
Sisi Yogairu Kineku
‘Apasih si rubah biru itu, sok sokan ngatur strategi.’
Secuil geramanku sesaat mendengarkan ocehan Mafal, untungnya sekarang aku dalam kondisi *Skill aura*. Simpelnya menghapuskan keberadaanku, sebut saja saat ini orang orang tidak dapat melihatku atau bisa menganggap diriku tiada.
“Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan, Yogairu. Tapi kita sekarang adalah tim.”
‘Ya ya, aku paham. Berisik sekali sih. Lagian yang datang adalah para kroco.’
Jawabku dalam hati, bukan bermaksud apa, namun jika aku mengeluarkan suara sekecil apapun itu pasti akan menghilangkan Skill - ku. Sangat merepotkan\, apalagi kalau harus menggunakan Ergon lebih.
Efek dari Skill pasive Aura kematian ini efeknya bukan hanya untuk diri sendiri. Namun aku juga bisa menggunakan kemampuan tersebut untuk mendeteksi hawa keberadaan musuh yang akan mendekat, tak terkecuali kekuatannya sekalipun.
Iya, aku merasakannya. Jiwa lemah nan haus akan kekuatan abadi menuju kemari, sungguh para pecundang gila kekuatan. Seharusnya mereka diajari ketika sebuah kekuatan akan melahap dirinya sendiri.
‘Maaf ya kalian, orang orang lemah. Aku sekarang sedang kesal sekali, dan sangat ingin melampiaskannya.’ Gumamku kemudian mengintip ujung lorong bagian depan.
Ternyata benar perkataan pria sok keren berambut hijau itu, 8 orang dengan jubah hitam yang sama persis tanpa perbedaan jelas sedang berjalan kemari. Aku tidak cukup waktu untuk menengok di bagian belakang, tapi setidaknya aku bisa menghabiskan sekumpulan orang lemah ini.
‘Untuk jaga jaga, aku akan meminjam beberapa Skill diantara mereka.’
Pikirku perlahan, pemikiranku tidak sebegitu dangkalnya sehingga langsung menyerang mereka bersamaan. Aku paham betul posisi kita sekarang, tempat ini telah dikepung puluhan bahkan ratusan anak buah sekte keadialan.
“Asteria, Skill - mu! Aku\, pria berambut hijau dan Mafal!”
Sontak berteriak mengutarakan rencanaku, hanya Skill milik Mafal saja yang kuketahui. Kalau pria itu, hanya rasa penasaran akan Skill - nya saja yang membuatku menyebut salah satu anggota party Mafal. Sebelumnya juga dia bisa merasakan kedatangan arah musuh, mungkin itu berguna jika dikombinasikan.
Tentu saja teriakan tersebut memancing perhatian mereka, lalu tergopoh - gopoh berlari kearahku, dua orang ahli pedang di bagian depan dan lainnya mungkin ahli sihir.
“Tung-.”
“…biarkanlah mereka berada disisimu!” Pungkas Asteria menyelesaikan rapalan sihir sekaligus menyela ucapan Mafal.
Bersamaa dengan itu, cahaya berlukiskan rantai memutar yang muncul di bawahku, begitu pula Mafal dan pria rambut hijau, pertanda jika Skill Penyaluran milik Asteria berhasil diaktifkan.
“A – apa ini?!” Tukas Mafal panik nan bingung sambil melihat pada alas tanah.
“Kutukan?” Pria rambut hijau juga.
Tak ada angin tak ada hujan lalu tiba tiba muncul sihir, kalian berdua pasti merasa kebingungan. Apalagi tidak ada efek langsung yang timbul. Aku dapat memahami perasaan kalian, tapi tenang saja, tidak ada pengaruh dalam tubuhmu.
“Yo, aku pinjam Skill kalian!”
[Penyaluran terhubung]
[Skill yang kompatibel dengan tubuh pengguna]
[Animal Essence: Wolf]
[Detector]
[Bounty Layer]
‘Kekuatan ras serigala yah?’
Sembari membatin kekuatan yang pertama kali muncul dalam display pandanganku, mematri langkah cepat menuju arah musuh. Hanya terfokuskan oleh Skill milik Mafal, Animal essence, Sesuai dengan dirinya, seorang demi – human ras serigala.
Meskipun aku sedikit tidak paham penggunaan Skill - nya\, tapi aku bisa merasakan dampak nyata insting hewan. Penguatan pada fungsi saraf indera tubuh.
“Yah kalau ini sih…”
Sebagai seorang laki laki, aku melanjutkan perkataanku dengan bukti nyata. Mengeluarkan belati berbilah ringan nan tipis, kemudian memanfaatkan Skill animal essence tuk lebih lincah dan sergap tatkala terjangan serigala haus darah.
‘Bagian tubuh itu, menyala?!’
