
Malam penuh hal baru mengisi pagi hari dengan perumpamaan lahir kembali, di barengi sinar matahari dan hilir angin yang terus berusaha menciptakan pagi lebih baik dari sebelumnya. Tidak pernah ada malam atau masalah yang bisa melawan adanya matahari terbit ataupun harapan.
“Bangun! Aoi – kun, sampai kapan kamu mau tidur terus.”
Suara gadis yang tidak asing terdengar ditelingaku, walaupun perlahan mengeras dan semakin jelas, aku sudah terbiasa dengan itu semua.
“Bodoh! Temanmu dari tadi sudah bergerak, lah, kamu? Masih melingkar di tempat tidurmu!” Bentakannya memukul dingin pikiranku.
Aku perlahan membuka kelopak mata, memandang seorang gadis yang terlihat kesal menatapku, Ekspresi puas dicampur kesal terolah di raut wajahnya.
“Tahu kok aku, Hoam……” Ucapku masih mengantuk, mengusap wajahku sambil menguap.
“Baguslah kalau begitu, Humph!”
Mashiro sepertinya kesal denganku, memalingkan wajahnya serta membelakangiku.
Sementara itu, terbetik suara riang anak kecil diluar-
“Terimakasih, nii – san…”
“Giliranku sekarang!”
“Ahh, ini bagianku.”
Mendengar itu, terpetik rasa penasaran yang tumbuh di benakku, membuat diriku ingin tahu apa yang sedang terjadi.
Diriasi dengan wajah baru terbangun, rambut acak – acakan, serta kerja keras mata untuk menahan rasa kantuk, aku membuka pintu rumah dan keluar.
Pagi ini begitu syahdu, embun di ujung daun jatuh dengan membawar rindu pada tanah, menumbuhkan secuil kehidupan disana. Anak anak kecil bersuka ria memanggul buah – buahan dikedua tangan mungilnya, berlari kesana kemari, desa kecil penuh dengan kebahagiaan menjunjung kebijaksanaan pagi nan cerah ini.
Terlihat Taka dan juga Mikadzuki berada di tengah tengah kerumunan, dikelilingi oleh orang orang desa serta anak kecil yang tidak lain adalah Elf. Nampak, mereka berdua membawa karung yang kemarin Taka beli sebelum menuju kesini, membagikannya kepada orang orang yang ada disana.
“Yo! Aoi, sudah bangun ya?” Sapa Taka dari kejauhan melihatku berdiri lemas di depan rumah pohon.
“Ah…..Iya.” Balasku.
Diikuti dengan beberapa langkah kaki menghampiri mereka berdua. Orang orang yang ada disana terdiam bisu melihatku, terlebih lagi daun telingaku menjadi pusat perhatian mereka. Anak anak kecil disana juga mengetahui hal itu dan langsung lari kebelakang Taka. Mungkin mereka beranggapan, aku adalah salah satu musuh mereka yang akan memusnahkan keturunannya. Diwaktu yang sama juga, aku merasa menjadi ancaman bagi mereka semua, menatapku dengan tatapan sinis.
“Sudah – sudah, kalian semua. Dia adalah temanku, Aoi. Di berpihak pada kita.” Celetuk Taka, memecah keheningan dan meluruskan semua kesalahpahaman yang terjadi, diikuti dengan mengelus – elus kepala anak kecil yang memeluk kakinya.
“Benar kata Hoshizora, kalau bukan, aku tidak segan segan menebasnya langsung.” Sambung Mikadzuki dengan tatapan dingin mengarah kepadaku.
Aku sediki sedih mendengar itu, tapi mau bagaimana lagi. Aku adalah orang asing di hutan ini, siapa saja berhak menganggapku begini.
Tatapan orang orang mulai normal, pengaruh ucapan Taka dan Mikadzuki memberikan dampak positif. Secara logika, mungkin mereka berdua adalah orang penting disini.
Seorang gadis kecil berambut panjang menutupi sebelah matanya, berbicara lirih kepadaku dari balik kaki Elf dewasa.
“Ka – kakak tidak akan menculik kami kan?” Tanyanya lirih mengintip dari persembunyiannya.
“Tidak, aku bisa memegang ucapan itu.” Balasku mendekatinya perlahan.
Saat aku mendekat, gadis kecil itu sedikit ketakutan, namun setelah aku mengatakan itu, dia mulai berani menampakkan dirinya.
“Vi – Viryla” Ucapnya sekaligus mengenalkan namanya kemudian menjulurkam tangan kanan kepadaku.
“Nama yang bagus, mulai saat ini, salam kenal ya.” Balasku memegang tangannya.
“Aoi – kun itu kuat loh, dia akan membantu kami untuk peleburan Dungeon bonus.” Sindir Mikadzuki, nada yang di besar – besarkan sambil melirikku.
