The World Of Game Systems

The World Of Game Systems
Chapter 42 - Apakah ini akan Menjadi Kesempatan Kedua Bagiku?



Sisi Aoi Syafiqi


Awan – awan tidak membiarkan suasana ini hening begitu saja, angin juga menunjukkan kehebatannya, membuat keduanya bersatu menciptakan panorama indah. Namun bila di satukan dengan cahaya ungu disekitarnya, itu cukup memenuhi kata “mematikan” diantaranya. Seolah berkhianat pada sang surya, pantulan penghalang sihir berkilauan ungu cerah hendak menggantikan tugas utamanya.


Deskripsi tersebut mungkin cocok ketika penyelamat ingin membantu bagaskara nan abadi di sana, dan tentunya beberapa orang ingin mengemban kata “penyelamat” di namanya, itu adalah aku serta Mashiro yang sedang berlari menyusuri kota, bergegas menuju pusat permasalahan tersebut.


“Ma – Mashiro, tunggu sebentar,” cakapku di sela nafas tidak beraturan.


“Ada apa Aoi? Colloseum hanya tinggal beberapa langkah saja,” jawabnya ikut berhenti.


“Apakah kita akan langsung kesana tanpa rencana satupun?”


Mashiro terdiam, kemudian memandangi seberapa gagahnya penghalang besar berkilauan indah bercampur mimpi buruk itu. Sedetik setelahnya dia berkata.


“Aku tidak terpikirkan hal itu, meskipun aku mungkin bisa menandingi Zylx. Tapi kita benar benar kalah jumlah,”


“Benar, tidak hanya Zylx saja yang harus kita waspadai,”


Aku mengatakannya serius, tidak dapat disangkal lagi jika puluhan bahkan ratusan orang disana cukup kuat. Terlebih lagi beberapa tangan kanan dan anak buah yang ikut memunculkan penghalang itu, mengingat kembali saat Taka melawan lelaki misterius kemudian mengatakan jika dia salah satu tangan kanannya.


“Tentunya orang yang bisa mengaktifkan sihir penghalang itu,” sahut Mashiro.


Perkataanku sebelumnya diperkuat kembali oleh para anak buah Zylx yang menyiapkan pasokan sihir sebanyak itu sebelumnya.


“Aku mungkin dapat menggunakan beberapa cara untuk memasuki penghalang itu, mungkin setelah kita masuk kesana, aku akan memperkirakan langkah selanjutnya,” lanjutnya.


“Baiklah aku mengandalkanmu, Mashiro,”


Setelah perbincangan singkat itu, kami kembali melanjutkan perjalanan. Suasana yang benar benar runyam, apalagi kota ini kosong, tidak ada satupun seseorang disini, entah itu penduduk kota atau pendagang.


Menyadari hal tersebut, dengan wajah heran aku bertanya kepada Mashiro, “Hei, Mashiro. Apakah ini tidak aneh?”


“Maksudmu?”


“Jalanan kota ini sangatlah sepi, apakah itu normal disini?”


Pertanyaanku cukup aneh dilontarkan ketika masa – masa seperti ini, tetap saja pertanyaan tersebut tidak sengaja keluar dari mulutku sesaat membandingkan suasana ramai di duniaku.


“Tidak, bukannya hari ini diadakan Party Star di colloseum? Itu sudah cukup menjawab pertanyaanmu, sisanya mungkin menyadari penghalang sihir dan mengamankan dirinya ke tempat yang cukup aman,” jawab Mashiro, tidak terlepas dari mata melirik kesana kemari memperhatikan kondisi kota ini.


“Jadi hampir seluruh penduduk menonton Party Star?”


“Iya, dan karena itu Sekte Keadilan memanfaatkan keadaan ini,”


“Oh, iya bahkan Raja Tsukasa dibunuh disana,” timpalku.


“Sangat sempurna sepertinya rencana mereka,”


Namun, setelah mencerna kembali penjelasan Mashiro. Aku teringat seseorang, tidak mungkin juga sosoknya luput di dunia ini,


‘Kalau semua orang di colloseum, tapi mengapa aku tidak melihat Nathan – sensei?’


