersipu malu, kemudian mendekati Taka.
“Aww! Kenapa sih.” Jeritnya kesakitan, nampak perutnya yang di cubit oleh Mikadzuki.
“I- iya, aku Aoi Syafiqi temannya Taka.” Salamku.
Mashiro masih belum muncul, aku sedikit khawatir dengannya. Biasanya tidak seperti ini, sekali aku mencarinya dia pasti langsung datang entah darimana.
“Baiklah kamu istirahat dulu malam ini, kami pergi dulu.” Celetuk Taka keluar dari ruangan dan diikuti oleh Mikadzuki.
Aku kembali tidur, ruangan yang hampir sepenuhnya terbuat dari kayu ini menambah kenyamanan dengan vibes tersendiri. Malam menyampaikan apa yang tak terlisankan terang, sunyi memiliki gaduhnya sendiri dan kosong tak selalu dapat disinggahi, begitulah perumpamaan ruangan kecil yang hangat ini.
......................
Suhu yang berubah secara drastis, berbeda dengan malam yang biasanya diselimuti dengan udara dingin. Semakin bulan menuju puncaknya, semakin panas juga udaranya. Nampak tubuhku dibasahi oleh keringat yang keluar dari badan, selembar kain bak selimut tidak berguna untuk menghangatkan tubuh, akan tetapi menjadi pembilas keringat bagaikan handuk.
Aku terbangun dari tidurku karena gerah tak tertahankan, mencoba mendinginkan tubuh dengan mengipaskan telapak tangan beberapa kali. Tetap saja, tidak ada perubahan.
Untuk menghindari gerah aku berpikir mencari udara segar dan pergi keluar adalah pilihan yang terbaik.
Diluar aku terkejut dengan pemandangan hutan ini, terlebih lagi rumah yang aku singgahi untuk istirahat berada di dalam pohon raksasa. Tidak heran jika hawa di dalam sana sedikit panas. Tapi ini benar benar seperti desa tersembunyi, sebuah rumah dalam pohon mirip dengan cerita dongeng.
Ini mungkin pesona alam terindah yang pernah kulihat seumur hidup, langit malam cerah dibumbui dengan kilauan bintang, pohon raksasa bak tiang - tiang yang menyongkong kharisma langit, angin angin berhembus kesana kemari menambah gerakan dalam bayang mata. Jamur raksasa yang berkilau redup bagaikan penerangan jalan dikota mewarnai gelapnya malam.
“I - indah, siapa sangka ada pesona alam seperti ini.” gumamku tercengang.
Tidak lama setelah itu kilauan cahaya kecil dari kejauhan menarik perhatianku.
“Kunang kunang? Tidak mana ada kunang kunang secerah itu.” Sambil mendekati sumber kilauan cahaya tersebut karena rasa penasaran.
Aku melihat sesosok orang dengan jubah berwarna hijau muda, serta anak panah yang ada di punggungnya. Karena dia memakai tudung dikepalanya, aku juga tidak tahu detailnya.
Saat aku mencoba mengintipnya dari balik pohon, orang itu menyadari keberadaanku, serentak di ikuti dengan anak panah yang siap ditembakkan ke arahku.
“Siapa disana?” Waspadanya memegang erat busur serta anak panah ditambah pandangan yang tidak terlepas dan mengarah di pohon tempat aku bersembunyi.
Orang itu adalah gadis elf yang bersama Taka, Mikadzuki fin. Aku sedikit lega.
“Maaf – maaf ini aku.” Ucapku sambil keluar dari balik pohon.
Mengetahui hal itu, Mikadzuki menurukan busurnya.
“Sini, kamu tidak pernah melihat ini bukan?” Ajaknya.
“Baik.”
Aku menyetujuinya. Saat didekatnya panorama kali ini sangat menakjubkan, hutan elf ini ternyata berada di bukit, dan dari sinilah aku bisa melihat luasnya dataran malam. Semua ini mengajarkanku bahwa tidak semua hal di dunia ini dapat dijelaskan secara rasional.
“Mikadzuki - san, kamu tidak tidur?” Tanyaku melihat Mikadzuki yang dari tadi terdiam.
“Aku ini High Elf loh, aku bisa terjaga sampai berhari hari tanpa tidur.” Jawabnya sambil menunjukkan daun telinga yang tertutupi oleh rambut hijau keemasan.