“Peleburan Dungeon ya!”
“Aoi – kun kami mengandalkan mu loh!”
Serentak orang orang bersemangat mendengar itu, menyorakiku dan mulai menyambut kehadiranku dengan baik. Pandangan buruk mereka terhadapku berubah drastis hanya karena ucapan mereka berdua.
Taka tersenyum ikhlas melihat itu, namun berlawanan dengan senyuman Mikadzuki yang dbalut dengan rasa dengki.
......................
Tak disadari, sang surya sudah mengerjakan hampir seperempat dari tugasnya, diiringi kicauan burung yang menghiasi perjalanan terbitnya.
“Sudah? Hanya sebilah pedang? Ucap Mikadzuki melirikku mengambil pedang milik Taka.
“Iya.”
Sepertnya Mikadzuki benar benar membenci kehadiranku disini, atau selebihnya meremehkanku.
“Sudah siap semuanya? Ayo berangkat!” Seru Taka mengepalkan tangannya keatas dengan penuh semangat.
Di perjalanan, Taka menjelaskanku semuanya tentang desa ini seperti-
Desa yang tersembunyi, bahkan keberadaan di peta tidak dapat di temukan.
Walaupun berada di alam terbuka, entah bagaimana bisa menyembunyikan desa seluas ini di bukit. Batu sihirlah yang Taka ketahui bagiamana carannya.
Desa ini di pimpin oleh petua disini, bernama Tiorete, seorang elf tua yang berumur kurang lebih 418 tahun.
Persoalan tentang sosial dan keributan antar keluarga tidak pernah sekalipun terjadi didesa ini, semua masyarakat disini saling menumbuhkan rasa kerja sama yang tinggi antar sesama.
Tidak ada mata uang baku di sini, semuanya dilakukan dengan cara menukar barang. Atau disebut barter, namun kelangkaan barang juga terjadi disini. Larangan untuk pergi keluar hutan mencekik kegiatan ekonomi.
Tidak bosan bosan aku melahap semua informasi yang diberikan oleh Taka dan Mashiro di dunia ini, setiap perjalanan pasti di iringi dengan kejadian serta fakta – fakta yang diceritakan melalui lisan.
Dipimpin oleh Mikadzuki, kami meneruskan perjalanan selangkah demi selangkah. Menikmati keindahan alam, langit langit yang menjadi atap serta gerakaan pohon terhembus angin bagaikan arus laut.
“Baik, itulah!” Tunjuk Mikadzuki mengarah kedalam lorong goa yang terbentuk secara beraturan.
“Inikah, lalu bagaimana dengan tipe dungeon bonus kali ini.” diikuti Taka yang siap dengan kedua belati yang ada di masing masing tangannya.
“Tipe? Nama dungeon - nya?” Tanyaku bingung.
“Tipe itu seperti apa yang ada di dalamnya, atau simpelnya dalam dungeon tersebut apa aja isinya.” Jelas Mikadzuki.
“Contohnya Tipe laut, pasti akan berlawanan dengan monster monster aquatic serta medan yang basah, lalu setelah ini apa?” Sambung Taka.
'Oh… semacam stage jika di game, aku paham. Lagian Mashiro mana sih, merepotkan jika tidak ada dia.'
“Hutan.” Kata Mikadzuki diikuti dengan tatapan serius ke dalam lorong goa tersebut.
Kami pun memasuki goa tersebut, setelah itu melewati sebuah gerbang besar dengan motif bangunan batu yang disusun. Dari kejauhan nempak seperti lorong tiada habisnya, kegelapan goa juga membantu suasana dungeon ini.
[Role baru telah di dapatkan karena telah mempelajari keahlian tertentu]
[Explorer level 1]
[Pasif yang diberikan adalah dapat memunculkan black storage, dengan kapasitas sebesar 10% dari berat tubuh]
“Explorer ya?” Gumamku melihat indikator muncul dihadapanku
“Eh? kamu baru baru ini masuk dungeon? Aoi?” Tanya Taka terkejut saat mendengar aku mengucapkan itu.
“Kukira dengan efek samping ditubuh seperti itu kamu adalah orang berpengalaman, ternyata aku salah ya?” lagi lagi Mikadzuki menyindirku dengan lirikan sinis.
“Yah, begitulah….”
Di didalam goa, udara sangat tipis, dinding dengan corak ukiran tidak beraturan mengiringi setiap lorong, kabut tipis menyelimuti setiap langkah kami, semakin dalam kami masuk semakin tebal juga. Benar benar menciptakan suasana lorong berkabut tanpa batas.