Aku bertanya – tanya pada diriku sendiri, sudah wajar karena dia adalah pembimbing sekaligus penanggung jawab party yang telah dibentuk Taka ini. Namun anehnya mengapa dia tidak kelihatan maupun datang hari ini.


“Nathan – sensei? Nathan? Natnat?”


Tiba tiba Mashiro menimbali pikiranku, entah bagaimana caranya dia melakukan itu.


“Suara hatiku bocor ya? Sial,”


“Tidak, apakah karena kamu melihat diriku, Aoi melupakan Skill Kontrak yang masih terhubung?”


Pertanyaan serta penjelasan Mashiro sungguh menjawab keherananku ini, aku juga begitu bodohnya bisa melupakan hal tersebut.


“Seperti Telekinesis toh,”


‘Mirip tapi hanya kita berdua,’ sahut Mashiro menggunakan Skill Kontrak disambi memberikan ekspresi senyum padaku.


“Sial…”


“Oh ya, omong – omong apakah Nathan itu gurumu?” tanya Mashiro kembali pada topik perbincanganku dengan hatiku.


“Nathan – sensei, iya,” jawabku memalingkan pandangan keatas dan sedikit mengangguk, karena jawaban itu


tidak sepenuhnya benar, dia adalah pembimbing di kelas sihir gabungan.


“Wah, Natnat sekarang jadi guru toh,”


“Kamu mengenalnya?”


“Iya begitulah, dia salah satu muridku dulu,” balas Mashiro tanpa goyah akan pandangan kedepan, itu memberikan kesan ragu ragu menurutku.


“Begitu ya, dia juga yang melatihku sesaat kamu menghilang, dan sekarang dia yang menghilang,” ucapku dengan nada lemas dan ekspresi datar.


“Natnat menghilang?”


Sisi Nathan – Sensei


*Malam sebelum pembukaan Party Star


Keributan orang orang yang sibuk menggerakkan jari jemarinya semalam suntuk demi sebuah pekerjaan, batu sihir penerangan selalu menemani mereka semua, walaupun terbilang aku juga termasuk dari mereka, tapi aku tidak terlalu ambisius terhadap pekerjaan ini.


Ada banyak makhluk di sini, semuanya mungkin mengenalku, akan tetapi aku tidak pasti mengenalnya, sungguh egois.


Salah satu orang yang sedikit akrab denganku adalah dua orang ini, Liem, laki laki berambut pirang pendek, dan Ren, gadis muda disertai ikat rambut untuk menghindari panjangnya helai rambut mengganggu pekerjaan di hadapannya.


“Huft, lagian tahun ini banyak sekali sih yang daftar,” eluh Liem sembari menyelonjorkan kedua kakinya.


‘Kalian itu masih lebih baik dari pada aku tahu,’ batinku menyahuti perbincangan mereka dalam hati.


‘Padahal aku sudah bilang menjadi pembimbing Party Taka, tapi mereka masih menyuruhku mengurus bagian ini,


menyebalkan sekali,’


Aku meletakkan alat tulis, kemudian menjadikan kedua lenganku sebagai sandaran kepala. Dalam posisi tersebut aku melihat poster Lallapalooza, pertandingan Party Taka dan Party Mafal.


‘Yang terpenting, kenapa pagi pagi langsung di awali dengan pertandingan gila begini,’


Pandangan sepasang pemuda pemudi itu terpancing karena tingkah laku diriku, Liem kemudia berkata, “Ada apa Nathan – sensei, sepertinya kamu tersiksa,”


“Iya, apakah sensei butuh kopi?” sahut Ren.


“Ah tidak tidak, aku hanya sedikit lelah, habis ini juga selesai,” balasku tenang, aku tidak ingin


merepotkan mereka.


“Tapi, bukannya sensei itu pembimbing dari salah satu party ya?” tanya Ren.


“Iya begitulah,”


“Jadi pembimbing dan pengurus acara begini, sensei luar biasa lah,” kagum Liem.


‘Itu tidak seperti yang kalian pikirkan loh,'


Tanpa mengenal setiap menit dan jam, aku telah menyelesaikan lembaran terakhir yang harus kutanda tangani. Merenggangkan tubuh sebagai penanda selesainya tugas, dan pergi keluar ruangan tanpa berpamitan dengan Liem ataupun Ren, mereka berdua terlihat sibuk.


