
Sisi Kyokuro Mafal
Tidak ada pilihan lagi selain ini, satu satunya hal yang dikasihan sekarang adalah nyawaku sendiri. Aku berhasil keluar dari kurungan itu, setidaknya sampai di bibir colloseum. Tentunya bersama party - ku dan beberapa anggota party Taka, Yogairu, adiknya Taka, dan gadis imut itu.
Seseorang yang satu ras denganku, rambut hitam disertai biru tua dari gemulai mata. Yah bisa dianggap aku dengannya adalah saudara kembar, Norio Ohoshi. Bersamaan nafas tak beraturan, dia mulai berbincang padaku, “Hah – hah, untung saja kita bisa lepas dari kurungan itu. Tidak merasakan ergon benar benar mengerikan.”
Aku bisa memaklumi keluh kesahnya itu, sudah menjadi sifat alami penyihir jikalau tidak memiliki sumber kekuatan sama sekali. Terlebih lagi tubuh lemah itu baru saja dipaksakan untuk berlari.
“Juga sangat sempit.”
Sahut Hiroshi Ken, satu satunya ras giant dan menjadi defender dalam timku. Rambut bermodelkan belah tengah tersebut sangat menggangguku, darimana juga dia mendapatkan rambut mulus itu?
“Itu karena tubuhmu terlalu besar tahu!”
Ayumi menyindir Hiroshi, gadis selaku kakak kandung dari Yogairu. Gaya Pixie cut – nya sangat mirip dengan adiknya sendiri.
Namun perbicangan kecil tersebut terpecahkan oleh suara sedu Asteria, hal itu memang tak dapat lagi terhindari, dengan matanya sendiri ia melihat Taka menahan sosok bawahan sekte keadilan.
“Bagaimana ini, Ta – kyun sudah-.”
“Dibilangi Taka tidak akan semudah itu kalah, dia pasti akan segera menyusul kita.”
Tegas Yogairu memotong perasaan iba Asteria, menurutku pilihannya tuk mengatakan ucapan tersebut sudah benar. Lebih baik daripada meruntuhkan mental gadis labis seperti Asteria.
“Benar itu Asteria, sekarang kita yang harus berjuang.” Imbuh gadis muda sebaya Asteria, aku sendiri tidak tahu betul siapa dia.
Tidak ada lagi sesuatu yang bisa kita maupun aku lakukan, tujuan kita hanya satu, kabur dari colloseum ini. Namun semuanya dapat merasakan sihir kuat di setiap sudut dari ruangan ini, terhenyak diam dalam satu ruangan kosong merupakan garis start kami.
“Baiklah, kita pilih istirahat dahulu atau langsung maju.”
Ucapku menarik perhatian mereka semua, mana mungkin beberapa yang ada disini memliki pemikiran sejalan. Tentu salah satu darinya harus menjadi pemimpin party, jika saja waktu ini digunakan untuk memilih pemimpin party, itu akan sia sia. Apalagi aku sudah menjadi ketua pada partyku, dan juga di party Taka sudah kehilangan dua anggotanya.
‘Yogairu? Tidak – tidak, kalau saja dia, sudah menjadi mimpi buruk bagi kita.’
Pikirku sejenak, berpikir dua kali jika ingin memilih orang emosian tersebut menjadi ketua.
“Iya, menurutku lebih bagus langsung terobos.”
Saran Syu, cara duduk menengadahkan lutut disertai mata hijau melirik sungguh kesan nan dingin, mungkin bagi dia seorang all rounder yang terbiasa di posisi menyerang dan bertahan adalah pilihan terbaik.
“Jangan dulu, baru saja istirahat.”
Tolak gadis muda di sebelah Asteria, dia mungkin juga sedang memikirkan kondisi temannya itu.
Ken lebih memilih saran dari sahabatnya, kemudian mendekati sepasang gadis tersebut seraya berkata, “Ada apasih adik kecil? Kamukan tinggal jalan doang?” Ucapnya dengan tatapan mengintimidasi.
Otomatis gadis memasang wajah ketakutan akibat tekanan mengerikan itu, namun sekajap di redakan oleh Ayumi.
“Sudahlah kalian berdua ini, sekali kali mengalah gitu.” Sembari menarik baju Ken.
“Yah aku sejujurnya tidak masalah sih.” Kata Ohoshi.
“He’em.”
Yogairu hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali, entah apa pendapatnya.
“Kalau beg-.”
“Jangan cuma bilang “He’em” sajalah, dasar.” Ayumi memotong ucapanku, kemudian menyindir Yogairu akan perilakunya.
“Hah?! Apa salahnya? Bukankah kakak juga terjebak sendiri?” Timpal Yogairu membalas Ayumi.
Selayaknya hidup sebagai manusia, dia juga memiliki emosi. Terlebih lagi lawan bicaranya adalah kakak kandung satu keluarga. Tentu saja setiap aksi memunculkan reaksi, membuat Yogairu tidak bisa menahan emosinya.
“Iya! Lalu kenapa?!”
“Urus dirimu sendirilah bodoh! Memunculkan api saja tidak bisa.” Cakap Yogairu, kali ini dia yang memberikan sindirian nyata kepada kakaknya.