Sedikit kilauan cahaya nampak di setiap sisi lorong, berwarna kuning redup dan berkedip lambat, tatkala bintang yang bercahaya dilangit malam damai nan tentram, namun ini berbeda jauh dari malam. Tempat dimana kamu tidak tahu kapan kamu bisa hidup, ancaman yang selalu siap menerkam tubuhmu dari segala arah
“Batu sihir?” Tanya Taka kebingungan memegang batu yang menjadi cahaya redup di goa ini.
Aku juga ikut memperhatikan batu berkilau yang ada disampingku, merabanya sedikit. Nampak batu tersebut tidak ada bedanya dari batu pada umumnya, keras. Namun yang memberikan pandangan berbeda adalah cahaya yang dikeluarkan dari dalam batu tersebut.
“Batu sihir Penghalang! Kamu bodoh apa?” Bentak Taka sambil menaruh kembali batu yang dia pegang serta membentak Mikadzuki.
“Yah…..aku tidak mau repot repot keluar – masuk melawan monster monster yang terus bermunculan, jadi aku pasang lah batu sihir di setiap dinding lorong ini.” Balas Mikadzuki, ekspresi yang tidak peduli seakan dia tahu apa yang akan terjadi.
“Yo! Aoi – kun! Maaf – maaf!”
Mashiro yang entah muncul darimana tiba tiba menyapaku dari belakang, disertai mata tertuju kepada batu sihir.
“Lalu kamu dengan polosnya memasang batu ini dari lantai bawah? sampai lantai mana batu ini terpasang?” Bentak Taka memegangi pundak Mikadzuki.
“Eh….Ryo dan Ryu memasang dilantai 1-4 aku dan Rya di lantai 5-7, mungkin. ” Jawabnya menempelkan jari telunjuk kanannya di pipi dan jari kiri yang bergerak menghitung.
“Oh ya! Batu sihir penghalang ini! Aku ingat – aku ingat!” Seru Mashiro.
‘Batu sihir? Apakah semacam barang yang dapat memblokir jalan keluar monster?’ Tanyaku dalam hati, aku bermaksud untuk tidak membuat mereka berdua khawatir tentang aku yang tidak tahu apa apa.
“Batu sihir itu ada banyak macam, yang ini tipe penghalang. Seperti namanya, batu ini mencegah monster agar tidak bisa muncul di area batu ini.” Jelas Mashiro, pandangannya masih terpaku dengan batu sihir.
“Jadi tinggal lantai 8 – 10 ya, kemungkinan akan terjadi blood parade di sana, ah sial.” Kata Taka, menghela nafasnya.
Mikadzuki mengambil peta dari sakunya, kemudian menunjukkan jalur yang akan dilewati. Tak lupa dia menjelaskan beberapa jalan pintas di setiap perbatasan lantai.
“Kita bisa menghindari blood parade itu, ada genangan air yang cukup dalam di jembatan goa lantai 7. Dengan melewati itu kita dapat mencapai lantai 10 sekaligus.” Mikadzuki menerangkan isi dari peta tersebut serta menunjuk gambar danau diatas jembatan.
“Tidak ada cara lain, jika ingin mengambil rute aman, satu satunya adalah ini. Bagaimana Aoi?” Tanya Taka memperhatikan peta yang dibentangkan.
“Jika menurut kalian ini adalah cara terbaik, aku ikut.” Balasku menganggukkan kepala.
“Baiklah!”
Kami melanjutkan perjalanan masuk lebih dalam, langkah demi langkah didapati, memasuki area hutan yang penuh kabut ringan di lantai 1 – 5, suasana tidak akan berubah menjadi lebih baik. Semakin dalam melangkah, semakin kecil pula kesempatan untuk hidup. Namun tekad kami sudah bulat untuk menyelesaikan ini dengan cepat.
“Mikadzuki fin ya, Si Angin Bulan Sabit itu toh!” Seru Mashiro membuatku mengalihkan pandangan kepadanya.
“Kenapa Aoi?” Tanya Mikadzuki, sadar jika aku melihatnya.
“Ti – tidak, aku merasa sedikit buram disini.” Balasku memutar balikkan keadaan.
“Omong omong, jika kamu pertama kali masuk Dungeon, tapi kamu tidak merasakan apa apa.” Heran Taka memandangiku dari atas ke bawah berulang kali.
“Ergon?” Tampaknya dengan nada bertanya.
“Eh, 72. Kenapa?” Jawabku lugas.
[Serius?]
Mereka berdua terkejut saat aku mengatakan itu, membuat kami menghentikan langkah.
“Padahal punyaku 41, dan itu sudah cukup banyak untuk mengaktifkan 2 kali Special skill.” Ucap Mikadzuki sambil mengerutkan dahinya.
Dengan ekspresi wajah ternganga dan melamun Taka menganggukkan kepalanya terus menerus.
“72 loh, 72 loh, 72 loh, 72 loh, 72 loh” Ucapnya berkali kali.