High Elf ya, setahuku di komik atau anime di dunia ku, Ras tersebut termasuk darah bangsawan. Namun, personalitas serta keadaan mengubah segalanya. Mikadzuki – san tidak terlihat seorang bangsawan, dengan panah dan belati kecil yang dibawanya dia lebih mengarah menjadi petualang atau ksatria.
Suasana sepi nan sunyi ini sungguh tidak mengenakkan, apalagi tanpa ada perbincangan diantara kami berdua, jadi aku memutuskan untuk membuka percakapan dengannya.
“Soal hutan elf ini, jika tersembunyi dengan kata lain jarang orang yang mengetahui ini ya?” Tanyaku.
“Iya, bahkan kami bertemu ras lain seperti manusia itu dilarang oleh petua disini, Huft….. memangnya Taka tidak menjelaskan itu? Ucap Mikadzuki kesal.
“Di larang? Lalu bagaimana dengan Taka dan aku?”
Mikadzuki merenggangkan kakinya, dilanjut dengan melihat kebawah bagai penuh beban pikiran dalam dirinya.
“Entahlah, Taka itu anak dari Elf yang menikah dengan manusia. Awalnya orang orang disini tidak menerima kehadirannya, akan tetapi seiring berjalannya waktu dia semakin banyak menolong desa ini dari pemburu. pandangan sekitar yang menganggap dia sumber kesengsaraan sekarang menjadi sumur kebanggaan, dasar Taka.” Jawabnya bahagia, senyuman indah menghiasi wajah manisnya.
'Jadi begitu ceritanya, eh, berarti Taka dan Asteria seorang elf? Tapi mereka tidak punya daun telinga panjang seperti elf, membingungkan.'
Dengan itu entah kenapa aku terbayang sosok Taka dalam benakku.
“Kalau kamu pikir Taka adalah bagian dari ras kami itu salah, dia salah satu manusia di desa ini, walaupun Kakaknya adalah Elf.” Sambungnya.
“Asteria?” Tanpa kusadari mulutku berbicara dengan sendirinya, aku keceplosan.
“Dia juga, namun sepertinya dia menyembunyikan telinganya di balik rambut panjang miliknya.” Mikadzuki mengerutkan keningnya, dia sepertinya juga heran.
“Kamu tidak menyadarinya ya? Asteria ya Asteria, dia imut bukan?” Lanjutnya memperhatikan wajahku yang memerah.
“Ah, I – iya.” Ucapku memalingkan wajah.
Aku tidak mau lagi menampakkan sisi bodoh ini, harus ganti topik pembicaraan. Oh iya-
“Soal pemburu yang kamu bicarakan tadi, apakah ada sesuatu seperti artefak atau hewan langka di hutan ini?” Tanyaku sambil melihat keindahan bintang bintang yang menghabiskan waktu bersama bulan.
“Bohong jika kamu tidak tahu.” Balas Mikadzuki dengan nada berbeda, kali ini tangannya menggenggam belati kecil yang tersarung dipinggang.
“Tidak – tidak, aku benar tidak tahu apapun.”
Aku sedikit panik ketika tahu dia memegang belati kecilnya.
“Sungguh aku tidak tahu apa apa, mulai dari kesini sampai-.”
*Slash!
Mikadzuki menebas leherku, aku melihat darah yang keluar menyembur dari bawah kepalaku. Penglihatanku perlahan mengarah kebawah, sepertinya tebasan itu menembus tulang leher sehingga penopang utama kepala tidak bisa digunakan selayaknya.
Malam dingin penuh misteri, kegelapan menyembunyikan harapan terang. Aku sadar jika kematian sudah menjadi pijakanku, pasrah akan keadaan serta memutus semua kenangan.
Saat aku mengedipkan mata, tidak tahu bagaimana caranya aku kembali berhadapan dengan Mikadzuki. Terlihat dia menghembuskan nafas disertai belati kecilnya yang disarungkan. Kemudian tersenyum kepadaku. Dirinya seakan bersinar dalam kegelapan malam, jubah hijau terhembus angin memperlihatkan sisi asli sebenarnya.
“Maaf Aoi, aku sempat tidak percaya tadi, tapi kamu benar benar mengatakan apa adanya.” Ungkap Mikadzuki sembari menyarungkan kembali beratnya.