Meskipun aku sempat terkejut ketika melihat bagian lengan kanan atas dari salah satu orang berpedang itu bercahaya. Namun kuhiraukan hal tersebut dan tanpa pikir panjang memberi sayatan kecil dengan belati.
Menggunakan celah seorang di bagian depan, tentu saja setiap serangan itu kuteruskan bercabang hingga ke sisi paling belakang musuh. Namun bodohnya mereka meremehkan setiap bidak yang bergerak.
Salah satu darinya menekik diriku, pasalnya sudah jelas kalau seranganku hanya membekas luka gores. Kemudian mengatakan, “Oy Bocah! Serangan seperti ini mana mung-.”
Belum sempat menghabiskan kalimatnya, dia sudah tersungkur tak bernyawa. Begitu pula teman dibelakangnya, meniru nasib sama seperti orang banyak omong itu.
“Jangan - jangan.” Celetuk Mafal.
Mungkin keraguan Mafal benar, hasil dari kamp pelatihan berat sungguh terbayarkan. Tidak harus menunggu kadar udara tipis di peredaran darah musuh, kini sekedar goresan kecil saja sudah cukup bagiku untuk membakar langsung jantung lawan.
Kakakku juga sepertinya akan protes karena kelakuan blak blakanku ini, ekspresi aneh terpampang jelas. “Kamu bodoh apa? Darimana kamu dapat kecepatan seperti itu?”
“Hah?!”
Aku heran, kukira bakal dimarahi abis abisan. Tapi, kenapa orang ini malah menanyakan itu.
“Semuanya dari belakang.” Ujar Azuzi, hanya dia seorang yang masih fokus dalam pertempuran.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, aku langsung bergegas membantu Ken dan Ohoshi yang sedang menahan kumpulan anak buah Zylx.
“Tung-.”
“Yogairu! Usahakan untuk mengincar bagian berkilau di tubuh musuh!”
Teriak laki laki rambut hijau memberikanku saran, memang aku sudah berbagi Skill dengannya, tapi sejauh ini mengapa aku tidak tahu namanya, sungguh menyebalkan sekali.
‘Bagian itu yah?’
Aku terselipkan detik - detik saat melihat bagian berkilauan di tubuh musuh, seolah objek itu menarik perhatianku agar terfokuskan padanya.
“Syu? Apa maksudmu?!”
Bentak Mafal pada laki laki itu, akhirnya aku tahu namanya.
‘Skill Milik Syu yah? Bounty Layer. Akan kucoba.’
Usai membatin seakan memberikan pujian baginya, aku langsung melompat tinggi kemudian memanfaatkan sisi lorong ini untuk pijakan disetiap haluannya.
‘Itu!’
Tanpa membuang – buang waktu, aku mengubah alur pijakan dan mengumpulkan pijakan di kedua kaki agar dapat meluncur langsung kearahnya.
*Slash!
Salah satu target incaranku telah kupenuhi, namun akibatnya aku kehilangan dalam posisi terpuruk kali ini akibat lonjakan tadi.
[Bounty Layer: Target Telah di eliminasi]
[Sensor Motorik Tubuh dan Pasokan Ergon telah ditingkatkan sebesar 5%]
‘Buff?’
Sedetik setelahnya, muncul sebuah indikator di pandanganku, bersamaan dengan Ergon yang bertambah.
Belum sempat mencerna apa maksud dari perkataan tersebut, aku merasakan sesuatu mendekatiku. Benar, hanya salah seorang satu saja yang telah kutebas, dan kematiannya saja masih belum dipastikan.
Menyadari badanku yang terlentang terbalik, aku bangun dengan tumpuan lengan kemudian dilanjut gerakan kaki memutar seolah menyingkirkan musuh yang akan mendekat kearahku.
Seperti dugaan, teknik starfish kip up milikku mengenai beberapa orang, entah siapa itu.
“Yogairu awas!”
Teriak Ohoshi dengan tongkat sihirnya yang menyala dan siap melontarkan kejutan kapanpun dia mau.
‘Sial.’
Sekejap aku langsung mengaktifkan skill aura disertai langkah kaki pergi menjauh dari kerumunan tersebut.
“Cabiklah apapun itu! Wolf Tang!”
Sembari menyelesaikan rapalannya, entah angin atau sesuatu keras mendorong keberadaan mereka. Itu seperti dua dinding besar tak kasat mata yang langsung menghimpit jiwa mereka, ujungnya adalah tubuh - tubuh keroco bergeletakkan tanpa sepersenpun detak jantung.
‘Gila apa? Menghabiskan sekelompok orang menggunakan sihir seperti itu.’ Cakapku dalam hati kemudian menghampiri Mafal dan lainnya.
“Terima kasih Asteria, Mafal dan Syu juga.”
Ucapku sesaat berada didepan mereka, walaupun maju sendirian seperti itu sangatlah beresiko, setidaknya aku harus berterima kasih padanya.
“Ya, untungnya kamu selamat. Kalau tadi sampai mati, aku tidak akan memaafkanmu seumur hidup.”