“Eh Ta – Taka? Dia baik baik saja kan Mikadzuki?” Aku terkejut dengan ekspresi Taka, khawatir jika dia shock atau sebagainya.
“Entahlah…..” Balas Mikadzuki dengan nada malas.
‘Ma – mashiro, apakah jumlah milikku itu terlalu banyak?’
“Jika kamu bilang segitu memang banyak lah, lagian jumlah ergon milikmu itu tergabung dengan milikku. Jadi kurang lebih kapasitas yang kamu miliki adalah 35, bisa juga lebih.” Jelasnya, mengikuti nada bicara Mikadzuki.
“Mungkin dia terkejut kalau teman dekatnya memiliki kekuatan sebesar itu, setahuku milik Taka hanya 26.” Sambung Mikadzuki.
"Eh?"
Aku terkejut mengetahui hal tersebut. Taka, dia adalah seorang manusia serba sempurna yang aku kenal memiliki kekurangan besar seperti ini? yang benar saja. Sepertinya kata “Don’t judge book by it’s cover.” Ini benar benar nyata. Kerja kerasnya lah yang menutupi semua kekurangan ini, aku sungguh salut dengannya.
“Maaf – maaf aku sedikit terkejut mendengar itu, yah itu memang bisa terjadi tanpa sepengetahuan kita.” Ujar Taka, Nada nya masih belum bisa terpisah dengan wajah ternganga yang dia buat.
Setelah beberapa waktu kami berhenti, akhirnya kembali bergerak. Saat ini sudah memasuki lantai ke 7, benar benar hawa yang mengerikan. Udara disini semakin dingin, kabut tebal menyelimuti pandangan seakan tertutup kain tipis, suasana semakin sunyi, bahkan langkah kaki kami terdengar jelas. Pandangan lurus maju bagaikan jalan tanpa ujung.
‘Hei, Mashiro. Blood Parade, apa itu?’ Heran ku dalam Hati.
“Itu seperti gerombolan monster yang berkumpul dari lantai pertama hingga kelima. Pastinya, para monster tersebut haus akan darah dan siap menerjang siapapun mangsanya.” Jelas Mashiro, Tatapan kosong yang ada di matanya seperti sudah mengalami hal ini.
Tak lama, kami pun sampai di jembatan yang dibicarakan Mikadzuki sebelumnya. Memang benar, jembatan terbuat dari bebatuan tanpa pegangan satupun. Di bawahnya tak terlihat genangan air, hanya gelap gulita yang menjadi dasar akan jembatan itu. Akhir dari jalur ini menuju lorong yang mehubungkan ke lantai 8 dan seterusnya.
Bukan hanya lorong yang pernah dilewati, kali ini tidak terlihat apa apa disana, gelap nan mengerikan. Firasat seseorang pasti menolak untuk memasuki lorong tersebut, tanpa penerangan serta ujung tanpa kepastian.
“Serius terjun kebawah sini?” Ucapku heran melihat dalamnya jurang.
“Tidak ada genangan air, bohongnya kebangetan.” Sambung Taka mengikutiku.
“Terserah kalian, daripada mempertaruhkan nyawa melewati rute normal, lebih baik aku lewat sini.” Mikadzuki masih teguh dengan pendapatnya.
“Benar juga…. Aoi, kamu pilih mana?”
“Etto…… dua duanya tidak ada harapan hidup.” Jawabku pasrah.
Tak lama berpikir, terdengar suara sesuatu yang menggeram. Serempak, kami bertiga waspada dengan bersiap mengambil senjata masing masing. Taka menyiapkan kedua belati di tangannya serta Mikadzuki sudah menyiapkan anak panah tertarik di busurnya yang kapan pun siap di lepaskan. Tidak mau kalah dengan mereka berdua, aku juga menggenggam erat pedangku diikuti pijakan sebagai kuda kuda.
*Grrr….
Suara tersebut semakin mengeras, mendekat dan menikam suasana. Bagaimanapun bentuknya, itu jelas jelas suara monster di dungeon ini.
“Jagolf! Tidak kumpulannya, benar benar Blood Parade.” Ucap Taka was – was, tanpa membuka celah sedikitpun tetap bersiap dengan belati di tangan kanannya yang menutupi sebelah mata.
Nampak monster sebesar anjing dewasa keluar dari lorong seberang, dengan tubuh dan kepala serigala yang dilumuri darah. Tidak hanya satu, namun hampir semua monster itu penuh dengan luka dan darah. Tapi ada yang sedikit berbeda dengan kakinya, berbeda dari serigala, kakinya lebih besar dan bertotol hitam.
“Tidak ada cara lain-.”
Mikadzuki mendorong tubuhnya yang membuat kami terjatuh ke jurang, sangat gelap, tidak ada dasar.
Bersambung…..