“…”
Aku masih bingung dengan apa yang terjadi, sebagaimana memikul semua harapan keluarga, aku tidak bisa mengetahui satupun tentang kejadian ini. Yang ku tahu hanyalah Mikadzuki menebas leherku tadi.
Serentak aku memegangi leherku, berkali kali. Tapi tidak ada darah, bekas luka juga tidak. Mikadzuki yang memiringkan kepalanya melihatku kebingungan.
“Bo – bohong kan!” Teriakku.
Mikadzuki tertawa terbahak – bahak, sekarang dia menjadi seperti anak kecil tanpa masalah yang terpanggul diwajahnya.
“Haha, Maaf – maaf! Kamu benar benar jujur ya Aoi, jika orang lain mungkin sudah tidak terima dengan apa yang kulakukan.” Serunya sambil tertawa tak henti.
“Apa…… maksudnya.”
“Jadi begini, Seseorang akan memperlihatkan semua di bola matanya ketika tahu dirinya mati. Ah, seperti apakah ada penyesalan dalam hidupnya atau tidak terima atas kematiannya, begitulah.” Jelasnya.
“Intinya tadi memang perbuatanmu?” Cibirku.
“Eh…tidak sepenuhnya. Omong omong berarti kamu belum tau apa apa soal hutan ini?” Balasnya nyengir dilanjut mengalihkan topik pembicaraan.
“Huhhh iyalah, karena itu aku bertanya kepadamu.” Kesalku.
Sesuatu seperti kartu identitas berbentuk hologram muncul di hadapan Mikadzuki, kemudian dia mulai melihat dan menggeser isi dari kartu tersebut dan memperlihatkannya kepadaku
“Ini adalah seluruh Skill yang kupunya, oh ya sebelumnya apakah kamu tahu jika ras elf memiliki sihir alami?”
Aku melihat isi dari kartu hologram tersebut, memang benar ini adalah list Skill yang dimilikinya. Seperti-
[Skill Passive: Thin]
[Elf default Skill: Wind]
[Skill Active: Craftines Eye]
[Skill Special: Crescent Moonlight]
“Ini mungkin sedikit berbeda dengan milikmu, tapi beginilah ras Elf. Sejak lahir kami sudah memiliki sihir alami.” Sambungnya.
'Ah, Sial. Tidak ada Mashiro, aku tidak terlalu paham apa yang dikatakan. Tapi setidaknya aku tahu beberapa skillnya, nanti aku minta tolong dia untuk menjelaskan.'
“Jadi sihir alami milikmu adalah angin ya, lalu apa hubungannya dengan pemburu yang kamu bicarakan sebelumnya?” Tanyaku memastikan.
Mendengar itu, Mikadzuki mengambil nafas besar disusul dengan wajahnya melihat kearah langit bebas dimana alam semesta membentang luas tak terbatas, kemudian menghembuskannya laksana membuang semua masalahnya bersama udara kotor dari hidung dan mulutnya.
“Soal itu ya, pemburu itu adalah sekte keadilan. Mereka semua membunuh ras kami sebagaimana hewan ternak dan mengambil darah kami sama halnya mengambil daging hewan ternak. Di mata mereka, Ras elf hanyalah hewan buruan tingkat tinggi yang kapanpun siap dilahapnya.” Jelas Mikadzuki, Tatapan kosong berkumpul dibalik matanya.
Sekejam itu kah sekte keadilan, sampai sampai memburu para elf hanya untuk darahnya. Tidak hanya Mashiro yang kewalahan dengan sekte itu, bahkan satu Ras juga ketakutan mendengar sebutannya.
“Darah? Mungkin ini tidak sopan, kalau boleh tahu, memangnya darah elf digunakan untuk apa?” Tanyaku menaruh dagu yang bertumpu di kedua tangan.
“Apalagi kalau bukan kekuatan, jika seseorang meminum darah elf satu tetes saja, seketika mendapatkan kekuatan sihir alami dari elf tersebut dalam waktu singkat. Ambil saja contoh, kamu meminum darahku, maka kamu akan memiliki sihir anginku untuk sementara waktu dan hilang dalam beberapa saat tergantung seberapa banyak darah yang kamu minum.”
Kekuatan, Hukum rimba alam semesta berlaku disini, orang lemah pasti ditindas dan orang kuat akan menindas. Di dunia ini lemah adalah dosa dan yang kuat adalah pendosa.