Balas Mafal dengan kesal, itu juga akibat ulahku yang seenaknya sendiri.
“Tidak apa, lagian sekarang kita juga tim, yah untuk sementara.” Diikuti Syu sehabis Mafal.
Tepat setelah nya, datanglah kakakku dan juga anggota sisa. Tentunya dengan ekspresi kesal, Kak Ayumi naik pitam dan berbicara padaku.
“Aku lupa, orang bodoh itu tidak akan bisa mengenali dirinya yang bodoh.”
Aku menghiraukannya, terlebih lagi sudah muak akan perdebatan tiada habisnya. Jadi aku mengalihkan pandanganku kepada Syu.
“Eh, Syu. Skill ‘Detector’ ini-”
Namun, belum sempat menyelesaikan ucapanku, dia langsung memotong dengan intonasi sedikit besar.
“Iya, aku bisa mendeteksi seseorang yang ada disekitarku tanpa kecuali. Dan kamu pasti penasarankan dengan sesuatu berkilau di bagian tubuh musuh?”
“Maksudnya?”
Celetuk Mafal, entah dia sengaja atau tidak ketika mengatakan itu. Mana mungkin selepas melihat pertarungan tadi, dia tidak paham sedikitpun tentang semua ini. Jika saja Mafal sedikit mirip Taka yang dapat dengan mudah memahami situasi serumit apapun, pasti tidak akan repot – repot menjelaskan panjang lebar.
“Oy, kamu menghiraukanku Yogairu!”
Gerutu Kak Ayumi sembari menggoyang – goyangkan badanku, sedikit menjengkelkan, apasih maunya?
“Duh, Mafal. Kamu ingat Skill Bounty Layer milikku bukan?” Seloroh Syu terhadap pertanyaan singkat Mafal.
‘Bounty Layer?’ Batinku sejenak dan terselipkan momen ketika Skill itu berada dalam tubuhku.
“Ah soal itu, aku ingat. Skill Active – mu bukan?” Kata Mafal memegangi dagunya dengan tatapan bingung, kemudian mengeluarkan ekspresi terkejut aneh dan berkata, “Hah?! Dengan kata lain, dilihat dari pertarungan tadi, Yogairu mencuri Skill – mu?”
“Bu-”
“Tidak, Mafal – niisan. Yogairu – san hanya meminjam Skill kalian berdua sebentar saja, dan semua itu tidak ada pengaruhnya bagi kalian. Malahan Mafal – niisan juga dapat menggunakan Skill milik Yogairu – san ataupun Syu – niisan.
Asteria menjelaskan tentang cara kerja Skill Penyaluran dengan singkat, sekaligus memotong pembelaanku, malah aku berterima kasih karenanya, tidak harus menjabarkan kekuatan yang bukan milikku itu pada mereka berdua.
“Yogairu! Kakakmu yang manis ini berbicara padamu loh!”
Teriak Kak Ayumi tepat disamping telingaku, kini dorongan lengannya pada tubuhku semakin kuat. Aku sungguh butuh pertolongan dari situasi menyebalkan ini.
“Jadi ini salah satu Skill seorang Elf ya?”
Sahut Ohoshi membuat pandangan kami terlalihkan terhadapnya, seorang penyihir murni seperti dirinya, pasti akan iri dengan kekuatan spesial setingkat milik Elf. Aku juga teringat pasal ras Asteria sebenarnya dari sepatah kata bawahan Zylx yang ditahan oleh Taka sebelumnya.
“Ti – tidak, aku tidak seperti ras Elf lainnya, aku tidak punya sihir alami seperti itu.”
Sangkal Asteria gelagapan, perilakunya tersebut pasti dikarenakan terbongkar identitas aslinya. Apalagi dia sudah bertahun – tahun lamanya menyembunyikan rahasia terbesar itu.
“Lalu mengapa si Taka itu bukan Elf seperti dirimu, gadis kecil?” Timpal Ken disertai nada berat di setiap kata.
Otomatis, Asteria ketakutan setengah mati. Dengan tubuh dan intonasi besar, kini sosok gadis elf tersebut mengecil dari jiwa maupun pikirannya.
Namun aku merasakan beberapa kelompok yang berlari tergesa – gesa menuju kemari, meskipun hanya sekedar aura keberadaan, mereka nampak banyak dan penuh persiapan.
“Yogairu, kamu merasakannya?”
Celetuk Syu kepadaku, sebagai pemilik Skill Detector pasti dia sudah merasakan jelas kedatangan segerombalan musuh.
“Ya...”
Aku tidak tahu, apakah ini keberuntungan atau kebuntungan bagi Asteria, begitu pula Taka. Saat ini musuh sudah bagaikan menjadi nasi hangat yang harus dilahap, sedangkan sisi baiknya adalah rahasia mereka berdua mungkin akan terlupakan.
Bersambung….