Aku sudah berada didepan ranjang tidur, baru saja sampai dari colloseum semalam. Bahkan seragam kusut ini masih menempel.


“Haaah, akhirnya bisa tidur,”


Aku melepaskan semua penat serta keseimbangan tubuhku untuk terlentang tengkurap di kasur, tidak lama kemudian rasa kantuk melahap diriku sepenuhnya.


Hingga silauan cahaya menembus kelopak mataku, dan mengganggu satu satunya kesenagan duniawi.


“E – ergh, siapa sih yang menggunakan sihir cahaya tidak masuk akal ini,”


Aku mencoba untuk bangun dari tidurku, dan hendak menutup jendela yang merupakan salah satunya sarana cahaya itu masuk.


“Kalau mencoba sihir cahaya, di goa saja lah, kenapa harus ditengah kota seperti ini,” lirihku.


Namun, ketika aku akan menutup tirai. Cahaya tersebut semakin menjadi, menyorot mata beratku secara langsung.


“A- apa itu?”


Dan benar saja, waktu aku memaksakan mata untuk memandangi apa usut penyebab cahaya itu, aku melihat sebuah gumpalan cahaya ungu di tengah kota, tepatnya di arah colloseum.


“Sihir penghalang? Sebesar ini?!”


“Sial!”


Mengetahui tersebut, aku langsung mengambil sebotol air disamping ranjang dan mengguyurkannya pada wajahku, dilanjut mengenakan jas dan langsung pergi keluar.


‘Oi, ini sudah mau sore hari, pertandingan apa ini?’


‘Tidak mungkin pasokan sihir sebesar ini dilakukan hanya dengan satu orang,’


Aku membalas pemikiran hatiku dan langsung berlari menuju arah colloseum, tempat yang memungkinkan kejadian seheboh ini terjadi, apalagi banyak orang berbakat disana sedang bertanding.


Sisi Zylx


Duduk bersantai dan menikmati setiap waktunya bersama ketiga prajurit pilihanku adalah hal terbaik saat ini. Terlebih lagi kemenangan sudah menjadi udaraku, hanya tinggal menunggu waktu saja hingga terolah menjadi nafas kehidupan.


“Ketua, apakah kita tidak akan meneruskan ini?” tanya salah satu prajurit pilihanku, Yuna namanya.


“Benar, seharusnya kita membalas dendam Hyaki,” sahut Jako selaku saudara Gato, orang yang terbunuh oleh Taka karena kesalahannya sendiri.


Meskipun seluruh bawahan dan tangan kananku memakai jubah sama, aku tidak pernah sekalipun salah orang, mudahnya menggunakan nada bicara dan aku juga bisa merasakan hawa kehadiran berbeda dari mereka.


Mendengar usulan mereka berdua, aku tersenyum kecil. Bukan bermaksud tertentu, tujuan mereka memang bagus untuk dilakukan, tapi aku memiliki kesabaran lebih, kemudian berkata, “Percuma saja, kita bermain sabar saja, menunggu para tikus itu kelaparan,”


Hino, lelaki tanpa mata bersiul, itu adalah kebiasaannya sebelum memulai perkataan,


“Benar apa kata ketua, hampir semua rakyat juga terkurung di colloseum, nanti juga akan menyerah.”


Yuna mengangguk seraya berkata, “Iya sih, tapi Ai dimana? Dari tadi tidak kelihatan.”


‘Ai Enma ya, dia pasti tidak akan berani macam macam,’ batinku, aku percaya dia adalah orang yang loyal. Seorang yang pertama kuberikan kepercayaan padanya.


Namun, usut punya usut. Salah seorang anak buahku datang mengetuk pintu.


“Permisi, aku ada suatu informasi penting,” ucapnya sembari menundukkan tubuh.


“Silahkan,” jawab Hino.


“Beberapa pasukan penjaga kita di colloseum diserang, tidak diketahui pasti, tapi ada 5 orang disana,”


“Apa?!” Gato terkejut akan informasi tersebut.


“Baiklah, waktunya menunjukkan taring kita pada tikus tikus itu!”


Bersambung….