Melihat kelakuan idiot mereka berdua, aku sedikit penasaran. Apakah setiap hubungan adik dan kakak akan melakukan hal seperti itu? Jadi kuputuskan untuk berbincang sedikit dengan Asteria, serta menganggap keputusan ini adalah istirahat sejenak.
Aku mengatakannya tanpa mengalihkan pandanganku terhadap cekcok antara saudara itu, kemudian Ohoshi sepertinya tertarik dengan topik pembahasan konyol tersebut.
“Benar, aku juga anak tunggal.”
“Aku punya saudara kembar, tapi entah kemana dia pergi saat kami kecil.” Kata Ken sambil merapihkan rambut mulusnya.
“Ti – tidak tahu, aku dan Ta – kyun tidak pernah seperti itu.” Jawab Asteria ragu ragu, dia mulai normal dalam situasi ini.
Syu menghampiri kami seraya berkata, “Yakin mau istirahat sekarang? Sekumpulan orang berjumlahkan sekitar 4 sampai 8 orang menghampiri ruangan ini loh.”
Lelaki berambut hijau tua yang hampir menutupi matanya itu memang terlihat tidak peduli dengan sekitarnya, namun siapa sangka jika dia memiliki *Skill Active 'Detector'. Skill* paling penting dalam keadaan buntu ini.
“Bagaimana Asteria? Apakah sudah tidak apa apa?”
Tanya gadis disebelahnya, aku sedikit penasaran siapa namanya. Rambut ungu cerah tersebut terlalu imut untukku.
“Sekarang sih, ok.” Balas Asteria.
Diakhiri oleh sepatah kata setuju dari adik Taka, kami bangun dan bersiap mewaspadai setiap sisi yang memungkinkan sebagai jalur utama lawan menyergap.
“Kecuali itu sih…”
“Hah?! Kamu juga harus mengumpulkan dulu sihir api.”
“Itu lebih baik daripada memiliki tipe sihir api namun tidak dapat mengeluarkan api.” Timpal Yogairu, sedari tadi mereka berdua tidak ada hentinya tuk saling hujat.
“Di sana.”
Suara rendah Syu memecahkan seluruh suasana dalam colloseum, begitu pula Ayumi dan Yogairu yang langsung teralihkan pada jari telunjuk Syu. Tertuju pada arah lorong keluar berukuran cukup besar dan sedikit cahaya redup masuk.
“Sepertinya kita harus berhenti untuk sekarang.” Ucap Ayumi.
“Tanpa kakak suruh aku juga tahu.”
Sesaat mengatakannya, Yogairu ikut hilang bersamaan kata itu. Aku sendiri tidak bisa melihat arah dimana dia pergi maupun menggunakan Skill nya.
“Di belakang kita juga, 3, tidak 7 orang.”
Ujar Syu kembali waspada, kemudian mengeluarkan pedang panjang dari black storage.
‘Kalau begini, kita harus bagi regu. Tidak mungkin melawannya bergiliran.’
Pikirku sebentar, kemudian terselipkan beberapa strategi untuk membagi kelompok dari mereka. Mungkin tidak seimbang, namun menurutku sudah lebih dari cukup jika sekedar melawan anak buah Zylx.
‘Tapi, informasiku tentang kedua gadis itu sangatlah kurang. Apakah aku harus menerka – nerka posisinya? Itu terlalu merepotkan.’
“Asteria, dan temannya itu. Kamu support - kan? Aku tidak tahu apa Skill kalian, tapi bergunalah di bagian belakang.” Tuturku kepada mereka berdua, aku hanya mengandalkan logika, jika seorang gadis pasti akan menjadi supporter. “Syu, kamu yang mengatur semua ini dan lindungi mereka.”
“Ohoshi dan Ken, kalian bagian belakang. Cukup tahan dan jangan sampai terpancing oleh gerakan mereka.”
“Aku dan Ayumi mengurus bagian depan ini.”
Aku menyelesaikan perintah berbalutkan strategi dadakan itu, sejujurnya aku tidak terlalu yakin dengan keputusan ini. Terlebih lagi Yogairu, kemungkinan buruk pasti ada padanya.
“Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan, Yogairu. Tapi kita sekarang adalah tim.” Pesanku.
Seperti yang kuarahkan sebelumnya, mereka langsung bergegas menyusun posisi. Ken dan Ohoshi, gabungan defender dan magician mungkin cocok untuk memukul mundur pasukan di belakang. Dilanjut Syu adalah “Kontrol” dari semua rencanaku ini.
Semuanya juga bersiap dengan kuda kudanya, menanti kedatangan pasukan anak buah sekte keadilan. Hingga detik pertarungan muncul ketika melihat bayangan salah satu prajurit bawahan, entah niat awalnya berpatroli atau hanya sekedar jalan jalan. Tapi mangsa tetaplah mangsa.
“Asteria, Skill - mu! Aku, pria berambut hijau dan Mafal!”
Terdengar keras teriakan Yogairu kepada Asteria dari sudut bagian depan.
‘Apa yang akan dilakukannya?’
Bersambung…