
Sisi Aoi Syafiqi
Ledakan besar muncul entah darimana, bersamaan keberadaan Taka dan satu gadis yang kemungkinan besar adalah bagian dari sekte keadilan. Namun perbincangan mereka berdua sungguh menampar telak pikiranku akan tujuan gadis tersebut, apakah tujuannya untuk memperalat Zylx atau hanya memanfaatkannya saja, hal tersebut masih samar-samar.
Yang terpenting sekarang adalah aku harus menghindar sejauh mungkin sumber ledakan tersebut, sudah ada keyakinan bahwa Zylx adalah sumber pasti ledakan tersebut.
Suasana lorong gelap dan suara gemuruh runtuhan terdengar mengiringi perjalananku, luntang-luntung tidak jelas menuju arah tak pasti. Hingga suatu suara lirih lembut menggema di hatiku, itu adalah suara Mashiro.
‘Aoi, apakah kamu bisa mendengarkanku?’
“Huh-hah? Mashiro? Dimana? Hah!?” ucapku panik sesaat dan menyebar pandangan sekitar.
‘Tidak-tidak, kamu pasti sekarang celingak-celinguk mencariku bukan? Ini Skill Kontrak, santai saja,’ balasnya langsung dengan intonasi santai, namun itu sama sekali tidak ada santainya.
‘Seperti telepati jadinya, tapi kenapa dia tahu aku sedang celingak-celinguk?’ batinku lega.
‘Omong-omong, Aoi. Apakah kamu tadi merasakan ledakan?’
“Ah, ya. Baru saja ini.”
‘Kamu tidak apa?’
“Tidak apa, aku berjalan menjauh dari sumber suara itu.”
‘Begitu ya, syukurlah,’ pungkasnya singkat kemudian tidak ada lagi suara muncul.
“Hanya begitu? Dasar, setidaknya beri tahu penyebab ledakan tadi atau semacamnya.”
Setelah perbincangan singkat tersebut, aku melanjutkan mematri langkah terus maju kedepan. Entah apa yang akan menantiku di ujung, aku sudah siap dengan apapun itu.
Hingga sampailah pandanganku pada celah sedikit cahaya memancar di penghujung lorong, cukup redup jika dibandingkan oleh sinar matahari, membuat diriku beranggapan bahwa itu adalah cahaya buatan atau sebagainya.
Tahu jika ini masih wilayah musuh, jadi aku sedikit memperlambat langkahku. Tapi, daun semanggi empat tidak berpihak padaku sekarang. Entah keberuntungan maupun kebuntungan, aku secara tidak sengaja menendang serpihan batu dan menyebabkan batu-batu berukuran kerikirl itu melesat kedepan.
‘Eh.’
Dengan cekatan, aku langsung menghempaskan tubuhku kebalik pilar, tentu saja dengan maksud menyembunyikan keberadaanku.
Namun tidak ada pergerakan sama sekali, bahkan hanya keheningan di sekujur tubuhku. Aku putuskan untuk bertahan lebih lama, mungkin saja ini jebakan. Tapi, hasilnya nihil. Tetap saja suasana kosong itu bergentayangan. Jadi kuputuskan untuk keluar.
“Inikan…”
Aku tidak tahu secara detailnya ruangan kosong ini, namun pastinya aku melihat bayangan satu orang. Tidak, namun adalah dua orang yang saling mendekat, seperti pose berpelukan. Kemudian di sampingnya terlihat tumpukan batu.
“Kumarokun?”
Benar, bongkahan batu tersebut adalah pecahan struktur tubuh milik Mob Creature ciptaan Azuzi, Kumarokun. Na’asnya sudah tidak dapat disebut lagi Makhluk batu jika sudah hancur terpisah seperti ini.
Tapi, sesuatu yang lebih buruk sungguh langsung memenuhi pandanganku.
‘Aoi, bagaimana Taka dan party lainnya?’ sahut Mashiro kembali menggunakan telepati sebelumnya, namun aku tidak mempedulikannya
“Ini bohongkan? Anggota party Mafal….”
Bukan karena keegoisan atau rasa kesal dalam diriku, aku mengabaikan ucapan Mashiro karena satu-satunya rekan timku yang tumbang dengan salah satu musuh di hadapannya. Meskipun lawannya juga ikut menyamakan nasib, namun fakta kesedihan bergulat padu di pikiranku.
‘Apa maksudmu Aoi?!’
“Syu Katsuya ya,” ucapku lirih sesaat meliht indikator namanya.
Walaupun aku terbilang belum memiliki kenangan maupun waktu bersama dengannya, rasa sedih benar tak terelakkan. Kehilangan salah satu seorang di pihak kita adalah suatu kegagalan yang terburuk.
‘Ada apa Aoi?!’
Lagi-lagi suara Mashiro terngiang keras di pikiranku, sudah wajar karena aku mengabaikannya langusng tadi.
“Tidak apa, salah satu anggota Party Mafal, tiada.”
‘Party Mafal? Maksudmu bagian yang selamat dari kurungan?’
“Ah, ya, bisa disebut begitu.”
‘Kematian dalam perang memang tidak bisa ditolak lagi, sebagai makhluk hidup, kita bisa apa,’
‘Lalu, kondisi di sekitar sana bagaimana?’
Serentak, aku langsung menyebar pandangan ke seluruh penjuru arah hingga sorot ujung mata memandang menampakkan semuanya. Mulai dari beberapa buah senjata tajam di sekitar sini dan sisa-sisa batu yang bukan lain adalah bagian tubuh Kumarokun.
“Tidak ada apa-apa di sini, hanya sisa mereka bertarung saja.”
Mashiro terdiam sejenak, sepertinya dia berpikir keras untuk ucapan yang akan dia utarakan selanjutnya.