“Kalau begitu kenapa kalian tidak melawannya, bukannya kalian memiliki sihir yang bisa meratakan orang orang bajingan seperti itu.” Tegasku kesal.
“Percuma, dari segi manapun kami kalah telak dengan mereka. Penghalang sihir serta anti sihir, apa yang mereka tidak punya!” Bentaknya kepadaku, air mata perlahan terlihat memenuhi kelopak matanya.
“Hanya masalah waktu saja Ras kami akan punah.” Lirihnya sambil menundukkan kepalanya, tetesan air mata terjatuh di tanah subur.
“…”
Suatu malam yang dipenuhi dengan kegelapan alam semesta, seseorang menangis dihadapan kehampaan langit, seakan menemani sekeping hati yang sunyi. Dan tangisan itu menghidupkan semula setiap rasa yang telah mati. Malam tak pernah gagal membunuh jiwa yang sedih.
Mikadzuki menghapus air mata yang ada diwajahnya, mencoba untuk berhenti dan melawan semua rasa takut itu.
“Maaf Aoi, aku terlihat sangat konyol dihadapanmu.”
“Ah, tidak apa ini juga salahku menanyakan hal itu.”
“Yah…. Ini juga waktunya aku menceritakan itu, terlebih lagi Dungeon Bonus muncul di hutan ini. cepat atau lambat orang orang pasti akan datang mencarinya, mengingat waktu tinggal beberapa bulan lagi.” Serunya semangat, tidak ada lagi air mata di matanya. Di lanjut berdiri dan menggenggam busurnya menghadap ke arah bulan.
“Dungeon Bonus?” Tanyaku sambil menggaruk kepala.
“Benar, Dungeon tahunan yang muncul secara acak di setiap tempat. Walau hanya 10 lantai, tempat itu tidak membuktikan apakah kamu kuat atau lemah, akan tetapi layak dan tidaknya. Hadiahnya juga, setelah mengalami peleburan setidaknya kamu akan mendapatkan Special Skill jika beruntung.” Semangatnya mulai menggantikan kesedihan yang telah berlalu.
Angin berhembus kencang meniup jubahnya, menggerakkan rambut hijaunya dihiasi dengan senyuman yang terpancar dari wajah.
Aku sedikit termotivasi setelah mendengarkan penjelasan Mikadzuki, aku juga ingin ikut memasuki dungeon tersebut. Setidaknya aku akan mengasah kemampuanku.
“Kapan kamu kesana? Aku juga ingin-.”
“Besok pagi! Taka juga, mari kita taklukan semuanya!” Potong Mashiro dengan semangat.
Aku ikut berdiri memandangi bulan dan keindahan bintang yang berkelip, Mikadzuki juga ikut tersenyum senang melihatku. Segelap gelapnya malam, pasti akan menghasilkan bintang yang bercahaya, dan cahaya mempunyai caranya tersendiri untuk menghibur malam dari sepi. Dengan ini aku yakin akan bisa berjuang dari nol bersama teman teman yang selalu mendampingiku di dunia ini.
“Omong omong bulannya indah bukan?” Ujarku melihat bulan setengah nan berkilau cerah tanpa ada awan yang berani menghalanginya.
Aku tidak menyadari jika wajah Mikadzuki memerah, kemudian dia memalingkan wajahnya, akan tetapi daun telinga elf yang sedikit lebih panjang tidak bisa menyembunyikan rasa malunya.
*Bruk!
“Bodoh! Taka saja tidak pernah mengucapkan itu padaku!” Bentaknya diikuti dengan pukulan busur kearah kepalaku dan kemudian kabur.
“A-a-aduh Sakit loh, apa sih dia itu.” Eluhku sambil menggosok gosok kepalaku.
Bersambung…..
...****************...
(Note: Tsuki ga kirei desu ne atau the moon is beautiful isn’t? adalah frase bahasa jepang yang memiliki arti “Bulannya cantik yah?” yang dapat ditafsirkan sebagai “Aku mencintaimu”. Penafsiran ini berasal dari anekdot tentang sastrawan Natsume Soseki. Dikisahkan saat menjadi guru bahasa inggris, ia menjelaskan bahwa kalimat “I Love You” tidak tepat jika diterjemahkan langsung ke dalam bahasa jepang dan menggunakan frase ini sebagai penggantinya.)