‘Dengan pemikiranmu, apakah ledakan itu baru saja terjadi?’
Menuruti perkataan Mashiro, aku perlahan memegangi leher Syu. Maksud pastinya adalah untuk mengecek suhu tubuh. Semua orang tahu akan itu, jika orang tak bernyawa sudah dipastikan tidak ada darah yang terus bergerak, dan hal tersebut menyebabkan tubuhnya dingin.
“Tidak, sepertinya dari tadi, tubuhnya dingin, kemungkinan besar adalah kehilangan darah,” jelasku singkat, memberikan keputusan cepat dari pandangan pertama yang kulihat. Tusukan tepat di dada sudah menjelaskan semuanya.
‘Begitu ya, jadi ledakan tadi bukan karena mereka.’
“Jelas, aku sudah bilang kalau aku menjauh dari sumber ledakan.”
“Jangan-jangan-.”
Kata Mashiro memotong sekaligus memberikan penjelasan langsung atas pemikiranku. Tapi, kalau benar bukan Zylx, mau siapa lagi? Bahkan ruangan ini sudah kosong tanpa nyawa, terkecuali diriku.
‘Kalau begitu Aoi, kita bertemu di sumber ledakan,’ pungkas Mashiro langsung.
“Ha? Kesana?”
Percuma, dia sepertinya sudah tidak terhubung lagi dengan telepatinya. Sungguh menyebalkan.
“Mashiro?”
‘Sial…’
Sisi Hoshizora Leora (Hoshizora Taka)
*Tepat setelah ledakan
“Inikan.”
“Benar, Kamigatsuchi,” timpal Ai beserta melanjutkan ucapanku.
“Apakah ini bagian dari rencanamu juga? Bagaiana bisa kamu tahu kalau ada seseorang yang meraup berkah dewa api di sini?” tanyaku langsung, menyadari jika seberapa langkanya jiwa yang memiliki berkah dewa.
“Tidak, aku tidak sampai tahu semua pengguna Skill di sini. Tapi,”
“Tapi?”
Ai terdiam beberapa detik, aku juga mengikutinya.
“Aku sudah mengira kalau bakal seperti ini.”
“Begitu ya, apakah bisa disebut permulaan atau sebagai tanda pertarungan kita?”
“Tidak-tidak, itu pertanda pertempuran Zylx dan teman sebaya adikmu, pertarungan kita baru dimulai sekarang,” pungkas Ai disambi memberikan senyuman kecil manisnya.
Aku tidak tahu tingkat keberhasilan rencana yang hanya kita jalankan berdua saja, entah itu kemenangan maupun kegagalan, terlebih lagi tindakanku yang menggunakan tubuh Taka mungkin akan memperburuk situasi.
“Kita mulai dari mengacaukan pertempuran ini, Leora,” ucap Ai, namun suaranya menurun lirih perlahan, seperti ada beban di setiap katanya.
Karena diriku yang sudah berpuluh-puluh tahu bersamanya, aku menyadari keadaan janggal gadis tersebut, jadi aku mencoba menanyakan keadaannya.
“Hei, Ai.”
“Ada apa Leora-kun? Bukannya setelah ini impian kita semua terwujudkan?” balasnya ringan.
“Bukan begitu, tapi,”
“Tapi apa? Tidak apa, jangan pikirkan apapun, kita fokus saja dengan tujuan kita.”
Sungguh kekuatan komunikasi yang luar biasa, sebelumnya dia terlihat seperti menahan emosi dipikirannya, namun sekarang dengan mudahnya menghilangkan hal tersebut. Malahan, kali ini aku terpojokkan oleh emosinya.
“Jangan memaksakan dirimu.”
“…”
Ai terhenyak, memandangiku dengan tatapan mata membulat dan dihiasi oleh gelimang air mata di pelupuk matanya. Itu sangat indah, namun tidak dengan kenyataannya.
“Bukankah aku yang seharusnya berpesan seperti itu padamu?” lugas Ai, dia terlihat berjuang mencoba air matanya tetap tertahankan.
“Tidak, aku tidak apa-apa selama ini, sejauh ini kamulah yang berusaha keras.”
“Bahkan kamu rela bertahun-tahun lamanya menyamar sampai menjadi tangan kanan Zylx hanya demi kita semua.”
“Tidak,” pungkas Ai datar.
“Aku melakukan sesuatu berdasarkan keinginanku sendiri, aku tidak merasa terbebankan atas keputusanku itu. Jadi-.”
“Jadi apa? Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Jika ingin menyatukan Ras Elf dengan dunia luar, apakah dengan membunuh Zylx saja tidak cukup?”
“Tidak,” jawabnya langsung, tidak ada perubahan dalam intonasi bicaranya.
“Lalu, apa yang kamu inginkan?”
“…”
Ai tertunduk, dalam posisinya itu, aku tahu seberapa beratnya seluruh usaha dan beban yang dia pikul sendirian.
“Bersamamu,” ucapnya lirih, aku sedikit tidak mendengarnya, namun air mata yang menetes pada dasar lantai memperlihatkan seberapa seriusnya dia mengatakan hal itu.
“Bersamaku?”
Ai menganggukkan kepala, sepertinya mulut sudah tak mampu lagi diangkat karena beban berat selama ini sudah tidak kuasa ditahannya lagi.
“Tapikan.”
Aku menghentikan ucapanku, gadis itu tahu sendiri bahwa aku sudah tiada. Hanya tersisa kenangan dan jiwaku saja, keduanya tidak akan cukup untuk memenuhi keinginannya.
“Aku tahu kok, karena itulah aku membutuhkan kekuatan Zylx,” pungkasnya.
“Kekuatan Zylx?”
Bersambung…